AMERIKA MEMANG BUDAK YAHUDI

Wednesday, 28 January 2009 09:07

AMERIKA MEMANG BUDAK YAHUdi
http://www.mail-archive.com/milis@iapkkt.org/msg04641.html.
A. Yahya Sjarifuddin
Tue, 01 Aug 2006 23:29:52 -0700
Begin forwarded message:

Date: Wed, 2 Aug 2006 11:48:08 +0700
From: “a. Rahman Isnaini r. Sutan”

Kebiadaban Pemerintah Israel akhir-akhir ini memang bukan pertama
kali sebagaimana ditulis di hidayatullah.com tahun 2000 lalu..

BEGINILAH YAHUDI MEMPERBUDAK AMERIKA
http://www.hidayatullah.com/2000/11/khusus1.shtml

Diamnya Amerika Serikat saat anak-anak dan rakyat Palestina dibantai
tempo hari, membuktikan keberhasilan Bill Clinton sebagai presiden
Amerika paling zionis sepanjang sejarah. Bagaimana asal muasal
negeri itu sampai diperbudak Yahudi?

Sekitar tahun 1947, seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat Harry
S. Truman yang ketika itu melakukan pembelaan terhadap perjuangan
rakyat Palestina. Truman, kala itu, merasa tidak setuju terhadap
cara Israel membentuk sebuah negara Yahudi dengan cara mencaplok
wilayah Palestina.

Esok harinya, para pemimpin Yahudi langsung memasang iklan secara
besar-besaran di berbagai surat kabar yang isinya mempermalukannya.
Truman masih tetap bertahan. Bahkan secara terbuka, dia meminta
kepada rakyat Amerika untuk tidak melupakan `semangat juang rakyat
Palestina’.

Reaksi langsung bermunculan beberapa saat setelah Truman berbicara.
Kelompok Yahudi New Jersey langsung mengirim surat kawat ke Gedung
Putih. “Kebijaksanaan anda tentang Palestina telah memudarkan
dukungan kami pada Pemilu 1948 nanti”.

Truman tahu betul bahwa `pesan’ kecil itu adalah sinyal akan
datangnya bahaya yang akan mengancam karir politiknya. Apalagi,
ketika saat itu, hari menjelang Pemilu sudah dekat. Truman tahu, dua
pertiga kaum Yahudi Amerika tinggal dan menyebar di New York,
Pensylvania dan Illionis.

Mempertimbangkan posisinya yang lemah mendekati pemilu -yang
kebetulan sangat dekat dengan pengumuman berdirinya negara Israel-
Truman akhirnya memanggil pulang semua Duta Besarnya di Timur Tengah
untuk dimintai pendapatnya terhadap rencana pemerintah AS untuk
mengakui berdirinya negara Israel.

Tapi, Pinkerton P. Tuck, juru bicara mereka dari Dubes Mesir
keberatan bila AS terlalu terburu-buru memberi pengakuan tanpa
berunding dengan negara-negara Arab. “Tuan Tuck, mungkin anda benar,
tapi suara-suara itu (Yahudi) menentang anda”, jawab Truman menjawab
keberatan Dubes AS untuk Timur Tengah.

Truman tetap dalam pendirian memilih anjuran kawan dekatnya, Ed
Jacobson yang Yahudi dan menolak semua usul penasihat kepresidenan
dan militernya yang kemudian mengakui berdirinya negara Israel.
Pengakuan Truman disambut meriah rakyat Israel. Bahkan pada
kunjungan ke Gedung Putih tahun 1949, Ketua Rabbi Israel berkata
pada Truman, “Tuhan telah meletakkan engkau di rahim ibumu, supaya
engkau menjadi alat untuk menghidupkan kelahiran kembali Israel
setelah 2000 tahun”, katanya.

Di hari pemilihan, Truman mengantungi 74 persen suara Yahudi di
seluruh negeri. Kendati tipis, kemenangan telah membantunya. Fotonya
menjadi hiasan resmi di berbagai perangko-perangko resmi Israel dan
menjadi `pahlawan’ di dalam hati sanubari kaum Yahudi.

Sejak kasus Truman itulah, kaum Yahudi memetik pelajaran berharga.
Betapa kekuatan `lobi’ melalui `kontak-kontak penting’ menjadi
sesuatu pelajaran yang sangat efektif dan maha penting.

Kasus serupa pernah menimpa Presiden AS, George Bush (Februari
1992). Bush -yang kala itu- sedang mengadakan rencana perundingan
tentang Timur Tengah di Washington, secara tiba-tiba, pihak Israel
sudah mengumumkan gagasan untuk mendirikan pemerintahan sendiri
untuk Palestina.

Pemerintah sendiri yang dimaksud Israel hanya berlaku atas penduduk
dan warga Palestina, bukan terhadap wilayah yang telah diduduki
Israel. Delegasi Arab, Hanan Asrawi, kala itu, menganggap Israel
ingin mengukuhkan penguasaan atas wilayah yang telah dicaploknya
secara tidak sah.

Presiden Bush sangat tersinggung. Bahkan menolak memberikan jaminan
pinjaman senilai 10 miliar US dolar kepada Israel bila tidak
menghentikan pembangunan perumahan di wilayah pendudukan Palestina.
Akibat ulah Bush inilah, lobi Yahudi kemudian marah, tidak peduli
Amerika dan Bush sangat besar jasanya pada Israel dan masyarakat
Yahudi pada umumnya. Termasuk membantu pengungsian orang-orang
Yahudi Ethiopia dan Rusia ke Israel dan pencabutan resolusi PBB 1975
yang menyamakan Zionisme dengan rasialisme.

Begitu marahnya mereka hingga komunitas Yahudi menyebutnya
sebagai “anti-Semit”. Bush akhirnya harus menebus kekalahannya pada
pemilihan umum berikutnya, tahun 1991, melawan Bill Clinton, karena
terkait erat dengan kemarahan orang-orang Yahudi dan tidak
mendukungnya.

Setelah Bush kalah, ganti Bill Clinton yang ditekan untuk memenuhi
kepentingan-kepentingannya. Ketika Clinton sedang menyusun kabinet,
para pemimpin Yahudi marah pada Clinton karena dia memilih Warren
Christopher sebagai menteri luar negerinya. Ini membuat Clinton
memanggil beberapa senator senior Yahudi untuk meminta mereka
membujuk para pemimpin kelompok-kelompok Yahudi supaya mendukung
pengangkatan itu.

Ada banyak contoh serupa, memang tidak hanya menimpa Truman, dan
Bush semata. Masih ada cerita Presiden Richard Nixon dan Presiden
Jimmy Carter, senator AS William Fulbright, Adlai Stevenson III, dan
Charles Percy, anggota kongres Paul McCIoskey, Paul Findley, juga
Sekretaris negara George Ball yang mengalami tekanan dan kekalahan
akibat kemarahan dan kurangnya dukungan dari lobi Yahudi.

Karena itulah, George Bush Jr, capres dari Partai Republik sekarang,
paham bagaimana kekuatan kelompok Yahudi telah menjatuhkan sang
Ayah. Karena itulah, jangan heran bila jauh-jauh hari, Bush Jr
berusaha menunjukkan niat baiknya pada kelompok Yahudi.

“Sesuatu akan terjadi bila saya jadi presiden. Segera setelah saya
jadi, saya akan memulai proses untuk memindahkan Kedutaan Besar
Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem,” katanya seperti dikutip
Jerusalem Post (24 Mei 2000) lalu.

Tiga Langkah Lobi Gedung Putih

Lobi Yahudi dan Israel di Amerika memang dikenal ulet dan licik.
Keuletannya bisa dilihat dari cara bagaimana mereka mampu
mempengaruhi seorang pejabat pemerintahan. Bahkan kalau perlu
menekan terhadap pejabat yang bersangkutan. Sudah bukan rahasia bila
apa yang dinamakan lobi Yahudi.

Pengaruh lobi Yahudi semacam menjadi legenda. Terutama peran lobi
yang luar biasa pengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri AS.
Menurut Paul Findley, seorang mantan anggota senat Amerika dalam
bukunya They Dare to Speak Out (1985) menulis pengalaman tekanan
lobi Yahudi terhadap Gedung Putih.

Menurut Findley, ada tiga level bagaimana cara Yahudi melakukan lobi
dan campur tangan terhadap Gedung Putih. Pertama, secara langsung
dengan cara tatap muka. Mereka selalu dikenal sebagai sahabat dekat
presiden dan pengaruhnya terbatas hanya pada presiden yang
bersangkutan. Kedua, di kalangan pejabat yang dekat dengan presiden.
Utamanya penasihat kepresidenan. Level ketiga adalah tekanan pada
pejabat-pejabat pemegang departemen penting. Misalnya; Deplu,
Dephan, dan Dewan Keamanan Nasional.

Untuk menjaga kekuatan lobi, tokoh-tokoh Yahudi bahkan dikenal cukup
kuat menjaga hubungan dengan satu tokoh pemerintahan dengan calon
tokoh pemerintahan berikutnya. Tokoh Yahudi Abraham Feinberg dari
New York, seorang penyelenggara jamuan makan malam untuk Kennedy
(1960), sudah mempertahankan hubungan eratnya dengan Gedung Putih
selama berpuluh-puluh tahun. Dan sejak puluhan tahun pula dia
menjadi tamu tetap Gedung Putih pada masa kekuasaan Lyndon B
Johnson.

Sampai tahun 1984, ia mampu mempertemukan Walter Mondale dan Gary
Hart, jago-jago dari Partai Demokrat yang sedang bersaing dalam
sebuah pertemuan tertutup di apartemennya di New York.

Ada pula Ephraim Evron. Orang ini dikenal dengan Presiden Johnson
bahkan banyak terlihat sering berdiskusi secara pribadi berjam-jam
dengan Johnson di ruang Oval, kantor resmi Presiden. Persahabatannya
dengan Johnson, sudah dibangunnya semenjak Johnson masih menjadi
Senator.

Pengaruh kaum Yahudi tidak hanya pada hubungan antar pejabat saja,
bahkan kegiatan Kongres dan Senat pun tidak luput dari kontrolnya.
Bukan hal yang istimewa bila kaum Yahudi mampu menekan Presiden
Amerika untuk membela kepentingan negara Israel. Bahkan dukungan
untuk yang satu ini dikenal sangat blak-blakan dan sangat membabi
buta.

Padahal harap tahu saja, jumlah warga Yahudi di Amerika Serikat
hanya sekitar enam juta orang (Majalah Newsweek hanya menyebut hanya
5,7 juta), atau 2,5% dari populasi nasional penduduk AS, dan hanya
250.000 orang saja yang aktif di sektor politik.. Sebagian besar
mereka terkonsentrasi di New York City (1,97 juta), Los Angeles
(631.000), Miami (354.000), dan Chicago (265.000).

Jumlah Kaum Yahudi di AS menurut buku referensi The World Almanac
and Book of Facts tahun 2000, ada kira-kira empat juta pemeluk agama
Yahudi, yang terbagi atas satu setengah juta anggota Union of
American Hebrew Congregations, atau Yahudi Reformasi, sekitar satu
juta lebih anggota Union of Orthodox Jews of America, aliran Yahudi
ortodoks, dan satu setengah juta lainnya anggota The United
Synagogues of Conservative Judaism. Yang terakhir ini adalah aliran
yahudi konservatif.

Jumlah total ini berarti hanya sekitar 2% dari seluruh penduduk AS,
tetapi lebih kurang 90% dari semua posisi kunci di pemerintahan
Amerika Serikat di pegang kelompok Yahudi. Jadi jangan heran bila
kekuatannya jauh di atas jumlah itu.

Dari segi ekonomi, orang-orang Yahudi Amerika memang jauh lebih
makmur dibanding kelompok lain. Rata-rata penghasilan warga AS
adalah 39.500 juta dollar per tahun, tetapi orang-orang Yahudi jauh
berada di atasnya: 53.300 dollar per tahun.

Dengan organisasi yang teratur rapi dan kukuh, orang-orang Yahudi
mempunyai pengaruh politik yang kuat karena sumbangan-sumbangan
dananya yang besar kepada para politikus.

Seperti telah banyak ditulis media massa Amerika, kecil kemungkinan
anggota Kongres AS yang tidak mendapat sumbangan dari masyarakat
Yahudi. Untuk yang satu ini, boleh dikatakan sangat tergantung.
Bahkan, jarang ada yang berani menentangnya. Mereka sadar benar
misalnya tentang apa yang pernah dialami mantan Senator Charles
Percy dari Illinois, yang diserang lobi pro-Israel dan kehilangan
kursinya di Senat.

Bahkan seorang senator dari negara bagian yang jarang Yahudinya
seperti Senator Patrick Lehy dari Vermont- pernah mendapat dana
hampir 87 ribu dollar dari komite-komite aksi politik Yahudi dalam
kampanye pemilihannya kembali. Tak heran bila untuk kepentingan itu
para calon presiden ataupun yang akan mencalonkan diri kembali
menjadi presiden di pemilu berikutnya selalu mendekatkan diri –
sekurang-kurangnya, menyenangkan hati- pada kelompok Yahudi.

“Saya akan memutuskan semua bentuk hubungan dagang dan investasi
dengan Iran, serta menangguhkan hampir semua kegiatan ekonomi lain
di antara dua negara,” kata Bill Clinton. Kata-kata ini, diucapannya
Lima tahun lalu, tepatnya 30 April 1995, di depan peserta jamuan
makan malam Kongres Yahudi se-dunia di New York.

PBB pun bertekuk lutut

Begitu kuatnya lobi Yahudi, sampai-sampai membuat Persatuan Bangsa-
Bangsa (PBB) pun dibuatnya tidak berdaya. Salah satu contoh, ketika
Dewan Keamanan (DK) PBB memberikan pernyataan (April 1996) tentang
serangan bombardir Israel atas Libanon misalnya, sangat dipengaruhi
tekanan Amerika Serikat. Bahkan Dubes AS untuk PBB, Madeleine
Albright (yang juga keturunan Yahudi Finlandia itu), konon, sampai
mendikte kata per kata pernyataan DK tersebut.

Jangan heran bila semangat pernyataan tersebut, selain tidak
mengikat, juga tidak mengecam serangan keji Israel yang tidak
pandang bulu itu. Bahkan, seolah sudah mengetahui apa yang bakal
dinyatakan dalam pernyataan DK tersebut.

Hanya beberapa saat setelah pernyataan itu keluar, Angkatan Udara
Israel kembali melakukan serangan bombardir di Ain Helwah, sebuah
kamp Palestina dekat Sour dan Sidon di Lebanon selatan. Dan serangan
Israel berikutnya atas Lebanon itu (18/4) menewaskan 94 orang.

Lobi Yahudi di Kongres AS sangat kuat dan hampir sudah menyusup ke
mana-mana. Dari 27 ribu staf dan anggota Kongres, 20 ribu di
antaranya Yahudi. Dalam Lembaga Keamanan Nasional (National Security
Council), 7 dari 11 stafnya adalah orang Yahudi. Clinton secara
khusus telah menempatkan di bagian yang vital di Lembaga Kemanan
Amerika.

Misalnya, Sandy Berger, ditempatkan sebagai Kepala Deputi (the
deputy chairman of the council); Martin Indyk, sebagai calon duta
besar Israel, Don Steinberg, direktur senior dan penasehat
kepresidenan untuk wilayah Afrika (the senior director and advicer
to the president, is in charge of Africa), Richard Feinberg, sebagai
direktur senior dan penasihat kepresidenan untuk wilayah Amerika
Latin.

Stanley Ross, sebagai direktur senior dan penasihat kepresidenan
untuk wilayah Asia. Termasuk pula Allan Greenspan (pejabat Federal
Reserve Bank) dan Henry Kissinger, mantan Menlu AS yang sampai
sekarang masih dihormati di AS dan Eropa.

Selain orang-orang penting di atas, masih ada beberapa tokoh Yahudi
yang masuk dalam pemerintahan Clinton. Sebut saja misalnya;
Madeleine Albright (Menteri Luar Negeri), Robert Rubin (Menteri
Keuangan), William Cohen (Menteri Pertahanan), Alan Greenspan
(Gubernur Bank Sentral), Dan Glickman (Menteri Pertanian), George
Tenet (Kepala CIA), Samuel Berger (Kepada Dewan Keamanan Nasional),
Evelyn Lieberman (Direktur Radio Suara Amerika), Stuart Eisenstat
(Wakil Menlu untuk kawasan Eropa), Charlene Barshefsky (Menteri
Perdagangan), Susan Thomases (Kepala Staf Ibu Negara), Gene Sperling
(Kepala Dewan Ekonomi Nasional), Ira Magaziner (Kepala Kebijakan
Kesehatan Nasional), Peter Tarnoff (Wakil Menteri Luar Negeri),
Alice Rivlin (Anggota Dewan Ekonomi), dan masih banyak lagi.

Dari kebanyakan staf yang bekerja di Gedung Putih dari penasihat
kepresidenan sampai tukang sapu semuanya di susupi dan dipegang
orang Yahudi. Tidaklah aneh ketika salah satu wartawan dari sebuah
harian kaum Yahudi Israel Ma’ariv edisi September 1994 pernah kaget
ketika sedang menelpon ke kantor Gedung Putih sang operator menjawab
dengan aksen Israel yang sempurna.

Saya menelpon ke State Department… tiba-tiba mendapatkan seseorang
yang mengangkat dan menjawab dalam bahasa Israel (Ibrani) yang
sangat kental: “Selamat pagi, apa yang dapat saya bantu?”, katanya.

Karena itulah, upaya Clinton memasukkan banyak orang Yahudi ke dalam
Gedung Putih banyak mendapatkan pujian dari komunitas Yahudi
internasional. Arthur L. Schechter, pemimpin komunitas yahudi
Houston, Texas yang juga seorang anggota Steering Comittee Yahudi
Amerika untuk setiap kampanye Clinton, memuji-muji sikap mantan
Gubernur Arkansas itu.

Dalam sebuah tulisannya yang berjudul “President Clinton: the best
president the American Jewish community has ever known (Presiden
Clinton: Presiden terbaik yang pernah dimiliki Yahudi Amerika
sepanjang masa)”, di sebuah media milik Yahudi, `The Jewish Herald’
dengan bangga memuji kebijakan Bill Clinton.

“Kepresidenan Bill Clinton memulai mengenalkan sebuah potensi besar.
Cerdas dan tegas, Clinton telah menjadi presiden bagi komunitas
Yahudi dalam sejarah kita”, katanya.

Poros Washington-Tel Aviv

Di Amerika, kaum Yahudi memang telah lama bermain sebagai kelompok
penekan yang dikomando oleh sebuah organisasi yang bernama Komite
Masalah Politik Amerika-Israel (AIPAC: American Israeli Public
Affairs Committee). Organisasi yang lazim disebut “The Lobby” ini
sangat kuat, organisasi ini dikenal bisa mendukung atau menjatuhkan
kandidat politik tertentu di Amerika, tergantung apakah tokoh itu
menyokong Israel, pro Arab atau tidak. Ada yang menyebutnya sebagai
terkuat kedua setelah Asosiasi Senapan Nasional (NRA), yang menolak
pengawasan senjata.

Sepuluh tahun lalu, “The Lobby” memiliki 50.000 anggota, dengan
anggaran 13 juta dollar. AIPAC sendiri bukan sebuah komite aksi
politik dalam arti biasanya. Organisasi itu tidak membiayai calon-
calon politikus, tetapi bekerja sama erat menyangkut kebijakan
dengan sekitar 70 kelompok kepentingan Yahudi.

New York Times pada tahun 1987 pernah melaporkan bahwa AIPAC telah
menjadi kekuatan utama dalam menyusun kebijaksaan Amerika Serikat di
Timur Tengah. Organisasi ini telah memiliki kekuasaan untuk
mempengaruhi pemilihan kandidat presiden, Pentagon, angkatan
bersenjata, Gedung Putih, kementerian luar negeri dan beberapa
departemen penting lainnya.

Pada waktu itu, lobi pro Israel menghabiskan dana lebih dari 11 juta
dollar untuk memberikan dana kepada calon-calon anggota Senat dan
DPR AS. Demikian. Menurut Sunshine Press Services, sebuah organisasi
yang melacak berbagai dana di Capitol Hill.

Dengan memiliki delapan kantor cabangnya di seluruh kota yang
dimonitor di Washington DC, AIPAC bisa menghabiskan US$ 4 milyar
sampai US$ 5 miliar dalam setiap pemilu. Lewat organisasi ini pula
Yahudi bisa mendikte pemerintah atau calon presiden Amerika Serikat.

AIPAC dikenal bisa memuluskan atau menjatuhkan kandidat politik
tertentu, tergantung apakah calon tersebut mampu memberikan
keuntungan yang berlebih-lebihan terhadap Israel. AIPAC secara
terbuka mendukung ketentuan yang menjamin lapangan kerja dan
keuntungan bagi masyarakat Amerika itu. Tapi, diam-diam AIPAC melobi
agar Israel diberi pengecualian, dan berhasil. Jadilah Israel
menggunakan bantuan militer Amerika, untuk menciptakan lapangan
kerja dan keuntungan di Israel.

Harap tahu saja, sejak tahun 1949 pemerintah Amerika Serikat telah
memberikan bantuan dan keuntungan istimewa terhadap Israel. Bantuan
terhadap Israel untuk tahun fiskal 1979 sekitar 4,9 miliar US
dollar. Tahun 1980 bantuannya turun sekitar 2,1 miliar US dollar.
Tahun 1991 meningkat menjadi 3,7 milyar US dollar. Sejak 1984,
Israel juga diizinkan menggunakan sebagai dari kredit-kredit militer
luar negeri untuk memperoleh barang-barang militer buatan Israel.

Tidak seperti negara-negara lain yang mendapat bantuan dari Amerika,
Israel tidak harus membelanjakan seluruh dana itu untuk membeli
peralatan di Amerika Serikat. Israel juga mendapat tambahan dana 475
juta US dollar untuk membeli hasil indsutri pertahanan buatannya
sendiri. Plus dapat membelanjakan dari tambahan dana tahun 1991
sebesar 150 juta Us dollar untuk riset di Amerika.

Bahkan masih ditambahi lagi sebesar 126 juta US dollar untuk
pengembangan sistem pertahanan anti-misil Arrow di Israel. Anehnya,
selama bertahun-tahun, sejak 1985 semua bantuan AS terhadap Israel
selalu berupa hibah. Yang berarti tidak harus dibayar kembali.

Karena itulah tidak heran bila komunitas Yahudi sedunia benar-benar
mendapatkan angin dan menemukan diasporanya ketika banyaknya
dukungan yang telah diberikan Amerika.

Dalam bukunya yang ditulis dalam bahasa Jerman, “Die
Deuttschandakte” (1995), Sekretaris Jendral Kongres Yahudi Se-dunia,
Prof Dr Israel Singer mengatakan bila Amerika lah salah satu negara
yang telah memberikan keleluasaan pada kaum Yahudi untuk
menghasilkan kekuatan di seluruh dunia.

“Kongres Yahudi Se-dunia telah menghasilkan kekuatan politik dan
pengaruh ekonomi yang maha besar. Dan bahkan dapat dikatakan di
hampir semua keputusan politik di Amerika Serikat”, kata Singer.

“Sebuah cap baru bagi kaum Yahudi yang hidup hari ini bahwa
keyakinan mengatakan, bahwa Tuhan memberikan kaum Yahudi kekuatan,
dan kekuatan itu perlu dilatih dan digunakan. Tidak akan pernah ada
perubahan kecuali kita memutuskan untuk membuat sejarah itu di
tangan kita sendiri,” ujar Singer seperti dikutip The Jewis Press 20
Februari 1998.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: