Heboh Novel The Da Vinci Code

Kamis, 14 April 2005
Novel “The Da Vinci Code” menyengat para teolog Kristen. Fakta-fakta yang membongkar dasar-dasar kepercayaan Kristen yang bertahan selama 2000 tahun. Baca CAP ke-95 Adian Husaini
Majalah Insani edisi April 2005 mengangkat tema menarik tentang heboh sebuah novel berjudul “The Da Vinci Code” di kalangan Kristen. Novel ini telah dicetak lebih dari 17 juta dan sekurangnya kini ada 10 buku yang ditulis oleh para pakar teologi Kristen yang menyanggah isi Novel ini. Banyak yang geram dengan novel karya Dan Brown tersebut, karena dianggap melecehkan Yesus, Vatikan, juga karya Leonardo Da Vinci.
Dr. Darrell L. Bock, professor Perjanjian Baru di Dallas Theological Seminary, misalnya, tidak dapat menyembunyikan rasa geramnya, setelah membaca Novel “The Da Vinci Code” . Ia berkomentar soal novel populer karya Dan Brown ini, “No longer is The Da Vinci Code a mere piece of fiction. It is a novel clothed in claims of historical truth, critical of institutions and beliefs held by millions of people around the world.” Jadi, kata professor ini, Da Vinci Code memang bukan sekedar novel fiksi biasa, tetapi sebuah novel yang diselubungi dengan klaim kebenaran historis dan kritik terhadap institusi dan kepercayaan agama Kristen.


Maka, Bock mengerahkan kemampuannya untuk menulis bantahan terhadap novel ini. Melalui bukunya, Breaking the Da Vinci Code (Nashville: Nelson Books, 2004). Bock melakukan kajian historis untuk mengritik berbagai fakta sejarah yang disajikan dalam novel “The Da Vinci Code” . Bock hanyalah satu dari puluhan teolog Kristen yang tersengat dengan “The Da Vinci Code” . Di toko-toko buku internasional, kini berjejer puluhan buku yang memberikan kritik terhadap novel Brown.
Selama 100 pekan, Da Vinci Code terus menduduki peringkat atas novel terlaris, dan memicu kontroversi hebat. Tidak ada sikap resmi dari Vatikan atas novel tersebut. Namun, pada pertengahan Maret 2005, Kardinal Bertone, orang nomor dua di departemen Kongregasi untuk Doktrin Keimanan Vatikan, menganjurkan agar toko buku Katolik menarik novel tersebut. Sebab, katanya, novel itu merupakan kebohongan yang memalukan. Ia khawatir, banyak orang mempercayai kebohongan di dalamnya.
Ya, “The Da Vinci Code” , memang hanya sebuah novel fiksi. Tetapi, novel ini telah menyengat dan menggoncang kepercayaan dalam tradisi Kristen yang telah berumur 2000 tahun. Maka, meski hanya sebuah novel, sebuah cerita fiksi, tetapi dihadapi dengan serius oleh kalangan teolog Kristen. Novel yang dibaca oleh puluhan juta orang di dunia ini bagaimana pun termasuk luar biasa dan digarap dengan riset yang serius. Brown, novelis yang kini menetap di Inggris, mengklaim bahwa berbagai fakta sejarah seputar Jesus, Mary Magdalena, Opus Dei, The Priori of Sion, yang dipaparkan dalam novelnya adalah 100 persen benar. “Semua deskripsi tentang karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritual rahasia yang dipaparkan dalam novel ini adalah akurat,” tulis Brown dalam pembukaan novelnya.
Mengapa Novel ini begitu menyengat para teolog Kristen? Itu tidak lain, karena novel ini memaparkan fakta-fakta baru tentang Jesus yang membongkar dasar-dasar kepercayaan Kristen yang bertahan selama 2000 tahun. Dalam Kristen, dogma pokok dan paling inti adalah kepercayaan tentang kebangkitan Jesus (resurrection). Bahwa, menurut mereka, setelah mati di tiang salib, Jesus bangkit pada hari ketiga untuk menebus dosa umat manusia. Dalam Bible Perjanjian Baru disebutkan, bahwa saksi pertama kebangkitan Jesus – yang menyaksikan kubur Jesus kosong – adalah seorang wanita bernama Mary Magdalena.
Jika dasar kepercayaan ini dibongkar, maka runtuhlah agama Kristen. Paul Young, dalam bukunya, Christianity, menulis, bahwa tanpa ‘resurrection’, maka tidak ada ‘kekristenan’. Ibarat potongan-potongan gambar (jigsaw), maka jika resurrection dibuang, jigsaw itu tidak akan membentuk apa yang disebut sebagai Christianity. (We can not remove a portion of the Christian jigsaw labelled ‘resurrection’ and leave anything which is recognizable as Christian faith. Subtract the resurrection and you destroy the entire picture.” (Paul Young, Christianity, (London: Hodder Headline Ltd., 2003).
Nah, “The Da Vinci Code” adalah sebuah novel yang memporak-porandakan sebuah susunan gambar yang bernama Kristen itu. Betapa tidak, dalam novel ini, misalnya digambarkan bahwa sebelum disalib Jesus sebenarnya sempat mengawini Mary Magdalena dan mewariskan Gerejanya kepada Magdalena, bukan kepada Saint Peter yang kemudian melanjutkan pendirian Gereja di Roma. Bahkan, bukan hanya kawin, Jesus pun punya keturunan dari Mary Magdalena, yang – karena takut dikejar-kejar murid-murid Jesus – maka melarikan diri ke Perancis. Keturunan Jesus itu masih tetap ada hingga kini, dan selama ratusan tahun memelihara tradisi Gereja garis Mary Magdalena. Rahasia ini masih tetap dipegang, dan disimpan dengan sangat ketat. Selama ratusan tahun itu pula, Gereja Katolik berusaha memburu para penganut Gereja Mary Magdalena dan membantai anak keturunan Jesus yang dikhawatirkan mengancam kekuasaan Gereja Katolik – dan Gereja-gereja Kristen lainnya yang mengakui Jesus sebagai Tuhan.
Dalam novelnya, Dan Brown mampu menghadirkan cerita perburuan keturunan Jesus dan rahasia Gereja Mary Magdalena itu dalam alur cerita yang menegangkan dan memikat. Rangkaian cerita disusun sedemikian rupa sehingga menyeret pembaca untuk menyimak novel ini dari awal sampai akhir. Cerita-cerita dan fakta-fakta sejarah seputar Jesus dihadirkan melalui dialog tokoh-tokohnya, sehingga tidak terkesan sebagai satu bentuk indoktrinasi, tetapi sebagai ungkapan realitas sejarah yang berhasil membongkar dasar-dasar dogma Kristen. Karena itu, dalam beberapa iklannya, buku ini digambarkan sebagai “memukau logika dan menggoyang iman”.
Bukan itu saja. Melalui “The Da Vinci Code” , Brown juga berhasil membangun citra buruk Vatican dengan nyaris ‘sempurna’. Bagaimana, misalnya, Paus Yohannes Paulus II mendukung aktivitas Opus Dei, sebuah kelompok Katolik yang tidak segan-segan melakukan pembunuhan dengan kejam dalam menjalankan misinya. Opus Dei baru-baru ini membangun markasnya senilai 243 USD di New York. Melalui Opus Dei inilah Gereja Katolik berusaha merebut bukti-bukti sejarah tentang ‘Gereja Mary Magdalena’.
Sebut misalnya, sebuah dialog antara agen Sophie Neveu – agen rahasia Perancis yang juga keturunan Mary Magdalena – dengan Leigh Teabing, seorang yang digambarkan sebagai bangsawan Inggris dan pakar sejarah Kristen. Sophie hanya terbengong-bengong mendapatkan berbagai fakta baru seputar Jesus dari Teabing. Ia sulit menolak bukti yang disodorkan Teabing dari Gnostic Bible, bahwa Jesus memang mengawini Mary Magdalena dan mempunyai anak keturunan. Di Gospel of Philip, misalnya tertulis: “And the companion of the Saviour is Mary Magdalene. Christ loved her more than all the disciples and used to kiss her often on her mouth. The rest of the disciples were offended by it and expressed disapproval. They said to him, “Why do you love her more than all of us?”
Jadi, kata Bible ini, Jesus mempunyai pasangan bernama Mary Magdalena dan terbiasa mencium Magdalena di bibirnya. Jesus mencintai Magdalena lebih dari pengikutnya yang lain, sehingga menyulut rasa iri hati. Itulah yang akhirnya memicu pelarian Mary Magdalena dari Jerusalem ke Perancis dengan bantuan orang-orang Yahudi.
Dalam bahasa Aramaic, kata “companion” menurut Teabing, bisa diartikan sebagai “pasangan”. Sophie yang membaca bagian-bagian berikutnya dari Bible Philip itu menemukan fakta betapa romantisnya hubungan Jesus dengan Mary Magdalena. Ia lalu mengingat masa silamnya, ketika para pendeta Perancis mendesak pemerintahnya untuk melarang peredaran film The Last Temptation of Christ; sebuah film garapan Martin Scorsese yang menggambarkan Jesus mengadakan hubungan sex dengan seorang wanita bernama Mary Magdalena. Kabarnya, novel Brown kini juga sedang difilmkan.
Dalam diskursus “gender equality” saat ini, wacana tentang pewarisan Gereja oleh Jesus kepada seorang wanita tentu saja sangat menarik. Sebab, hingga kini, Gereja Katolik tetap tidak mengizinkan wanita menjadi pejabat tinggi di Vatikan. Begitu juga dengan doktrin “larangan menikah bagi pastor” (celibacy), masih tetap dipertahankan, meskipun sekarang mulai banyak teolog Katolik yang menggugat larangan kawin ini. Prof. Hans Kung, misalnya, melalui bukunya, The Catholic Church: A Short History (New York: Modern Library, 2003), menyebut doktrin celibacy bertentangan dengan Bible (Matius, 19:12, 1 Timotius, 3:2). Doktrin ini, katanya, juga menjadi salah satu sumber penyelewengan seksual di kalangan pastor. Pendukung novel Dan Brown tentu akan setuju dengan gagasan Prof. Hans Kung dan ide bolehnya wanita menjadi pastor. Logikanya, jika Jesus saja kawin dan mewariskan Gerejanya kepada wanita, maka mengapa pengikutnya dilarang kawin dan melawang wanita menjadi pastor.
Sebenarnya gagasan Dan Brown bukanlah baru. Tahun 1982, terbit buku Holy Blood, Holy Grail, yang bercerita tentang perkawinan Jesus dengan Mary Magdalena dan punya anak keturunan. Bahkan, soal kebangkitan Jesus itu sendiri menjadi perdebatan yang panas di kalangan teolog. Apakah kebangkitan itu benar-benar terjadi, atau sekedar cerita; apakah kebangkitan itu bersifat objektif atau subjektif.
Sejak tahun 1985, misalnya, sudah dimulai penyelidikan Jesus Sejarah yang lebih dikenal dengan nama ‘Jesus Seminar’ di AS. Mereka meragukan fakta historis, bahwa Jesus bangkit. Kelompok ini dimotori oleh John Dominic Crossan dan Robert W. Funk yang disponsori Westar Institute. Mereka mengadakan seminar-seminar di sejumlah kota di AS dan menerbitkan berbagai buku seperti The Five Gospel, The Acts of Jesus, dan The Gospel of Jesus.
Sejak ratusan tahun lalu, perdebatan tentang Jesus memang tidak pernah berhenti. Masalahnya, tidak mudah menjelaskan dengan logika yang masuk akal, bahwa Jesus adalah Tuhan sekaligus manusia. Sejak awal-awal kekristenan, sudah muncul kelompok Arius yang menolak pandapat bahwa Jesus adalah Tuhan. Arius dan pengikutnya dikutuk oleh Gereja, bahkan kutukan itu diabadikan dalam syahadat Nicea.
Wacana tentang Jesus dalam dunia akademis memang sudah bertebaran. Kelebihan Brown adalah mampu mengangkat wacana itu ke dalam sebuah novel populer yang mampu menarik jutaan orang untuk membacanya. ‘Ramuan yang tepat’ antara fakta dan fiksi menjadikan novel ini memang berpotensi besar menggoncang kepercayaan kaum Kristen. Apalagi, masyarakat Barat memang dikenal hobi dengan mitos dan legenda. Mereka tak henti-hentinya menciptakan berbagai fiksi dan mitos dalam kehidupan mereka: Superman, Batman, Spiderman, Rambo, dan sebagainya. Persis seperti nenek moyang mereka di zaman Yunani Kuno. Brown tampaknya paham benar bagaimana menggoncang kepercayaan masyarakatnya.
Namun, pada 3 April 2005, heboh novel “The Da Vinci Code” Code terhenti sejenak. Pada hari itu, Paus Yohanes Paulus II, 85 tahun, meninggal di Vatikan, Roma, Italia. Paus meninggal setelah mengalami koma beberapa hari. (Surabaya, 9 April 2005).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: