“Seminar Tentang Islam Liberal di Malaysia”

Sabtu, 08 April 2006
Banyak tokoh Islam Malaysia terbengong-bengong karena para penyebar paham Liberal di Indonesia adalah orang-orang yang mempunyai latar belakang studi Islam. Baca Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke-143

Oleh: Adian Husaini

Islam Liberal sudah sangat populer di Malaysia. Berbagai forum keislaman, baik seminar, khutbah, majslis ta’lim, acara televisi, dan sebagainya sering mendiskusikan masalah ini. Terutama melihat perkembangan paham ini di Indonesia. Rata-rata tokoh Islam di Malaysia memahami secara global masalah ini, dan melihat Islam Liberal sebagai ancaman terhadap Islam dan keselamatan agama dan bangsa. Tetapi, berbeda dengan Indonesia, pemerintah Malaysia sudah mengambil sikap yang tegas terhadap faham ini.
Padahal, perkembangan paham ini di Malaysia, bisa dikatakan masih dalam peringkat embrional. Ibarat
penyakit, masih dalam stadium awal. Belum parah dan belum menyebar luas, seperti di Indonesia. Penyakit
ini pun masih berkisar para beberapa kelompok LSM saja. Meskipun demikian, organisasi-organisasi Islam
dan pemerintah Malaysia, sudah mulai menganggap masalah ini sebagai masalah serius.
Maka, pada 1-2 April 2006 lalu, di Kerajaan Negeri Terengganu, diselenggarakan sebuah seminar tingkat
kebangsaan (nasional) yang bertema: Liberalisma Agama.


Saya diminta untuk menyampaikan satu makalah dengan tema “Konspirasi Luar dalam Penyelewengan Agama: Suatu Andaian atau Realiti.” Seminar diselenggarakan oleh Yayasan Dakwah Islamiah (YADIM) Malaysia, bekerjasama dengan Kerajaan Negeri Terengganu dan Majlis Agama Islam dan Adat Melayu Terengganu (MAIDAM).
Peserta seminar adalah para tokoh, cendekiawan, serta sejumlah Mufti Kerajaan dari seluruh Malaysia.
Sikap pemerintah Malaysia terhadap paham (isme) Islam Liberal bisa dilihat dari pernyataan Menteri Besar
(Kepala pemerintahan Negara Bagian) Terengganu, Dato’ Seri Haji Idris bin Jusoh, yang membuka acara seminar, dan juga pernyataan Menteri di Jabatan Perdana Menteri (bidang agama) Dato’ Dr. Abdullah bin Muhammad Zin, yang menutup acara seminar.
Dalam pemilihan umum tahun 2004 lalu, partai berkuasa, UMNO, mengalahkan partai PAS di wilayah Terengganu. Dato’ Idris Jusoh menjadi Menteri Besar Terengganu menggantikan Presiden PAS, Hadi Awang. Dalam ucapan pembukaan seminar tentang Islam Liberal tersebut, Dato’ Idris Jusoh menyatakan:

“Cabaran (tantangan. Pen) dakwah sejak akhir-akhir ini semakin kompleks dan berbagai ragam. Dahulu orientasi ajaran sesat atau penyelewengan agama ini berlaku di kawasan luar bandar dan bergerak dengan
sembunyi-sembunyi. Tetapi pada hari ini kumpulan yang menyebarkan fahaman Islam Liberal, pluralisme agama dan lain-lain, bergerak dengan cara terang-terangan dan berani sekali melalui saluran media komunikasi yang sangat canggih. Buku-buku mengenai fahaman Islam Liberal dan lain-lain dapat dibeli dengan mudah di pasaran terbuka. Saya cukup bimbang apa yang sudah berlaku kepada beberapa orang cerdik pandai di negara serumpun seperti Indonesia akan merebak dan berjangkit kepada para sarjana kita yang silau akalnya oleh pandangan-pandangan golongan Islam Liberal ini.
Saya berharap seminar ini dapat menjadi medan percambahan pemikiran di kalangan para peserta
terutama para alim ulama, pegawai-pegawai agama, kehakiman dan para peneliti perkembangan dakwah di
negara ini. Saya menyeru kepada semua yang terlibat dalam seminar ini agar sama-sama memainkan peranan masing-masing di dalam mengekang fahaman ini daripada terus berkembang.’’

Demikianlah sikap Menteri Besar Terengganu terhadap paham baru bernama ‘Islam Liberal’. Sikapnya tegas dan jelas, bahwa paham Islam Liberal, termasuk paham Pluralisma Agama, adalah paham yang sesat dan
menyeleweng dari agama Islam. Beliau juga berharap, agar apa yang telah terjadi di Indonesia tidak terjadi
di Malaysia.
Memang, ide-ide yang disebarkan oleh paham Islam Liberal sudah banyak tersebar di Malaysia, khususnya
melalui media internet. Banyak tokoh Islam di Malaysia sudah paham tentang ide-ide yang disebarkan berbagai kelompok liberal, khususnya ide-ide yang menyerang Al-Quran, menyerang syariat Islam, dan juga merusak aqidah Islam. Biasanya mereka terbengong-bengong menyimak begitu beraninya para penyebar paham liberal di Indonesia ini merusak ajaran-ajaran yang mendasar dalam Islam, dengan mengatasnamakan ‘pembaruan Islam’ atau ‘liberalisasi Islam’.
Mereka lebih terbengong-bengong lagi, karena yang menjadi penyebar paham ini adalah orang-orang yang mempunyai basis atau latar belakang studi Islam. Aneh dan ajaib.
Di mata mereka, Indonesia bukan hanya dikenal dengan korupsi, pornografi, atau ekstasi, tetapi juga mulai mengekspor paham Islam Liberal. Karena sejumlah pengasong paham Islam liberal juga cukup rajin datang ke Malaysia.
Menteri bidang agama di Malaysia, Dato’ DR. Abdullah Md Zin, juga sudah mencium dan melihat gelagat ini.
Maka, dalam sambutan penutupan seminar di Terengganu tersebut, beliau dengan tegas mengingatkan bahaya faham Islam Liberal ini. Berikut ini kita kutipkan agak panjang sambutan Menteri Agama Malaysia tersebut:

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Arus globalisasi dalam dunia tanpa sempadan (batas. Pen.)
yang terpaksa kita tempuhi sekarang ini mengingatkan kita akan keperluan untuk kita semua mempersiapkan
diri perisai jatidiri sebagai benteng pertahanan dari ancaman anasir-anasir jahat terutama yang mampu
menyerang dan menyesatkan akidah umat Islam.
Sememangnya musuh-musuh Islam akan terus mencari ruang dan peluang untuk memesong (menyelewengkan. Pen.) serta menggugat kepercayaan dan keimanan kita semua.
Anasir-anasir jahat ini datang kepada kita sama ada secara sadar atau tanpa disedari oleh kita semua.
Gejala-gejala atau anasir-anasir jahat ini bukan sahaja menjadikan golongan awam yang tidak
berpendidikan tinggi sebagai mangsa, malahan ianya juga mendekati golongan-golongan terpelajar atau
profesional. Oleh yang demikian, umat Islam harus berhati-hati apabila bersama golongan ini, agar tidak
terpesong dari ajaran Islam yang sebenar berlandaskan Al-Quran dan al-Sunnah.

Selain kebimbangan terhadap ancaman musuh-musuh Islam dari luar yang secara jelas penampilannya, kita juga bimbang terhadap musuh dari dalam yang bertopengkan Islam yang mendakwa bahawa mereka-merekalah penyelamat dan pendokong Islam yang sebenar. Dengan wujudnya golongan-golongan yang sesat dan anasir-anasir yang jahat ini, ianya bukan sahaja memesong keimanan malah ia juga akan menggugat kestabilan masyarakat dan keselamatan negara.
Oleh yang demikian, saya merasakan seminar ini adalah amat penting untuk kita fahami dakyah-dakyah musuh Islam yang cuba menyeleweng dan menghancurkan Islam, sama ada secara langsung atau tidak langsung. Yang paling merbahaya adalah menghancurkan Islam dari dalam melalui orang Islam itu sendiri.”
–o0o–

Itulah pernyataan Dr. Abdullah Md. Zin, menteri di Jabatan Perdana Menteri Malaysia, yang mengurusi
masalah keagamaan. Sikap pejabat pemerintah Malaysia tersebut sangat penting untuk kita telaah, sebab sikap semacam itu dulu tidak terjadi pada pejabat pemerintah Indonesia.
Di awal-awal tahun 1970-an, pemerintah Indonesia tidak mendengarkan nasehat para cendekiawan
dan tokoh Muslim untuk menghentikan arus sekularisasi. Bahkan, Menteri Agama, Mukti Ali, secara terbuka
memberikan dukungan terhadap liberalisasi Islam di perguruan tinggi Islam. Lalu, dengan alasan untuk
meningkatkan kualitas intelektual, kiblat pemikiran Islam mulai digeser dari Timur Tengah ke Barat. Di
tengah masyarakat, liberalisasi Islam berlangsung dengan sangat masif, dengan dukungan dana dari LSM dan negara-negara Barat. Ujung tombaknya adalah media massa dan cendekiawan-cendekiawan dari kalangan organisasi Islam sendiri.
Ambillah kasus (alm) Nurcholish Madjid. Banyak cendekiawan yang silau dengan gagasan sekularisasinya, dan senantiasa memberikan pujian-pujian yang berlebihan. Dikatakan silau, sebab mereka memberikan pujian-pujian yang melampaui batas proporsinya, karena tidak paham atau karena memiliki kepentingan tertentu mengangkat ikon liberalisasi di Indonesia. Prof. Dr. Azyumardi Azra, rektor Universitas Islam Negeri Jakarta, misalnya, termasuk yang silau atau menyilaukan diri dengan gagasan pembaruan Islamnya Nurcholish Madjid.
Dalam sebuah tulisannya untuk pengantar buku Dr. Abd A’la yang diterbitkan Paramadina, Azyumardi menulis
bahwa: “gerakan pembaruan yang terjadi sejak tahun tujuh puluhan memiliki komitmen yang cukup kuat untuk
melestarikan ‘tradisi’ (turats) dalam satu bingkai analisis yang kritis dan sistematis… Pemikiran para
tokohnya didasari kepedulian yang sangat kuat untuk melakukan formulasi metodologi yang konsisten dan
universal terhadap penafsiran al-Quran; suatu penafsiran yang rasional yang peka terhadap konteks
kultural dan historis dari teks Kitab Suci dan konteks masyarakat modern yang memerlukan bimbingannya.”
(Lihat, Pengantar A. Azra untuk Buku Dr. Abd A’la, Dari Neoodernisme ke Islam Liberal (Paramadina, 2003), hal. xi.

Masih kata Azra, bahwa:
“Cak Nur berpegang kuat kepada Islam tradisi hampir secara keseluruhan, pada tingkat esoteris dan
eksoteris. Dengan sangat bagus dan distingtif, ia bukan sekedar berpijak pada aspek itu, namun ia juga
memberikan sejumlah pendekatan dan penafsiran baru terhadap tradisi Islam itu. Maka, hasilnya adalah
apresiasi yang cukup mendalam terhadap syariah atau fiqih dengan cara melakukan kontekstualisasi fiqih
dalam perkembangan zaman.” (Ibid, hal.xii).

Apa yang dikatakan Azra sebagai bentuk apresiasi syariat atau fiqih yang mendalam oleh Nurcholish
Madjid adalah sebuah pujian yang sama sekali tidak berdasar. Nurcholish sama sekali tidak pernah menulis
tentang metodologi fiqih dan hanya melakukan dekonstruksi terhadap beberapa hukum Islam yang tidak
disetujuinya. Ia pun hanya mengikutin jejak gurunya, Fazlur Rahman, yang menggunakan metode hermeneutika untuk menafsirkan al-Quran. Misalnya, saat pidato di Taman Ismail Marzuki, 21 Oktober 1992, Nurcholish mempromosikan pendapat yang lemah tentang Ahlul Kitab:

“Dan patut kita camkan benar-benar pendapat Sayyid Muhammad Rasyid Ridla sebagaimana dikutip ‘Abdul Hamid Hakim bahwa pengertian sebagai Ahlul Kitab tidak terbatas hanya kepada kaum Yahudi dan Kristen seperti tersebut dengan jelas dalam Al- Quran serta kaum Majusi (pengikut Zoroaster) seperti tersebutkan dalam sebuah hadits, tetapi juga mencakup agama-agama lain yang mempunyai suatu bentuk kitab suci.”

Pendapat ini sangat lemah, dan telah dibuktikan kelemahannya, misalnya, oleh Dr. Muhammad Galib dalam
disertasinya di IAIN Jakarta (yang juga diterbitkan oleh Paramadina) dan oleh Dr. Azizan Sabjan, dalam
disertasinya di ISTAC, Malaysia. Namun, Nurcholish Madjid tidak peduli dengan koreksi dan kritik, dan
tidak pernah merevisi pendapatnya. Prestasi kaum pembaru di Paramadina dalam merombak hukum Islam lebih jelas lagi dengan keluarnya buku Fiqih Lintas Agama, yang sama sekali tidak apresiatif terhadap syariat.
Bahkan, merusak dan menghancurkannya. Misalnya, dalam soal perkawinan antar-agama, buku Fiqih Lintas Agama menulis:

“Soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terikat dengan
konteks tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak
sebesar saat ini, sehingga pernikahan antar agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena kedudukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya.” (Fiqih Lintas Agama, (Paramadina&The Asia Foundation), 2004:164).

Jadi, pendapat Azyumardi Azra tentang hebatnya pemikiran kaum pembaru Islam yang dimotori Nurcholish
Madjid adalah sama sekali tidak terbukti. Sebagai salah seorang cendekiawan yang sangat populer, Azra
telah melakukan kekeliruan besar dengan cara memberikan legitimasi berlebihan terhadap gerakan
pembaruan yang telah terbukti sangat destruktif terhadap khazanah pemikiran Islam. Azyumardi Azra
adalah pakar yang otoritatif di bidang sejarah Islam Asia Tenggara. Tetapi, dalam soal pemikiran Islam,
sayang sekali ia mengecilkan dirinya sendiri, dengan menempatkan dirinya sebagai pengikut dan pemuja
Nurcholish Madjid. Wallahu a’lam. (KL, 6 April 2006/hidayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini merupakan hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan http://www.hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: