Menyikapi Holocaust

Sabtu, 26/12/2009 10:04 WIB |
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,
Eramuslim yang dirahmati Allah SWT,
Saya ingin bertanya menganai holocaust, terlalu banyak friksi dan turbulensi pendapat akan kebenaran holocaust, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju . Salah satu figur pemimpin Syiah Ahmadinejad dengan lantang mengatakan bahwa “Holocaus is a myth” dan di satu sisi masih dalam pihak Islam mengatakan bahwa Holocaust adalah benar,dan itu pantas untuk Yahudi sebagai umat yang dimurkai Allah SWT.
Ada juga yang bilang bahwa itu adalah konspirasi besar antara Nazi-zionist untuk menyukseskan ide gila zionis agar seluruh orang yahudi di dunia dikumpulkan di Yerusalem ,di satu sisi dikatakan bahwa Nazi juga berkonspirasi dengan pihak Islam. Yang ingin saya tanyakan ,bagaimanakah seharusnya kita bersikap terhadap tragedi kemanusiaan ini, haruskah kita “mensyukuri” apa yang terjadi terhadap Yahudi sebagai umat dimurkai ketika itu ,atau “mengutuk” holocaust sebagai satu senjata propaganda besar bagi Israel untuk mengusir umat Islam di Yerusalem?
rendi
Jawaban

Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh,
Saudara Rendi yang dirahmati Allah Swt. Holokoust, atau dalam istilah Barat disebut sebagai The Final Solution, memang merupakan mitos alias isapan jempol belaka. Presiden Iran Ahmadinejad hanyalah satu di antara banyak tokoh dunia yang mengatakan hal itu. Bahkan sejumlah intelektual berdarah Yahudi yang memegang teguh integritas keilmuannya juga menyanggah jika holokoust terjadi seperti yang digambarkan kaum Zionis-Yahudi selama ini.
Salah satunya, Profesor Norman Finkelstein. Finkelstein seorang yahudi dimana ibunya dikatakan menjadi salah satu korban tentara Jerman dalam Perang Dunia II. Suatu hal yang lumrah dalam peperangan. Dalam bukunya yang sangat terkenal “The Holocoust Industry”, Finkelstein menyanggah jika kamp Auschwitz merupakan kamp raksasa yang berisi kamar-kamar penyiksaan dengan gas beracun dimana jutaan orang Yahudi di bunuh di dalamnya. Jumlah total populasi orang Yahudi di seluruh Eropa saja ketika itu hanya sekira 500 ribu orang, bagaimana mungkin ada jutaan orang Yahudi dibunuh Hitler dengan cara satu persatu dimasukkan ke dalam kamar gas? Ini sangat konyol.
Finkelstein dengan tegas menyatakan jika kaum Zionis memang sengaja menciptakan mitos Holokoust agar dunia, terutama Barat, simpati dan mendukung keinginannya memperoleh tanah Palestina. Bahkan dengan mitos tersebut, Zionis-Israel sampai hari ini masih saja bisa leluasa ‘memalak’ negara-negara Barat agar setiap tahun mengucurkan dana besar untuk membangun Israel Raya.
Karena keberaniannya, Norman Finkelstein dipecat dari perguruan tinggi tempatnya mengajar. Setiap hari, Yahudi yang anti Zionis ini menuai kecaman dan ancaman dari sesama Yahudi yang berpandangan Zionistik.
Selain Finkelstein, ada pula nama Frederich Toben. Orang Jerman yang kini tinggal di Australia ini dikenal dikalangan “Pembongkar Mitos Holokoust” sebagai salah satu peneliti paling berani. Toben malah pernah dipenjara di Jerman gara-gara keberaniannya. Menurut penelitian Toben, Hitler sesungguhnya hanya seorang nasionalis ingin membebaskan Jerman yang morat-marit dan nyaris bangkrut akibat kalah dalam Perang Dunia I dan diikat Perjanjian Versailes yang amat merugikannya.
Menurut Hitler, segala kerusakan yang melanda negerinya tersebut diakibatkan oleh penghisapan yang dilakukan para lintah darat, pengusaha-pengusaha Yahudi, yang memenuhi negaranya. Sebab itu Hitler berkeyakinan jika Jerman harus bebas dari orang Yahudi jika ingin merdeka dan sejahtera. Ini menurut penelitian Frederich Toben yang memeriksa dengan teliti semua situs tentang mitos Holokoust di segala penjuru Eropa, termasuk memeriksa kamar demi kamar di kamp Auschwitz, dan tidak menemukan bukti apa pun tentang klaim Zionis-Yahudi tentang Holokoust itu.
Namun yang patut diketahui, ketika itu merupakan masa-masa sulit bagi gerakan Zionis. Agenda gerakan Zionis Internasional selepas kongresnya yang pertama di Basel-Swiss pada tahun 1897 yang menginginkan agar semua orang Yahudi berbondong-bondong menyerbu tanah Palestina dan mengusir penduduk asli Palestina, tidak mendapat sambutan yang hangat di Eropa. Kala itu banyak Yahudi Eropa yang terang-terangan menyatakan enggan pindah ke Palestina. Mereka sudah hidup cukup layak di Eropa, buat apa memulai hidup baru di tanah yang gersang seperti Palestina. Mungkin demikian yang ada di benak kaum Yahudi di Eropa saat itu.
Theodore Hertzl sebagai pimpinan gerakan zionis internasional akhirnya menyusupkan seorang profesor Yahudi Jerman hingga dia bisa mendekati Hitler. Profesor Karl Ernst Haushofer, demikian namanya, merupakan pakar di bidang geopolitik. Dengan bantuan diam-diam kaum Zionis, Haushofer akhirnya bisa menjadi guru politik bagi Adolf Hitler. Haushofer inilah yang mencekoki Hitler dengan pemikiran rasisme, membanggakan ras aryan di atas seluruh ras manusia di muka bumi. Buku Mein Kampf yang menjadi kitab suci bagi Nazi ditulis atas dasar-dasar pemikiran Haushofer ini.
Ketika Hitler berhasil berkuasa, dia segera membuang seluruh perjanjian Versailles dan terang-terangan menyatakan menolaknya. Hitler membangun angkatan bersenjata yang besar dan kuat, termasuk semua armada tempurnya, di darat, laut, dan udara. Dalam waktu singkat, Jerman berubah menjadi salah satu kekuatan yang harus diperhitungkan dunia. Maka dimulailah upaya pengusiran orang-orang Yahudi dari Jerman.
Yang tidak banyak diketahui orang, usaha Hitler untuk membangun angkatan bersenjatanya ini ternyata didukung pula oleh Prescott Bush, kakek dari George Walker Bush dan sejumlah pemodal Zionis-Yahudi Amerika lainnya. Federal Reserve Bank, bank sentral AS, bahkan mengucurkan dana besar-besaran untuk menyokong upaya Hitler ini.
Ketika Hitler bergerak ke seluruh Eropa, maka takutlah semua orang Yahudi Eropa. Mereka berbondong-bondong mengungsi ke luar Eropa dan kaum Zionis diam-diam menyediakan banyak kapal yang akan membawa mereka ke Palestina. Begitulah fakta yang terjadi sebenarnya.
Ketika Zionis-Internasional menganggap upaya Hitler sudah cukup, maka mereka mencabut semua dukungan finansialnya kepada Jerman dan berbalik memerangi Hitler. Hitler pun kalah dan Jerman berhasil jatuh ke tangan mereka lagi sampai saat ini, juga seluruh Eropa dan Amerika.
Benarkah Hitler saat itu bersekutu dengan Dunia Islam? Jawabannya tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Yang jelas, saat itu konspirasi Zionis-Internasional sangat rapi sehingga membuat banyak pihak terperdaya, bahkan Hiter sendiri pun sesungguhnya diperalat oleh mereka.
Mungkin itu dulu jawaban dari saya. Jika ingin lebih mendalami tentang mitos holokoust tersebut, silakan telusuri sendiri buku-buku yang membongkar hal tersebut atau bisa pula berselancar di situs-situs sejenis. Klik saja nama Toben, Finkelstein, holocoust myth, dan sebagainya, Anda akan menemukan ribuan artikel tentang kebohongan peristiwa tersebut.
Wallahu’alam bishawab, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: