Menuju Dakwah yang Mencerahkan

Selasa, 08 Oktober 2002

(Opini Kasus Mochammad AF. Filemon Di Gereja Burwood)
Oleh Ihsan Basir dan Reza Indragiri Amriel *

Ucapan “Bismillahirrahmanir rahimm” menyatu dengan ucapan “Dalam nama Tuhan Yesus” mengawali ceramah dua orang yang mengaku muslim.

Dalam ceramahnya, sang pendeta memperkenalkan diri sebagai mantan aktivis Islam militan Gerakan Komando Jihad dan berteman baik dengan seorang WNI yang saat ini ditahan oleh otoritas keamanan Filipina atas tuduhan terlibat aksi terorisme. Mereka mengaku dibesarkan dalam keluarga Nahdlatul Ulama di daerah Kampung Arab (Malang, Jawa Timur), si pendeta mendapatkan jalan kebenaran justru di dalam penjara. Peristiwa ini diilustrasikan si pendeta sebagai “pertemuan antara Paulus dengan Mochammad”. Jangan keliru, si pendeta bernama Mochammad, sementara Paulus adalah nama rekan satu sel si Muhammad.

Perbincangan bersama Paulus–tahanan yang digambarkan sebagai penjahat dengan tutur kata santun dan kehalusan budi pekerti, disertai dengan sejumlah petunjuk ajaib yang dialaminya di penjara, meneguhkan hati Mochammad untuk membuat sebuah keputusan munomental dalam hidupnya. Di penjara ia berpindah ke Kristen.

Di sela-sela tepuk tangan dan pujian-pujian yang digemakan oleh para jemaah sebagai respon terhadap kisah keselamatan si pendeta, sang pendeta beberapa kali mengutip dan mengartikan sejumlah kalimat berbahasa Arab yang disebutnya sebagai ajaran dalam Islam dan ayat-ayat Al Qur’an.

Sesungguhnya, tidak hanya ekspresi penuh kebahagiaan yang ada malam itu. Dua muslim yang diundang oleh panitia, meskipun mencoba untuk tetap tersenyum dan bertepuk pelan, justru kerap kali menundukkan kepala dan menarik napas panjang selama sang pendeta menyampaikan ceramahnya. Dorongan kedua muslim tersebut untuk meluruskan pernyataan-pernyataan si pendeta, yang berkecamuk dengan rasa penghormatan mereka terhadap tuan rumah, hanya berujung pada perasaan terasing. Sepi di tengah keramaian, pilu di antara kesukacitaan, mendorong kedua muslim itu untuk segera pulang setelah ceramah usai.

Namun, panitia menahan langkah kedua muslim tadi. Ajakan panitia untuk berdialog dengan sang pendeta sedikit membesarkan hati mereka.

Di hadapan panitia dan sejumlah jamaah, kedua muslim tersebut menyalami sang pendeta. Sang pendeta pun menerima mereka seraya menyodorkan kartu namanya. Di situ tertulis kutipan lengkap):

MOCHAMMAD MINISTRY – WALIYULLAH – MOCH. A.F. FILEMON / EVANGELIST MISSIONS – OFFICE: Kokan Permata Kelapa Gading, Jl. Boulevar Bukit Gading Raya Blok D-12, Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara 14240. Telp. (021) 4514021, Fax. (021). 4514021 – RESIDENCE: Janur Hijau VII TC II No. 6, Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara. Telp. (021) 4520972, HP. 0812 8635530.

Berdasarkan perkenalan sang pendeta saat menyampaikan ceramah, A.F adalah singkatan dari Arif Fadhilah.

Kedua muslim itu pun memperkenalkan diri mereka. Mereka memperkenalkan diri sebagai muslim dan berterima kasih kepada sang pendeta atas undangan yang mereka terima untuk hadir malam itu. Sang pendeta tampak terkejut serta mengakui keterkejutannya bahwa ia tak menyangka ada ummat Islam yang datang di acara tersebut.

Perbincangan malam itu tidak hanya menjadi ajang bertukar pikiran bagi Kristen dan Islam. Namun, yang lebih berarti lagi, kedua pihak dapat mengutarakan perasaan mereka masing-masing secara terbuka, jujur, dan tulus.

Ada begitu banyak hal yang mereka diskusikan malam itu. Singkat cerita, kedua muslim tadi menyampaikan cermatan mereka terhadap isi ceramah sang pendeta. Gundah hati mereka akan teknik – meminjam istilah Abdurahman Wahid – “plintiran” ayat. Cuplik sana, cuplik sini, potong kanan, potong kiri, buat ayat sendiri, dan tafsirkan sekena hati. Dalam pandangan kedua muslim tadi, cara-cara ini tidak akan memberikan pencerahan bagi manusia, khususnya warga Kristiani. Termasuk dengan interpretasi kata “jihad fi sabilillah”. Adalah keliru untuk memaknakan kata ini sebagai membantai penganut agama lain. Atau, dalam kalimat sang pendeta dalam ceramahnya, “Bagi muslim, jika membunuh orang Kristen saja sudah berpahala, apalagi menghabisi nyawa pendetanya.”

Kedua muslim itu juga menguraikan cermatan mereka terhadap kata-kata dalam bahasa Arab yang diucapkan si pendeta. “Tidak hanya pengucapannya yang salah, sebagian lainnya pun sama sekali tidak pernah ada di dalam Al Qur’an.”

Sang pendeta beserta jamaahnya dan kedua muslim tadi agaknya telah mampu menembus tembok-tembok resistensi mereka masing-masing. Mendengar penilaian yang disodorkan kedua muslim tadi, sang pendeta mengakui bahwa teknik ceramah semacam inilah yang selalu diterapkannya setiap kali ia berusaha menyampaikan pemahamannya tentang Islam di hadapan warga Kristen.

Sang pendeta sepakat bahwa, walaupun mudah, metode semacam ini pada kenyataannya bukanlah menyampaikan kebenaran tentang Islam. Terlebih manakala berada di hadapan calon-calon pemimpin Kristen masa depan (mayoritas jamaah gereja Burwood adalah mahasiswa), memelintirkan ayat sama artinya dengan tidak memberikan keleluasaan kepada para individu dewasa untuk mengevaluasi kembali informasi yang mereka terima. Idealnya, berangkat dari asumsi bahwa para jamaah adalah sekumpulan individu yang mampu berpikir dewasa, maka seyogianya pemimpin ummat (dalam hal ini si pendeta) memberikan jamaah data seperti apa adanya, dan kemudian membebaskan mereka untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah.

Mereka pun mafhum, hanya dengan cara yang menekankan keterbukaan dan kejujuran inilah, sang pendeta bisa mendapatkan manfaat lebih besar lagi dari ceramah-ceramahnya. Antara lain, pertama, sang pendeta turut andil dalam menyebarkan segala ajaran tentang kebenaran, dalam konteks ini penekanannya adalah Islam, agar dapat diapresiasi oleh warga Kristen secara dewasa pula. Kedua, sang pendeta memberikan kontribusi bagi tumbuhnya pengertian yang tulus tentang agama lain di kalangan warga Kristiani. Ini merupakan modalitas paling berharga untuk membangun jembatan keselarasan antar ummat beragama.

Dengan rendah hati, sang pendeta mengakui kekeliruannya dengan berkata, “Saya memang sering terpeleset. Saya harap anda mengerti, ceramah seperti ini hanya saya lakukan dalam keluarga besar kami.” Kedua muslim tadi, juga dengan ikhlas hati, mengakui keterbatasan-kertebatasan yang mereka punyai, termasuk melakukan otokritik terhadap metode pelintiran ayat untuk kepentingan pribadi maupun golongan.

Tentu, di balik kealpaan tetap ada kebaikan. Sang pendeta meluruskan tafsirannya tentang “jihad fi sabilillah” yang secara substansial merupakan ajaran tentang memperjuangkan Islam melalui cara-cara yang islami, baik mengejar ilmu, mencari rezeki yang halal, dan menciptakan keadilan dan perdamaian. Di samping itu, sang pendeta juga memaparkan betapa seringnya ia melakukan dialog lintas agama, termasuk dengan Ustadz Ja’far Umar Thalib (yang sempat disebut si pendeta sebagai Ketua Front Pembela Islam), K.H. Abdulllah Gymnastiar, dan K.H. Zaenuddin MZ. Diiringi oleh rasa berbaik sangka akan hal ini, paparan si pendeta semakin memantapkan keyakinan kedua pihak di atas akan keserasian dalam pertalian kebangsaan antara Islam dan Kristen.

Menghindar dari syakwasangka buruk juga kiranya yang mendorong kedua tamu di gereja Burwood tadi untuk membahas komitmen sang pendeta akan adanya proses dialog yang lebih intensif antar dua agama ini. Dalam ceramahnya di muka para jamaah, si pendeta mendeskripsikan strateginya untuk ‘masuk’ ke tengah-tengah komunitas muslim. Yaitu, dengan mengutus para anggota ministry-nya untuk mengenakan jilbab, menggunakan nama-nama islami, dan membawa identitas diri sebagai pengikut Rasulullah Muhammad (shalallaahu alaihi wassalam) ke sentra-sentra Islam, termasuk pesantren-pesantren.

Mungkin, bagi kedua muslim tadi, cara seperti di atas terkesan sangat janggal, bahkan beresiko kontraproduktif bagi terealisasinya tekad si pendeta. Bahkan, apabila cermatan lebih mendalam difokuskan pada (1) uraian tentang strategi dakwah, digandengkan dengan (2) substansi ceramah “pelintiran” si pendeta di gereja Burwood, dan (3) cita-citanya untuk mencapai toleransi antar ummat beragama, terlihat gamblang bahwa ketidakkonsistenan justru tercecer di sana-sini.

Pengalaman seseorang yang mengaku telah melakukan konversi agama memang sering mengandung daya tarik luar biasa. Dan kabar tentang hal inilah yang menjadikan ruangan di sebuah gereja di kawasan Burwood – Melbourne tetap tampak begitu meriah, kendati ekspresi pilu masih sesekali terpancar dari wajah para jamaah manakala sang pendeta mengingatkan bahwa bisa jadi kebaktian itu adalah tatap muka mereka yang terakhir. Tak pelak, kebaktian itu menjadi momen getir bagi warga Kristiani, karena kisah sang pendeta yang mencitrakan keselamatan anak manusia justru kontras dengan status rumah Tuhan itu yang telah laku terjual.

Tulisan ini tidak difokuskan pada penyampaian uang ayat-ayat pelintiran dan ciptaan sang pendeta. Sebaliknya, artikel ini ingin menggambarkan bahwa akal yang jernih dan hati yang tenang telah membentuk energi utama bagi berlangsungnya pertukaran pikiran, bahkan pertukaran perasaan, antara tuan rumah dan tamu yang mereka undang. Pendeta, selaku representasi penggembala warga Kristen, tidak terlalu tinggi hati untuk melakukan instropeksi. Begitu pula dengan kedua pemuda muslim itu, mewakili manusia yang tengah mencari jalan lurus penuh hidayah, tidak terlalu rendah diri untuk berhadapan dengan seorang pemimpin. Esensi yang terpancar dari peristiwa ini adalah urgensi tentang pentingnya langkah merevisi nuansa kepongahan yang – tak pelak – masih sering mewarnai dialog antar ummat beragama, dan menggantinya dengan kesudian untuk menyimak buah pikiran dan bunga perasaan tentang kebenaran yang disampaikan oleh pihak lain.

Indah. Jauh lebih indah ketimbang bunga-bunga yang mulai bermekaran di awal musim semi di Victoria. Dengan desah “Alhamdulillah” di bibir kedua muslim itu dan ucapan “Puji Tuhan” di mulut salah seorang panitia di pintu gereja, mereka pun berpisah dengan harapan dapat bertemu kembali.

Wallaahu a’lam.
Share this article

Copyright©Hidayatullah dot com, 1996-2008 •
Dilarang mengkopi untuk tujuan komersial, tanpa seijin Redaksi ‘www.hidayatullah.com’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: