Ada Infiltrasi Intelijen Asing dalam Kasus Solo?

Rabu, 28/09/2011 16:29 WIB

Assalamu’alaykum wr wbAkhi…

Bagaimana dengan dugaan infiltrasi intelijen dalam kasus Solo. Apakah memang bisa mereka disusupi, bukankah di internal Mujahidin sudah bisa menidentifikasi intelijen?Apa ada indikasi keterlibatan Mossad dalan hal ini? Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Syukron jazakalloh, wassalamu’alaykum wr wb.

Abdul
Jawaban

Alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh.Jazakallah untuk pertanyaannya saudaraku Abdul. Semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan bagi kita untuk senantiasa tidak termakan bujuk rayu kaum kuffar. Allahuma amin

Saudaraku, dunia Intelejen saat ini tidak terlepas dari war on terorisme yang digulirkan barat. Intelijen akan melakukan berbagai cara untuk memukul mundur barisan Islam. Mereka masuk ke kelompok-kelompok Islam dan melakukan tipudaya.

Saya sendiri meragukan bahwa aksi yang dilakukan di Solo adalah betul-betul dilakukan mujahidin. Karena mujahidin yang betul-betul memahami fiqh jihad tidak mungkin membom sasaran sipil non kombatan. Rasulullah SAW sendiri juga melarang kita merusak tempat ibadah.

Intelijen memang sangat canggih, untuk masuk ke barisan umat muslim mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dari mulai mempelajari Islam, menguasai percakapan antara sesama ikhwan, sampai menumbuhkan jenggot.

Walhasil kita heran, apakah mungkin aksi pemboman di Solo kemarin ulah intelijen, kalau iya mengapa pelaku sampai melakukan bom bunuh diri? Jawabannya adalah wallahua’lam. Namun saya cenderung mengatakan iya. Bagaimana caranya? Mudah. Sekarang hampir semua kelompok Islam ditempel intelijen. Gerakan-gerakan Islam sudah dipetakan dalam kuantitas data yang mereka miliki.

Sosok intelijen dalam gerakan Islam sendiri bukan barang baru, yang paling terkenal adalah Mayjen TNI Ali Moertopo, walaupun ia belum pernah menduduki posisi puncak di lembaga intelijen Indonesia. Secara resmi, Ali Moertopo pertama kali berkiprah di dalam lembaga intelijen negara pada tahun 1969-1974, ketika Mayjen TNI Sutopo Yuwono menjabat sebagai Kepala BAKIN. Saat itu, ia mendampingi Sutopo Yuwono sebagai Deputi Kepala BAKIN.

Sebelum bergabung ke dalam TNI, Ali Moertopo pernah bergabung dengan laskar Hizbullah, salah satu unsur cikal bakal TNI. Danu M. Hasan adalah salah satu anak buah Ali di Hizbullah. Ketika Ali masuk TNI, Danu bergabung ke dalam DI/TII dan menjadi orang kepercayaan Imam Negara Islam Indonesia (NII), Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Danu M. Hasan sempat menjabat Komandemen DI/TII se-Jawa. Kelak, pasukan Danu berhasil ditaklukkan oleh Banteng Raiders yang dikomandani Ali Moertopo.

Perjalanan berikutnya, pasca-penaklukan, terjalinlah hubungan yang lebih intensif antara Ali dengan Danu di dalam kerangka “membina mantan DI/TII.” Pada persidangan kasus DI/TII (tahun 1980-an) diketahui bahwa Ali Moertopo secara khusus menugaskan Kolonel Pitut Soeharto untuk menyusup ke golongan Islam, antara lain dengan mengecoh Haji Ismail Pranoto (Hispran) di Jawa Timur. Di Jawa Barat, Pitut mendekati Dodo Kartosoewirjo dan gagal, tetapi berhasil membina Ateng Djaelani yang kemudian di kalangan petinggi DI/TII dianggap sebagai pengkhianat.

Dalam dunia inteljien ada istilah yang dinamakan ‘sumbu pendek’. Ia mengacu kepada individu umat muslim yang mudah meletup, terpancing, dan bisa diprovokasi. Pada konteks Solo dan Cirebon tidak menutup kemungkinan intelijen masuk untuk membakar ‘sumbu pendek’ yang memang telah mereka pelajari.

Intelijen mencari ‘sumbu pendek’ yang siap dibakar

Saya yakin, intelijen sudah menyisir jauh-jauh hari sekaligus mendalami psikologi umat yang memiliki potensi sebagai ‘sumbu pendek’. Mereka lantas didekati dengan intelijen yang meski bertampang ikhwan tapi memiliki misi menghancurkan Islam. Seperti serigala berbulu domba. Saat itulah mereka akan masuk dan melakukan provokasi dari dalam untuk mengentaskan misinya. Sayangnya banyak para ikhwah di lapangan yang menutup mata dari konspirasi intelijen. Padahal keberadaan mereka nyata dan ada didepan kita. Kita bisa belajar dari Syahidnya Syekh Ahmad Yassin, misalnya.

Dalam buku, mengapa “Mereka Membunuh Syaikh Ahmad Yassin” (Moh. Safari. Et.al, Comes: 2006) dikatakan bagaimana beliau bersama dua pengawalnya dibunuh oleh Heli Israel ketika baru saja pulang dari mesjid Ja’ma Islami sesaat setelah pulang shalat shubuh.

Koresponden COMES di Gaza menyebutkan bahwa kehadiran heli-heli tempur Israel sangat mengejutkan ketiga pejuang tersebut. Karena seketika itu juga, pesawat-pesawat Zionis melepaskan 3 rudal kearah Syaikh dan kedua pengawalnya, hingga terdengar ledakan besar mengguncang kota Gaza.

Tentunya, mengapa Heli Israel bisa tiba-tiba dapat mengidentifikasi kehadiran Syeikh dan melepaskan rudal tepat sasaran. Padahal tubuh Syeikh Yasin selama ini susah ditembus oleh Mossad. Maka saya ingin katakana bahwa momentum tewasnya Asy Syahid, tidak lepas dari mata-mata yang intens dilakukan Mossad selama bertahun-tahun. Mereka mempelajari kebiasaan Asy Syahid, orang terdekat Asy Syahid, waktu shalat Asy Syahid, sampai jalan yang biasa digunakan.

Begitu jua dengan kasus pembunuhan seorang komandan Hamas, Mahmud Mabhuh di Dubai pada awal tahun 2010. Mahmud memasuki Uni emirat Arab pada pekan ketiga tanggal 19 Januari yang lalu, namun tubuhnya ditemukan telah tewas di sebuah hotel tempat ia tinggal selama di Dubai.

Kedatangan Mabhuh di Dubai bisa sampai bocor ke telinga Mossad karena Hamas tidak menyadari, bahwa agen Mossad telah melakukan operasi desepsi dan menjadi kan salah seorang agennya untuk berpura-pura menjadi “Ikhwan” dan menempel ketat informasi dari Hamas.

Inilah yang sebenarnya sudah dikhawatirkan Jenderal (purnawirawan) Z.A. Maulani (almarhum) yang meminta umat untuk hati-hati terhadap operasi intelijen yang menggunakan strategi desepsi. Fauzan Al Anshari, dalam tulisannya Desepsi di Majalah Gatra [Edisi 39 Beredar Kamis, 10 Agustus 2006] menceritakan bagaimana inflitrasi Androkinus Kaparang, seorang intel CIA ke tubuh Majelis Mujahidin Indonesia.

Sekitar September 2001, Kaparang yang kala itu mengaku seorang mualaf datang ke markas MMI. Ia mengaku bernama Lalu Muhammad Hasan alias Ihsan. Nama aslinya Andronikus Kaparang. Ia mengklaim sebagai Komandan Laskar Kristus wilayah Indonesia Timur. Ia mengaku disuruh CIA untuk mencari data hubungan MMI dengan Osama bin Laden, mengetahui aliran dana yang masuk-keluar MMI, dan melihat sejauh mana keterlibatan MMI dalam konflik Ambon.

Pada 21 September 2001, kantor Wihdah, tempat menyimpan banyak data MMI, dibobol maling. Empat komputer lenyap. Irfan pun melaporkan kejadian itu ke polisi. Namun sampai detik ini tidak berhasil mengungkap siapa malingnya.

Pada 8 Juli 2006, ada acara Arimatea yang menggelar “testimoni mantan Komandan Laskar Kristus” di Solo. Ustad Abu diundang sebagai keynote speaker. Beberapa laskar MMI datang untuk menonton testimoni itu. Namun apa yang terjadi ternyata Kaparang yang didaulat untuk memberokan testimono. Dalam pada itu, hampir terjadi insiden kalau saja tidak dicegah Ustad Abu. Ustad Abu pun akhirnya minta supaya diselesaikan di markas MMI.

Esoknya Kaparang diantar ke markas MMI oleh pengurus Arimatea untuk klarifikasi. Kaparang mengaku agen CIA. Dia minta maaf karena sudah memfitnah MMI. Misalnya, waktu aktif di kelaskaran, dia sengaja menzinai beberapa wanita untuk mencoreng nama MMI. Tapi semuanya gagal.

Walhasil inilah yang harus menjadi concern kita semua, bahwa pengetahuan mengenao kontra terorisme menjadi sebuah kebutuhan mendesak untuk kita kaji bersama-sama. Allahua’lam (Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: