Israel Lobby dan Kebijakan Luar Negeri Amerika

(Bagian 1: Bias pro-Israel Kebijakan Amerika)

Ulasan atas riset yang menghebohkan publik dan intelektual Amerika: Israel Lobby and US Foreign Policy (2006) by John J. Mearsheimer and Stephen M. Walt. Faculty Research Working Paper Series, Harvard University and John F. Kennedy School of Government.

Oleh Hidayat 19 Desember 2008

Judul tulisan ini meminjam dari terjemahan judul riset professor Mearsheimer dan Walt diatas. Riset yang menghebohkan kalangan intelektual Amerika (dan dunia) ini memaparkan fakta-fakta tentang peran organisasi-organisasi lobi Israel dalam membelokkan kebijakan luar negeri Amerika agar selalu bernuansa pro-Israel. Hasilnya menyebutkan bahwa terdapat lobi (baik individual dan organisasi) di Amerika yang mempunyai kekuatan untuk membajak segala kebijakan Amerika, terutama yang berkaitan dengan Timur Tengah dan Palestine, sejak akhir Perang Dunia II. Riset ini mendapat sambutan bermacam-macam. Ia dibantah habis-habisan oleh Profesor Hukum Harvard yang terkenal apologis dan pro-Israel, Alan Dershowitz. Sedangkan dikalangan intelektual dan media progresif, riset ini disambut dengan hangat. Bahkan publik Amerika sendiri kaget dengan kesimpulan riset ini—kebijakan luar negeri Amerika seharusnya didasarkan pada pemenuhan kepentingan rakyat Amerika sendiri, bukan Israel. Riset komprehensif 83 halaman ini dapat didownload di situs London Review of Books, http://www.lrb.co.uk atau silakan hubungi penulis di muhamadhidayat[at]hotmail.com

Isu Israel-Palestina adalah isu politik yang paling penting dalam sejarah manusia modern. Segala konflik antara Barat dan Arab (Timur) bermula dari sana. Munculnya terorisme juga sebagai respon atas ketidak adilan yang terjadi di sana. Namun segala pemberitaan yang adil dan berimbang selalu dan telah lama disensor oleh media, sehingga persepsi internasional, terutama dunia non-Muslim, telah terbentuk sedemikian rupa sehingga segala wacana tentang Israel dan kepentingannya selalu mendapat dukungan moral. Persepsi ini tentu saja semakin tidak berlaku di dunia Barat, seiring dengan semakin cepatnya arus informasi lewat internet. Atensi dunia Barat tersebut, tidak dipungkiri, adalah hasil kerja media-media progresif dan alternatif di internet. Media-media progresif menjadikan kritik terhadap isu ini sebagai focus ulasannya (termasuk didalamnya Democracy Now!, Counterpunch, Information Clearing House, Z-ne¬t, the Guardian Inggris, Alternet, Antiwar, dll.). Juga, wartawan infestigatif dari Australia, John Pilger, membuat film dokumentasi khusus tentang ini, “Palestine still Issue”.
Bahkan media-media mainstream mulai memberitakan secara adil tentang isu ini. Sebagai contoh adalah Los Angeles Times dan media liberal Israel, Ha’aretz. Laporan resmi atas efek dari kebijakan Israel dapat diakses di Amnesty International dan Human Rights Watch. Sedangkan berbagai kalangan juga mulai mengangkat isu sensitive ini, salah satunya mantan Presiden Jimmy Carter yang membuat buku berjudul “Palestine: Peace not Apartheid.” Namun Israel selalu mengecam kritik terhadapnya sebagai anti-Semitisme. Hebatnya, isu ini tidak masuk prioritas dalam pemilu Amerika tahun ini, kecuali dari pihak capres-cawapres independen, Ralph Nader-Matt Gonzalez.

Kebijakan luar negeri Amerika saat ini sangat dipengaruhi oleh tendensi pro-Israel (bukan pro-Yahudi). Fakta ini tidak bisa dipungkiri dengan alasan yang cukup kompleks dan kadang-kadang tidak realistis. Ketundukan Amerika tanpa syarat kepada kepentingan Israel telah sejak lama menguasai Gedung Putih. Bahkan Obama pun juga tidak lepas dari sensor pro-Israel tersebut. Amerika berdalih bahwa Israel adalah negara demokrasi yang menjadi contoh bagi “orang-orang Arab yang kejam” disekelilingnya. Alasan ini akan terbukti melenceng. Tulisan ini diharapkan menjadi alternatif terhadap bias pro-Israel di media-media besar internasional, yang melewatkan fakta-fakta tentang pemusnahan etnis (baik Arab Muslim dan Kristiani, terutama kaum Khatolik) yang telah dan sedang terjadi di Palestina. Sumber-sumber fakta dalam tulisan ini sebagian besar ada dalam riset komprehensif tersebut.
Sekedar pembuka, saat ini (Desember 2008) Israel telah memblokade Gaza selama sebulan sehingga bantuan makanan, listrik, gas, minyak terhenti total. 1,5 juta warga Gaza sekarang kelaparan, sedangkan media-media memilih diam, termasuk presiden Obama. Wartawan internasional dilarang meliput oleh militer Israel, bantuan kemanusiaan PBB, Mesir, Lybia, Iran juga dihadang di perbatasan. Bahkan utusan khusus Paus Benedictus, dua minggu lalu tidak diperbolehkan masuk Gaza untuk melaksanakan Misa hari Minggu. Sementara berita terakhir, perayaan Natal di Gaza tahun ini diwarnai dengan bencana kemanusiaan tentang warga Gaza yang memakan rumput liar untuk menyambung hidupnya. PBB, Amnesty International, Human Rights Watch, dan B’tselem (organisasi HAM Israel) adalah organisasi2 yang sekarang berteriak kepada dunia tentang bencana ini, namun media tentu saja tidak mengakomodasinya. Berita selengkapnya ada di http://www.altermedianet.blogspot.com .
Sejarah kebijakan Amerika di Timur Tengah, terutama yang menyangkut Israel, dimulai saat awal Perang Dingin. Bahkan saat perang kemerdekaan Israel tahun 1948, Amerika belum bermain didalamnya. Baru setelah Perang Enam Hari 1967 antara Israel dan Arab, Amerika mengintervensi kawasan itu sampai sekarang. Saat itu alasanya cukup taktis, yaitu menangkal pengaruh Soviet di Syria dan Mesir, dua negara yang pro-Soviet. Amerika mulai membantu persenjataan ke Israel sehingga Mesir, Syria dan Arab kalah perang secara memalukan dalam sejarah mereka.
Saat ini, Israel adalah satu-satunya negara yang menerima donor paling besar dari Amerika. Bahkan angkanya luar biasa. Israel menerima bantuan langsung luar negeri Amerika sebesar 3 miliar dolar per tahun, yaitu seperlima dari total pengeluaran luar negeri Amerika tiap tahun. Israel adalah negara satu-satunya yang menerima bantuan militer Amerika, namun tidak harus melaporkan untuk apa bantuan tersebut digunakan. Negara lain yang menerima bantuan militer harus mempergunakan uangnya untuk belanja militer di Amerika, namun Israel tidak. Itulah mengapa Israel terus membangun pemukiman illegal di Palestina (Tepi Barat), walaupun Washington tidak menyetujuinya. Israel juga menerima bantuan helicopter dan pesawat tempur Amerika dan membangun system senjata sendiri, yaitu program pesawat temput Lavi. Israel dibebaskan untuk tidak bertanggung jawab atas penggunaan bantuan tersebut. Itulah mengapa Israel membangun senjata nuklirnya sendiri, sedangkan Amerika menutup mata terhadapnya. Saat ini, Israel adalah satu-satunya negara nuklir, dan satu satunya yang memiliki senjata nuklir di Timur Tengah, yang tidak menjadi anggota IAEA (Badan Pengawas Nuklir Internasional). Ia adalah negara satu-satunya yang program nuklirnya tidak diawasi oleh PBB.

Namun, sekarang alasan Amerika untuk selalu pro-Israel tidak mungkin berlandaskan pada ancaman Soviet lagi. Yang mengherankan, walaupun Soviet sudah lenyap, dan kebanyakan negara Arab adalah klien Amerika, secara unik Amerika tetap menyuport Israel secara besar-besaran, walaupun menimbulkan peperangan antar negara klien Amerika sendiri. Tidak dipungkiri, terjadi dilemma di Washington. Di satu sisi, Arab adalah klien penting Amerika, Israel juga.

Anehnya segala kelakuan Israel selalu diamini oleh Amerika. Namun mereka bukan tanpa perselisihan, walaupun berakhir dengan Amerika yang selalu mengalah. Amerika melarang Israel untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap pimpinan Palestina, termasuk pembunuhan pemimpin Hamas, Syeh Yassin tahun 2003. Sebagai contoh lagi, Amerika menolak pembangunan pemukiman illegal di wilayah Palestina, namun Israel tetap saja memperluas wilayahnya sampai sekarang. Israel juga menjual teknologi militer yang sangat sensitive ke China. Israel juga menjual teknologi militer rahasia Amerika ke Russia (yang terkenal kuno dalam teknologi militer) agar Russia memberikan exit visa bagi warga Yahudi Russia untuk pindah ke Israel. Padahal Russia dan China adalah rival terbesar Amerika saat ini. Bahkan, yang sempat menghebohkan publik Amerika, Israel juga memata-matai dan mencuri teknologi dan sistem militer yang sangat sensitive dari Amerika. Yang sangat menghebohkan beberapa waktu lalu adalah kasus Larry Franklin, pejabat Pentagon yang tertangkap FBI karena memberikan informasi-informasi rahasia militer Amerika ke Israel. Laporan FBI seperti dilansir oleh Jewish Bulletin 16 Januari 1998, memaparkan kalau Israel adalah pemain penting dalam memata-matai teknologi militer Amerika. Kasus-kasus tersebut sempat mengemuka di Amerika dan menjadi kontroversi dikalangan pejabat Washington. Namun isu tersebut semua lenyap.

Singkatnya, hubungan Israel-Amerika adalah hubungan yang sangat aneh dan kadang-kadang, seperti dalam kasus diatas, tidak masuk akal. Tetapi pemerintah Amerika dan Israel memunculkan dalih-dalih baru untuk membenarkan hubungan spesial mereka. Namun, sebagaimana diulas dalam riset ini, alasan-alasan tersebut cenderung tidak masuk akal dan terlalu dibesar-besarkan. Berikut adalah ulasan tentang alasan-alasan tersebut yang digunakan untuk pembenaran moral atas hubungan Amerika dan Israel, seperti dimuat dalam riset tadi.

1. Israel adalah negara lemah yang dikelilingi oleh musuh-musuh
Israel sering digambarkan sebagai David Yahudi yang dikelilingi oleh Goliath Arab. Namun, penggambaran sebaliknya lah yang mendekati kebenaran. Militer Zionist memiliki tentara yang sangat kuat pada perang 1947-49 sehingga mereka menang mudah atas Mesir tahun 1956, dan atas Mesir, Syria dan Yordania dalam perang 1967, bahkan sebelum Amerika memberikan bantuan militernya. Saat ini Israel memiliki kekuatan militer konvensional (tanpa nuklir) paling kuat di regional Timur Tengah sehingga memaksa negara Arab menandatangani perjanjian damai. Syria tidak dibantu oleh Soviet lagi. Sedangkan Irak telah hancur lebur oleh Perang Teluk dan Perang 2003. Sedangkan Iran berada jauh dari Israel. Belum lagi, Israel memiliki senjata nuklir yang jumlahnya tidak diketahui (diperkirakan berjumlah sekitar 300 buah, melebihi yang dipunyai India dan Pakistan, masing-masing sekitar 200 dan 50). Jadi secara realistis Israel bukanlah negara lemah sehingga membenarkan bantuan militer Amerika ke negara tersebut. Ia bahkan negara yang paling kuat militernya di kawasan Timur Tengah.

2. Israel adalah negara demokrasi, bentuk negara yang secara moral sejalan dengan Amerika
Israel digambarkan sebagai negara demokrasi yang dikelilingi negara-negara Arab yang dipenuhi para diktator. Alasan ini terdengar sangat masuk akal (dan dalam tataran tertentu memang benar), namun tidak bisa membenarkan level dari bantuan Amerika terhadapnya. Banyak negara demokrasi lain, namun Israel menerima bantuan (ekonomi dan militer) yang skalanya sangat fantastis. Malahan, Amerika sering menggulingkan dan menghukum negara-negara yang memiliki pemerintahan demokratis (yang didukung oleh rakyat), seperti di Chile (penggulingan Presiden Allende), Haiti, Nikaragua, Iran, Palestina (ketika Hamas menang telak dalam pemilu 2006), dan lain-lain. Jadi alasan karena Israel adalah negara demokratis juga landasanya sangat lemah.
Tambahan lagi, konsep demokrasi di Israel juga sangat aneh dibandingkan dengan nilai-nilai demokrasi yang dianut Amerika. Amerika adalah negara demokrasi liberal yang konstitusinya menjamin kebebasan individu dari semua latar belakang, baik ras, agama, dan etnis. Dibandingkan dengan Israel, Israel adalah negara yang secara eksplisit dibangun sebagai negara Yahudi (seperti Pakistan sebagai negara Islam) yang kewarganegaraanya didasarkan pada prinsip pertalian darah. Seperlima warga Israel adalah orang Arab Muslim dan Kristen (1,3 juta dari sekitar 6 juta jiwa), namun mereka diperlakukan sebagai warga kelas dua. Bahkan hukum Israel melarang seorang Arab yang mengawini orang Israel, untuk menjadi warga negara Israel. B’tselem, Komnas HAM-nya Israel, bahkan mengatakan kalau larangan ini adalah rasisme sistematis dalam hukum. Israel juga menolak pendirian negara independen Palestina, namun mengontrol secara militer 3,8 juta penduduk Palestina.

3. Bangsa Yahudi telah sengsara di masa lalu sehingga pantas mendapatkan perlakuan istimewa.
Tidak dipungkiri kalau bangsa Yahudi adalah bangsa yang sangat menderita di masa lampau oleh kultur Anti-Semitisme dan periode Holocaust. Dan tidak dipungkiri lagi bahwa negara Israel berhak untuk berdiri. Namun, pendirian Israel menimbulkan efek kejahatan baru terhadap pihak ketiga yang tidak bersalah atas penderitaan bangsa Yahudi, yaitu bangsa Palestina. Melihat rekornya, kultur Anti-Semitis terbangun di Barat. Sedang pembantaian besar-besaran saat Holocaust juga terjadi di Barat (Jerman, Eropa Timur dan Russia). Bangsa Yahudi bahkan dilindungi dalam pemerintahan Turki Osmani di Palestina selama 1300 tahun. Dan ini sangat aneh, Barat tidak mau tanggung jawab, sedangkan Israel menghukum warga Palestina.
Akhir abad 19, bangsa Yahudi hanya berjumlah sekitar 15 ribu jiwa dari 95 persen bangsa Palestina. Saat pendirian Israel (1948), bangsa Yahudi berjumlah 35 persen dari populasi Palestina dan hanya menguasai 7 persen wilayahnya. Namun kepemimpinan politik Zionisme tidak ingin membagi Palestina. David Ben Gurion, bapak Israel, mengatakan setelah Israel membentuk militer yang kuat, wilayah Israel akan diperluas ke seluruh wilayah Palestina. Dan untuk mencapai tujuan itu, warga Palestina harus diusir keluar. Ia mengatakan “it is impossible to imagine general evacuation [of the Arab population] without compulsion, or brutal compulsion.” Tidaklah mungkin mengusir bangsa Arab keluar dari Palestina tanpa paksaan atau paksaan yang brutal. Benny Morris, sejarawan Israel, juga membenarkan kalau politik transfer (pengusiran) menjadi bagian penting dari politik Zionist.
Oleh karena itu, saat perang 1948, Israel berkesempatan mengusir 700ribu warga Palestina. Sedangkan Israel sekarang menolak hak-hak pengungsi Palestina untuk kembali. Israel berdalih bahwa warga Arab Palestina memang disuruh keluar oleh pemimpinnya, bukan oleh Israel. Namun klaim itu telah lama dibantah oleh sejarawan-sejarawan internasional dan Israel sendiri, seperti Morris.
Politik ini diakui sendiri oleh petinggi-petinggi Israel sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Ben Gurion sendiri berkata kepada Nahum Goldmann, presiden dari World Jewish Congress,
“If I were an Arab leader I would never make terms with Israel. That is natural: w e have taken their country. . . . We come from Israel, but two thousand years ago, and what is that to them? There has been anti‐Semitism, the Nazis, Hitler, Ausch- witz, but was that their fault? They only see one thing: we have come here and st olen their country. Why should they accept that?”

“Jika saya pemimpin Arab, saya tidak akan pernah berdamai dengan Israel. Ini sangat natural: kita telah mengambil wilayah mereka…Kita memang berasal dari Israel, tapi dua ribu tahun yang lalu, dan apa pentingnya bagi mereka? Memang ada anti-Semitisme, Nazi, [kamp konsentrasi] Auschwitz, tapi apakah ini salah mereka? Mereka hanya tahu satu hal: kita telah datang dan mencuri tanah mereka. Mengapa mereka harus menerimanya?”

Bahkan Perdana menteri Israel, Golda Meir, tidak mengakui kalau ada sesuatu yang bernama bangsa Palestina. Penderitaan bangsa Yahudi ada ditangan bangsa Eropa. Asusmsi bahwa bangsa Yahudi telah sengsara sehingga berhak tinggal dan mengusir bangsa Palestina adalah benar-benar asumsi yang ahistoris.

4. Tingkah laku Israel secara moral lebih mulia daripada musuh-musuh Arabnya
Argumen moral yang terakhir menggambarkan Israel sebagai negara cinta damai dan selalu bertahan walau diprovokasi. Arab, sebaliknya, digambarkan sebagai “great wickedness” atau kekejian yang luar biasa, yang menjadi dasar bagi pemimpin Israel dan intelektual apologis Amerika, Alan Dershowitz untuk tidak bertanya. Kebenaran narasi ini dipaparkan oleh Meaershemier dan Walt dalam riset ini sebagai mitos. Sebaliknya, kelakuan Israel secara moral tidak jauh beda dari musuh-musuhnya.
Kalangan intelektual (di universitas2) Israel, membuktikan bahwa, misalnya saat perang 1948-49, Israel secara eksplisit melakukan “ethnic cleansing” (pemusnahan etnis), termasuk didalamnya, eksekusi, pembunuhan-pembunuhan massal (massacres), dan pemerkosaan. Seperti diutarakan sejarawan Israel, Benny Morris, dalam bukunya, The Birth of the Palestinian Refugee Problem Revisited, laporan-laporan resmi yang memuat kasus pemerkosaan-pemerkosaan tersebut, saat ini sebagian besar masih dirahasiakan. Ia menyebut kasus pemerkosaan yang telah terungkap saat ini baru sebagai puncaknya dari sebuah gunung es di laut. IDF (Israeli Defense Forces) juga membunuh ratusan tawanan perang Mesir saat perang 1956 dan 67. Saat perang 1967, Israel mengusir antara 100 ribu sampai 260ribu penduduk Palestina dan 80ribu penduduk Syria dari Dataran Tinggi Golan.
Yang menghebohkan sampai saat ini, adalah pembunuhan massal 700 warga Palestina di kamp pengungsian Sabra dan Shatilla sebelum Israel menginvasi Lebanon tahun 1982 (yang menewaskan 20ribu warga Lebanon). Komisi investigasi Israel saat itu menyimpulkan bahwa Menteri Pertahanan Ariel Sharon bertanggung jawab dalam kekejaman itu (atrocity). Saat Intifada I (1987-1991) IDF membagikan tongkat pemukul pada pasukannya untuk memukul dan menghancurkan tulang warga Palestina yang protes dan agar mereka tidak melempar batu terhadap militer Israel.
Save the Children dari Swedia melaporkan bahwa 23ribu sampai 29ribu warga Palestina memerlukan pengobatan medis karena aksi penghancuran tulang militer Israel. Sepertiga dari jumlah tersebut mengalami patah atau kerusakan tulang. Dan seperti dilaporkan Save the Children juga, sepertiga dari yang angka tadi adalah anak-anak berumur 10 tahun atau kurang (saya memiliki video mengerikan tentang politik penghancuran tulang ini, yaitu ada di film John Pilger, “Palestine Still Issue”). Saat Intifada II (2000-2005) lebih mengerikan lagi, seperti dilaporkan oleh Ha’aretz, yang menyatakan bahwa IDF bertindak sebagai mesin pembunuh. Di hari pertama Intifada II saja, Israel menembakkan satu juta peluru.
Aktivis perdamaian dari luar Israel juga tidak luput dari tindakan IDF. Yang menghebohkan adalah saat aktivis perempuan dari Amerika berumur 23 tahun tewas digilas bulldozer Israel ketika menghalangi penghancuran rumah warga Palestina. Kasus ini sempat mencuat dan memicu kemarahan di Amerika, sampai sekarang, namun tenggelam oleh media. Fakta-fakta lain sangat banyak dan tidak mungkin semua termuat dalam tulisan ini. Namun laporang lengkap telah dirangkum oleh organisasi-organisasi HAM internaisonal (HRW, Amnesty International, B’tselem, NGOs, dll) yang sangat mudah diakses lewat internet.
Tindakan-tindakan tersebut bukan saja membatalkan klaim Israel bahwa mereka secara moral lebih superior, namun juga melipat gandakan kebalikannya. Dan tindakan-tindakan tersebut memicu aksi terorisme di Palestina dan penjuru dunia. Namun bukan tanpa antisipasi, Israel bahkan sepakat kalau aksi mereka justru akan mempersubur terorisme. Bahkan Perdana Menteri Ehud Barak saat itu mengatakan kalau dia terlahir sebagai seorang Palestina, dia tentu akan menjadi teroris. Bahkan terorisme sendiri adalah senjata ampuh bagi kaum ekstrimis Yahudi (seperti Irgun) dulu ketika mengusir Inggris dari Palestina. Sayangnya kelompok-kelompok teroris Yahudi tahun 1940an itu sekanrang menguasai pemerintahan Israel, salah satunya nanti menjadi PM, yaitu Yitzhak Shamir.

Nah, bagian pertama tulisan ini telah memaparkan gambaran tentang persahabatan Amerika dan Israel yang berlandaskan pada klaim-klaim yang tidak masuk akal diatas. Tentu ada alasan yang lebih hebat dan mengerikan sehingga mereka terpaksa memunculkan alasan-alasan yang menurut mereka sendiripun tidak rasional. Namun ini akan menjadi pembahasan selanjutnya.
Bagian kedua tulisan nanti akan memaparkan Israel Lobi itu sendiri. Apa dan siapa Israel lobi itu sendiri. Sekali lagi, riset ini sangat penting bagi kita untuk memperluas perspektif kita tentang politik internasional, terutama isu penting Israel-Palestina dan kebijakan Amerika.
Tidak dipungkiri, isu ini menjadi isu sensitive karena memang dibuat oleh media menjadi seperti itu. Media mainstream telah membuat sudut pandang masyarakat, terutama Barat, kalau isu ini sangat pelik dan tidak ada solusinya sampai kiamat. Sayang sekali sudut pandang ini sedikit banyak juga dianut oleh bangsa Timur. Padahal, seperti diulas oleh banyak sumber terpercaya, seperti PBB dll, dan media progressif, pandangan ini tidak lain adalah manipulasi Israel dan Amerika sehingga mereka mampu melanggengkan pendudukan atas Palestina, dan negara lain. Namun sejarah akan menjadi jawabanya.
Isu ini tidak sesederhana saat Amerika memusnahkan bangsa Indian. Konflik Israel-Palestina ini lebih kompleks dan hybrid, yang apabila tidak kunjung terselesaikan, ditakutkan oleh banyak kalangan, akan memicu “ultimate doom” alias peperangan hebat (kiamat) menggunakan senjata nuklir. Menjadi tanggung jawab kita semua untuk memahami dan berpikir lebih luas tentang isu ini, sehingga pemahaman yang adil akan menyebar, seperti saat ini sudah terjadi terutama di Eropa dan kalangan pemuda Amerika, yang telah menjadi korban propaganda selama puluhan tahun. Tentu kesimpulan dan sudut pandang tetap akan berada di pihak masing-masing individu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: