Saddam-Qadafi di Media Barat

A Makmur Makka
Pengasuh Media Watch The Habibie Center

Ketika saya membaca dan menonton di televisi mengenai peristiwa wafatnya Saddam Husein di Irak dan Muamar Qadafi di Libya, dua tokoh yang selalu menarik perhatian masyarakat dunia, saya selalu berkata bahwa tragedi yang menimpa tokoh tersebut dengan dinastinya, biar merekalah yang menanggungnya dalam sejarah dan di akhirat. Tetapi, jika saya menonton berita mengenai kedua tokoh tersebut sangat dilebih-lebihkan, prasangka dan sikap kritis saya mulai muncul. Apalagi, setelah saya perhatikan, sumber berita yang dikutip media di Indonesia banyak dari media dan kantor berita besar yang berpangkalan di Amerika Serikat dan Eropa. Saya mulai berpikir mengenai distorsi, bias, propaganda, dan sejenisnya, yang ternyata juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan media di Amerika Serikat.

Berita dan hiburan
Sejak kelahiran CNN , berita dan hiburan telah berkumpul menjadi satu. Itulah yang sering disebut newtainment-definisi yang saya kutip-berfokus pada penyajian fakta-fakta cepat dan dalam gaya ‘mencolok’ (flashy). Singkatnya, sebuah berita yang sudah dijadikan entertainment (hiburan). Perang Teluk II ternyata telah menjadi awal yang ideal untuk menyempurnakan apa yang disebut newtainment.

Menurut penelitian Andrew M Lindner, mahasiwa pascasarjana dari Penn State, mengenai berita Perang Teluk, disimpulkan bahwa mayoritas pemberitaan mengenai Perang Teluk terlalu berat pada pengalaman para perajurit, sementara luput dari pemberitaan adalah dampak dan efek invansi terhadap rakyat Irak. Berita perang hanya dijadikan anekdot, tidak ada analisis, dan kedalaman peliputan.

Ini dibuktikan juga ketika seorang wartawan yang ikut dalam Perang Teluk bercerita bahwa seorang temannya ditayangkan menggambar sebuah peta di atas pasir dengan memakai masker antigas beracun. Sebenarnya waktu itu tidak ada apa-apa, hanya untuk mengesankan kepada pemirsa bahwa perang itu menarik. Itu pula yang terjadi ketika tayangan meruntuhkan patung Saddam mendapat porsi yang besar dan berulang-ulang.

Saya pernah mengutip Edward S Herman yang dalam bukunya Triump of the Market (1995) menulis sebagai berikut: Selama Perang Teluk, akses wartawan sepenuhnya tertuju ke pejabat militer dan disensor ketat. Karena itu, berita yang disebarkan pemerintah (AS) sangat khas. Tujuannya untuk mengarahkan pemberitaan mengenai Perang Teluk, misalnya, hanya berkisar mengenai sistem persenjataan baru yang dimiliki pasukan Amerika. Berita diusahakan memberikan kesan bahwa perang ini berlangsung sangat bersih. Perang ini tidak banyak menimbulkan penderitaan manusia, perang sangat terkontrol oleh komandan di medan pertempuran.

Salah seorang panglima perang dalam Perang Teluk, Jenderal Norman Swarzkopf, pernah ditayangkan televisi berkepanjangan hanya untuk memperlihatkan bagaimana serangan peluru kendali satu demi satu ditembakkan ke sasaran militer di Irak. Penonton dibuai dengan kecanggihan mesin perang Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya, tetapi sekali lagi, di balik itu, tidak diberitakan berapa nyawa dan rakyat sipil yang tidak berdosa menjadi korban.

Selama Perang Teluk, berita di medan perang diarahkan hanya untuk memberitakan teknologi canggih Pesawat Siluman dan teknologi persenjataan modern selama berbulan-bulan. Sementara itu, perang yang sangat brutal disembunyikan bahkan dibuat sangat glamor. Saddam dengan detil digambarkan disergap pada persembunyiannya, kemudian digelandang dengan penuh penghinaan.

Yang ditonjolkan mengenai kediktatoran dan perang Amerika melawan ‘iblis’. Tetapi, tidak ada berita, misalnya, mengenai penghancuran sasaran yang bukan sasaran militer, berapa korban sipil yang diakibatkannya, pelanggaran konvensi perang, hak tawanan perang yang dilanggar, dan lain-lain. Pers Barat selama Perang Teluk, total telah menjadi humas yang luar biasa sebuah invansi dan teknologi persenjataan yang tidak seimbang, tetapi dibungkus seperti berita hiburan.

Satu alur
Hanya sedikit berita yang lolos mengenai sistem interogasi dan penyiksaan yang dialami tawanan perang di penjara khusus Guantanamo. Atau berita perwira wanita AS yang melakukan penyiksaan yang luar biasa kepada tawanan pria. Begitu pula ketika tentara Amerika menyerbu rumah persembunyian Usamah bin Ladin, wartawan menulis besar-besaran, tetapi juga banyak dibumbui mengenai istri-istri yang mendampingi Usamah bin Ladin.

Bagi pemirsa di belahan dunia lain, hanya menerima satu alur berita tentang cerita sukses penangkapan Saddam Husein, penembakan Usamah bin Ladin karena hendak melawan dan terakhir, tewasnya secara sadis Muamar Qadafi yang juga dikabarkan hendak melawan, serta hiruk-pikuk dan kibaran bendera kemenangan tentara oposisi.

Tentara Amerika dalam perang menjungkirkan Qadafi di Libya, memang tidak banyak disebut, tetapi peranan pasukan NATO yang dimotori Amerika Serikat ada di balik penggulingan ini. Berapa timbunan dolar yang telah ditaburkan Amerika Serikat untuk mendukung tentara NATO dan opisisi melawan rezim Qadafi tentu akan susah kita cari beritanya. Selama Perang Teluk dan perang ‘pembebasan’ AS dan sekutunya, kultur militerisme yang sebelumnya banyak ditentang di Amerika Serikat menjadi kultur mainstream.

Apa sebenarnya yang terjadi pada media di Amerika? Negara kampiun demokrasi dan ‘kebebasan pers’ itu? Thomas R Dye dalam buku //Whos’s Running America? yang sudah dicetak berulang-ulang dan direvisi, menulis bahwa ketika media di Amerika mengatakan bahwa mereka menurunkan berita yang ‘berimbang ‘ (impartial), objektif, dan tidak rancu (unbias), bisa saja mereka menyadari bahwa-di alam lingkungan di mana mereka hidup (katakanlah di Washington, New York)-masyarakat media, penulis, intelektual, artis, atau apa pun profesi mereka, telah terbangun sudut pandang yang sama (uniformity). Hanya sedikit cara pandang yang berbeda di antara berita televisi dari berbagai media.

Kemasan berita mereka bisa dikatakan ‘paket’ yang sama setiap sore. Namun, sumber kerancuan berita mereka pada dasarnya bukan karena ideologi liberalisme, melainkan perlombaan bagaimana untuk menarik perhatian pemirsa dengan drama, konflik, laga, kisah seperti film Hollywood, dan lain-lain.

Karena itu, kita tetap harus kritis membaca dan menonton tayangan berita yang disebarkan dan bersumber media Barat. Peristiwa dan fakta yang bagi kita menyangkut peristiwa kemanusiaan dan kejahatan terhadap kemanusiaan atau bukan sekadar berita mengenai Saddam dan Qadafi oleh media Barat sengaja dibungkus menjadi sekadar newtainment . Tidak ada peristiwa kemanusiaan yang terjadi di sana. Bagi Amerika, yang terjadi di sana adalah hendak dikesankan ‘perang yang sangat bersih’.

http://republika.co.id:8080/koran/24/146147/Saddam_Qadafi_di_Media_Barat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: