“Peringatan KH Khalil Ridwan”

Senin, 03 April 2006
KH Khalil Ridwan, pimpinan pesantren Husnayain mengklarifikasi tentang upaya infiltrasi paham sekularisme-liberalisme (SIPILIS) ke pondok pesantren. Baca Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke 142

Oleh: Adian Husaini

Pada tanggal 27 Maret 2006, Harian Republika memuat sebuah surat pembaca yang dikirim oleh KH A. Khalil Ridwan, seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia. Surat ini sangat penting untuk diperhatikan, karena memberikan klarifikasi dan peringatan tentang upaya infiltrasi paham sekularisme-liberalisme ke pondok-pondok pesantren. Surat itu juga menyebutkan adanya sikap tegas dari pimpinan Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI) yang memutus segala bentuk kerjasama dengan lembaga pengasong ide liberal ICIP (International Center for Islam and Pluralism) yang dipimpin Dr. M. Syafii Anwar.
Tampaknya, selama ini, kerjasama itu hanya dilakukan oleh ‘oknum’ BKSPPI saja.


Sebagai salah satu anggota Majlis Pimpinan BKSPPI, Kyai Khalil mengaku tidak tahu menahu tentang kerjasama tersebut, dan menyebut kerjasama itu sebagai “sebuah kecelakaan dan bencana yang sedang menimpa organisasi BKSPPI.” Ia juga menyatakan, kerjasama tersebut, “sangat berbahaya bagi ketahanan aqidah umat.”
Alhamdulillah, kata Kyai Khalil, KH.Didin Hafiduddin sebagai ketua Presidium MP BKSPPI telah mengadakan rapat yang dihadiri oleh pengurus BKSPPI, pada Hari Rabu 22 Shafar 1427. Hasilnya: Memutuskan semua kerjasama antara BKSPPI dengan ICIP dan membatalkan kerjasama menerbitkan majalah AL-WASATHIYAH. Selanjutnya BKSPPI, tidak bertanggung jawab apabila majalah tersebut masih terbit.
Kyai Khalil Ridwan mengimbau agar umat umat Islam dengan serius merapatkan barisan dan jangan mudah terbius oleh zukhrufalqoul (ucapan yang menipu) dari kalangan munafiqin yang mengasong-asongkan dagangan berupa syirik modern dalam bentuk faham atau aliran yang sudah diharamkan oleh MUI pada MUNAS 2005. Juga, khususnya kepada kalangan pondok Pesantren dan organisasi pondok pesantren, Kyai Betawi itu juga mengingatkan, agar mereka mewaspadai kemungkinan adanya infiltran yang sengaja disusupkan di lingkungan masing-masing.
Demikian surat KH Khalil Ridwan di Harian Republika.
Peringatan KH Khalil, yang juga pimpinan pesantren Husnayain, sebenarnya menyiratkan satu beban kepedihan yang sangat mendalam. Betapa tidak, di tengah-tengah tekanan dan beban ekonomi yang sedang dililit oleh kalangan pondok pesantren, datanglah agen-agen LSM asing yang menawarkan program-program dan dana yang menggiurkan.
Tidak mudah untuk menolak hal semacam itu. Saat ini, “dagangan” yang laku dijual kepada Barat adalah menjual isu atau ide yang “mengobok-obok Islam”, seperti paham Pluralisme Agama, dekonstruksi konsep wahyu, kesetaraan gender, dekonstruksi syariah, dan sejenisnya. Isu-isu semisal “pemberantasan kemiskinan” dan “advokasi hukum” tidak begitu laku lagi dijual, sehingga LSM-LSM sejenis YLBHI pun tidak semakmur dulu, sebelum Perang Dingin berakhir. Simaklah sederetan nama LSM yang mendapat kucuran dana dari The Asia Foundation berikut ini:
Yayasan Desantara (Pluralisme agama, penerbit Majalah Syir’ah)
Lembaga Studi Agama dan Demokrasi (Elsad) – (Pluralisme Agama dan Demokrasi)
Fahmina Institute – (Pluralisme Gender equality)
Indonesia Center for Civic Education – Demokrasi
International Center for Islam and Pluralism (ICIP) – (Pluralisme agama)
Indonesia Conference on Religion and Peace – (Pluralisme agama)
Institut Arus Informasi (ISAI) – (Pluralisme dan Jurnalisme)
Jaringan Islam Liberal (JIL) – (Liberalisasi Pemikiran)
Paramadina – (Pluralisme agama)
Pusat Studi Wanita –UIN – (Gender equality)
Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) – (Gender equality)
Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) – (Penerbitan buku-buku pluralisme)
Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdhatul Ulama (Pluralisme Agama, dekontsruksi syariah)
Pusat Studi Agama dan Peradaban Muhammadiyah (Pluralisme Agama)

Daftar lembaga itu bisa diperpanjang lagi sampai tiga halaman. Isu-isu yang ditebarkan oleh lembaga-lembaga tersebut juga tidak jauh-jauh seputar liberalisasi Islam. Seolah-olah, itulah isu utama yang sedang dihadapi umat Islam. Seolah-olah, umat Islam akan bangkit dan maju jika mengikuti agenda-agenda Barat tersebut.
Padahal, masalahnya sebenarnya tidak demikian. Memang tidak dapat dipungkiri terdapat banyak kelemahan internal di kalangan pondok pesantren sendiri. Tetapi, jika cara untuk memperbaikinya adalah dengan menyebarkan paham multikulturalisme dan pluralisme agama, adalah salah sama sekali.
Jika yang dipersoalkan adalah soal toleransi, maka kita dapat bertenya dengan sungguh-sungguh, sebenarnya, siapa yang selama ini tidak toleran? Apa yang salah dengan pandangan keagamaan pesantren terhadap kaum non-Muslim? Selama ratusan tahun, pondok pesantren dan umat Islam di Indonesia sudah bersikap sangat toleran dan menghargai umat dan agama lain, tanpa meninggalkan keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar.
Workshop-workshop, pelatihan, dan sejenisnya tentang pluralisme dan multikulturalisme ala ICIP itu harusnya justru diberikan kepada pihak Barat, seperti George W. Bush dan kawan-kawannya, yang hingga kini jelas-jelas bersikap sangat tidak toleran terhadap Islam dan umat manusia, dengan memaksakan paham sekular-liberalnya untuk dipeluk umat manusia.
Mereka jelas-jelas tidak menghargai perbedaan, tidak bersikap ‘multikultural’, sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan. Dengan pemaksaan ide “sekularisasi-liberalisasi” ala Barat kepada kaum Muslimin, Barat dan agen-agen liberalnya di Indonesia sebenarnya telah bersikap monolitik dan sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk meyakini dan menjalankan ajaran-ajaran agamanya sendiri.
Mereka memaksakan – dengan segala kekuatan dana, politik, informasi – paham mereka kepada umat Islam. Mereka juga tidak menghargai aspirasi keagamaan umat Islam. Hingga kini, AS dan Inggris tidak berani mengangkat seorang menteri Muslim-pun. Juga, mereka tidak mau memberi hari libur Idul Fithri dan Idul Adha kepada umat Islam. Padahal, Inggris mempunyai hari libur ‘Boxing Day’ dan libur Paskah dua hari.
Kita bisa membuktikan dalam sejarah, siapa yang sebenarnya lebih bersikap menghargai perbedaan dan keragaman: Islam atau Barat? Sayangnya, ada saja sebagian dari kalangan kaum Muslim yang lebih suka menjadi corong paham-paham destruktif – semisal Pluralisme Agama.
Adalah musibah besar bagi umat Islam, jika yang menyebarkan paham syirik itu adalah dari kalangan ulama dan cendekiawan.
Sayyidina Umar bin Khathab pernah menyatakan dalam satu khutbahnya; “Yang paling aku khawatirkan akan menimpa kalian adalah perubahan zaman, tergelincirnya orang yang berilmu dari kebenaran, berargumentasinya orang-orang munafik dengan al-Quran, pemimpin yang sesat dan menyesatkan manusia dalam kondisi ketidaktahuan.” (Ibnul Jauzi, Sirah Umar, hal. 223)
Karena itu, para tokoh Islam, ulama, kyai, ustad, mubaligh, dan sebagainya, seyogyanya menyadari pentingnya memahami tantangan pemikiran dan aqidah Islam di zaman globalisasi ini. Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghazali menyatakan, wajib hukumnya bagi para ulama untuk memahami pemikiran-pemikiran yang bathil, agar dapat menjelaskan dan menjaga aqidah umat. Sebab, para ulama itulah yang diamanahi untuk menjaga Islam. Dan pondok pesantren merupakan benteng-benteng terakhir pertahanan umat Islam di bidang aqidah.
Di masa lalu, para ulama Islam sangat memahami pemikiran-pemikiran yang berkembang di zaman itu. Imam al-Ghazali memahami masalah filsafat dengan baik dan memberikan kritik yang sangat tajam melalui bukunya Tahafut al-Falasifah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan kritik yang sangat tajam terhadap kepercayaan agama Kristen melalui empat jilid bukunya, al-Jawab al-Shahih li-Man Baddala Din al-Masih. Dalam bidang Ilmu Kalam, begitu banyak ditemukan jawaban-jawaban yang sangat argumentatif terhadap pemikiran Mu’tazilah.
Para ulama, kyai, cendekiawan Muslim, khususnya yang saat ini memegang amanah memimpin pondok pesantren, seyogyanya meneladani jejak para ulama terdahulu. Disamping memiliki kualitas ketaqwaan yang tinggi, seyogyanya, pada kyai itu juga memahami benar hakekat dan jatidiri paham-paham yang destruktif terhadap para santrinya.
Di era globalisasi, hampir tidak mungkin membendung paham-paham itu tidak memasuki arena pondok pesantren, melalui media komunikasi yang ada, baik cetak maupun elektronik. Satu-satunya jalan untuk menangkalnya adalah memahami paham-paham destruktif itu dengan mendalam, sehingga para kyai atau ustad di pesantren dapat menjelaskan kepada para santri dan muridnya, apa dan bagaimana sebenarnya paham-paham yang bertentangan dengan aqidah Islam tersebut.
Peringatan KH Khalil Ridwan sangatlah penting untuk direnungkan secara mendalam. Sebab, jika orang yang berstatus kyai atau ulama justru termakan paham-paham yang bertentangan dengan aqidah Islam, maka akibatnya sangatlah fatal. Orang yang diamanahi menjaga agama dan mewarisi risalah kenabian, justru menjadi penghancur risalah itu sendiri.
Rasulullah saw sudah pernah mengingatkan; “Yang merusak umatku adalah orang alim yang durhaka dan ahli ibadah yang bodoh. Seburuk-buruk manusia yang buruk adalah ulama yang buruk dan sebaik-baik manusia yang baik adalah ulama yang baik.” (HR Ad-Darimy).

Juga ada sabda beliau saw:

“Termasuk diantara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang Al-Quran.” (HR Thabrani dan Ibn Hibban).

Menyambut imbauan dan peringatan KH Khalil Ridwan, kita berdoa dan berharap, mudah-mudahan para kyai dan pimpinan pondok pesantren, khususnya sekitar 2000 pesantren yang ada di lingkungan BKSPPI, tidak sampai kebobolan dan terinfiltrasi paham-paham syirik modern yang kini dijajakan dengan kemasan yang sangat menarik. Allahumma Amin. (Jakarta, 30 Maret 2006/hidayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan http://www.hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: