Timur Tengah Pasca-Bin Ladin

Riza Sihbudi
Profesor Riset LIPI, Mantan Diplomat
Pemimpin Alqaidah, Usamah bin Ladin, dilaporkan tewas dalam sebuah operasi militer yang dilancarkan pasukan elite Amerika Serikat di Kota Abottabad, Pakistan, 2 Mei lalu. Presiden AS Barack Obama mengumumkan sendiri secara langsung perihal tewasnya Usamah. Berita ini sudah tentu disambut dengan penuh sukacita oleh warga AS dan para simpatisannya sehingga berhasil menaikkan pamor Obama–modal penting untuk maju lagi–yang sempat melorot akhir-akhir ini. Namun, sebaliknya, justru disambut dengan penuh rasa berduka dan sekaligus kemarahan oleh para pendukungnya di berbagai belahan dunia, khususnya di Afghanistan dan Pakistan.


Masih banyak tanda tanya di sekitar kematian Usamah. Di antaranya adalah mengapa Usamah (mendadak) pindah, dari Afghanistan ke Pakistan? Apakah ini buah dari sebuah pengkhianatan yang dilakukan orang-orang terdekat Usamah? Benarkah sewaktu tertembak, Usamah sama sekali tidak bersenjata dan tanpa pengawalan yang ketat seperti biasanya? Sejauhmana kebenaran sinyalemen Dr David Griffin (tokoh agama AS) bahwa Usamah sebenarnya sudah meninggal delapan tahun silam akibat sakit ginjal? Dan, masih banyak lagi. Bahkan yang paling ekstrem, tidak mempercayai berita itu sama sekali.
Di era seperti sekarang, rasanya sulit mencari kebenaran yang lain dari yang sudah disuguhkan dan dijejalkan oleh media-media utama versi Barat. Semua berita yang bersumber dari Barat sepertinya sudah harus kita terima sebagai suatu “kebenaran”. Seakan-akan sudah tidak ada lagi yang mampu meng-counter-nya. Jika mereka bilang “A”, manusia seluruh dunia harus meyakini bahwa itu memang “A”, kendati, misalnya, yang sebenarnya itu adalah “B”. Barangkali, hanya tinggal segelintir manusia yang masih memiliki daya kritis terhadap semua pemberitaan dari Barat.
Alhasil, ketika Barat mengatakan bahwa Usamah bin Ladin itu seorang “teroris”, mayoritas manusia di seluruh dunia praktis mengamininya, termasuk mereka yang ada di negara-negara Muslim. Padahal, kita tahu bahwa jaringan media Barat, dikendalikan oleh kaum Zionis, yang terang-terangan memusuhi Islam. Seakan-akan di dunia ini hanya ada seorang “gembong teroris” yang bernama Usamah bin Ladin. Padahal, seperti dikatakan Prof Dr Amien Rais baru-baru ini di sebuah tv swasta bahwa Usamah hanyalah seorang “teroris kecil”. Masih ada “teroris besar” yang bernama Amerika Serikat dan Zionis-Israel.
Akan tetapi, terlepas dari kontroversi di atas, kita asumsikan saja pemberitaan tentang Usamah, memang benar adanya. Toh, sebuah kematian adalah bagian dari takdir Ilahi yang akan dialami semua umat manusia. Lagipula, bagi seorang Usamah, kematian adalah sebuah “kemenangan” dalam bentuknya yang paling hakiki. Oleh sebab itu, ada seorang penulis Barat yang menganggap tewasnya Usamah sebagai sebuah kemenangan yang berhasil diraihnya (lihat, misalnya, Radley Balko, “Osama Won”, dalam http://reason.com/blog, 02.05.2011).
Obama, rakyat AS, dan para pendukungnya, boleh saja bersorak gembira seakan telah keluar sebagai “pemenang” dalam perang panjang melawan “terorisme”. Padahal, menurut Balko, “pemenang yang sebenarnya adalah Usamah”. Mengapa? Usamah bukan hanya telah berhasil meraih cita-citanya untuk bertemu dengan Sang Khalik, namun juga telah berhasil membuat kondisi ekonomi AS benar-benar “sempoyongan” akibat terjerat dalam perang yang amat panjang di Afghanistan dan Irak.
Usamah berhasil menjerat rezim Bush dan kemudian Obama untuk masuk dalam perangkap jebakan kubangan darah dan air mata di Afghanistan dan Irak, tanpa disadari oleh Gedung Putih bagaimana mereka bisa keluar dari sana. Pada akhir periode pertama Obama, diperkirakan jumlah serdadu AS yang tewas di kedua negara itu dapat mencapai 6.000 orang. Dua kali lipat jumlah warga AS yang tewas akibat Tragedi 911.
Usamah adalah sebuah sosok yang penuh dengan misteri. Sebuah versi–yang belum tentu benar–menggambarkannya sebagai seorang mujahid/pejuang di medan perang, kendati ia berasal dari keluarga kaya Arab Saudi, guna melawan pasukan pendudukan Uni Soviet di Afghanistan pada dekade 1980-an. Oleh karena itu, AS yang waktu itu menjadi musuh utama Soviet, menjalin aliansi dengan para mujahidin Afghan, termasuk Usamah. Setelah pasukan Soviet berhasil dihalau dari Afghanistan, Usamah – dan kelompoknya, Alqaidah – justru berbalik melawan AS karena perilakunya yang memusuhi negara-negara Muslim.
Di sisi lain, AS seakan-akan justru merasa menemukan “musuh baru” dalam sosok Usamah dan Alqaidahnya, setelah runtuhnya Komunisme Soviet. Namun, AS justru menganggap Usamah dan Alqaidah sebagai “representasi” dari umat Islam pada umumnya sehingga cenderung menyamakan perangnya melawan Alqaidah sebagai perang melawan Islam, terutama setelah Alqaidah dituduh berada di belakang serangan terhadap WTC dan Pentagon dalam Tragedi 11 September 2001. Kendati para petinggi AS (termasuk presidennya) berulang-ulang mengatakan bahwa perang melawan Alqaidah, bukan sebagai perang melawan dunia Islam. Namun, dalam praktiknya di lapangan, justru sangat jelas terasa sikap permusuhan AS terhadap Islam.
Sikap permusuhan AS terhadap dunia Islam tidak hanya terlihat dari invasi militernya terhadap Irak dan Afghanistan, namun juga dirasakan oleh kaum Muslim warga AS sendiri, yang merasa diperlakukan secara diskriminatif. Hal ini semakin diperparah oleh fakta makin kuatnya cengkeraman kaum Lobi Zionis-Israel dalam politik AS, utamanya sejak era George W Bush hingga Obama sekarang (lihat, misalnya, buku John J Mearsheimer dan Stephen M Walt, The Israel Lobby and US Foreign Policy, London: Penguin Books, 2007).
Akibatnya, AS tidak hanya menjadi musuh bagi Usamah dan Alqaidah, tetapi juga “dimusuhi” oleh mayoritas warga di dunia Islam. Apalagi, AS tidak hanya berhenti sampai Afghanistan dan Irak. AS pun kini ikut ambil bagian secara aktif dalam mengobrak-abrik negara berpenduduk mayoritas Muslim lainnya, seperti Libya. Tidak bisa dimungkiri, AS pun tengah berusaha menggoyang Pemerintahan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad. Padahal, kita semua tahu, Iran bukanlah ancaman bagi AS. Iran juga bukan merupakan sekutu Alqaidah. Permusuhan AS terhadap Iran dan dunia Islam pada umumnya, lebih disebabkan kuatnya pengaruh lobi Zionis-Israel terhadap Gedung Putih.
Lalu, apakah meninggalnya Usamah akan berdampak positif bagi kawasan Timur Tengah? Apakah kawasan ini akan menjadi lebih damai tanpa Usamah?
Jika kita melihat pada konflik di kawasan ini, jelas sumbernya bukan terletak pada Usamah dan Alqaidah. Keberadaan Alqaidah lebih merupakan reaksi atau respons terhadap ketidakadilan di kawasan ini. Ketidakadilan tersebut justru bersumber pada penjajahan Tanah Palestina oleh rezim Zionis dan pendudukan militer AS di Irak dan Afghanistan.
Selama hak-hak sah bangsa dan rakyat Palestina, Afghanistan, dan Irak, masih belum dipulihkan, kematian seorang Usamah bin Ladin tidak akan berdampak secara signifikan di Timur Tengah. Wallahu a’lam.

Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/24/134676/Timur_Tengah_Pasca_Bin_Ladin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: