Cermin Ironis di Libya

Marwan Batubara
Direktur Indonesian Resources Studies (Iress)

Krisis politik Tunisia yang dipicu peristiwa bakar diri Muhammad Bouazizi tanggal 17 Desember 2010 menandai dimulainya “musim semi” kehidupan politik dunia Arab. Pergolakan di Tunisia berefek domino ke Mesir, Bahrain, Yordania, Suriah, Yaman, Libya, Maroko, dan Aljazair. Pergolakan ini terutama disebabkan ketidakpuasan politik dan kehidupan mayoritas rakyat yang jauh dari sejahtera. Gerakan rakyat tersebut telah melengserkan Presiden Zine El-Abidine Ben Ali, Mubarak, dan Muamar Qadafi masing-masing di Tunisia, Mesir, dan Libya. Apakah persoalan demokratisasi dan kemiskinan merupakan penyebab utama krisis Libya dan kejatuhan Muamar Qadafi? Tampaknya bukan dan hal ini akan dibahas secara khusus dalam tulisan ini.

Sebagai negara kaya migas, bumi Libya menyimpan cadangan sekitar 44 miliar barel. Jika tidak ada penemuan cadangan baru, dan laju pengurasan yang konstan sekitar 1,6 juta barel per hari, produksi migas Libya akan bertahan sekitar 80 tahun (Indonesia, dengan cadangan sekitar delapan miliar barel, hanya akan bertahan sekitar 24 tahun).

Dengan penduduk hanya sekitar enam juta jiwa tak heran jika kehidupan rakyat Libya cukup sejahtera dibandingkan Indonesia atau rakyat di negara tetangga, seperti Mesir, Tunisia, dan Aljazair. Faktanya dalam hal indeks kemiskinan, Libya berada pada posisi 33, lebih baik dibanding Tunisia di posisi 43, Aljazair 53, dan Mesir 55.

Tingkat kesejahteraan manusia (human development index) rakyat Libya lebih tinggi dari Arab Saudi, Tunisia, dan Mesir. Tingkat harapan hidup (life expectancy) penduduknya pun meningkat 39 persen dalam periode 1975-2005; sedangkan tingkat buta aksara pada periode yang sama telah turun dari 32 persen menjadi 12 persen. Angka kematian anak juga menurun secara dratis dalam dua dekade terakhir. Pada praktiknya, pemerintahan Qadafi memang memberikan pendidikan gratis dan santunan rutin dana minyak kepada rakyat. Dengan data-data statistik ini tidak cukup alasan bagi rakyat untuk menggugat kekuasaan Qadafi. Lalu, kenapa rakyat bergolak?

Rencana nasionalisasi
Beberapa tahun sebelum serangan NATO ke Libya pada 3 Juni 2011, Qadafi membuat berbagai pernyataan dan kebijakan migas yang tidak sejalan atau bahkan sangat bertentangan dengan kepentingan geopolitik Eropa dan Amerika. Pada November 2008, di Moskow, Qadafi pernah mendiskusikan wacana pembentukan kartel gas dengan Rusia, Libya, Iran, Aljazair, dan negara-negara Asia Tengah. Saat itu Qadafi mewacanakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak Barat harus siap angkat kaki dari Libya.

Pada Januari 2009, dalam diskusi via satelit dengan mahasiswa Georgetown University, AS, Qadafi menyatakan Libya tidak tahan dengan harga minyak sekitar 43 dolar AS per barel. Karena itu, ia berencana melakukan nasionalisasi perusahaan minyak.

“Minyak Libya mungkin harus dimiliki oleh perusahaan nasional. Atau, sektor publik saat ini agar menguasai harga minyak, produksinya, atau menghentikan produksi minyak.” Kata Qadafi. Selain itu, Libya telah berhasil menekan perusahaan-perusahaan asing menerima persentase yang lebih kecil dari produksi sumur-sumur migasnya. Dengan sikap Qadafi ini, Total dari Prancis menjadi sangat tertekan, apalagi diiringi dengan ancaman nasionalisasi.

Selain sikap mbalelo di atas, dalam dua hingga tiga tahun terakhir, Libya berhasil menekan asing untuk menerima persentase yang lebih kecil dari produksi sumur-sumur migasnya. Sebagaimana yang dibocorkan oleh Wikileaks (2008), Duta besar Amerika untuk Libya Gene Kretz, mengatakan, “Perundingan ulang kontrak Total adalah bagian dari upaya National Oil Corporation (NOC) Libya untuk meninjau kembali kontrak-kontrak migasnya agar bagian Libya menjadi lebih besar. Setiap konsorsium akan mendapatkan 27 persen, atau turun dari 50 persen sebelumnya.

Di bidang gas, konsorsium akan mendapatkan 40 persen (turun dari 50 persen), dan akan diturunkan lagi menjadi 30 persen. Untuk ladang Mabruk dekat Sirte, yang memproduksi 20 ribu barel/hari, pembagian produksi adalah 73 persen untuk NOC Libya, 20,25 persen untuk Total, dan 6,75 persen untuk StatoilHydro, Norwegia.”

Kemarahan AS
Setelah kasus pengeboman Lockerbie diselesaikan, terjadi pendekatan antara Libya dan negara-negara Barat. Namun, seperti dibocorkan Wikileaks yang sesuai laporan diplomat Amerika tahun 2007, AS tetap berhadapan dengan penguasa yang sulit dikendalikan sehingga diberi predikat Libyan resource nationalism. Sebagai hasil kerja sama, pada Juni 2008 telah ditandatangani perjanjian Libya dengan perusahaan-perusahaan migas Barat, yang mengikuti pola baru kontrak Exploration and Productions Sharing Agreement IV (EPSA IV).

Pola kontrak ESPA IV ini, antara lain, memaksa Exxon Mobil, Petro Canada, Repsol (Spanyol), Total (Prancis), Eni (Italia), dan Occidental (AS) untuk tunduk kepada renegosiasi dan membayar bonus awal (signatory bonus) sebesar 5,4 miliar dolar AS kepada Libya.

AS sangat cemas bahwa ConocoPhilips, Marathon dan Hess (bagian dari Oasis Group) juga akan dipaksa untuk renegosiasi sesuai pola EPSA IV.

Sebelumnya, mereka telah membayar bonus 1,8 miliar dolar AS kepada Libya. Walaupun EPSA IV telah disepakati, fenomena renegosiasi mengikuti pola EPSA IV mencemaskan AS, karena bisa menjadi preseden bagi negara-negara pemilik migas lain. Bahkan, dicemaskan pula beberapa ketentuan EPSA IV kelak akan dinegosiasi-ulang.

Selain itu, kemenangan tender-tender oleh perusahaan-perusahaan minyak India, Cina, Rusia, dan Jepang untuk ladang-ladang minyak Libya telah menambah kecemasan AS.

Kecemasan AS terefleksi dalam laporan diplomat seperti dibocorkan Wikileaks (2008). Laporan ini menyebutkan bahwa sejak 2008, AS telah mulai melakukan infiltrasi secara mendalam di lingkaran kekuasaan Qadafi. Hasil infiltrasi menyimpulkan bahwa “Tidak akan ada perubahan ekonomi atau politik selama Qadafi masih hidup”.

Politik migas Qadafi yang sangat revolusioner, menguntungkan Libya dan sekaligus mengurangi keuntungan Barat ini, telah mengundang kemarahan sehingga mereka demikian bernafsu untuk mengakhiri pemerintahan Qadafi. Tak heran kemudian munculnya gerakan kaum revolusioner yang menggugat kediktatoran Qadafi dan sangat didukung Barat, sekaligus dimanfaatkan untuk tetap mendominasi migas Libya.

Musim semi politik dunia Arab masih berlangsung dan telah memakan korban tumbangnya sejumlah pemerintahan otoriter. Khusus untuk Libya, terlepas bahwa kehidupan demokrasi bernegaranya memang bermasalah, lengsernya Qadafi diyakini lebih disebabkan oleh politik migas Libya yang tidak disukai Barat. Kondisi kesejahteraan rakyat Libya lebih baik dibandingkan negara-negara tetangganya yang bergolak, bahkan dibandingkan Arab Saudi sekalipun sehingga tidak terlalu relevan menghubungkan tingkat kesejahteraan dengan pergolakan. Karena itu, keberhasilan gerakan kaum revolusioner diyakini lebih karena ketidakpuasan sejumlah elite politik yang telah diprovokasi dan didukung Barat.

Sikap politik migas Qadafi yang akan membentuk kartel gas bersama Iran, Rusia, dan Aljazair, merencanakan nasionalisasi, menerapkan pola baru EPSA IV dan bahkan akan merenegosiasi kontrak-kontrak yang ada, membangkitkan kemarahan Barat. Diplomat AS di Tripoli menyimpulkan tidak akan ada perubahan politik dan ekonomi selama Qadafi masih berkuasa sehingga pemerintahannya harus diakhiri.

Hal ini telah diwujudkan NATO dengan menyerang Libya sejak 3 Juni 2011 dan berhasil menumbangkan Qadafi pada 22 Agustus 2011. Musim semi Arab telah dimanfaatkan dengan cerdas dan konspiratif oleh NATO, salah satunya dengan membonceng gerakan kaum pemberontak Libya. NATO sekarang sedang sibuk membagi-bagi ladang-ladang minyak Libya. Ironis.

http://republika.co.id:8080/koran/24/145067/Cermin_Ironis_di_Libya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: