NUKLIR IRAN DAN KEPANIKAN ISRAEL

Senin, 07 November 2011 pukul 14:37:00

Oleh Teguh Setiawan

Sejak 2006, Iran tahu dirinya setiap saat menghadapi serangan AS dan Israel.

Lebih lima tahun sejak Tembok Berlin runtuh dan Jerman kembali bersatu, Prancis melanggar moratorium pengujian senjata nuklir. Jacques Chirac, presiden Prancis saat itu, mengumumkan negaranya akan menggelar serangkaian uji senjata nuklir di Polinesia, negeri jajahannya di Samudra Pasifik.

Dunia bereaksi. Masyarakat dunia memboikot produk negeri itu, tapi Prancis tidak peduli. Pada 1 Oktober 1995—lima bulan setelah Chiraq secara resmi mengumumkan rencananya—pengujian pertama dilakukan di bawah Atol Muroroa.

Tes berikutnya dilanjutkan pada 1 Oktober 1995. Berikutnya pada 27 Oktober, 22 November, dan 27 Desember 1996, dan terakhir 27 Januari 1996. Uji coba nuklir itu mengakibatkan kerusakan jangka panjang Atol Muroroa.

Radiasi merembes ke dalam retakan Atol dan menyebabkan penyebaran badai radioaktif ke kawasan sekeliling. Dunia terutama pencinta lingkungan hidup menggelar aksi protes besar-besaran, tapi Prancis tutup mata dan telinga. Prancis, sekali lagi, tak peduli.

Prancis mengatakan uji coba sukses dan mereka mendapatkan data untuk pengembangan senjata nuklir lanjutan tanpa perlu serangkaian uji coba tambahan lagi. Pertanyaannya, untuk apa pengembangan senjata nuklir lanjutan, bukankah Perang Dingin telah berakhir dan Eropa Barat relatif tidak lagi menghadapi ancaman dari Timur, alias Uni Soviet dan sekutunya?

Dalam sejarah, Prancis tidak pernah merasa terancam dari Timur. Ancaman abadi Prancis adalah tetangganya: Jerman. Ketika Jerman bersatu, Prancis me lihat dirinya berada dalam ancaman se rius. Mereka membutuhkan senjata yang bisa melindungi. Pilihannya adalah pengembangan senjata nuklir teknologi baru.

Ini bukan kali pertama Prancis melakukannya. Usai Perang Dunia I, Andre Maginot meyakinkan Pemerintah Prancis akan pentingnya membangun garis pertahanan sepanjang perbatasan Jerman untuk melindungi diri. Kelak benteng itu dikenal dengan nama Garis Maginot. Setelah Perang Dunia II, Prancis masih melihat Jerman yang saat itu telah terpecah sebagai ancaman. Mereka tidak lagi membangun benteng, tapi menjadi negara paling aktif mengembangkan senjata nuklir sejak 1950.

Senjata nuklir menjadi satu-satunya pilihan bagi negara yang menghadapi ancaman dari luar. Itulah yang hendak di upaya kan Irak, Libya, Korea Utara, dan Iran. Iran membutuhkan senjata itu sejak penggulingan Shah dan terbentuknya Republik Islam Iran pada 1979. Kebutuhan ini kian mendesak setelah berakhirnya Perang Dingin dan AS yang terusir dari Iran pascakejatuhan Shah menjadi kekuatan tunggal.

Terkepung
Di masa Perang Dingin, Iran tidak pernah membayangkan dirinya terkepung oleh sekutu AS. Kini, setelah dua dekade Perang Dingin berakhir, negeri para mullah itu menemukan dirinya terkepung dan nyaris tanpa sekutu kuat di sekelilingnya.

Iran berbatasan langsung dengan Afghanistan di utara; Pakistan di tenggara; Kuwait dan Arab Saudi di barat daya; Irak di barat; Turki dan Armenia di barat laut; Turkmenistan, Laut Kaspia, dan Azerbaijan di utara.

Afghanistan dan Irak telah jatuh ke tangan AS. Pakistan relatif akan selalu bersedia menjadi pelayan AS. Arab Saudi juga akan bersikap sama. Satu-satunya sekutu Iran di Timur Tengah adalah Suriah. Tapi, pemerintahan Damaskus terus di gun cang demo prodemokrasi dukungan AS.

Hanya Turkmenistan, Armenia, dan Azerbaijan yang relatif bukan sekutu AS dan kemungkinan akan menjadi tempat pelarian bagi para pengungsi jika terjadi perang.

AS bisa menyerang Iran dari mana pun mereka suka, lewat pemboman udara dengan pesawat yang berbasis di kapal induk di Teluk Persia dan Laut Arab atau dari pangkalan NATO di Turki. Jika ingin lebih efektif, AS bisa menempatkan pesawat-pesawat tempurnya di Pakistan, Afghanistan, Irak, Arab Saudi, dan Turki untuk menyerang kota-kota di Iran.

Israel dipastikan akan membantu dengan mengirim pengebom-pengebom jarak jauhnya. Sebagai sekutu AS, Israel memiliki air refueling technology, yang memungkinkan pesawat-pesawatnya menjangkau sasaran yang jauh dari pangkalannya.

Presiden Mahmud Ahmadinejad telah menyadari hal ini. Dalam wawancaranya dengan salah satu media Barat, Ahmadinejad mengatakan, “Bukan kami yang mengepung AS, tapi tentara AS yang mengepung kami. Mereka telah berada sangat dekat dari perbatasan Iran.”

Iran membutuhkan senjata nuklir sebagai solusi mengatasi ancaman dari sekitar seperti Prancis membutuhkannya untuk menghadapi kemungkinan serangan Jerman—meski entah kapan akan terjadi lagi—atau Israel yang membutuhkan rasa aman dari kemungkinan serangan Mesir dan negara-negara Arab di sekelilingnya.

Prancis dan Israel mendapatkannya dengan mudah. Iran harus menghadapi penentangan dari AS dan negara-negara Barat ketika hendak mewujudkan niatnya membangun reaktor untuk memperkaya uranium.

Sejenak melihat ke belakang, Iran sejak lama memiliki keinginan memiliki teknologi nuklir. Pada tahun 1960-an, saat Shah Reza Pahlevi masih berkuasa, Iran berupaya mengembangkan nuklir, tapi tidak mencapai banyak kemajuan. Program ini dihentikan pada 1979, ketika Shah Reza jauh dari kursi kekuasaannya.

Pertengahan 1990, Iran memulai lagi upayanya membangun reaktor nuklir. Washington bereaksi keras dan melakukan semua cara untuk menggagalkannya. Iran mengatakan pengembang an akan dilakukan sesuai aturan Perjanjian Non-Proliferasi (NPT).

AS dan Barat sempat percaya, sampai akhirnya sekelompok pembangkang Iran membeberkan dokumen program nuklir Iran sebenarnya. Akibatnya, Iran saat itu di bawah Presiden Mohammad Khatami menghadapi sanksi serius.

Khatami yang moderat setuju menghentikan program pengayaan uranium dan mengizinkan tim inspeksi Asosiasi Energi Atom Internasional yang terdiri atas Prancis, Inggris, dan Jerman, melakukan pemeriksaan dan melanjutkan perundingan.

Pada 2005, Khatami digantikan Ahmadinejad dari kelompok garis keras. Januari 2006, Ahmadinejad mengumumkan tekadnya melanjutkan program nuklir.

Iran tidak mungkin mendapatkan teknologi nuklir dari Barat. Mereka hanya bisa mendapatkannya dari Rusia dan Moskwa, yang membutuhkan banyak dana untuk pembangunan ekonominya, yang bersedia membantu Iran membangun reaktor nuklir.

Tidak hanya Rusia, Cina juga dikabarkan terlibat dalam pembangunan nuklir Iran. Beijing memang tidak terlibat langsung, tapi sejumlah perusahaan Negeri Tirai Bambu itu ikut dalam pembangunan senjata mematikan itu.

AS berusaha menekan Badan Tenaga Atom International (IAEA) agar segera melakukan inspeksi. Iran kerap menolak desakan IAEA agar membuka fasilitas nuklirnya. Akibatnya, muncul kekhawatiran Iran mampu mempercepat program nuklirnya.

Belakangan, AS mengubah pendekatannya dengan berupaya memperlambat program nuklir Iran. Caranya, dengan terus-menerus mengangkat isu nuklir Iran dan melakukan sabotase. Khusus yang terakhir, Israel dan AS melakukan serangan cyber terhadap industri komputer Iran, yaitu dengan memasukan virus Stuxnex worm.

Januari 2011, intelejen Israel melaporkan Iran tidak akan mampu membuat senjata nuklir sebelum 2015 sebagai akibat penerapan berbagai sanksi terhadapnya. Pejabat AS juga percaya upaya Barat selama ini mampu memperlambat kemampuan Iran memproduksi bom nuklir satu atau dua tahun.

AS dan Israel merasa sukses dengan cyberweapon, namun Ahmadinejad mengatakan serangan itu hanya mengakibatkan kerusakan kecil dan sama sekali tidak mengganggu program nuklir Iran. Di sisi lain, banyak pakar komputer Barat, yakin Iran, telah mampu mengatasi serangan Stuxnex.

Oktober 2011, muncul laporan Iran melakukan penggalian di dekat Qom, kota suci Syiah, dan memindahkan fasilitas pengayaan uraniumnya ke bawah tanah. Kabar ini membuat banyak orang kian yakin Iran akan bisa menghasilkan hulu ledak nukli pada 2012.

Tidak ada yang bisa memastikan apakah Iran benar-benar bisa membuat bom nuklir pada 2012. Namun, rencana Israel menyerang Iran memperlihatkan negeri Yahudi itu panik. Jika mereka yakin Iran baru akan bisa membuat bom nuklir setelah 2015, Tel Aviv tentunya tidak akan merencanakan serangan dalam waktu dekat.

Siap Perang
Dunia masih belum lupa bagaimana Israel menyerang reaktor nuklir Irak di Tammuz pada 1981. Serangan dilakukan menyusul laporan Irak sedang mengembangkan pengayaan uranium dan tak lama lagi akan mampu membuat bom nuklir.

Serangan yang diberi sandi Operation Opera itu berlangsung suskes. Reaktor nuklir Osirak, yang meniru reaktor nuklir Prancis yang bernama Osiris, hancur. Irak harus memulai program nuklir dari nol.

Irak tidak melakukan balasan, tapi Dewan Keamanan PBB mengumumkan bahwa Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengakui reaktor nuklir Irak aman. Bahkan, PBB mengutuk Israel dan mendesak negeri Yahudi itu membuka fasilitas nuklir untuk diawasi IAEA.

Israel mengabaikan resolusi itu dan terus memproduksi hulu ledak nuklir. Banyak pakar nuklir mempekirakan Israel saat ini memiliki 300 hulu ledak cukup untuk membakar Timur Tengah dan Iran.

Iran bukan Irak. Seorang pakar militer AS mengatakan, Israel memiliki kemampuan menyerang Iran, tapi Tel Aviv tidak akan bisa melumpuhkan negeri para mullah. Iran akan memiliki kemampuan melakukan serangan balik skala besar dengan melucurkan peluru kendali Shahab-3, senjata Iran paling mematikan.

Belajar dari pengalaman Irak, Iran diperkirakan telah membangun banyak silo untuk menyimpan rudalnya untuk menjamin bisa melakukan serangan balik. Sejak Ahmadinejad mengumumkan melanjutkan program nuklir, Pengawal Revolusi Iran tak pernah lalai memperhatikan kawasan udara negaranya.

Israel tidak bisa memperlakukan Iran seperti Irak. Iran telah bersiap menghadapi kemungkinan serangan Israel sejak satu dekade terakhir dan kian intensif setelah Ahmadinejad naik ke kursi presiden.

http://koran.republika.co.id/koran/203/147181/NUKLIR_IRAN_DAN_KEPANIKAN_ISRAEL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: