PENGARUH LOBI YAHUDI-ZIONIST DAN KRISTEN-FANATIC -ORIENTALIST PRO ISRAEL DI DALAM KEBIJAKAN POLITIK LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERHADAP DUNIA ISLAM KHUSUSNYA DI KAWASAN TIMUR TENGAH

Oleh: Heru Wibowo
Kalau kita mau merujuk ke dalam salah satu ayat di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menberikan semacam ‘peringatan dini’ kepada kita untuk senantiasa berhati-hati terhadap dua macam kaum yang ada di dunia ini. Kutipan ayat itu adalah ‘Sesungguhnya orang Yahudi dan orang Nasrani tidak akan senang kepadamu (wahai umat Islam) sampai kamu mengikuti ‘millah’ mereka.’ (Al Baqarah: 120). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberitahukan dua golongan itu sebagai ‘musuh’ umat Islam sejak dahulu kala hingga akhir zaman nanti. Dalam hal ini Dia berfirman, “Sesungguhnya akan kamu temukan orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman (Islam) ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. (Al-Maaidah: 82). Dan juga didalam salah satu hadist yang shahih, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan semacam prediksi kepada kita, yaitu “Kalian pasti akan mengikuti sunnah-sunnah kaum sebelum kalian. Walaupun mereka masuk ke lubang biawak sekalipun pasti kalian mengikuti mereka!! Para Sahabat bertanya, “Apakah mereka kaum Nasrani dan Yahudi, Ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Siapa lagi! (Kalau bukan mereka!). (HR. Muslim). Ini hanyalah sebagian ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menceritakan suatu kaum yang pernah dikutuk menjadi kera oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kedurhakaannya. Masih banyak lagi ayat-ayat yang menceritakan kaum Yahudi. Bahkan kalau kita mau telusuri Surah terpanjang dalam Al-Qur’an yaitu Surah Al-Baqarah, di sana Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menceritakan kaum Yahudi.


Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan banyak ‘kelebihan’ yang diberikan kepada kaum ini. Salah satu ‘kelebihan’ itu adalah bahwa mereka pandai melobi dan mempengaruhi masyarakat dunia khususnya masyarakat Amerika demi untuk mencapai kepentingan dan agenda mereka.
Saat Columbus melakukan ekspedisi untuk menaklukkan benua Amerika, banyak orang-orang Yahudi yang ikut bersamanya untuk melarikan diri dari Dewan Inkuisisi yang telah dibentuk oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabel dari Spanyol. Ketika Columbus dan orang-orang Yahudi tiba di benua Amerika, mereka melakukan pembantaian terhadap suku Indian yang telah lama menetap di benua itu. Sejak itulah secara bergelombang mereka mulai menguasai benua itu. Posisi dan kedudukan orang-orang Yahudi akhirnya makin menguat sehingga mereka berhasil merebut kendali pemerintahan dan negara. Bahkan mereka menjadi penentu di segala bidang, seperti bidang pemerintahan, politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain di Amerika. Pengaruh ini sedemikian kuat dan terencana walaupun jumlah populasi mereka relatif kecil. Inilah cikal bakal lahirnya lobi Yahudi di Amerika.
Merujuk pada dokumen rahasia yang berjudul The Protocol of the Elder Learned Zion, salah satu dari 12 Protocol yakni Protocol 2 yang menyebutkan, ‘Mereka akan menciptakan perang dan menjaga tetap berlanjut seraya tetap mengendalikannya agar tidak meluas. Yahudi akan menarik dan menggali keuntungan. Mereka akan memilih dan mendukung tokoh-tokoh pemimpin yang tidak berpengalaman, bodoh dan tidak memiliki wawasan luas sebagai presiden atau pemimpin negara agar kekuatan lobi Yahudi tetap bisa mempengaruhi dan mengontrolnya. Zionis akan memciptakan situasi dimana para qoyim (non-Yahudi) selalu berada dalam kondisi membutuhkan mereka.’ Protokol ini, seiring zaman menjadi kenyataan dan telah terbukti. Sekarang ini Lobi Yahudi-zionis telah menggurita ke seluruh penjuru dunia khususnya di dalam semua kebijakan yang diambil oleh pemerintah Amerika serikat dalam membela Israel.
Didalam bukunya yang berjudul Membongkar Rencana Israel Raya, Herry Nurdi menulis bahwa John Mearsher dan Stephen Walt, dalam papernya yang menghebohkan, memang menyebutkan bahwa tidak ada yang ilegal yang dilakukan oleh lobi Israel dalam prosesnya. Dan tidak pula bersifat seperti yang tergambar dalam The Protocol of the Elder Learned Zion. Kelemahan lembaga-lembaga lobi lainnya, termasuk kelompok lobi Timur Tengah, semakin membuat lobi Israel dengan mudah memenangi situasi. Lebih lanjut Herry memaparkan cara kerja lobi Israel secara umum memiliki dua strategi. Pertama secara signifikan mereka akan mencoba menanamkan pengaruhnya di Gedung Putih, konggres dan lembaga eksekutif lainnya. Strategi kedua, sebisa mungkin lobi Israel akan menampilkan potret yang baik tentang Israel. Misalnya, jika ada serangan atau kekerasan, maka citra yang dimunculkan adalah Israel adalah korban, dan pelaku teroris adalah para pejuang garis keras di Palestina, mulai dari Hamas, Jihad Islami, Fatah dan yang lainnya.
Tidak ada satu pun negara di dunia ini yang pengaruhnya sedemikian kuat di Amerika Serikat selain Israel. Hal ini tentu berasal dari kuatnya pengaruh dan dominasi lobi Yahudi-Zionis pro Israel. Tidak berlebihan jika diketahui adanya data dan fakta yang terbukti akurat bahwa semua lembaga pemerintah Amerika Serikat sesungguhnya dikuasai oleh lobi Yahudi- Zionis sehingga seorang ‘algojo’ pembantaian di kamp Sabra-Satila dan mantan perdana menteri Israel Ariel Sharon pernah berucap dan tidak terpeleset lidahnya , “Jangan takut, Amerika berada dalam kendali kita!!”
Ada beberapa organisasi lobi Yahudi-Zionis yang mengusai kebijakan pemerintah Amerika serikat khususnya pada era pemerintahan diktator George W. Bush Jr. Seolah-olah Presiden Amerika yang satu ini telah menjadi ‘boneka’ orang-orang Yahudi-Zionis yang berada di organisasi-oragnisasi lobi tersebut.
Didalam sebuah artikel yang di tulis di majalah ERAMUSLIM DIGEST sekurang-kurangnya ada dua organisasi Yahudi di Amerika Serikat yang sangat menentukan sikap luar negeri Ameika Serikat, yakni JINSA (Jewist Institute for Nasional Security Affairs) dan CSP (Committee for Security Policy), keduanya memiliki hubungan amat erat dengan CPD (Committee on the Present Danger) sebuah wadah tempat berkumpulnya para Hawkish Gedung putih dan Pentagon seperti Paul Wolfowitz, Dick Cheney, Karl Rove, Richard Perle, dan sebagainya. Di bawahnya ada AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) . Organisasi-organisasi Zionis ini memiliki tiga agenda besar yang harus dilakukan setiap pemerintahan AS yakni: selalu mendukung Israel dalam segala hal, selalu menambah anggaran militer, dan selalu menentang traktat kontrol senjata yang bisa merugikan AS dan Israel. Organisasi-organisasi lobi Yahudi ini pula yang mengontrol setiap tindakan seorang presiden AS, apakah menguntungkan Israel atau dianggap merugikan. Seorang presiden AS yang ingin kekuasaannya aman, maka dia harus menjalankan agenda Israel. Jika tidak maka jangan harap dalam pemilu ke depan dia akan terpilih kembali atau yang paling apes adalah seperti yang dialami Abraham Lincoln dan John F. Kennedy: Dibunuh!!
Setiap langkah Amerika Serikat disetir oleh kalangan lobi Yahudi-Zionis di Amerika Serikat. Mereka inilah yang selalu menjaga semangat dan kebijakan pro-Zionis. Mereka memanfaatkan pengaruh Yahudi di Amerika Serikat untuk membantu Zionisme. Tak heran jika Yahudi di Amerika beberapa kali menjadi penyelenggara konfrensi Zionisme dunia. Pengaruh lobi Yahudi kemudian menjadi sangat menonjol dalam setiap pengambilan kebijakan pemerintah Amerika Serikat. Hal ini wajar karena banyak tokoh politik Amerika merupakan anggota Freemason, misalnya George W. Bush Sr., George W Bush Jr., adalah Mason tingkat 33, Colin Powel (Mason tingkat 33), Gerald Ford, Harry S. Truman, Franklin D. Roosevelt, dan lain-lain.
Dominasi lobi Yahudi-Zionis dalam pemerintahan Amerika serikat, misalnya, adalah sesuatu yang terbuka dan sudah menjadi rahasia umum baik dikalangan masyarakat internasional maupun masyarakat Amerika sendiri. Ini bisa dilihat dalam kasus hubungan spesial antara Israel dan Amerika. Berkat kepiawaian lobi Yahudi-Zionis ini, hampir setiap Presiden Amerika selalu membuat komitmen melindungi kepentingan Israel.
Gabriel Sheffer, dalam bukunya, US-Israeli Relations at The Crossroad (1997), melihat hubungan spesial Israel-Amerika dengan tiga pendekatan. Pertama, pendekatan “realis” dan “neorealis”, memandang bahwa sumber utama dari afinitas hubungan itu adalah kesamaan pandangan dan kepentingan kedua negara. Kedua, pendekatan “politik dalam negeri” (domestic-politics approach) Amerika, yang menekankan pada peran besar “lobi Yahudi yang tak terkalahkan” (the unbeatable Jewish lobby), donasi keuangan Yahudi dalam kampanye para politikus Amerika, kampanye kelompok-kelompok pro-Israel, seperti kaum Protestan fundamentalis, dan kekuatan-kekuatan Yahudi lain, terhadap politik dalam negeri Amerika. Ketiga, pendekatan baru yang disebut pendekatan “idealis” atau “ideasionis” (idealist or ideationist approach), yang memfokuskan pada basis kerja sama Amerika-Israel, seperti (a) afinitas alamiah antara dua negara demokrasi, (b) akar budaya Judeo-Christian antara masyarakat kedua negara. Dari berbagai pendekatan itu, bisa dilihat bahwa kekuatan Yahudi bukan hal mistis. Yahudi telah bekerja keras untuk mencapai posisi sekarang. Tokoh Zionis, Theodore Herzl, adalah seorang “penulis skenario”, “sutradara”, sekaligus “aktor utama” gerakan zionis.
Mengetahui betapa kompleks dan menyeluruhnya pengaruh cengkraman lobi Yahudi-Zionis di setiap level pemerintahan Amerika sehingga terkadang kita sering mengedepankan bersikap SUUDZON (BERBURUK SANGKA). TAPI MEMANG BEITULAH TAKDIR YANG ALLAH Subhanahu wa Ta’ala telah memberitahu dalam kitab suci Al-Qur’an tentang watak buruk musuh-musuh agama-Nya, khususnya kaum Yahudi.
Dalam wawancara pada hari minggu dengan Newsweek, mantan presiden Iran Mohammad Khatami mengatakan bahwa salah satu rintangan terbesar pastinya adalah Israel dan lobi Zionisnya. Lobi tersebut sangat kuat secara finansial dan juga memiliki pengaruh kuat di media. Mereka dapat dengan mudah menciptakan publikasi negatif dan peperangan psikologis jika sampai mereka melihat kepentingan Israel dalam bahaya. Lebih lanjut Khatami memaparkan bahwa lobi Israel dalam kebijakan Amerika Serikat amat sangat kuat dan telah begitu mengakar. Saking kuatnya, banyak orang yang sampai percaya bahwa ibukota Amerika Serikat yang sebenarnya bukan di Washington, tapi telah dipindahkan ke Tel Aviv. (www. suaramedia.com, Senin, 25 Mei 2009 19:31).
Seberapa besar kekuatan pengaruh Yahudi di Amerika Serikat? Hal ini dapat diketahui dari beberapa sumber kekuatan Yahudi dalam politik Amerika Serikat, antara lain:
PERTAMA, senjata politik; Lewat ini kelompok Yahudi akan dapat mencap dan memberi label (name calling) anti Yahudi, Pro Arab, atau anti semit kepada mereka yang mengkritik Israel. Name calling ini pernah ditujukan kepada beberapa pemimpin dunia, seperti Ahmaddinejad dan Mahathir Muhammad.
KEDUA, suara masyarakat Yahudi; Meskipun Amerika memiliki tradisi demokrasi sangat kental, namun sesungguhnya hanya sedikit penduduk Amerika yang memberikan suaranya, bahkan hampir setengah dari pemilih tidak memberikan suara. Sebaliknya enam juta Yahudi yang hanya 3% dari seluruh penduduk bisa secara maksimal memberikan 90% suara mereka.
KETIGA, kemampuan orang-orang Yahudi dalam memberikan dana yang besar untuk kampanye-kampanye politik terutama calon yang mereka percaya akan mendukung kepentingan Yahudi.
KEEMPAT, alat-alat propaganda; Dari 1700 koran, 3%nya milik Yahudi dan begitu pula dengan majalah mingguan berpengaruh seperti NEWSWEEK, TIME, US NEWS AND WORLD REPORT, majalah intelektual seperti; NATION, THE REPUBLIC, THE NEW YORK TIMES REVIEW OF BOOK, serta tiga jaringan televisi terkemuka seperti; THE AMERICAN BROADCASTING CORPORATION, THE COLUMBIA BROADCASTING CORPORATION, DAN THE NATIONAL BROADCASTING CORPORATION
KELIMA, organisasi-organisasi Yahudi yang jumlahnya sangat banyak hingga mencapai 200-an; Bentuk organisasi tersebut bisa berupa organisasi kemasyarakatan, Zionis, politik, dan lobi.
PADA ERA PEMERINTAHAN GEORGE W.BUSH JR. INILAH PARA ORGANISASI-ORGANISASI LOBI YAHUDI-ZIONIS MENDOMINASI, MEMPENGARUHI, DAN MELAKUKAN PROPAGANDA TERHADAP KEBIJAKAN YANG AKAN DIAMBIL OLEH PRESIDEN AMERIKA YANG SATU INI KHUSUSNYA DALAM MEMBELA KEPENTINGAN ISRAEL. SEMUA ANGGOTA LOBI YAHUDI-ZIONIS PRO ISRAEL BERADA DALAM SATU TIM DENGAN PRESIDEN BUSH. BISA DIKATAKAN, SELAMA MASA KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN BUSH ROMBONGAN PARA PELOBI YANG PRO ISRAEL SANGAT MUTLAK BERKUASA DI AMERIKA.
BERDASARKAN DESKRIPSI LATAR BELAKANG MASALAH DAN BEBERAPA KAJIAN DI ATAS TENTANG HEGEMONI DAN PENGARUH LOBI YAHUDI-ZIONIS DI PEMERINTAHAN AMERIKA SERIKAT KHUSUSNYA ERA PRESIDEN GEORGE W.BUSH JR., MAKA PENELITIAN SKRIPSI INI DIBUAT DENGAN JUDUL ”PENGARUH LOBI YAHUDI-ZIONIS DI DALAM Kebijakan Politik Luar Negeri Amerika Serikat Pada Era Pemerintahan GEORGE W.BUSH JR..”
Pada 26 Oktober 2001, muncul sebuah analisis Michele Steinberg yang berjudul ‘Wolfowitz Cabal’ Is an Enemy Within U.S. di Executive Intelligence Review. Tulisan Steinberg itu dimulai dengan cerita tentang keterlibatan Irak dalam Serangan 11 September 2001, seperti dimuat dalam Harian the Observer yang terbit di London edisi 14 Oktober 2001. Berita yang diberi judul “Iraq Behind U.S. Anthrax Outbreaks” itu ternyata salah total.
Lebih lanjut Steinberg memaparkan bahwa berita salah itu mengutip sumbernya dari pernyataan tanpa bukti dari kalangan “American Hawk” – sebutan bagi pajabat-pajabat Amerika Serikat yang bersemangat dalam melakukan perang. Sipakah kelompok maniak perang di AS tersebut. Itulah yang disebut Steinberg sebagai “Wolfowitz Cabal” atau komplotan rahasia Wolfowitz (mantan Dubes AS untuk Indonesia yang saat itu menjabat Deputi Menhan AS). Menurut koran The New York Times yang menerbitkan bocoran aktivitas komplotan tersebut pada 12 Oktober 2001, komplotan itu menginginkan agar segera dilakukan perang terhadap Irak, menyusul serangan AS ke Afghanistan. Perang itulah yang mereka harapkan akan menyeret Aske kancah perang global yang mereka inginkan.
Majalah Times juga pernah mengungkapkan, pada 22 September 2001, Presiden Bush menolak rekomendasi “cabal” untuk menyerang Iraq. Tapi, menurut Steinberg, “cabal” mampu merancang operasi “negara dalam negara” sebagaimana pernah terjadi dalam kasus “Iran-Contra” (Adian Husaini 2003: 20-23).
Lobi kuat yang bernama ‘Wolfowitz cabal’ ini dipimpin oleh Paul Wolfowitz, seorang Yahudi-Zionis yang pro Israel dan juga pernah menjabat sebagai duta besar Amerika untuk Indonesia, memiliki anggota dari tokoh-tokoh penting dalam pengambilan keputusan di Departemen Pertahanan AS. Terbukti bahwa Presiden Bush kala itu semakin terperangkap memasuki kelompok ini, sebab saat itu dia akhirnya bersemangat untuk menggempur Iraq dan berucap, ”Saya mendapat bisikan dari Tuhan untuk menghancurkan Iraq”.
HERU WIBOWO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: