“Jalan Panjang Hamas Menuju Kekuasaan”

Selasa, 14 Pebruari 2006
Hamas akhirnya memenangkan Pemilu Palestina tahun 2006. Bisakah Hamas menjaga intregritasnya untuk tak tunduk AS dan Israel? Baca Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke-133

Selasa, 14 Pebruari 2006

Hamas (Harakan al-Muqawwamah al-Islamiyah/Gerakan Perlawanan Islam) akhirnya memenangkan Pemilu Palestina tahun 2006. Tampilnya Hamas di panggung kekuasaan Palestina ini sebenarnya telah banyak diperkirakan jauh sebelumnya. Dalam artikelnya di Jurnal Foreign Affairs (Agustus 1998), Khalil Shikaki, profesor ilmu politik di Universitas Nasional An Najah, Nablus, Palestina, memberikan kesimpulan: “Peace Now or Hamas Later.” (Berdamai Sekarang, atau nanti berhadapan dengan Hamas).

Menurut Shikaki, jika proses perdamaian antara Israel-Palestina gagal, maka alternatifnya adalah jihad oleh rakyat Palestina dan umat Islam internasional. Dan itulah yang dikehendaki oleh Hamas dan gerakan-gerakan Islam lainnya. Shikaki mencatat: “One of the main reasons that Yitzak Rabin, known in Israel as “Mr. Security”, went to Oslo was his fear that his choice was to deal either with the PLO today or Hamas tomorrow.”

Menurut Shikaki — artikelnya ditulis saat Benjamin Netanyahu berkuasa — Netanyahu juga menghadapi pilihan yang sama. Bisa disimpulkan, Ehud Barak juga menghadapi pilihan yang sama dengan para pendahulunya.

Berdamai dengan Arafat atau menghadapi kondisi yang lebih buruk — berhadapan dengan Hamas dan Jihad Islam. Ketika itu, Israel patut khawatir terhadap perkembangan kelompok Islam garis keras seperti Hamas, meskipun Arafat pernah menyatakan, bahwa hanya sedikit orang Palestina yang setuju dengan negara Islam sebagaimana dicitakan oleh Hamas.

Sejak tahun 1990, popularitas Hamas sudah semakin meningkat. Menyusul peristiwa berdarah “Bukit Sinagog”, Oktober 1990, Hamas berhasil membuktikan, bahwa anggota-anggota perlawanan keagamaan (bukan sekular) rela menyerahkan nyawa mereka dalam mempertahankan iman, ketika perjuang-pejuang secular tidak berbuat apa-apa.
Insiden Bukit Sinagog diawali ketika aktivis Israel, Gershon Solomon, dan para pengikut Bukit Sinagog, akan berbaris di Komplek Al Aqsha dan akan meletakkan batu simbol pendirian
Sinagog baru.

Berbagai bentrokan antara Israel dengan Hamas pada akhir 1990 menunjukkan, bahwa Hamas adalah organisasi pemberani, sehingga menarik banyak pemuda Islam. Dalam dua bulan terakhir tahun 1990, setidaknya delapan orang Israel dibunuh oleh orang-orang Hamas. Menyusul tiga pekerja Israel yang tewas di Jaffa, pertengahan Desember 1990, hampir 1.000 orang yang tergabung dalam Hamas ditangkap. Termasuk diantara mereka Abdul Aziz Rantisi, tangan kanan pendiri Hamas.

Agresivitas Hamas itu tampaknya menarik banyak simpati, sehingga pada 1991, pendukung Hamas mulai memenangkan pemilu di Tepi Barat, di samping Gaza. Pada 1991, Syaikh Yassin dipenjara.

Dilemma Hamas

Meskipun telah memenangkan Pemilu, masalah yang dihadapi Hammas tidaklah ringan. Jalur politik yang ditempuhnya mengharuskannya bersikap lebih pragmatis dan realistis. Harian Kompas (30/1/2006), memberitakan komitmen Hamas untuk menghormati kesepakatan yang telah dicapai antara Israel dengan PLO sebelumnya. Hamas juga berusaha membuka dialog dengan Amerika Serikat dan Israel.

Padahal, jauh sebelumnya, Hamas – bersama kelompok pejuang Islam lainnya, semisal Jihad Islam – sudah menentang digelarnya perjanjian damai dengan Israel.

Meskipun mengecam keras tindakan Arafat, namun kelompok-kelompok Islam ini tidak pernah menyerang posisi-posisi Palestina. Mereka tetap menyerang posisi-posisi Israel. Setiap kegagalan perjanjian damai, semakin meningkatkan pamor dan popularitas kelompok-kelompok ini di mata rakyat Palestina, karena kalangan ini meyakini bahwa kaum Zionis Yahudi adalah pengkhianat dan penjajah tanah Palestina.

Seperti yang dilakukan Yitzak Rabin dalam Kesepakatan Oslo, dalam Perjanjian Wye River II, di Sharm El-Sheikh, 5 September 1999, yang menjadi pijakan penyelesaian status final Palestina, Ehud Barak juga mensyaratkan penumpasan terorisme terhadap Israel, sebagai imbalan diserahkannya sebagian wilayah Tepi Barat.

Menyusul perjanjian itu, sejumlah tokoh Hamas dan Jihad Islam ditahan oleh otoritas Palestina.

Dalam lampiran rahasia yang menyertai Kesepakatan Oslo, yang disiarkan oleh Majalah Al Mujtama dan Al Wathan edisi 7 September 1993, disebutkan, bahwa PLO mengakui eksistensi negara Israel dan hak bangsa Israel di Palestina, dan pemerintahan Israel mengakui eksistensi PLO sebagai pemerintahan sementara otonomi.

PLO berjanji akan menghentikan semua aksi publikasi yang bersifat permusuhan terhadap Israel dan akan melakukan pembersihan terhadap aksi-aksi penentangan politik atau militer Palestina mana saja yang diarahkan kepada perusakan Israel dan pembunuhan warga negaranya. Menteri Lingkungan Israel, Yoshi Sharied, menyatakan, bahwa Israel membantu memperkuat PLO demi melemahkan musuh-musuhnya yang juga menjadi musuh Israel, yang secara terang-terangan disebutnya Gerakan Hamas.

Di tengah berlangsungnya KTT Camp David II, tahun 2000, pemimpin Hamas Sheikh Ahmad Yassin, menyatakan, bahwa setiap perjanjian damai yang mengkompromikan status Jerusalem dan hak pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah airnya, sama saja dengan politik bunuh diri bagi Arafat. Yassin jugamenyerukan agar delegasi Palestina yang ke Camp David kembali pulang, karena apa yang akan dicapai di Camp David II adalah hal yang buruk dan tidak merupakan refleksi dari kemauan rakyat Palestina.
Karena itu, Hamas berjanji akan menentang setiap bentuk perjanjian yang tidak memenuhi harapan penuh rakyat Palestina. Yassin juga menegaskan, bahwa gerakan Islam Hamas tetap bebas untuk melakukan perjuangan bersenjata melawan Israel walaupun Arafat mengumumkan kemerdekaan negara Palestina. Masalahnya, kata Yassin, negara Palestina tersebut tidak akan menempati seluruh wilayah Palestina.

Dalam pandangan Hamas, masalah Palestina adalah masalah agama (Islam). Menurut Ahmad Yassin, Ide gerakan pembebasan sekular Palestina adalah salah, karena “tidak ada negara sekular dalam Islam”.

Pada Agustus 1988, Hamas mempublikasikan “manivesto” 40 halaman, yang mewakili visi Palestina Islam dan menyatakan, bahwa satu-satunya tindakan yang benar adalah menolak ideologi sekular dan strategi kompromi PLO. Yang benar adalah “mengobarkan jihad” langsung melawan Israel.

Dalam Piagam Hamas pasal 13 disebutkan: “Mengurangi sebagian dari Palestina sama dengan mengurangi sebagian dari agama (Islam). Hamas menempatkan posisi Palestina sesuai dengan kedudukannya dalam perspektif hukum Islam. Palestina adalah tanah wakaf Islam kepada segenap generasi Islam sampai hari Kiamat. Tidak boleh
dikurangi sebagian apalagi seluruhnya, atau diserahkan kepada orang lain. (pasal 11).

Dengan logika Hamas, maka pendudukan Israel tidak hanya melanggar hak rakyat Palestina tetapi juga melanggar hak Islam yang suci. Hamas berkeinginan menghancurkan eksistensi negara Israel dan mendirikan sebuah tatanan sosial-politik Islam di Palestina. Bangsa Yahudi dipandang sebagai kolonial dan harus diusir dari Palestina. Eksistensi Israel dianggap sama dengan eksistensi imperialisme asing di masa silam.

Jika ada sebagian bumi kaum Muslimin dirampas musuh, menurut Hamas, maka wajib hukumnya melakukan jihad bagi setiap Muslim. Maka, dalam menghadapi pendudukan Yahudi atas Palestina, tidak boleh tidak harus mengibarkan panji jihad.

Dalam perspektif ideologi Islam seperti yang dianut oleh Hamas, maka setiap bentuk perjanjian damai dengan Israel — yang berarti pengakuan atas eksistensi Israel — akan dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap Islam. Sejak lama, sejumlah ulama Islam telah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan pengakuan terhadap eksistensi negara Zionis Israel. Kasus yang menimpa Presiden Mesir Anwar Sadat adalah contohnya.

Sadat akhirnya tewas diberondong peluru tentaranya sendiri. Kematiannya dihubungkan dengan langkah politiknya yang — waktu itu — dipandang cukup berani, yaitu meneken perjanjian damai dengan negara Israel, tahun 1979.

Sadat dipandang telah menjual tanah Palestina kepada Israel dengan mengakui keberadaan negara Yahudi tersebut. Padahal, menurut Direktur Majelis Tinggi Islam di Palestina, Al Hajj Amin Al Husaini, menjual tanah Palestina sama nilainya dengan kemurtadan.

Imam Masjid Aqsha Syekh Bayuth at Tamimi mengecam keras tindakan Sadat. ”Nabi tidak pernah menyerahkan sebidang tanah pun kepada kaum kafir. Akan tetapi Sadat telah menyerahkan bumi Islam di Palestina,” kata Tamimi, yang menolak persamaan Camp David dengan Perjanjian Hudaibiyah. Dalam perjanjian Hudaibiyah, kaum Quraisylah yang mengakui pertama kali terhadap keberadaan negara Madinah. Sementara, dalam perjanjian Camp David, Sadatlah, yang justru pertama kali mengakui keabsahan negara Israel.

Untuk menghadapi gerakan-gerakan Islam, Israel menggunakan tangan otoritas Palestina dan penguasa-penguasa Arab lainnya. Gerakan Al Ikhwanu al Muslimun (induk Gerakan Hamas) ditumpas di Mesir, dan pemerintah Jordania beberapa kali mengusir para tokoh Hamas dari negaranya. Dalam kasus tokoh Hamas, Abu Hannud, yang diburu Israel, pihak otoritas Palestina menahan Hannud. Atas peristiwa itu, pejabat Israel Amnon Lipkin Shahak, menyatakan, “Jika Hannud dipenjara, hal itu sudah sesuai dengan kesepakatan kami dengan Palestina.”

Jadi, dalam perspektif ideologis, kerjasama antara pemerintahan Ehud Barak, PLO, dan berbagai pemerintahan Arab, merupakan kerjasama yang wajar, karena mereka sama-sama memandang “gerakan Islam” seperti Hamas, sebagai musuh bersama.

Kelompok-kelompok Islam ini juga dipandang sebagai “duri dalam daging” bagi rezim-rezim Arab, karena mereka menghendaki tegaknya negara Islam, dan menolak penguasaan rezim-rezim Arab tertentu atas tempat-tempat suci umat Islam, seperti Masjidil Haram atau Masjid Al-Aqsha. Yusuf Qaradhawi memberikan analisis, ada tiga sebab, mengapa Israel bersemangat untuk mencapai persetujuan damai dengan Palestina.

Yang utama, adalah untuk memukul gerakan Islam di Palestina dan di dunia Arab, bahkan dunia Islam pada umumnya. Qardhawi mengutip ucapan Shimon Peres: “Kalau kami melambat-lambatkan perjanjian ini, maka kekuatan Islam akan muncul tiga sampai empat tahun lagi secara tiba-tiba dengan memiliki bom atom dan nuklir.”

Kini, dalam pemilu 2006, sudah terbukti, rakyat Palestina memilih Hamas sebagai pemimpin mereka. Bagaimana perjalanan selanjutnya? Kita perlu mencermati kiprah Hamas dari hari ke hari.

Jalan terbaik yang perlu ditempuh oleh Hamas adalah menjaga integritasnya, membuktikan janji-janjinya dalam pemilu, dan menggalang kebersamaan Palestina serta dunia Islam lainnya. Jika Hamas gagal, maka perjalanan panjang perjuangan Palestina akan semakin panjang lagi. Wallahu a’lam. (Jakarta, 30 Januari 2006)

Catakan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan http://www.hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: