Mengenang 90 Tahun Prof. HM Rasjidi (2)

Senin, 26 Desember 2005
Prof.HM. Rasjidi pernah menyampaikan peringatan tentang studi Islam di IAIN. Menurutnya, ada hal-hal terselubung berbahaya yang bisa memudarkan keimanan. Baca CAP Adian Husaini ke 127

Senin, 26 Desember 2005

Oleh: Adian Husaini

Pada hari Kamis (22/12/2005), saya mendapat kesempatan menjadi pembicara dalam acara International Workshop for Islamic Higher Learning in Indonesia, di Universitas Islam Negeri Jakarta. Acara ini diselenggarakan oleh Pasca Sarjana UIN Jakarta, PPIM, dan Ditperta Depag. Pesertanya dosen-dosen IAIN/UIN/STAIN (selanjutnya disebut IAIN saja), dari berbagai propinsi di Indonesia. Saya hadir mewakili Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), yang diminta memberikan masukan-masukan terhadap IAIN, sebagai pihak di luar IAIN.

Alhamdulillah, pada kesempatan itu, saya sempat mempresentasikan satu makalah dengan judul “Studi Islam di IAIN/UIN: Quo Vadis?” (Studi Islam di IAIN/UIN:Mau kemana?). Pada kesempatan inilah, saya sempat menyampaikan kembali peringatan dan kritik Prof. HM Rasjidi terhadap IAIN dan khususnya terhadap bahaya yang ditimbulkan dengan penggunaan buku Harun Nasution “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” sebagai buku rujukan dalam studi Islam di IAIN. Dalam suratnya kepada pejabat Depag, ketika itu, Rasjidi sampai menulis: “Uraian Dr. Harun Nasution yang terselubung uraian ilmiyah sesungguhnya mengandung bahaya bagi generasi muda Islam yang ingin dipudarkan keimanannya.”

Jadi, Rasjidi, yang ketika itu juga merupakan seorang tokoh DDII, sudah mengingatkan tentang bahaya pudarnya iman generasi muda Islam yang terpengaruh buku Harun Nasution. Tentu saja, masalah iman, bukanlah masalah yang kelihatan dan kasat mata. Bisa saja, seorang kelihatannya baik-baik saja, tapi cara berpikir dan aqidahnya rusak. Ibarat dokter ahli, Rasjidi memahami seluk-beluk cara-cara orientalis dalam memudarkan keimanan seorang Muslim. Ilmu seperti ini memang tidak banyak dimiliki sarjana Muslim, kecuali yang benar-benar menggeluti pemikiran orientalis dengan mendalam, seperti HM Rasjidi, Prof. Naquib al-Attas, dan sebagainya.

Pada kesempatan workshop itu, saya sempat memaparkan data-data kerusakan dan perusakan konsep-konsep dasar Islam dan keilmuan Islam (Ulumuddin), yang dilakukan oleh orang-orang dari lingkungan IAIN, baik dosen, mahasiswa, atau alumni. Tanpa segan-segan, saya paparkan data-data berupa tulisan-tulisan yang mengelirukan tentang Islam. Saya kritik pendapat sejumlah orang IAIN yang banyak menjadi rujukan di IAIN seperti Azyumardi Azra, Amin Abdullah, Nurcholish Madjid, dan lain-lain. Pada akhir sesi yang singkat tersebut, saya sempat mengimbau agar semua akademisi Muslim yang berada di lingkungan IAIN benar-benar menghidupkan tradisi ilmu yang berbasiskan kerangka piker Islam, dan tidak mudah menyerap konsep atau istilah-istilah asing yang tidak sesuai dengan konsep Islam. Salah satu yang saya kritik adalah istilah “islam inklusif”. Kekeliruan dalam menggunakan istilah dapat berakibat fatal dalam perumusan konsep-konsep keilmuan yang benar.

Menurut Term of Reference (TOR) yang disusun panitia, diantara latar belakang diselenggarakannya workshop ini adalah, bahwa “UIN, IAIN, STAIN have to be a center of learning that provides inclusive understanding of Islam, which are necessary for facing global situation.” Dalam TOR tersebut tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan istilah “inclusive understanding of Islam” (pemahaman tentang Islam yang inklusif).

Istilah ini jelas lahir dari latar belakang perubahan teologi dalam Kristen dari eksklusif menjadi inklusif. Istilah ini tidak dikenal dalam tradisi keilmuan Islam. Istilah ‘teologi inklusif’ sekarang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi al-lahut al-munfatih. Istilah ‘teologi inklusif’ menjadi sangat popular setelah berakhirnya Konsili Vatikan II (1962-1965), dimana Katolik Roma melakukan perubahan konsep teologinya, dari eksklusif (dengan jargon terkenalnya ‘extra ecclesiam nulla salus’) menjadi ‘teologi inklusif’. Lalu, setelah itu, istilah ini menyebar, termasuk masuk ke dalam kamus studi agama Islam.

Kalangan akademisi IAIN dengan bangga menyebarkan istilah ini di kalangan Muslim Indonesia. Nurcholish Madjid, misalnya, menyebut teologinya sebagai “Teologi Inklusif”. (Lihat, Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur, Jakarta: Kompas, 2001). Alwi Shihab juga menulis buku “Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, (Bandung: Mizan, 1997). Lalu, yang pernah kita bahas juga dalam catatan ini, adalah Disertasi Dr. Fatimah Husein dari UIN Yogyakarta yang berjudul “Muslim-Christian Relations in The New Order Indonesia:The Exclusivist and Inclusivist Muslims’ Perspectives”.

Dari ketiga buku yang terbit itu, pengertian istilah “Islam inklusif” sangat rancu dengan “Islam-Pluralis”. Disertasi Fatimah Husein memasukkan sejumlah pemikir dan aktivis liberal-pluralis seperti Budhy Munawar Rahman dan Ulil Abshar Abdalla, sebagai kelompok Muslim Inklusif. Padahal, orang-orang ini jelas menyebarkan paham Pluralisme Agama.

Begitu juga, yang dikatakan dengan teologi inklusif Cak Nur, tak lain adalah teologi pluralis. Tak beda dengan Islam Inklusif versi Alwi Shihab, dalam bukunya itu, juga bermakna paham Pluralisme Agama. Jika para akademisi yang dijadikan rujukan para mahasiswa saja sudah rancu dalam menggunakan istilah, maka bisa dipahami, jika kerancuan itu akan menular ke kalangan mahasiswa.

Belum lagi dari sisi penggunaan istilah itu, yang tidak tepat untuk Islam. Istilah “teologi inklusif” memang khas lahir dari perut peradaban Kristen-Barat yang mengalami proses perkembangan teologis. Akibat tekanan-tekanan psikologis atas beban sejarah – berupa kekejaman Gereja dan konflik-konflik agama – maka Gereja terpaksa merevisi konsep teologisnya, agar sesuai dengan tuntutan modernitas.

Bagi banyak ilmuwan Kristen, perubahan dari eksklusif menjadi inklusif masih dianggap belum cukup. Setelah Konsili Vatikan II, gelombang perkembangan ‘teologi pluralis’ semakin kencang dalam tubuh Gereja, sehingga akhirnya Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan dekrit ‘Dominus Jesus’ (2001) yang menegaskan penolakan Gereja terhadap Pluralisme Agama (Religious Pluralism).

Perubahan atau evolusi teologis dalam Kristen semacam ini sangat memungkinkan, sebab, Kristen memang satu agama sejarah (historical religion) yang konsep-konsep teologis dan ritualnya dibentuk melalui proses sejarah. (Menurut Huston Smith, “Christianity is basically a historical religion… it is founded not in abstract principles, but in concrete events, actual historical happenings. (Huston Smith, The World’s Religions, (New York: Harper CollinsPubliser, 1991). Beban sejarah dan problem teologis Kristen telah melahirkan ‘Kristen-kristen’ (Kristen yang banyak), sehingga satu sama lain, saat ini tidak dapat melakukan ‘truth claim’. Tidak ada satu Kristen yang punya otoritas untuk menyatakan benar sendiri. Kebenaran menjadi relatif, menurut masing-masing orang. Kondisi serupa terjadi pada Budha, Hindu, dan ‘cultural and historical religion’ lainnya.

Secara terbuka, saya menyampaikan keprihatinan, kepada bapak-bapak dan Ibu-ibu dosen yang datang dari berbagai propinsi itu, bahwa saat ini juga begitu banyak ilmuwan dari kalangan Muslim sendiri, yang kemudian ikut-ikutan mengembangkan konsep ‘Islams’ (Islam-islam), atau Islam yang banyak. Bahwa, menurut mereka, Islam itu tidak satu. Islam itu banyak, sebagaimana Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, yang juga sudah menjadi banyak.

Azyumardi Azra, misalnya, menyatakan: “Memang secara teks Islam adalah satu tetapi ketika akal sudah mulai mencoba memahami itu, belum lagi mengaktualisasikan, maka kemudian pluralitas itu adalah suatu kenyataan dan tidak bisa dielakkan…ketika kita mencoba memahami Islam, maka memahami al-Quran akan ada perbedaan pemahaman yang tidak bisa dielakkan. (Lihat buku “Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam”, (Jakarta: Fatayat NU&Ford Foundation, 2005), hal. 150-151). Adeng Muchtar Ghazali, dosen IAIN Bandung, juga menulis: “Agama adalah seperangkat doktrin, kepercayaan, atau sekumpulan norma dan ajaran Tuhan yang bersifat universal dan mutlak kebenarannya. Adapun keberagamaan, adalah penyikapan atau pemahaman para penganut agama terhadap doktrin, kepercayaan, atau ajaran-ajaran Tuhan itu, yang tentu saja menjadi bersifat relatif, dan sudah pasti kebenarannya menjadi bernilai relatif. (Adeng M. Ghazali, Ilmu Studi Agama, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hal. 20).

Paham semacam itu berawal dari paham relativisme akal, bahwa akal manusia adalah relatif, sehingga semua produknya juga relatif. Jika konsep ini dikembangkan, maka akan memunculkan Islam yang relatif, ragu-ragu, dan hilang keyakinan akan kebenaran agama sendiri. Tentu saja, pemahaman ini tidak benar, sebab ada pemahaman manusia yang pasti, dan tidak menimbulkan keraguan. Dalam epistemologi Islam, itu dikenal sebagai konsep mutawatir. Keyakinan tanpa keraguan itulah yang dituntut dalam konsep iman. Sebagai agama wahyu, Islam telah sempurna konsep-konsep dasar teologis dan ibadahnya sejak awal. Islam tidak mengalami evolusi.

Umat Islam sepanjang sejarah tidak pernah berbeda pendapat tentang hal-hal pokok dalam Islam, seperti konsep bahwa Allah itu satu, Muhammad adalah utusan Allah dan manusia biasa, bahwa Nabi Isa adalah manusia dan utusan Allah, Shalat lima waktu itu wajib – bukan haram –, babi dan khamr adalah haram, ibadah haji dilakukan di Tanah Suci dan bukan di Ancol, dan sebagainya. Semua itu menunjukkan, ada Islam yang satu. Ada yang qath’iy, dan tidak semuanya relatif, atau zhanniy. Kritik yang komprehensif terhadap konsep relativisme akal dan kebenaran bisa disimak dalam Majalah ISLAMIA edisi 5/2005.

Kritik-kritik itu saya sampaikan kepada para dosen IAIN, dengan harapan mereka memahami masalah yang sebenarnya. Kajian kritis dan mendalam tentang sejarah, konsep, dan fenomena kontemporer terhadap Kekristenan dan agama-agama lain, sangat diperlukan, agar tidak mudah melakukan generalisasi dalam memandang agama. Banyak ilmuwan agama di Barat yang kemudian mengembangkan metodologi studi agama, dengan menyamaratakan semua agama, dan menempatkan Islam sebagai objek kajian yang posisi dan kondisinya seolah-olah sama dengan agama-agama lain. Buku-buku metodologi studi agama semacam ini sekarang menjamur dan berjubel di lingkungan perguruan tinggi Islam di Indonesia. Padahal, banyak teori-teori dan metodologi studi agama itu lahir dari latar belakang yang khas sejarah Kristen dan peradaban Barat, yang tidak begitu saja diaplikasikan untuk studi terhadap Islam, yang merupakan agama wahyu.

Jika ditelaah secara serius perbedaan konsep teologi, sejarah peradaban antara Islam dan Kristen, serta perbedaan antara Al-Quran dan Bible, maka sebenarnya, adopsi istilah “inclusive understanding of Islam” tidaklah tepat, bahkan bisa misleading. Istilah yang mengacu pada tradisi Kristen ini tidak tepat jika diterapkan untuk Islam. Istilah itu – yang kemudian dikembangkan oleh beberapa sarjana di Indonesia menjadi ‘Islam Inklusif’ atau ‘Teologi Inklusif’ – sebenarnya sangat khas Kristen dan sesuai tradisi Barat yang berpikir traumatik terhadap agama, dan tidak tepat diterapkan untuk Islam.

Sebab, Islam tidak mengalami problem teologis, historis, atau problem otentisitas teks wahyu, sebagaimana dalam Kristen.

Jadi, seyogyanya, para sarjana Muslim tidak latah untuk mengadopsi satu ‘istilah asing’, tanpa melakukan kajian mendalam terhadap latar belakang historis, dan kemudian diterapkan begitu saja untuk Islam. Dengan mengadopsi istilah ‘Islam Inklusif’ dan sejenisnya, maka secara tidak langsung sudah membuat stigmatisasi dan kategorisasi bahwa di sana ada Islam yang tidak inklusif (yaitu Islam eksklusif) yang seolah-olah harus dimusnahkan dari muka bumi. Kerancuan terminologis inilah awal dari kerancuan dalam pengembangan konsep-konsep Islam pada semua aspek kehidupan.

Keterbukaan pihak Pasca Sarjana UIN Jakarta untuk membuka diri terhadap kritik-kritik yang datang dari luar, patut kita hargai. Tidak sepatutnya, kritik-kritik ilmiah yang baik, seperti yang dilakukan oleh Prof. Rasjidi diabaikan begitu saja. Semoga ke depan senantiasa ada dialog ilmiah yang lebih serius untuk menggali konsepsi-konsepsi Islam yang bersumber pada khazanah keilmuan Islam sendiri. Wallahu a’lam. (Jakarta, 23 Desember 2005/hidayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan (CAP), Adian Husaini hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan http://www.hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: