“Catatan Dari Jeddah”

Senin, 06 Maret 2006
Workshop INSISTS di Kairo dan Jeddah berjalan lancar. Ke depan, workshop akan diperlebar ke berbagai negara. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-136

Senin, 6 Maret 2006

Oleh : Adian Husaini

Alhamdulillah, pada Hari Selasa (28/2/2006) malam, pesawat Saudia yang membawa kami dari Kairo mendarat dengan aman di Bandara King Abdul Azziz Jeddah, Arab Saudi. Tujuan utama di sini adalah untuk menjalankan ibadah umrah dan mengisi diskusi tentang pemikiran Islam dengan masyarakat Indonesia. Melanjutkan catatan pekan lalu, masih ada beberapa aktivitas di Kairo yang perlu kita telaah.

Usai acara workshop di Kairo, masih tersisa sejumlah kegiatan penting. Pada Hari Jumat (24/2/2004), acara diisi penuh dengan silaturrahim, dialog, bedah buku, dan berbelanja buku-buku yang diperlukan untuk melengkapi koleksi perpustakaan INSISTS. Pagi hari, kami menerima kunjungan pengurus SINAI (Studi Informasi Alam Islami). Dialog berlangsung dua jam lebih.

SINAI merupakan salah satu kelompok studi mahasiswa yang aktif mengkaji dan menulis
berita-berita seputar dunia Islam dan hendak melebarkan kajiannya ke tema-tema pemikiran Islam kontemporer. Mereka sudah memiliki tabloid dan website
sendiri.

Ba’da Jumat, saya dan Adnin Armas menjadi pembicara dalam acara bedah buku di Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK). Ada tiga buku yang dibedah: dua buku saya (Wajah Peradaban Barat : dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal dan buku Hegemoni Kristen Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi) dan satu buku karya Adnin Armas (Metodologi Bibel dalam Studi Al-Quran : Kajian Kritis). Acara ini juga berlangsung sangat meriah. Ruangan dan waktu yang tersedia tidak cukup untuk menampung minat diskusi para mahasiswa.

Malam harinya, diadakan acara silaturrahim dan dialog dengan pengurus dan warga Muhammadiyah Cabang Istimewa Mesir. Saya hadir dalam acara ini bersama Adnin Armas (yang juga anggota Majlis Tarjih Muhammadiyah).

Sedangkan Hamid Fahmy memberikan pelatihan penulisan ilmiah kepada beberapa mahasiswa S-2 dan S-3 di Kairo.

Kami sangat terharu melihat antusias para intelektual muda Muhammadiyah yang hadir, sampai-sampai ruangan di Griya Jawa Tengah, tempat acara berlangsung, penuh sesak oleh hadirin. Aktivitas Muhammadiyah di Kairo sungguh luar biasa. Mereka mampu menerbitkan berbagai jenis penerbitan, mulai jurnal, majalah, buletin, sampai menerbitkan film.

Ada bibit-bibit unggul yang perlu diberikan perhatian khusus oleh pimpinan dan tokoh-tokoh Muhammadiyah. Melihat kualitas para intelektual muda Muhammadiyah di Kairo, tampak bahwa isu kelangkaan ulama di Muhammadiyah sebenarnya dapat diatasi dengan memanfaatkan potensi mereka di masa mendatang.

Menjelang tengah malam, kami menerima undangan dari seorang staf KBRI Kairo untuk menikmati suasana malam di Tepi Sungai Nil. Yang perlu dipelajari oleh Indonesia adalah cara Mesir dalam menjaga dan mengeksploitasi Sungai Nil ini. Sungai ini sangat bersih dan terpelihara, sehingga menjadi sumber air bagi rakyat Kairo dan obyek wisata yang menarik.

Sayangnya, ada saja sisi negatif dari objek wisata Sungai Nil dipertontonkan kepada para wisatawan. Meskipun bukan termasuk negara ‘petro dolar’, tetapi Mesir mampu eksis sebagai salah satu negara yang dapat membanggakan berbagai aspek kehidupannya.

Harga buah-buahan sangat murah. BBM juga super murah. Harga solar hanya 0,6 pon Mesir (sekitar Rp 1000). Harga bensin hanya 0,9 pon Mesir (sekitar Rp 1500). Jadi, Mesir tidak sok-sokan ikut-ukutan harga internasional, seperti Indonesia.

Di jalan-jalan, jarang terlihat mobil mewah. Hampir semua Taksi adalah mobil Fiat sekitar tahun 1970-an. Meskipun kondisinya demikian, di Mesir ini, ada Universitas al-Azhar yang masih mampu menyediakan pendidikan gratis bagi ribuan mahasiswa asing. Bahkan, banyak diantara mahasiswa asing itu yang diberikan beasiswa dan asrama gratis.

Pemerintah Mesir banyak menyeponsori penerbitan dan penerjemahan buku-buku yang dapat dibeli dengan harga murah. Ada seorang mahasiswa yang dengan geram mempertanyakan kebijakan pendidikan pemerintah Indonesia, mengapa biaya pendidikan Indonesia begitu mahal.

Sabtu (25/2/2006) rombongan INSISTS memanfaatkan waktu untuk mengunjungi sejumlah toko buku di Kairo. Banyak buku-buku khazanah Islam klasik dan kontemporer yang masih perlu dicari. Bisa dikatakan, mahasiswa Indonesia di Kairo “berenang di lautan turats”, karena begitu melimpahnya buku-buku khazanah keilmuan Islam, dengan harga murah. Tapi, kata seorang mahasiswa di sini, “karena tidak bisa berenang, maka saya malah tenggelam.”

Di sinilah diperlukan framework (kerangka berpikir) dalam melihat dan memahami turats Islam dengan benar. Bagi yang dapat memanfaatkan khazanah Islam dengan baik, terbukti akan muncul sebagai sosok-sosok yang berperan besar dalam pengembangan khazanah Islam di Indonesia, seperti Prof. HM Rasjidi.

Kami juga sempat melihat-lihat piramid yang sekarang identik dengan simbol negara Mesir. Piramid memang karya yang sangat dahsyat. Tetapi, Al-Quran menggambarkan pencetusnya, yakni Fir’uan, sebagai sosok penguasa zalim, angkuh, dan kafir kepada Allah.

Sayangnya, peringatan Allah itu tidak dicantumkan di dinding-dinding piramid, sehingga yang mengunjungi piramid ini bisa memiliki persepsi, bahwa Fir’aun adalah penguasa hebat yang perlu diteladani. Padahal, piramid adalah karya yang hebat tetapi dibangun dengan darah dan nyawa rakyat Mesir. Harusnya, karya ini menjadi monumen peringatan bagi umat manusia, khususnya para penguasa yang zalim.

Sabtu malam itu juga saya memenuhi undangan silaturrahim dan dialog dengan pengurus dan warga NU Cabang Istimewa Mesir, yang berlokasi di Swessy A Nasr City, Cairo. Acara yang berlangsung sekitar 2 jam itu juga sangat berkesan, dihadiri sekitar 40 warga NU Mesir.
Dialog berlangsung hangat. Ada sejumlah pertanyaan kritis tentang masalah hermeneutika, posisi turats, dan pengembangan rasionalitas dalam Islam yang sempat mengemuka. Dari sejumlah penerbitannya juga tampak gairah intelektual pengurus NU Mesir yang sangat tinggi. Pada kesempatan ini, saya kembali menyampaikan pentingnya kaum Muslim membangun tradisi ilmu dan menghidupkan tradisi keilmuan yang memiliki akar kuat di pondok-pondok pesantren.
Dari Kairo inilah, mudah-mudahan akan lahir ulama-ulama yang memiliki kapasitas keilmuan dan amal yang sangat tinggi, sehingga dapat menjadi teladan bagi umat.

Misalnya, saya menjumpai seorang anak muda NU yang baru tamat S-1 dari Al-Azhar. Ia sangat cerdas dan sudah menghafal Kitab Alfiah (Kitab Nahwu seribu bait syair) sejak di bangku tsanawiyah. Penguasaannya terhadap khazanah klasik Islam sangat luas. Ia pun
sangat kritis menyikapi perkembangan pemikiran liberalisme yang merusak bangunan struktur keilmuan Islam.

Meskipun dililit berbagai keterbatasan ekonomi, ia rajin mengunjungi toko-toko buku dan mengaji rutin kepada sejumlah ulama di Masjid Al-Azhar Mesir.

Potensi seperti ini tentulah sangat berharga untuk dikembangkan di masa mendatang, dan seyogyanya pemerintah, khususnya Departemen Agama memiliki perhatian khusus dalam pengembangan SDM intelektual Muslim unggulan. Akibat hegemoni informasi liberal, potensi-potensi besar seperti ini tidak muncul.

Sebaliknya, yang dimunculkan justru yang sebaliknya, yang rajin menyerang bangunan pemikiran Islam. Yang juga sangat mengesankan selama di Mesir adalah bersemangatnya panitia IKPM (alumni Gontor) dalam membantu segala macam aktivitas INSISTS.

Kecakapan, keikhlasan, dan kesigapan serta profesionalitas mereka sungguh luar biasa. Mereka bekerja siang malam tanpa kenal lelah. Begitu acara usai, hasil rekaman workshop dan diskusi telah mereka gandakan dalam bentuk VCD.
Hingga detik terakhir kepulangan kami, berpuluh orang mengantarkan kami sampai ke bandara Kairo dalam suasana yang mengharukan. Kami juga sangat berterimakasih kepada KBRI Kairo yang begitu besar bantuannya dalam menyukseskan acara-acara di Mesir.
KBRI di Kairo memang dikenal sangat dekat dengan para mahasiswa Mesir. Mereka banyak membantu kelancaran aktivitas mahasiswa.

Pada hari Rabu (1/2/2006), dengan izin Allah, saya berkesempatan menunaikan ibadah umrah. Suasana Masjidil Haram masih lumayan sepi, sehingga bisa menunaikan ibadah dengan lebih tenang dan khusyu’. Ibadah kali ini memang luar biasa, karena sejak
keberangkatan dari Jakarta, 17 Februari 2006 lalu, tidak direncanakan dari awal. Tetapi, karena memang ada panggilan untuk datang, maka takdir Allah tidak bisa ditolak. Saya harus datang ke Baitullah.

Tidak bisa menghindar, meskipun visa baru keluar beberapa jam sebelum keberangkatan ke Jeddah. Malam itu, atas jasa yang luar biasa dari Ketua dan sekretaris ICMI Jeddah, kami dapat menunaikan ibadah umrah. Mereka berdua dengan tulus mengantarkan dan menunggui kami umrah sampai sekitar pukul 02.00 Kamis dini hari. ICMI Jeddah memang diantara perwakilan ICMI di luar negeri yang masih mampu bertahan dengan baik, pasca era Habibie.

Kamis (2/3/2006) malam dilangsungkan acara diskusi tentang tantangan pemikiran Islam di Indonesia. Acara berlangsung di satu tempat di Jeddah. Meskipun sejumlah buku dan VCD yang mengkritik Islam Liberal sudah beredar luas di kalangan masyarakat Indonesia di Jeddah, tetapi diskusi malam itu berlangsung cukup seru sampai lewat tengah malam, dan dihadiri ratusan warga Indonesia. Diantara yang hadir, ada juga mahasiswa yang khusus datang dari Madinah.

Berbeda dengan di Kairo yang peserta diskusi-diskusinya adalah para mahasiswa, peserta diskusi di Jeddah sangat heterogen, mulai doktor bidang fiqih sampai pekerja pabrik. Tetapi, semangat diskusi mereka rata-rata sangat tinggi. Sebelumnya, pada 28 Februari, tim INSISTS juga sudah mengadakan diskusi dengan mahasiswa Indonesia di Universitas Madinah.
Diantara hasil diskusi dengan mahasiswa dan tokoh-tokoh Madinah dan Jeddah, ada beberapa mahasiswa dan tokoh yang menyatakan akan membantu gerakan wakaf buku untuk perpustakaan INSISTS.

Jumat (3/3/2006) pagi, kami masih melakukan diskusi terbatas dengan tokoh-tokoh Islam di Madinah. Siang harinya, kami meninggalkan kota Jeddah menuju Indonesia. Perjalanan ke Mesir dan Arab Saudi kali ini telah memberikan banyak kesan yang mendalam tentang kondisi faktual potensi umat Islam di kedua negara tersebut.
Yang jelas, jalinan silaturrahim semakin bertambah, yang di kemudian hari semoga terus berlanjut dalam bentuk yang lebih nyata dalam rangka menghadapi tantangan pemikiran di Indonesia. Amin. (Jeddah, 3 Maret 2006/hidayatullah.com)

Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini ini hasil kerjasama antara http://www.hidayatullah.com dengan Radio Dakta 107 FM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: