Rujuk Hamas Fatah

Oleh : Riza Sihbudi
Profesor Riset LIPI dan Mantan Diplomat
Salah satu dampak positif dari pergolakan di Dunia Arab adalah bersatunya kembali dua faksi besar di Palestina, yaitu Hamas dan Fatah. Perjanjian Rekonsiliasi itu ditandatangani oleh Presiden Palestina Mahmud Abbas selaku pemimpin Gerakan al-Fatah dan pemimpin Hamas Khaled Meshal, di Kairo (Mesir), 4 Mei 2011 lalu.


Rekonsiliasi ini disambut dengan positif oleh hampir seluruh warga dunia, kecuali (lagi-lagi) oleh rezim Zionis Israel dan-sang bonekanya-Amerika Serikat. Hamas (Harakat al-Muqawwamah al-Islamiyyah) atau Gerakan Perlawanan Islam adalah faksi “Islamis” di kalangan para pejuang Palestina yang merasa tidak puas dengan ideologi “nasionalisme-sekuler” yang dianut Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di bawah kepemimpinan Yasser Arafat.
Gerakan Hamas secara resmi diproklamasikan pada 1987 bersamaan dengan meletusnya gerakan Intifada I. Gerakan ini semula dibentuk Syekh Ahmad Yassin, Mahmud al-Zahar, dan tokoh-tokoh Muslim Palestina lainnya yang semula bernaung di bawah Ikhwanul Muslimin. Yassin sempat memimpim Hamas sampai ia terbunuh pada 22 Maret 2004. Ia dibunuh oleh para serdadu Zionis Israel.
Setelah Yassin meninggal, tampil Dr Abdul Aziz al-Rantissi sebagai pemimpin baru Hamas. Namun, Dr Rantissi tak sampai sebulan memimpin Hamas. Pada 17 April 2004, kaum Zionis kembali membunuh secara keji pemimpin Hamas. Tampaknya, belajar dari tragedi yang menimpa Syekh Yassin dan Dr Rantissi, Hamas tak mau lagi mengumumkan secara resmi siapa yang menjadi pemimpin mereka dewasa ini. Namun, bisa jadi, Hamas pasca-Yassin dan Rantissi, dikendalikan oleh Khalid Meshal dan Ismail Hanniya yang saat ini menjadi PM Palestina di Jalur Gaza.
Dalam lima tahun terakhir, sebagai kekuatan politik-militer, Hamas sangat diperhitungkan oleh-oleh lawan mereka, terutama Israel, AS, dan para sekutu mereka. Pada pemilu 2006 di Palestina, Hamas berhasil meraih suara mayoritas mutlak. Ironisnya, hasil pemilu yang benar-benar demokratis ini sama sekali tidak diakui oleh AS dan para sekutu Israel. Dengan berbagai macam cara yang kotor dan licik, mereka berusaha menumbangkan pemerintahan Hamas yang legitimate.
Lalu, digunakanlah taktik kuno kaum kolonial, yaitu devide et impera. Dengan berbagai iming-iming yang disertai ancaman, Gerakan al-Fatah Palestina, yang memang berhaluan sekuler dan pro-Barat, berhasil diprovokasi untuk memerangi Hamas. Walhasil, pada 2007, Hamas pun terusir dari wilayah Tepi Barat. Namun, di Jalur Gaza justru Fatah yang terusir.
Keberhasilan Hamas mempertahankan dominasinya di Gaza, justru membuat Zionis Israel geram. Maka, Hamas yang sudah terkepung dari segala penjuru di Gaza-yang sudah menjelma bak penjara raksasa-pun kemudian harus menghadapi serangan bombardir yang bertubi-tubi dari kekuatan militer Zionis Israel, pada 2008, yang didukung sepenuhnya oleh AS.
Dalam kenyataannya, aksi militer Zionis tersebut justru gagal melumpuhkan kekuatan Hamas. Sebaliknya, Hamas justru berhasil mendapatkan simpati dari warga dunia pada umumnya. Tidak hanya dari para warga di Dunia Arab dan Islam. Di London, misalnya, pada Januari 2009 berlangsung unjuk rasa besar-besaran-yang diikuti pula oleh sejumlah aktivis dan artis warga Inggris asli-yang mengutuk serangan militer Zionis Israel di Gaza.

Dampak rujuk di Timur Tengah
Berbeda dengan Hamas yang secara tegas mengibarkan panji-panji Islam sebagai landasan utama perjuangan mereka melawan Zionisme. Gerakan al-Fatah yang mendukung pemerintahan Otoritas Palestina di wilayah Tepi Barat di bawah kepemimpinan Presiden Mahmud Abbas, justru berhaluan sekuler dan karenanya mendapat dukungan dari Zioinis Israel, AS, dan negara-negara sekutunya.
Palestina di bawah Abbas berusaha menjalin perdamaian dengan Israel. Namun, rupanya proses perdamaian yang disponsori AS hanya berhenti sampai “proses”. Berkali-kali perundingan Palestina-Israel tidak pernah membawa hasil apa pun. Penyebabnya, tak lain dari kegagalan AS sebagai “penengah” yang ternyata tak mampu berbuat adil. Ibarat dalam pertandingan sepak bola, sebagai “wasit” AS ternyata bersikap berat sebelah. Keberpihakan AS pada Israel terlalu kasat mata.
Pergolakan di Dunia Arab seakan menyadarkan bangsa Palestina bahwa nasib masa depan mereka tidak bergantung pada AS atau negara-negara Barat lainnya. Maka, di tengah maraknya unjuk rasa jutaan warga di berbagai negara Arab, warga Palestina (di Gaza dan Tepi Barat) pun ikut turun ke jalan. Namun, mereka bukan hendak menjatuhkan pemerintahannya, melainkan mendesak segera diakhirinya perpecahan intern di antara mereka, khususnya antara Hamas dan Fatah.
Para pemimpin Hamas dan Fatah pun kemudian menyadari, berlarut-larutnya konflik di antara mereka hanya akan menguntungkan pihak musuh. Maka, seiring dengan kejatuhan Presiden Husni Mubarak-yang selalu memusuhi Hamas-Mesir pun kemudian memainkan peranan yang lebih proaktif guna merujukkan Hamas dan Fatah.
Sebagaimana euforia warga Arab di Tunisia dan Mesir yang berhasil menumbangkan rezim-rezim otoriter di negara mereka, puluhan ribu warga Palestina pun larut dalam euforia karena tercapainya rujuk Hamas dan Fatah. Berbicara dalam upacara penandatanganan kesepakatan perdamaian itu di Kairo, Ketua Fatah yang juga Presiden Mahmud Abbas mengatakan, “rakyat Palestina sudah meninggalkan perpecahan.” Sedangkan pemimpin Hamas Khaled Meshal mengatakan tujuan mereka adalah untuk “membentuk negara Palestina yang berdaulat di Tepi Barat dan di Jalur Gaza tanpa kehilangan satu jengkal pun tanah kepada Israel.”
Rekonsiliasi Fatah-Hamas serta pergolakan rakyat di Dunia Arab, akan menjadikan Israel bukan lagi kekuatan yang menentukan di kawasan Timur Tengah. Seperti sudah diduga, Israel menggunakan bahasa-bahasa ancaman, intimidasi, dan ultimatum guna merespons pulihnya hubungan Fatah-Hamas. Sementara sekutu utama Zionis Israel, AS, menunjukkan respons yang biasa-biasa saja, bingung, dan merasa asing serta cenderung mengekor saja pada sekutunya itu.
Rekonsiliasi Hamas-Fatah membuka jalan bagi proklamasi Negara Palestina Merdeka yang dijadwalkan akan berlangsung pada September mendatang. Sejumlah negara-termasuk negara-negara Eropa Barat seperti Inggris dan Prancis-sudah siap-siap untuk mengakui Negara Palestina Merdeka. Tidak mengherankan, jika Netanyahu kini tengah giat melobi Eropa agar tidak mengakui Palestina. AS pun diperkirakan akan mengambil sikap yang tidak jauh berbeda dengan Israel. Namun, yang lebih penting bagi bangsa Palestina, hendaknya mereka tidak lagi terjebak dalam pertikaian internal seperti empat tahun silam. Semoga.

Sumber : Koran Republika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: