Menerka Libya

Endang Mintarja
Dosen STIE Ahmad Dahlan, Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

You can’t blame Qadafi for Thinking he was one of the good Guys (The Independent, 21 Oktober 2011). “Anda tidak bisa salahkan Qaddafi yang berpikir bahwa ia adalah salah satu orang yang baik”. Itu adalah judul artikel Robert Fisk seorang jurnalis asal Inggris yang dimuat harian terkenal The Independent, yang agaknya bersimpatik akan kematian Qadafi dalam keadaan mempertahankan harga diri dan martabatnya. Dia memenuhi janjinya untuk tidak melarikan diri ke luar Libya di tengah ancaman pemberontak National Transitional Council (NTC) dukungan Barat dan menunaikan sumpah untuk mati di tanah kelahirannya.

Dalam tulisannya, Fisk juga menjelaskan alasan bahwa Barat tidak bisa menyalahkan Qadafi karena pikiran dan tindakan Qadafi terutama pada para oposannya sebagai akibat sikap (strategi yang diajarkan) Barat selama ini (pasca-Qadafi membuka diri). Hal ini terungkap berdasarkan temuan Human Right Watch di gedung Keamanan Luar Negeri Libya di Tripoli yang mencakup sejumlah dokumen rahasia hasil korespondensi CIA dan M16 Inggris periode 2002-2007 (afp, 3/9).

Revolusi dan coup
Kolonel Muamar Qadafi membangun rezimnya dengan sebuah revolusi dan dihabisi dengan revolusi pula. Bedanya, revolusi Alfatih 1 September 1969 yang mengantarkan Qadafi ke puncak kekuasaan dilakukan secara mandiri oleh beberapa perwira tentara dalam negeri (Unionist Free Officers/UFO) tanpa campur tangan asing, tidak mengakibatkan pertumpahan darah, dan mengantarkan pada kemandirian bangsa Libya.

Sedangkan revolusi NTC sebaliknya, disokong oleh kekuatan asing (NATO), menumpahkan darah, dan hilangnya ratusan ribu nyawa rakyat Libya, dan pemberontak NTC mengantarkan rakyat Libya kembali di bawah bayang-bayang kepentingan asing.

Adapun persamaannya, kedua revolusi ini berhasil menumbangkan diktator dan mengganti sistem tata negara dan konstitusinya sekaligus. Dari kerajaan (monarki Raja Idris) ke sosialisme (demokrasi terpimpin Qadafi) dan kini katanya akan menuju demokrasi liberal ala Barat plus hukum Islam, apa bisa?

Menurut Mahmoud Ayoub seorang Guru Besar Temple University AS, Qadafi sendiri dengan jelas dan tegas membedakan antara revolusi dan kudeta. Kudeta merupakan aksi politik dari sebuah rezim, di mana hanya sekadar terjadinya perpindahan kekuasaan dari satu rezim diktator kepada rezim diktator lainnya. Sedangkan revolusi, sangat berbeda, karena ia sebuah usaha untuk mereorganisasi sosial menuju pada rencana baru dan tujuan-tujuan yang ideal (Ayoub, 1987).

Walaupun ternyata Qadafi juga menjadi diktator dalam wajah baru sosialisme setelah tersingkirnya kediktatoran Raja Idris, dia sanggup menghantarkan bangsanya pada kemandirian dan kesejahteraan (minus kebebasan politik). Perumahan, sandang, pangan, kesehatan, dan pendidikan ditanggung negara. Lebih-lebih setelah embargo Ekonomi dicabut sekitar 2003, kesejahteraan Rakyat Libya. Namun, di tengah puncak kemakmuran itulah Libya digoncang pemberontakan yang disokong Barat yang sedang menghadapi krisis ekonomi.

Revolusi Alfatih memang sebagai perebutan kekuasaan yang tidak berdarah dan bahkan hanya mengeluarkan beberapa letusan senjata api yang tidak menimbulkan korban jiwa. Para petinggi militer proraja ditangkap, sedangkan Raja Idris pada saat itu sedang berada di Turki (versi lain menyebutkan dalam keadaan sakit kabur ke Yunani). Setelah itu, Qadafi melanjutkan salah satu target utama revolusi untuk membebaskan Libya dengan mengusir keberadaan dominasi Inggris dan Amerika.

Sebelum revolusi, masyarakat Libya merupakan suku-suku yang berwawasan sempit. Oleh karena itu, semua bentuk partisipasi publik tidak berdasarkan kepentingan rakyat banyak, akan tetapi berdasar pada kepentingan pribadi, kelompok keluarga, atau kepentingan suku. Hal yang lebih memperparah keburukan sistem kerajaan ini adalah terjadinya korupsi yang sama sekali tidak terkontrol, nepotisme, penyimpangan administrasi, dan penyelewengan fiskal (El-Fathaly and Palmer, Political Defelovment and Social Change in Libya, 1969).

Revolusi NTC
Sebelum revolusi NTC terjadi, diawali dengan demonstrasi anti-Qadafi pada 17 Februari 2011, akhir Februari atau sekitar awal Maret yang dimotori oleh para tentara pembelot, sebenarnya upaya menjatuhkan Qadafi dan sekaligus membunuhnya telah diupayakan berkali-kali oleh pemberontak. Pada 1969, para loyalis monarki Raja Idris mengontak Inggris untuk membunuh Qadafi dengan memanfaatkan para tahanan politik yang akan dibebaskan, namun gagal setelah diskusi dengan Amerika.

Kemudian pada 1976, televisi pemerintah Tunisia memberitakan selamatnya Qadafi dari serangan bersenjata. Pada 1981, Prancis mengadakan persekongkolan dengan Mesir untuk membunuh Qadafi, namun gagal. Lalu pada 1986, Amerika serikat di bawah Ronald Reagen membombardir Tripoli tepatnya kediaman Qadafi di Bab Al-Aziziya, mirip seperti tahun ini. Namun, tidak berhasil karena menurut CIA pasukan pemberontak saat itu belum terkoordinasi dan masih seperti kumpulan anak Pramuka.

Banyak lagi upaya pembunuhan Qadafi yang tidak berhasil. Terakhir pada 1998, kelompok militan Islam juga menyerang konvoi Qadafi di dekat kota Dirnah, namun Qadafi selamat berkat pengorbanan seorang pengawal Amazon yang melindunginya. Dalam kejadian ini ia hanya mengalami luka-luka.

Dengan demikian, revolusi NTC sesungguhnya bukan rencana dadakan, namun tindakan persekongkolan yang terencana sejak jauh-jauh hari melalui berbagai percobaan pembunuhan dan pemberontakan yang gagal sebelumnya. Kesalahan fatal Qadafi ialah dia mempercayai penuh ‘anjing yang pernah menggigitnya’ untuk masuk ke wilayahnya secara bebas dengan membuka hubungan diplomatik kembali dengan negara-negara yang jelas-jelas berambisi mengeruk kekayaan negerinya. Maka, kurang dari 10 tahun semenjak dibukanya hubungan diplomatik dengan negara-negara tersebut, rezimnya berakhir bahkan nyawanya dan sebagian besar keluarganya melayang dihabisi secara brutal pada 20 Oktober 2011 di Barat Sirte, kota kelahirannya.

Tanda tanya
Berbeda dengan revolusi Alfatih yang dia pimpin, revolusi NTC memakan banyak korban nyawa di kedua belah pihak. Kemandirian Libya sebagai sebuah bangsa pun menjadi tanda tanya. Apakah Libya akan bernasib seperti Afganistan atau Irak yang dilanda perang saudara dan teror yang tak berkesudahan (Hasyim Muzadi, Republika 24/9).

Ingat, para loyalis Qadafi masih eksis. Ketika pemberontak masuk Sirte, sebagian besar penduduknya memilih mengungsi keluar dari kota tempat tinggalnya karena mereka adalah suku-suku yang sangat merasakan kenyamanan rezim Qadafi.

Semenjak pemberontakan NTC dimulai, di Libya terdapat tiga kekuatan yang masing-masing dari mereka memegang senjata; kekuatan pemberontak yang menjalin komunikasi dengan NATO, Islam militan anti-Qadafi, dan terakhir loyalis Qadafi yang kini menjadi minoritas. Ketiga kekuatan itu terdiri dari berbagai suku yang dulu susah dipersatukan karena tiap suku merasa lebih berhak atas kekuasaan negara dan kekayaannya.

Kalau Libya terhindar dari penderitaan seperti Afganistan atau Irak, maka kemungkinan berikutnya adalah Libya dijadikan Indonesia, di mana rakyat Libya secara politik berkuasa di negerinya sendiri, tapi tidak secara ekonomi. Hal itu disebabkan pemberontakan NTC berhasil berkat jasa besar NATO yang terdiri dari negara-negara maju kapitalis serakah, menerapkan standar ganda politik luar negeri, dan mempunyai hobi aneh yang berbahaya: perang.

Jika pemerintahan baru tidak tunduk pada keserakahan ekonomi NATO, dengan gampang faksi-faksi yang ada di Libya bisa dihasut untuk perang saudara. Hugo Chavez, Presiden Venezuela sekutu setia Qadafi, berujar, NATO bisa mencari kelompok baru yang mau jadi ‘boneka’ dan ‘manekin’ (boneka untuk menggantung pakaian di dalam etalase).

http://republika.co.id:8080/koran/24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: