1: 1.027

Agung Nurwijoyo
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia

“Rakyat Palestina menginginkan Gilad lainnya!” Teriakan ini mengemuka dalam perayaan yang terjadi di Kota Yerusalem. Saat itu ribuan rakyat Palestina turun ke jalan menyambut kedatangan ratusan tahanan Palestina yang baru saja dibebaskan dari penjara Israel. Hal ini merupakan bagian kesepakatan pihak Hamas dengan Israel terkait pertukaran satu tentara Israel, Gilad Shalit, dengan 1.027 tahanan Palestina. (Republika, 20 Oktober 2011)

Dalam fase pertama, akan dipulangkan 477 tahanan Palestina. Dan akan dilanjutkan pada fase kedua, di mana 550 akan dibebaskan pada bulan mendatang. Sedangkan, 40 tahanan tidak diperkenankan kembali ke Tepi Barat dan Jalur Gaza sesuai dengan kesepakatan antara Hamas dan Israel. Untuk itu, mereka akan tinggal di pengasingan di empat negara yang bersedia menampung: Suriah (Damaskus), Qatar, Turki (Ankara), dan Yordania (Amman).

Reaksi internal
Kondisi dalam negeri Israel pun memiliki dampak dari proses ini. Beberapa pihak termasuk keluarga dari korban bom syahid yang dilakukan oleh pejuang Palestina memberikan pandangannya terhadap langkah Netanyahu. Mereka menganggap opsi militer yang mungkin untuk mengembalikan Gilad lebih baik daripada harus menukar 1.027 tahanan Palestina terhadap seorang Gilad.

Sebuah polling yang dilakukan oleh Dahaf Institute menunjukkan hal sebaliknya. Sebanyak 79 persen rakyat Israel menginginkan adanya pembebasan terhadap Gilad dengan opsi pertukaran tahanan yang dilakukan terhadap pihak Palestina. Netanyahu pun mengalami tekanan kondisi domestik dengan jatuhnya popularitas Bibi (panggilan Netanyahu) pascademonstrasi besar-besaran yang terjadi di Tel Aviv menyusul tuntutan rakyat terkait dengan peningkatan perekonomian dan kesejahteraan bagi rakyat.

Dalam hubungan antara Hamas dan Israel, persoalan Gilad yang ditawan oleh pejuang Hamas dapat dikatakan sebagai salah satu alat legitimasi serangan militer yang sering dilakukan oleh Israel terhadap wilayah Gaza. Sejak kejadian itu, Israel berkali-kali membombardir Jalur Gaza dengan alasan untuk membebaskan Gilad. Ini adalah tindakan yang sepintas logis, tapi sangat tidak fair.

Blokade yang dilakukan Israel terhadap Gaza sejak 2006, termasuk dengan invasi besar-besaran lewat operasi Cast Lead, dijalankan dengan salah satu alasan untuk membebaskan seorang tentara Israel bernama Gilad Shalit. Banyak lagi tindak kekerasan lain yang dijalankan Israel dengan alasan serupa.

Bagi Hamas, hal ini merupakan kemenangan dalam diplomasi kontra militer yang dilakukan oleh Hamas terhadap Israel. Kedatangan pejuang Palestina kembali ke tanahnya merupakan kembalinya para pahlawan (wawancara Ismail Haniyah, PM Hamas).

Proses pertukaran ini dapat dikatakan sebagai salah satu kemenangan di pihak Palestina. Khusus bagi Hamas, ini menunjukkan keberadaan mereka senantiasa menjadi pertimbangan serius dan diposisikan sebagai ancaman laten bagi Israel. Tindakan Hamas cenderung mendapatkan quick response dari Israel dibandingkan manuver yang dilakukan oleh Fatah.

Mendukung rekonsiliasi
Dalam kondisi internal Palestina, keberhasilan diplomasi Hamas ini berdampak pada terbukanya ruang untuk menyuarakan satu wilayah Palestina. Presiden Palestina Mahmud Abbas memberikan respons positif atas kedatangan para pejuang Palestina ke Tepi Barat. Bendera Fatah bersanding dengan bendera Hamas di bawah satu naungan bendera Palestina.

Meskipun rekonsiliasi nasional tetap menjadi satu langkah yang semestinya terwujud di internal Palestina, kondisi hari ini memunculkan satu posibilitas yang positif. Memang, antara Hamas dan Fatah punya garis perjuangan yang berbeda dan berbeda pula pandangan keduanya terhadap keberadaan Israel. Bahwa Israel mengalami kerapuhan, jelas sekali terlihat kondisi tersebut memberikan peluang bagi faksi yang ada di Palestina untuk menjalankan rekonsiliasi yang produktif.

Israel berhadapan dengan gagasan PLO untuk meminta PBB menjadikan Palestina sebagai negara berdaulat yang menjadi anggotanya. Israel pun berhadapan dengan kekuatan Hamas yang langkahnya menjadi perhatian serius bagi Israel. Israel menghadapi ancaman dari kondisi domestiknya serta kebijakan kontrahumaniter yang kontraproduktif dalam diplomasi multilateral, baik di tingkat negara maupun lembaga nonnegara.

Perilaku ini menjadi 1973-nya Israel. Pada 1973, kita kenal dengan adanya Perang Yom Kippur atau Perang Ramadhan, di mana pada masa itu Israel mengalami kekalahan militer terburuk dalam sejarah yang menimpa wilayah Israel. Tahun 1973, pada masa ini adalah kekalahan diplomasi bagi Israel. Mengambil istilah dari pengamat politik Israel Ari Shavit, kondisi saat ini digambarkannya sedang terjadi pengepungan diplomasi yang mencengkeram Israel.

Hari-hari perkembangan di Palestina menjadi pelajaran berharga bagi kita. Israel memang mampu menahan para pejuang Palestina, namun hakikatnya mereka hanya menahan fisik para pejuang Palestina. Israel terbukti tidak mampu membelenggu jiwa merdeka yang dimiliki oleh para pejuang Palestina (wawancara Marwan Barghouti pada Januari 2006).

http://republika.co.id:8080/koran/24/146332/1_1_027

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: