Kembalinya Kaum Neocons (2) Jejak Masa Lalu

Selasa, 02/02/2010 13:53 WIB
Kristol mempunyai silsilah panjang yang merunut asal-usul pahamnya dari kantin di City College of New York.
Seperti fasisme yang mengancam dunia bebas, nama-nama itu menjadi New Deal Democrat, dan karena mereka tumbuh kecewa terhadap kebijakan kesejahteraan dan ras Great Society pada tahun 1960, mereka pindah ke kanan. Mereka semua, akhirnya mengantarkan Irving Kristol pada Reaganism.
Pada periode ini, neoconservatism memuji “exceptionalism America.” Ide sebenarnya lebih liberal daripada konservatif klasik, bahwa Amerika Serikat menempati pesawat moral yang lebih tinggi daripada bangsa lain, dan harus bertindak sesuai dengan hal itu.


Ini dianggap meremehkan sinisme politik dari Richard Nixon dan Henry Kissinger, dan tidak heran jika kemudian AS mulai mempromosikan kebijakan luar negeri yang berotot dan agresif, mendahului masalah-masalah di seluruh dunia (dengan cara militer jika perlu), tidak dibebani oleh semacam organisasi-organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ukuran yang paling pasti dari Neocons periode ini adalah mungkin pengaruh dari rasa frustrasi dan kemarahan mereka yang melahirkan Partai Republik. Mereka telah menyempurnakan hal ini benar-benar luar biasa: mereka mengumumkan siapa mereka, betapa kuatnya mereka, bagaimana mereka berpengaruh, dan membuat orang menulis artikel tentang mereka.
Tapi ketika kebijakan mereka dirasakan telah menimbulkan kekacauan massa, mereka tidak ada, mereka tidak ada hubungannya dengan hal itu. Dan siapa pun yang menyerang mereka adalah anti-Semit.
Neocons persis mewarisi sifat dan watak Yahudi sejati. “Semua orang di gerakan konservatif sejati berbicara secara pribadi tentang neoconservatif, dan sebagian besar tidak menyukai mereka,” kata Patrick Buchanan. “Mereka ingin membalas dendam; mereka tidak kolegial … Satu perselisihan dan Anda sudah akan diperangi sampai mati.”
Buchanan menggambarkan, pada tahun 1980-an, semua kaum neocons meleburkan diri kepada semua institusi sayap kanan, dan kemudian “membajak” semua yang ada di situ dan mengubahnya menjadi lebih militan dan monokromatik dibandingkan institusi kiri manapun, termasuk Hudson Institute (tempat perlindungan selama pemerintahan Bush).
Bahkan kemudian Dewan Hubungan Luar Negeri, yang merupakan perwujudan dari nilai-nilai-diplomasi, moderasi, kehormatan dan begitu membenci neocons, sekarang menjadi tempat penampungan dua neocon: sejarawan militer Max Boot dan Elliott Abrams, mantan pejabat di era Reagan dan George W. Bush yang dihukum karena berbohong kepada Kongres. “Mereka secara efektif selalu terisolasi dari kegagalan,” kata Stephen Walt dari John F. Kennedy School of Government di Harvard, salah satu neocons yang paling antagonis.
“Bahkan jika Anda benar-benar mengacau di kantor dan hal-hal yang telah Anda anjurkan di media cetak telah gagal, tidak pernah ada konsekuensi nyata, baik profesional atau politis. Anda kembali ke AEI dan Standard Weekly dan terus melakukan agitasi (hasutan) atau muncul di acara talk show, seolah-olah tidak ada yang salah sama sekali”, ucap Steven.
Beberapa neocons—Robert Kagan, Randy Scheunemann, Gary Schmitt—memainkan peran penting dalam kampanye kepresidenan John McCain. Komentator neocons generasi kedua dan ketiga, termasuk Bret Stephens dari The Wall Street Journal, Frederick Kagan dan Danielle Pletka dari AEI, dan Jamie Fly dan Dan Senor Kebijakan Luar Negeri Initiative (produksi lain dari Bill Kristol), membuat diri mereka sendiri dikenal dan didengar di seantero Amerika.
Tokoh-tokoh neocons utama kemudian mulai termakan usia. Kissinger, Scowcroft, Colin Powell, James Baker, dan Richard Haass. Itupun kemudian mereka tampaknya, lebih tertarik mendalami masalah keagamaan, namun tetap tidak melupakan regenerasi. “Idealisme dan patriotsme mungkin lebih menarik bagi para pemikir muda daripada sebuah kalkulasi.” Ujar Justin Vaïsse, seorang senior di Brookings Institution.
“Banyak dari mereka cenderung menjadi libertarian: neo-Konfederasi, benar-benar gila, dan rasis,” kata Max Boot, yang juga editor di The Weekly Standard. “Neocons difitnah sebagai binatang-binatang yang hampir tidak manusiawi dan harus selalu dirantai dalam kandang di suatu tempat.
Tetapi ketika Anda melihat spektrum pemikiran kaum neocons, mereka sebenarnya cukup moderat. Rush Limbaughs atau misalnya Sean Hannitys—mereka benar-benar mendukung kebijakan luar negeri yang agresif. ”
Tidak pernah ada yang berani mengkritik mereka. Jika pun ada, maka dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan berbau persekongkolan. (sa/newsweek)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: