Asa Baru di Libya

Sabtu, 22 Oktober 2011 pukul 10:39:00

Oleh Hery Sucipto
Direktur Pusat Kajian Timur Tengah (PKTT) FISIP UMJ
Peneliti The Fatwa Center
Wasekjen PP Pemuda Muhammadiyah

Meninggalnya pemimpin Libya, Muamar Qadafi, di tangan pasukan oposisi disambut sukacita rakyat negeri itu. Para pemimpin dunia pun menyambut baik hal tersebut dan menyebutnya sebagai langkah maju terkait perjuangan rakyat Libya untuk membebaskan diri dari belenggu kekuasaan despotis selama empat puluh tahun (Republika, 21/10).

Keberhasilan menumbangkan rezim Qadafi ini menjadi rangkaian panjang revolusi Arab yang biasa disebut sebagai Arab Spring, yang meletus sejak Desember 2010 lalu. Dua pemimpin lalim lainnya di dunia Arab, yakni Hosni Mubarak di Mesir dan Zein Abidin di Tunisia, telah lebih dahulu tumbang oleh kekuatan rakyat. Fenomena ‘rakyat bergerak’ menjatuhkan rezim otoriter ini tampaknya akan terus berlanjut di kawasan Dunia Arab dan Timur Tengah, mengingat gejolak intensif massa terus berlangsung, seperti di Suriah, Yaman, dan dalam skala lebih kecil di Bahrain, Aljazair, Sudan, Maroko, dan lainnya.

Awal dan akhir
Muamar Qadafi atau bernama lengkap Muamar Muhammad Abu Minyar al-Qadafi lahir di distrik Sirte, Libya Timur, 7 Juni 1942. Ia berasal dari suku al-Qadhdhaaf. Nama Qadafi adalah nisbah dari nama sukunya. Pada 1965, Qadafi memasuki Akademi Militer Kerajaan Libya. Ia tergolong tentara muda yang sangat agresif dan relatif cerdas.

Dengan kecerdasan dan kelincahan itu, ia mampu menyedot perhatian khusus para petinggi militer saat itu dan mendapat catatan khusus dari penguasa Libya, Raja Idris. Pusat pemerintahan kerajaan kala itu di Benghazi. Namun, tampaknya Qadafi tak cukup dengan label itu. Baginya, mendapat tempat tersendiri di mata pemimpin Libya tidaklah cukup. Maka hasrat berkuasa pun muncul. Pada satu kesempatan di tahun 1969, Qadafi yang kala itu berpangkat kolonel, memimpin kudeta militer dan menangkap Raja Idris serta keluarganya.

Pusat pemerintahan pun ia pindah sementara di Sirte, sebelum akhirnya menetapkan Kota Tripoli sebagai ibu kota dan pusat pemerintahan hingga saat ini. Selain itu, bentuk negara kerajaan ia ubah menjadi Jamahiriyah Libiyyah As-Sya’biyyah (Republik Sosialis Libya) dengan pusat kekuasaan tunggal di tangan Qadafi.

Buku Hijau (Kitabul Akhdhar) yang ditulis Qadafi dijadikan Kitab Induk (UUD) negara Libya. Dalam bukunya itu, Qadafi berusaha menggabungkan prinsip Islam, sosialisme, dan demokrasi menjadi satu doktrin memerintah. Tapi faktanya, ia memimpin dengan tangan besi. Qadafi adalah sumber hukum tunggal di negeri kaya minyak itu.

Karena itulah dapat dipahami jika kelompok masyarakat yang paling getol dan mengobarkan revolusi melengserkan Qadafi berasal dari rakyat di Provinsi Benghazi. Kekuasaan Qadafi diraih dan bermula dari Benghazi, namun perlawanan menentangnya juga berawal dan dipelopori massa dari propinsi itu.

Politik balas dendam nampaknya melandasi perlawanan terhadap sosok kharismatik. Ciri khas yang menandai politik balas dendam di antaranya adalah pembasmian etnis kelompok yang kalah. Selama berkuasa, Qadafi menganaktirikan suku atau yang berasal dari Benghazi. Hal ini semakin memunculkan kebencian dan apatisme masyarakat Benghazi terhadap kepemimpinan Qadafi.

Empat dekade memerintah tak mudah bagi warga Benghazi menjalani kehidupannya. Meski pendapatan rakyat negeri itu tergolong tinggi, yakni 14.000 dollar AS/tahun, namun sebagian besar rakyat Libya justru miskin. Seperti rakyat Papua yang SDA-nya kaya raya, namun rakyatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Kamis (20/10) di kota kelahirannya, Sirte, Qadafi mengakhiri kepemimpinanya setelah digoyang gelombang aksi rakyat sejak Februari lalu hingga akhirnya terbunuh di tangan pasukan oposisi NTC (Dewan Transisi Nasional) Libya.

Asa baru
Dengan meninggalnya Qadafi, rakyat Libya menyebutnya sebagai kemenangan rakyat, kemenangan keadilan atas kezaliman. Meski demikian, mestinya rakyat Libya tidak boleh terlelap dan terlena dengan kemenangan tersebut. Sebab, kesuksesan melengserkan Qadafi beserta anaknya, Moktasim Qadafi, dan beberapa petinggi militer loyalis pemimpin flamboyan tersebut, adalah babak baru perjuangan sesungguhnya menata dan membangun kembali negeri petrodolar tersebut dari puing-puing akibat perang selama delapan bulan.

Satu pekerjaan besar telah selesai dan kini memasuki pekerjaan berikutnya, yakni membangun Libya. Paling tidak, dengan jatuhnya rezim Qadafi membuka asa atau harapan baru bagi terciptanya kehidupan Libya yang lebih demokratis, transparan, terbuka, dan modern. Dukungan dunia internasional, seperti AS, Uni Eropa, dan PBB, lepas dari kepentingan terselubung di baliknya, menjadi modal penting bagi Libya untuk bangkit kembali.

Persatuan dan rekonsiliasi di antara seluruh kelompok dan elemen rakyat Libya menjadi prasyarat mutlak merealisasikan harapan baru tersebut. Tidak mudah memang, sebab dalam konteks ini rakyat Libya yang terdiri dari banyak suku dan ashobiyah (rasa kesukuan) yang tinggi, berpotensi melahirkan raja-raja kecil yang ingin mengatur dirinya sendiri. Jika tidak pandai mengelola dan mengaturnya, justru akan menjadi hambatan tersendiri membangun Libya yang modern tersebut.

Tantangan lain muncul dari kelompok milisi rakyat yang selama ini dipersenjatai melawan rezim Qadafi. Dalam konteks ini, tidak mudah melucuti paramiliter ini dan mau mengembalikan supremasi hukum dan militer kepada penguasa baru, setidaknya dalam waktu yang sesegera mungkin. Kerepotannya, di banyak negara, pascapemberontakan yang berhasil menumbangkan rezim despotis berkuasa, para milisi ini sulit dilucuti. Ini tentu menjadi PR besar. Salah menyelesaiknnya, bisa berbalik menjadi bom waktu di masa mendatang.

Jadi, peluang dan tantangan mengisi harapan baru itu akan selalu hadir. Karena itu, membangun Libya yang maju, demokratis, dan modern harus diletakkan pada konteks rakyat Libya itu sendiri. Komitmen dan pemahaman yang mendalam bahwa keberhasilan hakiki dan sesungguhnya hanya dapat diraih dengan proses-proses kerja rakyat bersama pemimpinnya dengan keringat sendiri dan bukan dengan belas kasihan serta bantuan pihak asing haruslah menjadi titik dan dasar spirit setiap rakyat dan pemimpin baru (NTC) Libya.

Sebab, menggantungkan dan meletakkan kepentingan bangsa Libya kepada pihak luar/asing selain hanya akan menambah rumit situasi, bahkan boleh jadi membawa babak kelam baru bagi Libya, juga bukan solusi tepat membangun Libya. Itu semua memang bukan suatu pekerjaan yang mudah, tapi harus dimulai, saat ini dan mulai dari kekuatan sendiri.

http://republika.co.id:8080/koran/24/146051/Asa_Baru_di_Libya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: