“Talbis Iblis”

Sabtu, 02 Juli 2005
Tulisan Dr. Syamsuddin Arief, di hidayatullah.com, “DIABOLISME INTELEKTUAL” menyulut tanggapan keras aktivis Islam Liberal. ‘Diabolisme’, berarti pemikiran ala Iblis. Baca CAP Adian Husaini ke-106
Dr. Syamsuddin Arief, alumni ISTAC yang sedang mengambil doktor keduanya di Frankfurt Jerman, beberapa waktu lalu menulis satu artikel yang menghebohkan di hidayatullah.com. Judulnya: DIABOLISME INTELEKTUAL.
Artikel ini segera menyulut tanggapan keras dari seorang aktivis Islam Liberal, yang segera
menuduh bahwa orang seperti Dr. Syamsuddin Arief cenderung punya kelainan jiwa (mental disorder), karena merasa dirinya paling benar dan paling bersih.
Melalui artikelnya, Syamsuddin menjelaskan, bahwa “diabolisme” berarti pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis ataupun pengabdian padanya.


Dalam kitab suci al-Qur’an dinyatakan bahwa Iblis dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Iblis tidaklah atheis atau agnostik. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan.
Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen. Tetapi, meskipun ia tahu kebenaran, ia disebut ‘kafir’, karena mengingkari dan menolak kebenaran.
Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang. (QS 2:34, 15:31, 20:116); ia sombong dan menganggap dirinya hebat (QS 2:34, 38:73, 38:75). Iblis juga melawan perintah Tuhan.
Allah berfirman: “Dia adalah dari golongan jin, maka ia durhaka terhadap perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain kepada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang
yang zalim” (QS 18:50).
Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut sebagai staf dan
kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang dicontohkannya. Iblis adalah ‘prototype’ intelektual
‘keblinger’.
Sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an, sejurus setelah ia divonis, Iblis mohon agar ajalnya
ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan segala cara.
“Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu, kavalri maupun infantri. Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka. Janjikan mereka [kenikmatan dan keselamatan]!” Demikian difirmankan kepada Iblis (QS 17:64).
Maka Iblis pun bertekad: “Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka!” (QS 7:16-17).
Maksudnya, menurut Ibnu Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan anti terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama (Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, cetakan Beirut, al-Maktabah al-Asriyyah, 1995, vol. 2, hlm. 190).
Selanjutnya, Syamsuddin Arief menelaborasi ciri-ciri cendekiawan bermental Iblis. Pertama, selalu
membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir’aun berikut hulu-balangnya. Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya.
Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu.
Kedua, cendekiawan bemental Iblis itu “bermuka dua”, menggunakan standar ganda (QS 2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha’).
Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur’an : “Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya” (QS 7:146).
Ketiga, ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta.
Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq. Sebaliknya, yang haq digunting dan di’preteli’ sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah.
Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh.
Al-Qur’an pun telah mensinyalir: “Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka” (QS 22:3-4).
Demikianlah peringatan dan paparan Dr. Syamsuddin Arief tentang ciri-ciri cendekiawan yang bermental Iblis. Peringatan ini sepatutnya menjadi renungan serius bagi para cendekiawan yang benar-benar memiliki niat ikhlas untuk mencari kebenaran, dan bukan saja mencari popularitas dan keuntungan duniawi.
Apa yang dilakukan Syamsuddin Arief bukanlah hal baru. Banyak ulama sebelumnya yang telah memberikan peringatan serupa, tentang bahaya taktik dan tipudaya Iblis dalam menyesatkan umat manusia.
Masalah ini begitu penting, sebab, memang Iblis adalah musuh manusia yang nyata, bukan musuh yang tersembunyi. Iblis dan kroni-kroninya seharusnya diketahui dengan jelas ciri-cirinya.
Imam al-Ghazali menulis satu Kitab Khusus tentang masalah Iblis dan tipudayanya, yang diberi judul
“Talbis Iblis”. Kitab dengan judul yang sama juga ditulis oleh al-Hafizh Ibnul Jauzy al-Baghdady. Dalam Kitabnya, Ibnul Jauzy mengingatkan, bahwa ‘talbis’ artinya “menampakkan kebatilan dalam rupa kebenaran”.
Ibnul Jauzy menjelaskan talbis Iblis terhadap berbagai jenis agama dan aliran masyarakat, yang tumbuh dan berkembang ketika itu.
Talbis Iblis, atau tipudaya setan, yang hobinya mengaburkan yang haq dan bathil sangatlah perlu
diwaspadai oleh manusia. Apalagi, jika yang melakukan talbis itu orang-orang yang dikategorikan ke dalam golongan intelektual atau cendekiawan.
Mereka dengan segala kemampuan ilmunya tidak ragu-ragu mengikuti jejak Iblis, memutarbalikkan yang haq menjadi bathil dan yang bathil menjadi haq.
Di era kebebasan informasi saat ini, kaum Muslim menghadapi masalah yang sangat pelik, yang belum pernah dihadapi di masa-masa lalu. Nyaris setiap hari, media massa melakukan penjungkirbalikan nilai-nilai kebenaran, dengan menggunakan slogan-slogan atau istilah-istilah yang indah, seperti pluralisme, kebebasan, hak asasi, pencerahan, dan sebagainya.
Paham penyamaan semua agama yang jelas-jelas keliru dibungkus dengan istilah indah: “pluralisme”. Paham penyebarluasan kebebasan amoral dalam bidang perzinahan dan homoseksual dikemas dengan bungkus rapi bernama “hak asasi manusia”.
Dengan tipudaya Iblis, khamar diiklankan dan dijadikan kebanggaan oleh sebagian manusia modern, perzinahan dilegalkan dan tidak dipersoalkan kebejatannya, sementara poligami diopinikan sebagai bentuk kejahatan.
Rasulullah saw pernah mengingatkan: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan. Pada waktu itu di pendusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan dusta.” (HR Ibnu Majah)
Di zaman globalisasi saat ini, diakui, bahwa informasi adalah kekuatan yang paling dahsyat.
Penguasa informasi adalah yang menguasai otak manusia saat ini. Mereka dengan leluasa berpotensi
memutarbalikkan fakta dan kebenaran.
Di sinilah talbis Iblis dapat terjadi. Yang haq dipromosikan sebagai kebatilan, dan yang bathil dikampanyekan sebagai al-haq. Banyak motif para pelaku talbis Iblis. Bisa karena memang ada kesombongan, ada penyakit hati, atau karena motif mencari keuntungan duniawi.
Dalam situasi seperti ini, peringatan Dr. Syamsuddin Arief tentang ciri-ciri pelaku talbis Iblis di kalangan intelektual, sangat relevan untuk direnungkan. Sangatlah tidak tepat jika dia dikatakan mengalami gangguan jiwa.
Tugas para Nabi dan pewarisnya (para ulama) adalah menjelaskan mana yang haq dan mana yang bathil, menyeru umat manusia, agar tidak mengikuti jalan-jalan Iblis, jalan yang sesat, yang mengantarkan manusia kepada api neraka.
Jika ada cendekiawan yang tugasnya senantiasa mengaburkan nilai-nilai kebenaran dan
kebatilan, maka ia perlu melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri. Allah SWT sudah menjelaskan: “Tidak ada paksaan (untuk masuk) agama Islam. Sungguh telah jelas yang benar dari yang salah.” (QS 2:256).
Sikap merasa benar sendiri terhadap kebenaran agama Islam dan yakin dengan kebenaran al-Islam adalah sikap yang sudah seharusnya. Dalam hal ini tidak boleh ada keraguan. Yang haq harus dikatakan haq dan bathil harus dikatakan bathil. Itulah tugas setiap cendekiawan Muslim.
Allah juga mengingatkan: “Al-haq itu dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.” Sikap meragu-ragukan terhadap kebenaran adalah sikap dan perilaku Iblis, yang tidak
perlu dicontoh oleh kaum Muslim.
Catatab Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini, MA, adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan http://www.hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: