“Catatan Dari Kairo”

Jumat, 24 Pebruari 2006
Workshop INSISTS di Kairo, Mesir, menekankan cita-cita besar untuk membangun peradaban Islam berdasarkan pada ilmu pengetahuan Islam. Baca Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke 136

Jum’at, 24 Pebruari 2006

Oleh: Adian Husaini

Alhamdulillah, pada 18 Februari 2006 sore, pesawat Gulf Air yang membawa kami tiba dengan selamat di Kairo, Mesir. Kami, rombongan Institute for the Studi of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), datang ke Kairo atas undangan Ikatan Keluarga Pondok Modern Gontor Ponorogo Cabang Kairo, untuk mengisi workshop tentang “Tantangan Pemikiran Islam Kontemporer”.

Rombingan INSISTS ada empat orang: saya sendiri, Direktur Utama INSISTS Hamid Fahmy Zarkasyi, Direktur Eksekutif INSISTS Adnin Armas, dan anggota Dewan Direktur INSISTS dr. Abdul Ghofir Sp.PD.

Meskipun sudah puluhan kali mengisi workshop tentang pemikiran Islam di berbagai kampus, pesantren, dan organisasi Islam, tetapi mengisi workshop di Kairo tentulah sangat mendebarkan.
Terbayang di benak saya, para peserta workshop adalah para mahasiswa S-1 sampai S-3 yang sehari-hari bergelut dengan khazanah keilmuan Islam di Universitas-universitas terkenal di Mesir, seperti Universitas Al-Azhar, Darul Ulum, dan sebagainya. Mereka tentu lebih pakar dibandingkan saya dalam soal keilmuan Islam.

Bagi banyak mahasiswa Kairo, nama INSISTS memang bukan hal yang asing. Selain banyak diantara mereka yang menjadi anggota milis INSISTS, majalah ISLAMIA yang kami terbitkan juga sudah beredar di Kairo.

Workshop ini pun sudah direncanakan lebih dari 2 tahun, dan senantiasa mengalami penundaan. Alhamdulillah, bersamaan dengan keberangkatan pimpinan Gontor ke Kairo untuk menemui dan mengundang Syaikhul Azhar pada acara peringatan 80 tahun Pesantren Gontor, bulan Mei mendatang, INSISTS juga diminta mengisi acara workshop, khususnya untuk para alumni Pondok Gontor, yang di Kairo saja berjumlah lebih dari 300 orang.

Apa yang saya bayangkan tidaklah terlalu meleset. Ketika workshop dimulai, pada 19 Februari 2006, sekitar 200 orang hadir. Mayoritas mahasiswa Universitas al-Azhar, mulai jenjang S-1 sampai S-3.

Acara berlangsung di Aula Dar El-Munasabat Rabiah al-Adawiyah, sebuah tempat yang berasitektur klasik. Ternyata peserta bukan hanya alumni Pondok Gontor saja. Workshop dibuka oleh Dubes ad-interim Indonesia di Kairo, Muzammil Basyuni, dan dimulai dengan acara pidato pembukaan oleh pimpinan PP Gontor Ponorogo, KH Abdullah Syukri Zarkasyi.

Hari pertama, dari pagi sampai sore, kami membahas materi tentang Pandangan Hidup Islam (Islamic worldview), peradaban Barat dan peradaban Islam, serta sejarah dan konsep sekularisme di Barat dan pengaruhnya terhadap pemikiran Islam kontemporer.

Malam hari, usai acara workshop, kami melakukan silaturrahim dan dialog khusus dengan para mahasiswa pasca sarjana Indonesia di Kairo. Hadir juga beberapa mahasiswa dari Aljazair dan Sudan yang sedang melakukan penelitian di Kairo. Melalui dialog inilah terjadi saling pengertian dan semangat kebersamaan untuk mewujudkan cita-cita bersama membangun tradisi keilmuan Islam yang tinggi, berbasis kepada tradisi dan khazanah keilmuan Islam.

Dalam berbagai kesempatan, kami selalu menekankan pentingnya umat Islam, khususnya para calon cendekiawan dan ulamanya agar menjadikan masalah ilmu sebagai masalah utama dalam kehidupan umat Islam.

Dan di Kairo inilah gudangnya khazanah tradisi keilmuan Islam berada. Ada ungkapan populer, bahwa Kairo adalah ‘Ka’batul ‘Ilmi’ (kiblatnya ilmu). Kitab-kitab ‘turats’ (khazanah intelektual Islam) melimpah ruah. Para ulama dan pakar-pakar tentang keagamaan Islam juga berjubel di sini.

Sayang sekali jika semua itu tidak dimanfaatkan. Dalam dialog ini saya melihat begitu banyak ‘mutiara-mutiara’ yang bernilai tinggi. Tampak jelas, sejumlah mahasiswa yang memiliki wawasan keilmuan Islam yang tinggi, mendalam, dan mampu menulis dengan baik. Itu tercermin dari berbagai penerbitan mahasiswa di Kairo. Sungguh sayang, jika semua potensi itu nantinya akan tersia-siakan, ketika mereka kembali ke tanah air.

Saya sangat gembira, misalnya, membaca sejumlah penerbitan – baik buku maupun jurnal – yang diterbitkan oleh Muhammadiyah Mesir. Sangat membanggakan. Disamping kuat dalam rujukan keilmuan Islam, bahasanya pun cukup enak dibaca dan mudah di mengerti, serta sangat kritis terhadap pandangan hidup dan konsep-konsep di luar Islam. Dari tulisan-tulisan itu tampak, semangat ilmiah para mahasiswa Indonesia di Kairo sangat tinggi. Begitu juga yang di Persis dan NU. Tentunya ini merupakan tanggung jawab para pimpinan dan tokoh Islam di Indonesia, agar tidak menyia-nyiakan potensi intelektual mereka.

Di sela-sela acara workshop dan berbelanja buku di Kairo, kami juga menerima undangan bersilaturrahim dan berdialog dengan berbagai organisasi Islam di Kairo, seperti Perwakilan Persis, Perwakilan Muhammadiyah, perwakilan NU Mesir, dan lain-lain. Semua itu sangat menggembirakan. Silaturrahim ilmu seperti itu sangat baik untuk terus dikembangkan, agar dapat terjalin saling pengertian dan pemahaman tentang masalah umat dan keislaman.

Acara workshop pada hari kedua (20/2/2006), dari pagi sampai sore, membahas materi hermeneutika. Materi ini memang kami pandang sangat penting, karena telah dijadikan sebagai mata kuliah wajib di beberapa perguruan tinggi Islam di Indonesia, dan ratusan buku tentang hermeneutika telah diterbitkan di Indonesia.

Dalam berbagai tulisan dan forum, kami berusaha menjelaskan, apa sebenarnya hermeneutika dan bagaimana dampaknya jika diterapkan untuk menggantikan ilmu tafsir Al-Quran. Kami juga menunjukkan contoh-contoh penerapan hermeneutika dalam penafsiran Al-Quran yang dilakukan oleh sejumlah pemikir di dunia Arab dan Indonesia. Memang, di jurusan tafsir Universitas al-Azhar sendiri, masalah hermeneutika belum menjadi isu penting. Tetapi, banyak mahasiswa di Kairo yang sudah mendengar dan membaca tentang masalah ini.
Pada tanggal 21 Februari 2006, workshop istirahat sehari. Kami menyempatkan diri mengunjungi kampus Universitas al-Azhar, bidang Dirosah Islamiyah. Kampus ini memang luar biasa besarnya. Suasana klasik Islam begitu terasa. Mahasiswanya sangat ramai. Puluhan ribu orang.

Tahun ini saja, mahasiswa baru asal Indonesia berjumlah 1000 orang lebih. Jumlah total mahasiswa Indonesia di Kairo saja ada sekitar 4300 orang.

Sebagian besarnya belajar di Fakultas Ushuluddin, Syariah, Tarbiyah, dan Lughah Arabiyah. Pada satu sisi, jumlah mahasiswa dan nama besar Al-Azhar memang membanggakan.

Tetapi, pada sisi lain, ini juga titik rawan pada sisi kualitas intelektual. Bimbingan intelektual kepada mahasiswa kurang. Karena itu, banyak mahasiswa Indonesia yang melakukan berbagai aktivitas ilmiah di luar kampusnya, untuk membangun kapasitas intelektualnya.

Satu lagi yang terasa pada Al-Azhar adalah suasana lingkungan dan bangunan fisiknya. Bagi yang pernah belajar di kampus-kampus di Barat atau Malaysia, suasana fisik itu sangat terasa. Tetapi, semua kekurangan fisik ini seyogyanya tidak mengurangi penghargaan akan potensi besar al-Azhar dalam membangun tradisi keilmuan Islam. Jangan sampai karena melihat ada setitik noda di wajah seorang perempuan, maka hilang seluruh respek pada kecantikannya.

Menjelang workshop hari terakhir (22/2/2006), saya dihinggapi keraguan, apakah peserta masih akan bertahan seperti hari pertama dan kedua, mengingat materi-materi dalam workshop memang cukup menyita keseriusan pemikiran. Tempat acara workshop berpindah ke Auditorium Shalih A. Kamil Universitas Al-Azhar Kairo, sebuah tempat yang besar dan terkenal.

Ternyata, saat dimulai, kekhawatiran saya tidak terbukti. Peserta pada hari ketiga justru bertambah banyak. Materi yang dibahas adalah sejarah peradaban Barat dan dampaknya terhadap pemikiran keagamaan, Al-Quran dan orientalisme, dan kritik terhadap framework kajian orientalis dalam studi Filsafat Islam.

Workshop berlangsung sampai waktu maghrib tiba. Diskusi-diskusi hangat berlangsung. Puncaknya, pada malam terakhir, usai acara workshop, acara dilanjutkan dengan Dialog Umum di tempat yang sama. Acara juga dibuka oleh Dubes ad interim RI di Kairo, dan diberi pengantar oleh KH Abdullah Syukri.

Acara dialog ini berlangsung semarak dan sangat ramai, dihadiri oleh sekitar 700 mahasiswa. Tempat duduk di bawah dan di tingkat atas untuk wanita tidak mencukupi, sehingga banyak yang berdiri dan duduk di lantai. Acara dipandu oleh Mukhlis Hanafi, Kandidat Doktor bidang tafsir, yang pada 6 Maret 2006, menyelesaikan ujian akhirnya
di Universitas al-Azhar Kairo.

Dalam dialog ini, kami kembali menekankan cita-cita besar untuk membangun peradaban Islam berdasarkan pada ilmu pengetahuan Islam. INSISTS juga mengajak kepada para mahasiswa di Kairo untuk bersama-sama membangun dan meningkatkan tradisi keilmuan Islam, berbasiskan kepada khazanah keilmuan Islam, dan mampu mengkaji secara kritis konsep-konsep keilmuan yang berasal dari peradaban asing. Alhamdulillah, sambutan yang kami terima sangat menggembirakan.

Memang sekarang, sejalan dengan membanjirnya alumni Barat dalam studi Islam di Indonesia, posisi Kairo dan Timur Tengah pada umumnya, agak tergeser. Dulu, rektor
IAIN Jakarta, Prof. Dr. Harun Nasution memang pernah menyatakan, bahwa ia puas belajar Islam di McGill dan tidak puas belajar di Al-Azhar, karena Islam di McGill adalah Islam rasional dan Islam di Al-Azhar adalah Islam irasional. Sejak awal 1980-an, mulailah kiblat studi Islam digeser dari Timur Tengah ke Barat.

Kami mengajak teman-teman mahasiswa di Kairo untuk menyambut tantangan keilmuan Islam saat ini dengan sikap positif, yakni dengan bersama-sama meningkatkan kualitas intelektual dan kualitas amal. Bukan dengan meratapi situasi. Jika kita ingin memindahkan kiblat pemikiran Islam dari Chicago, Leiden, Melbourne, Edinburg, Oxford, dan sejenisnya, ke Kairo, Madinah, Mekkah, Kuala Lumpur, atau Jakarta, maka semua itu harus dilakukan dengan kerja keras.

Pada saat terakhir, saya mengingatkan kembali peringatan imam al-Ghazali tentang pentingnya niat yang ikhlas – semata-mata untuk meraih hidayah dan keridhaan Allah – dalam menimba ilmu. Dengan itu, semoga kita meraih ilmu yang bermanfaat, ilmu yang menambah ketaqwaan dan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu yang mengantarkan kepada kebahagiaan abadi, dan ketenangan dalam iman.

Pada akhir acara, kami benar-benar sangat terharu dengan sambutan yang sangat baik dari teman-teman mahasiswa Kairo. Kebahagiaan itu semakin terasa karena kita berangkat dari semangat dan serba keterbatasan, tanpa dukungan materi yang melimpah dari negara-negara atau foundation tertentu.

Kebahagiaan karena diperkenankan oleh Allah untuk memperjuangkan cita-cita yang mulia, membangun kembali tradisi keilmuan Islam di Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat penting dalam pemikiran Islam internasional, di masa mendatang. Insyaallah.
Pada hari Kamis (23/2/2006), seharian penuh kami mengunjungi kota Alexandria di Mesir. Jaraknya sekitar 220 km dari Kairo. Yang paling mengesankan dalam perjalanan ini adalah kunjungan ke Perpustakaan Alexandria (Bibliotica Alexandria) yang sangat besar, megah, dan mewah. Untuk masuk ke perpustakaan ini, pengunjung dari luar Mesir ditarik bayaran 10 pon Mesir (sekitar Rp 17.000). Koleksi buku-buku dalam studi Islam memang tidak selengkap dan sebanyak di ISTAC Malaysia. Tapi, kami juga belajar banyak dari perpustakaan ini, sejalan dengan program utama INSISTS saat ini untuk membangun sebuah perpustakaan Islam berkualitas internasional di Jakarta. Semoga Allah SWT meridhai langkah kita semua.

Workshop di Kairo memang sangat berkesan bagi kami. Insyaallah, pada awal Maret 2006, INSISTS melanjutkan perjalanan ke Jeddah dan Madinah untuk menyampaikan presentasi tentang tantangan pemikiran Islam di Indonesia. Rencananya, dilanjutkan dengan acara workshop di London. Tapi karena masalah teknis dan ekonomis, maka acara di London ditunda. Mudah-mudahan, di masa mendatang, INSISTS dapat menyelenggarakan workshop tentang pemikiran Islam di berbagai negara lain, termasuk di Australia, Eropa, dan Amerika. Amin. (Kairo, 24 Februari 2006).
Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini ini bekerjasama dengan Radio Dakta 107 FM dan http://www.hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: