Renungan Nada dan Dakwah

Rabu, 13 November 2002
Oleh Harry *)

Jum”at (8/11/02) saya pergi ke Masjid PUSDAI Jabar untuk sholat. Ketika tengah melewati lapangan Gasibu Bandung (depan Gedung Sate), sebuah panggung pertunjukkan yang megah tengah di tata rapih.

Saya berpikir bahwa panggung itu dibuat untuk suatu acara tabligh atau pertunjukkan Islami karena dari dekorasinya, tata letak panggung dihiasi dengan ornamen Islami.

Setelah ashar (16:00 WIB), lapangan dan panggungg yang saya lewati di Gasibu justru tertuku pada pertunjukkan musik dangdut. Dari suara yang terdengar, saya mengira penyanyi itu adalah Haji Rhoma Irama. Dan bernar, panggung tersebut sedang ada raja dangdut bang Haji Rhoma Irama. Sang legendaris penyangi dangdut Indonesia ini tengah melakukan gladiresik dengan membawakan beberapa lagu. Lagu diiringi oleh beberapa orang wanita dengan backing voka l sekaligus sebagai penari latar. Tentu saja, dengan tarian yang menarik perhatian kaum Adam yang melihatnya.

Setelah selesai, Haji Rhoma Irama mengakhiri pertunjukan latihannya kemudian menyampaikan pengumunan bahwa nanti malam (usai berdangdut) akan langsung diadakan shalat tarawih berjamaah di sekitar panggung. Bang Haji yang legendaris ini sendiri yang sekaligus menjadi imam dan khatib ceramah yang disiarkan langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta.

Saya, tentu saja heran, bercampur tanda tanya. Meskipun oang awam saya merasa aneh, mengapa ibadah sholat tarawih disatukan dengan sebuah pertunjukan dangdut –yang jelas-jelas banyak madhorotnya?– walaupun syairnya Islami –kalaupun boleh dikatakan begitu– akan tetapi musik dangdut adalah musik yang membuat orang yang suka mendengarnya bisa mabuk kepayang, alias ikut berjoged ria secara liar. Apalagi pertunjukan itu diiringi oleh penari latar yang membuat orang terlena melihatnya.

Memang, Bang Haji, akan mengatakan, tujuannya adalah dakhwa. Apalagi sesuai namanya ” Nada dan Dakwah”. Akan tetapi selain dengan jalan seperti itu, masih ada jalan untuk berdakwah yang lebih baik dan dibenarkan menurut Islam. Bukankah, jalan dakwah adalah jalan haq dan kemudhorotan adalah jalan kebatilan?. Jelas, perbedaannya dua sisi ini sudah tidak perlu diperdebatkan.

Saya hanya menyayangkan, mengapa pertunjukan seperti itu bisa terlaksana tanpa adanya hambatan dari suatu pihak (ulama dan masyarakat yang peduli). Setelah sholat tarawih, orang-orang berjoged ria dan terbuai dengan alunan musik. Inikah dakwah?

Orang yang berpikiran jernih sekalipun, akan menilai sudah akan tahu jawabannya. Memang dengan acara itu diharapkan akan mendatangkan banyak orang untuk sholat tarawih, termasuk mendatangkan orang-orang yang tidak biasa melaksanakannya. Akan tetapi selain dampak positif yang didapatkan, juga dampak negatif yang lebih banyak ditimbulkan. Kita harus memprioritaskan segi positf daripada segi negatif. Banyak orang yang terpanggil untuk sholat tarawih berjamaah tetapi dengan motivasi hiburan dangdut, berarti niatnya untuk sholat menjadi tidak baik

Marilah kita lebih memperhatikan dan lebih peduli terhadap hal-hal seperti ini yang menyangkut masalah umat islam. Dan semoga acara seperti ini tidak terlaksana lagi karena dirasakan banyak madhorotnya. Janganlah mencampuradukkan antara yang haq dengan yang bathil, sebab itu sudah jelas jalannya. Mungkinkah, kita bisa dengan mudahnya mengatakan dakwah, meneriakkan kalimat Bang Haji “Laa Ilaa Ha Illallah…..” sambil bejoged, dan lenggak-lenggok para wanita seksi? Kalau betul, kita lebih hina di hadapan Allah SWT. Wallaahu a”lam bish-showab. *). Penulis tinggal di Bandung.
Share this article

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: