KETIKA DARAH DAN NYAWA RAKYAT PALESTINA JADI TARUHAN AMBISI OBAMA

Tiga hari setelah memberikan pidato tentang kebijakan luar negerinya untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Presiden AS Barack Obama kembali berpidato di konferensi tahunan AIPAC, pada Minggu (22/5). Pada dasarnya, isi kedua pidato Obama dalam dua kesempatan berbeda itu sama saja, menegaskan kembali sikap Obama bahwa dirinya adalah pendukung setia Zionis Israel dan jelas menyiratkan bahwa ia tak pernah sepenuh hati mendukung perdamaian di Timur Tengah, khususnya masalah kemerdekaan Palestina.
Para analis politik internasional berpendapat, pidato Obama dalam waktu yang nyaris berdekatan, tidak lebih sebagai strategi Obama menjelang pemilu presiden tahun depan. Jauh-jauh hari, Obama sudah mengisyaratkan bahwa dirinya akan mencalonkan diri lagi dalam pemilu presiden AS tahun 2012.


Presiden Gagal
Pertengahan Januari kemarin, Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs mengatakan bahwa Obama berencana mengajukan surat pencalonan resmi dalam beberapa bulan mendatang. “Kami telah mencapai beberapa kemajuan dalam memulihkan perekonomian, dan saya pikir Presiden ingin terus melakukan itu,” kata Gibbs saat itu.
Tapi fakta bicara lain, beberapa survei menunjukkan popularitas Obama di mata rakyat Amerika, terus menurun sejak ia resmi menjadi presiden AS tahun 2008 lalu. Popularitas Obama keturunan Afrika itu bahkan mencapai titik terburuk pada tahun 2009, karena sebagian besar rakyat AS menilai Obama gagal mengatasi persoalan dalam negeri, khususnya masalah ekonomi dan persoalan luar negeri, terutama kebijakannya dalam perang AS di Afghanistan.
Survei yang dilakukan Rasmussen Report baru-baru ini misalnya, menunjukkan bahwa 50 persen responden dari kalangan rakyat AS menyatakan sangat tidak puas dengan kinerja Presiden Obama. Angka itu meningkat tajam dibandingkan survei tahun 2009, yang prosentasenya hanya 30 persen.
Situs Business Insider dalam laporannya menyebutkan bahwa Obama gagal memenuhi janji-janji kampanyenya dalam pemilu presiden lalu. Penghargaan Nobel Perdamaian yang diterima Obama tahun 2009, juga tak mampu mendongkrak popularitasnya. Obama yang menggunakan jargon “Change” dalam kampanye presidennya dulu, terbukti tak mampu melakukan transformasi yang drastis dan esensial untuk negaranya, seperti yang dijanjikannya.
Rakyat AS yang sudah capek dan muak dengan kebijakan agresif presiden sebelumnya, George W. Bush, menginginkan kehidupan yang lebih damai dan tenang, dan berharap ada pemimpin baru yang berbeda dalam menjalankan roda pemerintahan. Tapi harapan rakyat AS itu kandas, karena pemimpin baru yang diharapkan membawa perubahan itu ternyata sama saja dengan pemimpin sebelumnya. Di mata rakyat AS dan dunia internasional, utamanya dunia Islam, Obama hanya kepanjangan tangan dan meneruskan kebijakan-kebijakan AS yang imperialis, militerisme dan pro-Zionis Israel.
Sampai sekarang, Obama belum juga menutup kamp penjara Guantanamo dan tutup mata atas penyiksaan terhadap para tahanan muslim yang masih terus berlangsung di kamp penjara itu. Obama sama sekali tidak mendekat pada dunia Islam, seperti isi pidatonya di Kairo tahun 2009. Obama cuma bisa mengecam perluasan pemukiman ilegal Israel di tanah Palestina, tapi tidak mengenakan sanksi berat pada Israel. Alih-alih menarik pasukannya dari Irak, Obama mengirim tentara tambahan ke Afghanistan dan melakukan serangan udara sepihak ke wilayah Pakistan, dengan menggunakan pesawat tanpa awak sehingga menimbulkan korban di kalangan warga sipil.
Obama dan jajarannya nampaknya sadar betul bahwa mereka sudah tidak populer lagi di mata rakyat, dan ini menjadi akan menjadi kendala besar bagi kemenangan Obama dalam pemilu tahun depan. Mereka putar otak, dan menemukan cara yaitu dengan membuat berita terbunuhnya “teroris paling berbahaya di dunia”, pemimpin jaringan Al-Qaida Usamah bin Ladin yang selama ini dijadikan musuh nomor satu seluruh rakyat AS.
Dengan dukungan media massa AS, berita dan penayangan operasi “heroik” pasukan khusus AS membunuh Bin Ladin disebarluaskan ke seluruh dunia. Obama langsung berpidato, memuji operasi itu dan menyebut tewasnya Bin Ladin sebagai kemenangan seluruh rakyat Amerika dalam melawan terorisme.
Tapi, apakah itu semua mampu memulihkan popularitas Obama? Sebagian rakyat AS memang bersuka ria mendengar berita tewasnya Obama. Tapi setelah itu, mereka kembali dicekam ketakutan akan kemungkinan tindakan balasan atas kematian Bin Ladin. Selain itu, banyak kalangan mulai meragukan kematian Usamah bin Ladin. Mereka membeberkan kejanggalan-kejanggalan operasi yang dilakukan pasukan khusus AS ke Abbotabad, lokasi yang diklaim tempat ditemukannya Bin Ladin. Sebagian pihak meyakini yang terbunuh di tempat itu bukan Bin Ladin, dan sampai sekarang Bin Ladin masih hidup. Sebagian lagi menyatakan bahwa Bin Ladin sudah lama meninggal dunia karena suatu penyakit.
Dan jangan lupa, ada sejumlah ilmuwan dan jurnalis seperti Mark Weber, Kevin Barret, Paul Craig Roberts dan Christopher Bollyn yang hingga detik ini meyakini bahwa serangan 11 September 2001 yang oleh AS diklaim didalangi Usamah bin Ladin, sebenarnya adalah ‘kerjaan’ CIA dan FBI atau operasi rahasia yang dilakukan Mossad, lembaga intelijen Israel.
Kampanye Pencitraan
Perkembangan situasi setelah berita kematian Usamah bin Ladin, tetap tak menguntungkan posisi Obama untuk mendapatkan simpati rakyatnya. Jalan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah kembali melakukan “kampanye pencitraan” seperti yang dilakukan Obama saat bertarung dalam pemilu presiden dulu.
Pidato kedua Obama tentang Timur Tengah dan dunia Islam, setelah pidato pertamanya di Kairo, serta pidato Obama di hadapan para pelobi Yahudi pro-Israel, adalah bagian dari kampanye pencitraan itu. Obama bisa jadi tak perlu berharap banyak pada dukungan rakyatnya atau pada dukungan Timur Tengah serta dunia Islam agar bisa memenangkan kembali pemilu presiden 2012. Tapi ia sangat berharap banyak pada dukungan para Yahudi Zionis yang lewat kelompok lobinya, terbukti mampu menentukan arah dan mendikte kebijakan negara besar semacam AS dan menjadi penentu siapa yang pantas menjadi presiden AS.
Soal dukungan rakyat, bisa diatur, karena kelompok-kelompok lobi Yahudi Zionis pro-Israel sudah mengendalikan hampir seluruh lini kehidupan masyarakat AS, mulai dari Kongres, konglomerasi media massa dan institusi-institusi keuangan di AS.
Lobi Yahudi Zionis pulalah yang pada pemilu 2008 lalu, berperan besar dalam kemenangan Obama. Kemenangan itu tidak lepas dari sikap serta dukungan Obama terhadap Zionis Israel, saat mencalonkan diri sebagai kandidat dalam pemilu presiden AS.
Dalam kunjungannya ke kota Sderot, Israel pada Juli 2008, Obama mengatakan, “Jika seseorang mengirimkan roket ke rumah saya, tempat di mana kedua putri saya tidur di waktu malam, saya akan melakukan apapun untuk menghentikannya. Saya harap Israel juga melakukan hal yang sama.”
Sedangkan soal Hamas, seperti dikutip dari NEW YORK TIMES edisi 23 Juli 2008, Obama mengatakan, “Terkait negosiasi dengan Hamas, sangat sulit bernegosiasi dengan sebuah kelompok yang bukan mewakili sebuah bangsa, yang tidak mengakui eksitensi Anda (Israel) dan menggunakan teror sebagai senjata.”
Setahun sebelumnya, pada Maret 2007, dalam pidatonya di hadapan AIPAC–organisasi lobi Yahudi pro-Israel terbesar di AS–Obama mengatakan, “AS harus mempertahankan komitmen totalnya terhadap Israel, dengan cara membiayai program peluru kendali agar militer Israel bisa menahan serangan dari Teheran (Iran) dan Gaza.”
Masyarakat internasional juga tentu masih ingat, bagaimana Obama bungkam ketika Israel melakukan serangan brutalnya ke Jalur Gaza pada tahun 2008.
Ketergantungan Obama pada Zionis makin jelas, ketika ia memilih orang-orang yang duduk dalam kabinet dan pemerintahannya. Sebuah saja Wakil Presiden Joe Biden yang jelas-jelas mengakui, “Saya seorang Zionis. Anda tidak perlu menjadi seorang Yahudi untuk menjadi seorang Zionis.” Lalu ada Rahm Emanuel, yang ditunjuk Obama sebagai kepala staf Gedung Putih. Emanuel adalah anak lelaki dari bekas pasukan Irgun, pasukan Zionis yang melakukan pembantaian dan pengusiran terhadap rakyat Palestina saat pembentukan negara ilegal Israel. Emanuel memiliki dua kewarganegaraan, AS dan Israel. Selebihnya, hampir semua posisi penting dalam lembaga pemerintahan AS, dijabat oleh tokoh-tokoh yang pro-Zionis Israel.
Dua hari setelah ia dilantik, Obama kembali mempertegas kecintaannya pada Israel dalam pidatonya. Ia mengatakan, “Amerika berkomitmen pada keamanan Israel. Dan kita akan selalu mendukung hak Israel untuk membela dirinya di hadapan ancaman yang nyata.”
Jadi, tak perlu heran, jika selama pemerintahannya, konflik Israel-Palestina terus tarik ulur. AS adalah Israel, dan Israel adalah AS, menjadi harga mati yang mustahil bisa berubah, siapa pun yang memimpin AS. “Siapa pun yang mengancam Israel, mengancam kita (AS),” kata Obama.
Siapa yang dimaksud dengan ancaman buat Israel, sudah tentu negara-negara tetangga Israel, yang notabene negara-negara Muslim. Tak heran, jika Obama bersikap lain di mulut, lain di tindakan ketika menyangkut kepentingan negara-negara Muslim. Yang penting jangan sampai merugikan Israel.
Maka, demi memenangkan pemilu presiden AS 2012, Obama kembali “cari muka” di depan para pelobi Zionis. Tak peduli Obama harus mempermalukan dirinya sendiri, dengan mengorbankan nyawa anak-anak dan perempuan Palestina, demi mendapat dukungan dari kelompok Zionis untuk memuluskan jalannya ke kursi kepresidenan untuk yang kedua kalinya. Adakah yang lebih memalukan dari sikap semacam ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: