“Berharap Kepada Hidayatullah”

Minggu, 29 Mei 2005
Hidayatullah dikenal pengiriman da’i-da’i militan dan membangun sekolah unggulan untuk umat. Kedepan tak perlu ikut tergoda politik. Catatan Akhir Pekan ke-101, Adian Husaini
Pada 9-13 Juni mendatang, Hidayatullah akan menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) yang ke-2. Acara ini merupakan wahana pengambilan keputusan tertinggi di Hidayatullah, yang dilaksanakan setiap 5 tahun. Munas I yang memutuskan perubahan bentuk Hidayatullah dari organisasi sosial menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas) dilaksanakan pada 9-13 Juli 2000 di Balikpapan.


Pada Munas II ini, insyaallah akan hadir utusan dari 152 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan 22 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), bersama anggota Dewan Pimpinan Pusat (DPP), anggota Majelis Syura, dan anggota Dewan Syariah Hidayatullah sebagai peserta aktif. Di samping itu akan hadir pula sejumlah utusan dari amal-amal usaha milik Hidayatullah dan undangan dari organisasi-organisasi tingkat pusat sebagai peninjau. Jumlah peserta seluruhnya berkisar 500 orang.
Di antara hal penting yang akan dibahas pada Munas kali ini adalah perubahan Pedoman Dasar Organisasi (PDO), penyempurnaan struktur tingkat pusat, pengesahan Program Umum 5 Tahunan, pemilihan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat, dan pemilihan anggota Dewan Syura (perubahan dari keberadaan Majelis Syura dan Dewan Syariah). Munas juga akan membahas persoalan-persoalan aktual dalam bidang pendidikan, pembangunan kembali Aceh yang Islami, pemberantasan korupsi, peningkatan harkat dan martabat rakyat miskin, peningkatan peran kaum perempuan, dan juga masalah-masalah politik.
Sebagai satu organisasi yang telah banyak membuktikan kiprahnya dalam aktivitas dakwah Islam di Indonesia, kita sangat berharap, Munas II Hidayatullah kali ini akan menghasilkan rumusan-rumusan dan kepemimpinan yang lebih baik dari sebelumnya. Hidayatullah lahir pada saat umat Islam sedang menantikan datangnya abad XV H yang diyakini sebagai Abad Kebangkitan Islam. Tema pokoknya pada saat itu adalah “Back to Qur’an and Sunnah”. Hidayatullah adalah sebuah gerakan pemikiran yang mencoba menerjemahkan slogan “Back to Qur’an and Sunnah” secara lebih konkrit sehingga Al-Qur’an dan Sunnah menjadi ‘blue print’ pengembangan peradaban Islami.
Hidayatullah memandang bahwa kemunduran umat Islam lebih disebabkan karena pandangan yang parsial dalam memahami keholistikan ajaran Islam. Masing-masing kelompok mengambil tema dan titik tekan program sesuai dengan pandangannya yang sangat parsial bahkan tema dan titik program itu seringkali menjadi semacam ‘ideologi’ kelompok
Sebagai organisasi massa Islam yang berbasis kader, Hidayatullah menyatakan diri sebagai Gerakan Perjuangan Islam (Al-Harakah Al-Jihadiyah Al-Islamiyah) dengan dakwah dan tarbiyah sebagai program utama lembaga. Hidayatullah didirikan pada tanggal 7 Januari 1973 / 2 Dzulhijjah 1392 H di Balikpapan dalam bentuk yayasan sebuah pesantren, oleh Ust. Abdullah Said (alm). Dari sebuah bentuk pesantren, kemudian berkembang dengan berbagai amal usaha di bidang sosial, dakwah, pendidikan dan ekonomi serta menyebar ke berbagai daerah hingga pada tahun 2003 sudah terbentuk jaringan kerja (networking) Hidayatullah di 200 kabupaten dan berada di seluruh Provinsi di Indonesia. Melalui Musyawarah Nasional I pada tanggal 9-13 Juli 2000 di Balikpapan, Hidayatullah mengubah bentuk organisasinya menjadi organisasi massa (ormas), dan menyatakan diri sebagai gerakan perjuangan Islam.
Sebagai organisasi massa, keanggotaan Hidayatullah bersifat terbuka, demikian pula misi, visi, dan konsep dasar gerakannya. Hidayatullah menjadikan amal-amal usahanya bersifat otonom, dan berfungsi sebagai basis pendidikan dan pengkaderan. Hidayatullah merupakan wadah bagi komponen ummat Islam yang ingin mewujudkan idealismenya membangun masyarakat Islami dengan mengacu kepada metode/manhaj nubuwwah. Hidayatullah berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As-Sunnah. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mutlak, karena itu segala urusan dikembalikan kepada Allah dan Rasul.
Kepemimpinan Hidayatullah dibangun di atas manhaj nubuwwah yang melangkah mengikuti skala prioritas mulai dari yang paling utama (ushul) hingga yang tidak prinsip (furu’iyyah). Sedangkan agenda utama yang menjadi fokus garapan Hidayatullah adalah; pelurusan masalah aqidah, imamah dan jamaah (tajdid); pencerahan kesadaran (tilawatu ayatillah); pembersihan jiwa (tazkiyatun-nufus); pengajaran dan pendidikan (ta’limatul-kitab wal-hikmah) menuju lahirnya kepemimpinan dan ummat terbaik.
Tujuan Hidayatullah dirumuskan dalam kalimat yang lugas: “Mewujudkan masyarakat Qur’ani yang terbebas dari pemikiran, faham, sikap dan perilaku mempersekutukan Allah (syirik).”
Adapun visinya ialah: (1) Tegaknya Kalimah Tauhid “Laa ilaaha illallah” di muka bumi. (2) Terlaksananya syari’ah Islam oleh segenap kaum Muslimin. (3) Terwujudnya kekuatan ummat Islam dalam berbagai bidang kehidupan. (4) Lahirnya kader-kader Mujahid. (5) Meningkatnya harkat, derajat dan martabat kaum dhu’afa (lemah) dan mustadh’afin (tertindas).
Sedangkan misi Hidayatullah adalah: (1) Mengambil peran secara efektif dalam melaksanakan proses pembaharuan (tajdid) di bidang falsafah pemikiran Islam sebagai dasar bagi pembangunan peradaban Islami di masa depan. (2) Menyiapkan konsep dan strategi perjuangan secara tepat. (3) Menyiapkan dan membangun organisasi-organisasi dakwah, pendidikan, sosial, politik, kepemudaan, kewanitaan dan lain-lain yang kuat, solid, modern dan profesional. (4) Mengusahakan dan mendorong upaya-upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Program utama Hidayatullah adalah dakwah dan tarbiyah. Sejak awal perlangkahannya, Hidayatullah telah melakukan pengiriman santri untuk berdakwah sebagai bagian dari proses tarbiyah. Keberadaan Hidayatullah di berbagai tempat adalah upaya untuk membangun jaringan dakwah yang luas dan mampu menyentuh dan melayani seluruh lapisan ummat.
Hidayatullah berupaya memposisikan da’i sebagai sosok yang memiliki karakteristik unggul dan militan serta mempunyai potensi untuk membangun peradaban yang seimbang antara duniawi dan ukhrawi.
Sejak 1978 Hidayatullah melakukan pengiriman da’i ke seluruh Indonesia. Hidayatullah berupaya meningkatkan kualitas da’i dengan mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al Hakim (STAIL) di Surabaya dan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STIS Hidayatullah) di Balikpapan sebagai lembaga pendidikan untuk pengkaderan da’i. Oleh karena profesi da’i lebih cenderung kepada pengabdian maka Hidayatullah memberikan beasiswa penuh (biaya pendidikan dan biaya hidup) bagi mahasiswa STAIL dan STIS dengan pola ikatan dinas. Dengan cara seperti ini diharapkan dapat dihasilkan da’i dengan kualifikasi strata satu (S1) bidang pendidikan (tarbiyah), dakwah dan syariah yang mempunyai jiwa militan, bersedia ditugaskan di seluruh Indonesia, diharapkan bisa menetap secara permanen, diberi tunjangan maksimal hingga 3 tahun atau sampai mereka mampu menjadi pelaku ekonomi di tempatnya berada.
Mulai tahun 1998 lembaga pendidikan kader da’i ini telah menghasilkan lulusan dan telah mengirimkan da’I ke berbagai daerah terutama Indonesia Bagian Timur dan Tengah. Setidaknya setiap tahun, Hidayatullah mengirimkan 150 da’i ke berbagai daerah di Indonesia dengan 50 diantaranya adalah lulusan strata satu dari lembaga pendidikan kader da’i.
Menyimak berbagai perkembangan pesat dari organisasi Islam Hidayatullah ini, kita sangat patut bersyukur. Dai-dai Hidayatullah selama ini dikenal gigih dan berani mati menerobos dan bertahan hidup di daerah-daerah terpencil minoritas Muslim, seperti Nias, Mentawai, Papua, dan lain-lain. Dengan gaji yang jauh dari layak, para da’i itu mempertaruhkan nyawa mereka. Hidayatullah juga dikenal berani merintis pendidikan Islam di daerah-daerah pelosok. Di berbagai kota, terbukti, sekolah-sekolah Hidayatullah kini menjadi sekolah favorit dan unggulan.
Dengan berbagai keunggulan dan prestasinya itu, kini Hidayatullah berada disimpang jalan. Di tengah arus besar sekularisasi dan liberalisasi dalam berbagai bidang, Hidayatullah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tarikan-tarikan politik begitu besar ingin menyeret Hidayatullah ke dalam kutub-kutub politik yang ada. Berpolitik tentulah tidak haram, bahkan politik adalah salah satu aktivitas penting dalam dakwah Islam. Tetapi, Hidayatullah mestinya paham, jenis politik seperti apa yang harusnya diterjuni oleh Hidayatullah.
Jika dikatakan, bahwa program utama Hidayatullah adalah dakwah dan tarbiyah, maka seyogyanya Hidayatullah benar-benar berkonsentrasi di bidang ini, sehingga menjadi pemimpin di bidangnya. Sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, dan kampus-kampus Hidayatullah harusnya mampu menghasilkan “ulama yang unggul” yang memiliki kualitas pemikiran dan ketaqwaan yang tinggi, sehingga Hidayatullah bisa menjalankan misi utamanya: “Mengambil peran secara efektif dalam melaksanakan proses pembaharuan (tajdid) di bidang falsafah pemikiran Islam sebagai dasar bagi
pembangunan peradaban Islami di masa depan.”
Siang dan malam mestinya para pemimpin Hidayatullah berjuang untuk mewujudkan misi utama organisasinya. Suasana organisasi Hidayatullah idealnya menjadi suasana dakwah dan ilmu. Setiap orang yang datang ke lingkungan Hidayatullah hanya sibuk membicarakan masalah dakwah dan keilmuan.
Adalah satu anomali (penyimpangan) dan benih penyakit, jika di lingkungan Hidayatullah sampai muncul keributan masalah materi dan unsur-unsur duniawi.
Hidayatullah tidak perlu silau dengan jumlah massa.
Sebab, di mana pun, “fiah qalilah” yang berkualitas tinggi jauh lebih berharga ketimbang massa yang berjubel tetapi berkualitas rendah. Lembaga-lembaga pendidikan Hidayatullah, terutama perguruan tingginya, seyogyanya berfalsafah seperti “singa”, yang meskipun anaknya berjumlah sedikit tetapi berkualitas tinggi. Sebaliknya, kampus-kampus Hidayatullah perlu menghindarkan falsafah “babi”, yang meskipun anaknya sangat banyak, tetapi hanya akan menjadi santapan singa-singa.
Di usianya yang masih relatif muda –dibandingkan NU dan Muhammadiyah– Hidayatullah masih bisa belajar banyak dari keberhasilan dan kegagalan kedua organisasi massa besar itu. Khittah dan kiprah Hidayatullah di bidang dakwah dan ilmu sudah sesuai dengan garis perjuangan Rasulullah saw dan problema utama umat Islam saat ini. Di bidang inilah, seharusnya Hidayatullah melahirkan “ulama-ulama” yang mampu menjadi sinar yang menerangi kaum Muslim yang kini mengalami krisis ulama dan ilmu.
Dalam kondisi seperti ini, Hidayatullah berpotensi besar menempati garda terdepan di barisan umat Islam dalam melaksanakan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar.
Karena itu, Hidayatullah tidak perlu tergesa-gesa dan terjebak dalam aktivitas politik sesaat, dengan melakukan aksi dukung mendukung calon-calon presiden, menteri, atau walikota tertentu. Segenap potensi Hidayatullah harus berhimpun, bersatu, dan bahu-membahu, untuk mewujudkan satu Hidayatullah yang benar-benar ideal.

Kita berharap, lima tahun ke depan, pasca Munas II ini, Hidayatullah akan mampu melangkah ke depan dengan lebih baik. Media massa Hidayatullah (majalah, website) harus lebih baik dan lebih banyak lagi. Hidayatullah harus memiliki media massa yang lebih canggih seperti televisi dan radio satelit, yang sangat diperlukan dan menjadi kebanggaan umat Islam saat ini. Dengan semangat dakwah, ruhul jihad, dan tingkat keilmuan yang mumpuni, kita berharap, tokoh-tokoh dan ulama-ulama Hidayatullah akan tampil di tengah umat dan di hadapan penguasa –dari partai mana pun penguasanya– laksana “singa” yang pintar, tegar, cerdas, ikhlas, dan berani dalam menyampaikan al-haq dan melindungi umat dari berbagai serangan pemikiran destruktif. Wallahu a’lam. (Jakarta, 27 Mei 2005).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: