‘Laisa Minna’ untuk Abu Bakar Baasyir

Jumat, 18 Oktober 2002
Oleh Abu Hikam *

Ada seorang aktifis gerakan Islam yang selama ini sangat dikenal popular datang ke tempat saya. “Hati-hati lho, kamu dekat-dekat dengan Mujahidin”, katanya bernada mengingatkan. Mujahidin yang dimaksud tidak lain adalah kependekan dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang dipimpin oleh Ustadz Abu Bakar Baasyir.

Memang agak janggal bagi saya, kenapa saya dilarang harus berjauhan dengan kawan-kawan aktifis Islam lain, yang menurut saya telah ikut menyemarakkan khasanah gerakan Islam di Indonesia itu? Banyak hal yang belum bisa saya ungkap. Namun, malam itu saya terus berdabat dengan diri sendiri. Kecewa, sedih, menangis, dan mungkin hancur perasaan. Bukan apa-apa, saya bersedih, kenapa orang yang saya kenal sebagai tokoh gerakan Islam yang cukup dikenal masyakarat justru memiliki perasaan yang justru saling mencurigai diantara sesama aktifis lain tanpa ada alasan cukup subtansial.

Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) adalah salah satu diantara kelompok gerakan Islam di Indonesia yang sejak dideklarasikan beberapa tahun lalu di Yogyakarta sangat istoqomah mempropagandakan penegakan syariah Islam di Indonesia. Gerakan ini, walau anggotanya kecil, terus melakukan kampanye baik melalui ceramah, diskusi, pembuatan VCD dan penerbitan buku-buku ilmiah. Tak jauh beda dengan gerakan yang dilakukan kelompok Islam lain dalam parlemen. Partai Keadilan (PK), partai Islam yang lahir dari basis gerakan anak-anak Ihwanul Muslimin (IM). Mereka secara istiqomah beralih dari gerakan bawah tanah (under ground) dan beralih secara terang-terangan bertarung di parlemen melalui jalan demokrasi sejak tahun 1999. Kader-kadernya yang militan secara progresif mampu melakukan tekanan politik yang sehat melalui jalan demontrasi dan penggalangan kekuatan massa untuk menekan pemerintah. Bahkan, belakangan ini juga, kelompok serupa, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengikuti jalan saudaranya di PK tersebut. Walau selalu menyebut diri sebagai partai internasional dan tidak ingin ikut masuk ke parlemen, toh faktanya tidak bisa dibantahkan bila kampanyenya menegakkan syariah Islam di Indonesia baik melalui diskusi, publikasi, bahkan demontrasi (yang terakhir ini perubahan yang cukup fantastic. Sebab berkali-kali dalam laporan utamanya di bulletin Al Islam dan Al Wa’I selalu menyebut demontrasi adalah hal yang haram dan tidak ada dalam al-Qur-an) mengkampanyekan penegakan syariah Islam terus dilakukan.

MMI, PK, Bulan Bintang, HTI, Ahli Sunnah Wal Jamaah, Kammi, HMI MPO, dan beberapa elemen gerakan Islam lain adalah kelompok-kelompok militan Islam yang terus secara istiqomah mengembangkan gagasan penegakan syariah Islam di Indonesia baik secara formal maupun tidak. Munculnya Laskar Jihad di Ambon, dan lahirnya Front Pembela Islam (FPI) di Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia, tidak lain adalah sebagai bagian dari adanya penegakan syariah Islam di Indonesia yang banyak melahirkan masalah. “Kalau aparat keamanan bisa menjamin memberantas kemaksiatan, dan kejahatan kenapa harus ada FPI”, kata Habib Rizieq dalam wawancara di sebuah TV.

Meski kecil, kekuatan-kekuatan ini, bukan hal kecil bagil kepentingan Barat (baca Amerika Serikat) di Indonesia. AS, terutama, adalah salah satu negara Barat pertama yang tentu saja merasakan bagaimana bila kekuatan kecil ini dibiarkan terus tumbuh dan hidup menghirup udara segar. Bayangkanlah, apa dampaknya bagi Amerika bila 200 juta penduduk muslim ini tiba-tiba terus-menerus membencinya. Bayangkanlah, bila kelompok kecil ini yang sering terus-menerus mengkampanyekan boikot terhadap barang-barang buatan AS dan Yahudi. Mari bayangkanlah bersama. Ini bukan soal kecil. Tidak sedikit perusahaa-perusahaan AS dan Yahudi yang meraup keuntungan di negera yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia ini. Dari perusahaan mobil, komputer, komunikasi, sepatu, makanan, produk pakaian, sampai hiburan semuanya ada di sini. Ibarat pasar, kata orang asing “What you see what you get”. Apa yang ada lihat di Indonesia, itulah Amerika. Anda hidup terpencil di Nunukan atau anda hidup di Jakarta hakekatnya sama saja. Bisa menikmati ‘aroma’ Amerika.

Karena itu, meski AS tidaklah begitu mengerti benar apa itu hakekat syariah Islam, namun, bila kalimat itu sudah tidak lagi menjadi slogan dan benar-benar menjadi bagian penting dan kehidupan yang dipilih masyarakat Indonesia, itulah ancaman. “Tak ada satupun idiologi di dunia ini yang begitu menakutkan dan menjadi ancaman negara-negara Barat, kecuali Islam”, kutip John L. Esposito. Sebab, hanya Islamlah ideology yang selama ini bisa mematahkan untuk tidak tunduk dan mengikuti jejak dan tradisi pola hidup Barat. Semakin orang mengikuti sunnah nabi, tradisi Islam, maka, tradisi Barat terus akan semakin menjauh. Itu rumus umum. Bagaimana mungkin umat Islam akan mengikuti Barat yang membiarkan budaya buka aurat dibiarkan. Sedangkan Islam justru mengharapkan ditutup rapat?. Bagaimana mungkin orang Islam mengikuti budaya Barat yang membolehkan zina bebas, minum al kohol, yang justru itu diharamkan Islam? itulah fakta permusuhan ideology masa depan.

Karena itu, kita harus prihatin, seprihatin-prihatinnya, manakala ada sebagai ihwan kita masih tidak ‘tergugah’ tatkala ustadz Abu Bakar Baasyir dibiarkan menghadi fitnah besar para cukong Amerika. Prihatin seharusnya kita, bila diantara kalangan kita, baik dari kalangan Partai Keadilan, Laskar Jihad dan Forum Ahli Sunnah Wal Jamaah, kalangan Salafy, kalangan Hizbut Tahrir Indonesia, atau siapa saja komponen ummat Islam tidak terketuk hatinya hanya dengan kalimat sederhana “Laisa Minna” (mereka bukan golonganku). Ini adalah pikiran primitif dan penyakit gerakan Islam Indonesia hari ini yang harus terus kita perangi. Amerika yang hari ini meminjam tangannya pada militer Indonesia bukan negara yang bodoh. Cepat atau lambat, giliran kita akan mendapatkannya. Dengan jalan masuk Abu Bakar Baasyir, sesungguhnya militer Indonesia dan Amerika Serikat sedang menakar kekuatan dalam sebuah konklusi besar. Menjadikan Indonesia menjadi Afghanistan kedua atau sedang menunggu reaksi lain. Kalau kita bisa berdemo menentang pencalonan Gubernur Sutiyoso kenapa diam saat Islam ditekan AS? Nah, sekarang terserah sikap anda.

* Penulis adalah aktifis Islam Surabaya
Share this article

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: