“Menunggu Ketegasan Muhammadiyah”

Sabtu, 13 Mei 2006
Salah satu tujuan utama didirikannya Muhammadiyah adalah pemurnikan tauhid. Sayang, Muhammadiyah belum tegas terhadap pengurusnya yang jelas menyimpang. Baca Catatan Adian Husaini ke-146

Oleh: Adian Husaini

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah berjanji untuk segera memutuskan status keanggotaan Dawam Rahardjo di Muhammadiyah. Menurut Wakil Ketua PP Muhammadiyah, Goodwil Zubair, dalam waktu dekat, akan ada Rapat Pleno PP Muhammadiyah dan masalah status Dawam Rahardjo ini akan dibicarakan dalam rapat tersebut.
Goodwil menyampaikan hal itu kepada delegasi Front Penanggulangan Ahmadiyah dan Aliran Sesat (FPAS), yang mendatangi PP Muhammadiyah di Jalan Menteng Raya 62 Jakpus, Rabu (3/5/2006).
Kepada delegasi FPAS, Goodwil mengabarkan, bahwa hampir setiap hari ada warga Muhammadiyah yang mengadukan masalah Dawam Rahardjo kepada PP Muhammadiyah. Ditambahkan juga oleh seorang pengurus Majelis Tablig PP Muhammaidyah, bahwa ketika Musda Muhammadiyah Bekasi, banyak juga yang mempertanyakan sikap PP Muhammadiyah terhadap Dawam Rahardjo.


Kepada PP Muhammadiyah, FPAS mendesak, agar Dawam Rahardjo dipecat secara resmi dari keanggotaan Muhammadiyah, mengingat sepak terjangnya yang sudah sangat keterlaluan dalam melakukan pembelaan terhadap kelompok sesat Ahmadiyah dan berbagai ucapannya yang menyudutkan umat Islam di Indonesia.
Padahal, sebagaimana kita sebutkan dalam catatan yang lalu, sejak tahun 1934, Majelis Tarjih Muhammadiyah sudah memutuskan, bahwa orang yang mengimani ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad adalah KAFIR. “Sepak terjang Dawam Rahardjo bukan hanya merugikan Muhammadiyah, tetapi juga umat Islam Indonesia,” tegas Mashadi, mantan anggota Komisi I DPR, yang hadir dalam delegasi FPAS. Karena itu, Mashadi mendesak PP Muhammadiyah, agar berani menegakkan disiplin organisasi terutama yang berkaitan dengan aqidah Islam.
Menanggapi desakan itu, Goodwil menyatakan, secara individu, sejumlah anggota PP Muhammadiyah juga sudah berpendapat agar Dawam Rahardjo segera dipecat secara resmi dari keanggotaannya di Muhammadiyah. Tetapi, itu masih merupakan pendapat-pendapat individu; belum menjadi keputusan resmi organisasi. Insyaallah, masalah Dawam, kata Goodwil, akan segera dituntaskan secara organisasi.
Dalam acara pertemuan tersebut, TIM FAKTA (Forum Antisipasi Pemurtadan), juga menyerahkan bukti-bukti
ceramah Dawam Rahardjo (dalam bentuk VCD dan transkrip ceramah), di hadapan Jemaat Kristen di Balai Sarbini Semanggi Jakarta pada 28 April 2006 lalu. Diantara isi ceramahnya, Dawam menyatakan, bahwa Menteri Agama RI harus segera diganti. Dan penggantinya sebaiknya bukan dari kalangan Muslim, tetapi dari golongan minoritas.
“Kalau itu berasal dari kelompok agama yang mayoritas, wah, itu pasti dia cenderung untuk selalu melanggar, karena merasa berani dan merasa kuat,” kata Dawam. Ia juga menegaskan, bahwa kebebasan beragama di Indonesia harus diperjuangkan, termasuk kebebasan untuk tidak beragama.
Menyimak pernyataan Dawam tersebut, kita bisa menilai, orang seperti apakah Dawam Rahardjo ini? Hanya karena untuk mengambil hati kaum Kristen, maka dia berani menyampaikan sesuatu yang sulit diterima akal sehat. Kaum Kristen pun mungkin tidak terpikir seperti itu. Di daerah-daerah mayoritas Kristen di Indonesia, seperti NTT dan Sulawesi Utara, kaum Kristen menuntut agar Kepala Kanwil Departemen Agama adalah dari kalangan mereka, kaum Kristen.
Maka, pernyataan Dawam bahwa, jika orang Muslim yang menjadi Menteri Agama, maka akan cenderung melanggar, adalah tidak berdasar sama sekali.
Dalam pertemuan dengan PP Muhammadiyah, sejumlah pengurus Muhammadiyah sendiri juga mengungkapkan data-data seputar kesalahan yang telah diperbuat Dawam Rahardjo ketika aktif di Majelis Ekonomi Muhammadiyah.
Karena itulah, kita semua menunggu keberanian Muhammadiyah untuk mengambil sikap yang tegas terhadap Dawam Rahardjo. Sebagai pengurus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, saya juga mengingatkan, agar Muhammadiyah sangat peduli dan berani mengambil sikap yang tegas dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan aqidah Islam. Sebab, itulah tujuan utama Muhammadiyah didirikan. Dan masalah aqidah (Tauhid) inilah yang juga menjadi tugas pokok dari semua Nabi yang diutus Allah SWT kepada umat manusia.
Adalah sangat tidak patut, jika Muhammadiyah mengabaikan masalah keimanan dan lebih menekankan pada masalah amal usaha semata. Paham syirik modern, seperti paham Pluralisme Agama, seharusnya mendapat penanganan yang serius di Muhammadiyah. “Jangan sampai azab Allah ditimpakan kepada Muhammadiyah, karena mengabaikan masalah aqidah ini,” saran saya kepada PP Muhammadiyah. Saya ingat, sekitar tahun 1970-an, Bapak saya yang aktif di Muhammadiyah Cepu, begitu sibuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC).
Sekarang ini, menurut Syamsul Hidayat, Wakil Ketua Majlis Tabligh Muhammadiyah, penyakit TBC sudah menjelma menjadi ‘sipilis’ (sekularisme, pluralisme agama, dan liberalisme). Masalah inilah yang harusnya terus menjadi perhatian utama pimpinan Muhammadiyah.
Jangan sampai di tubuh Muhammadiyah bersarang penyakit TBC atau ‘sipilis’. Sebab, syirik adalah kezaliman yang besar. Dosa syirik adalah urusan besar. Adalah aneh, jika di tubuh Muhammadiyah disebarkan paham Pluralisme Agama yang menyatakan semua agama adalah benar dan sah sebagai jalan menuju Tuhan.
Kepada PP Muhammadiyah, Mashadi, yang juga pengurus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, tak lupa mengingatkan pimpinan Muhammadiyah agar lebih memperhatikan umatnya dan mengurusi internal warga dan amal usaha Muhammadiyah. Kata Mashadi, itu lebih baik, ketimbang sibuk mencari muka kepada pemimpin-pemimpin Barat.
Urusan umat begitu besar, dan harusnya semua itu menjadi prioritas kerja pimpinan Muhammadiyah. Saran Mashadi itu perlu direnungkan dengan mendalam oleh pimpinan Muhammadiyah. Mereka sudah saatnya melakukan pembenahan total dan mendasar ke kampus-kampus Muhammadiyah, sekolah-sekolah Muhammadiyah, rumah-rumah sakit Muhammadiyah dan sebagainya. Jika semua itu berhasil dilakukan dengan baik oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin dan kawan-kawan, maka sekitar 20-30 tahun lagi, Muhamadiyah akan menjadi kekuatan umat yang sangat signifikan sebagai gerakan dakwah dan gerakan budaya di Indonesia.
Pemimpin Muhammadiyah harus meninggalkan cara pandang yang terlalu pragmatis dan silau dengan prestasi-prestasi politik sesaat yang tidak memberikan perubahan yang mendasar terhadap masa depan mat Islam. Target-target politik jangka pendek jangan sampai mengorbankan urusan aqidah dan perjuangan jangka panjang dalam bidang dakwah yang lebih strategis bagi masa depan umat.
Untuk itu, tidak bisa tidak, pimpinan Muhammadiyah harus memperhatikan masalah aqidah dan ilmu. Disiplin dalam kedua harus harus mulai ditegakkan dengan kuat.
Perlu dibuat target, misalnya, sepuluh tahun lagi, tidak boleh ada sarjana lulusan pendidikan tinggi Muhammadiyah yang menjadi penghujat aqidah Islam atau tidak menjalankan shalat lima waktu. Kampus Muhammadiyah harus menjadi pusat pembinaan kader-kader intelektual atau ulama yang memiliki kualitas ilmu dan amal yang tinggi.
Semua itu bisa dilaksanakan jika dimulai dari pucuk pimpinan terlebih dulu. Pemimpin Muhammadiyah harus menjadi teladan bagi umatnya, dalam bidang ilmu dan amal. Mereka nanti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah, atas segala amanah yang diterima.
Karena itu, kasus Dawam Rahardjo ini menjadi batu ujian untuk pimpinan Muhammadiyah. Beranikah mereka mengambil keputusan yang tegas terhadap seorang anggota Muhammadiyah yang jelas-jelas menentang ajaran Islam dan menyudutkan umat Islam dalam berbagai kesempatan. Apalagi, setelah resmi diberhentikan d ari Majelis Ekonomi Muhammadiyah, sepak terjang Dawam Rahardjo semakin liar.
Di berbagai organisasi Islam, bahkan di berbagai lingkungan perguruan tinggi Islam, penegakan disiplin dalam soal aqidah dan pemikiran Islam ini tampak begitu lemah. Kekeliruan yang mendasar dalam bidang keilmuan sering dipuji-puji sebagai prestasi keilmuan.
Ini adalah bentuk kezaliman yang sangat nyata. Orang yang bukan ulama diagung-agungkan sebagai ulama besar. Cendekiawan yang keliru dalam pemikirannya dipuja-puji sebagai pemikir besar ata pembaru (mujaddid) Islam.
Pada 19 April 2006, saya diundang ke salah satu perguruan tinggi Islam di Bandung untuk menjadi pembicara dalam acara bedah buku saya ‘Hegemoni Kristren-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi’. Di dalam forum, ada seorang mahasiswa yang menyatakan, bahwa ada dosennya yang mengatakan, al-Quran perlu dikritik. Ada lagi mahasiswa yang cerita, usai acara, bahwa ada dosennya (laki-laki) yang secara terang-terangan tidak melaksanakan shalat Jumat.
Seorang dosen yang juga petinggi di kampus itu, malah menyatakan, bahwa di kampusnya memang tidak diajarkan aqidah Islam, tetapi hanya diajarkan Ilmu Kalam. Kita tentu heran, mengapa semua itu dibiarkan terjadi begitu lama ? Seolah-olah tidak ada masalah yang serius.
Pendidikan Tinggi Islam, sebagaimana dicita-citakan oleh umat Islam, seyogyanya dikelola oleh cendekiawan yang memahami dan mengamalkan Islam, sehingga diharapkan akan melahirkan sarjana-sarjana yang bermutu tinggi dan baik. Meskipun jumlah yang rusak, secara kuantitatif, tidak banyak, tetapi karena ‘penyakit’ itu dibiarkan saja, maka lama kelamaan akan menyebar dan merusak semua sistem yang ada.
Dr. Moh. Natsir pernah mengungkapkan, jika mau memadamkan api, lakukan ketika api itu masih kecil. Jika ada pemikiran yang dianggap baru dan menyimpang – seperti pernyataan bahwa al-Quran bukan Kitab Suci — maka secepatnya harus dilakukan klarifikasi, diuji secara ilmiah, dan dikonfrontasikan dengan para ilmuwan lain. Tidak boleh dibiarkan begitu saja. Jika ada dosen yang tidak shalat, maka harus segera disidang oleh senat guru besar dan disadarkan untuk bertobat. Jika tidak mau juga, maka seyogyanya diambil tindakan yang tegas. Meninggalkan shalat lima waktu adalah tindakan kejahatan dan dosa besar dalam pandangan Islam. Bukan hanya mencuri atau korupsi saja. Jadi, seyogyanya, satu organisasi, kampus, atau lembaga Islam, menerapkan disiplin organisasi dan pemikiran Islam ke dalam dulu, sebelum menerapkan atau memperjuangkannya kepada lembaga lain.
Sikap kritis dan tegas dalam pemikiran dan keilmuan harus ditegakkan, khususnya di kalangan ilmuwan.
Adalah sangat berbahaya jika para ilmuwan sendiri kehilangan sikap kritis, dan sekedar memuja-muji
seseorang tanpa sikap kritis yang memadai. Ini terjadi, misalnya, terhadap Nurcholish Madjid dan
Harun Nasution. Kedua ilmuwan ini sering dipuji-puji tanpa memberikan kritik yang memadai terhadap sejumlah pemikiran mereka yang keliru. Sebagai contoh, dalam sebuah buku berjudul “Teologi Islam Rasional”, banyak ilmuwan yang memberikan pujian yang berlebihan dan kurang kritis terhadap pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution.
Prof. Dr. Said Agil al-Munawwar, misalnya, menulis dalam buku ini: “Karena itu, beliau perlu diteladani oleh para intelektual maupun generasi berikutnya. Harun Nasution adalah sebagai salah seorang tokoh pembaru diantara sedikit tokoh yang ada, ia termasuk tokoh sentral dalam menyemaikan ide pembaruan bersama tokoh lainnya di Indonesia … Harun sangat tepat disebut pemancang perubahan dalam tradisi akademik di lingkungan perguruan tinggi Islam Indonesia. (Teologi Islam Rasional, 2005:xvi-xvii).”

Ada sejumlah pemikiran Harun Nasution yang sangat perlu dikritisi, sebelum dipuji secara berlebihan.
Misalnya, dalam buku ini juga disebutkan pemikiran Harun Nasution, bahwa ajaran Islam yang bersifat dasar
dan absolut hanya ada empat, yaitu: (a) Tidak boleh ada dalam pemikiran Islam bahwa Allah tidak ada, (b)
Tidak boleh ada dalam pemikiran Islam bahwa al-Quran bukan wahyu, (c) Tidak boleh ada kesimpulan dalam
pemikiran Islam bahwa Muhammad bukan Rasul Allah, (d) Tidak boleh ada kesimpulan bahwa Hari Akhir tidak ada. Sedangkan ajaran Islam lainnya bersifat pengembangan. (Ibid, hal. 65).
Benarkah ajaran Islam yang dasar dan absolut hanya empat hal itu? Bagaimana jika ada yang menyatakan
bahwa ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad? Bukankah iman kepada Malaikat dan iman kepada taqdir Allah juga termasuk ajaran pokok dalam Islam?
Pemikiran Harun seperti itu jelas keliru dan terlalu mudah untuk dikritisi. Kekeliruan Harun lainnya, misalnya, dalam kategorisasi agama-agama, seperti ditulisnya dalam buku “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”. Menurut Harun, jenis agama monoteisme (diistilahkan juga dengan ‘agama Tauhid’) adalah Islam, Yahudi, Kristen, dan Hindu. Agama Islam, Yahudi, dan Kristen, adalah satu rumpun. Sedangkan agama Hindu bukan satu rumpun.
Namun, Islam dan Yahudi adalah agama monoteis yang murni, sedangkan Kristen tidak murni monoteis lagi. Pemikiran Harun tersebut jelas keliru. Tetapi, karena para dosen agama dan petinggi Departemen Agama kurang peduli dengan masalah ini, maka puluhan tahun, kekeliruan itu tetap dibiarkan. Hingga kini, sudah 30 tahun lebih, buku Harun Nasution tetap menjadi buku wajib di kampus-kampus UIN/IAIN/STAIN dan PTIS di Indonesia. Kita berharap, sikap kritis dan semangat keilmuan Islam yang tinggi segera dapat ditumbuhkan di lingkungan perguruan dan organisasi Islam, sehingga kekeliruan ilmu tidak semakin bertambah parah. Amin. (Bukittinggi, 5 Mei 2006/hidayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini merupakan kerjasam antara Radio Dakta 107 FM dan http://www.hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: