PERANG RAHASIA AS-IRAN

Koran » Teraju
Senin, 07 November 2011 pukul 14:30:00

Oleh Teguh Setiawan

AS dan Israel berusaha membunuh semua ilmuwan nuklir untuk menghentikan program nuklir Iran.

Sejak 1979, atau setelah penggulingan Shah Reza Pahlevi, Amerika Serikat (AS) melancarkan perang rahasia terhadap Iran. Bersama negara-negara Eropa Barat lainnya, AS nyaris tak pernah berhenti melancarkan aksi spionase dan mendiskreditkan Tehran.

Aksi spionase itu meningkat luar biasa pada 2007, atau setahun setelah Mahmud Ahmadinejad—presiden Republik Islam Iran—mengumumkan tekadnya membangun reaktor nuklir. Seperti biasa, AS tidak pernah bergerak sendiri, tapi merekrut sekutunya: Israel, Inggris, Prancis, dan Jerman, untuk terlibat aktif dalam aksi spionase ini.

George Bush, presiden AS saat itu, mengawali aksinya dengan meminta Kongres menyetujui anggaran 400 juta dolar AS untuk mendukung kelompokkelompok etnis pemberontak di Iran dan membiayai sejumlah rencana aksi sabotase program nuklir Iran.

Aksi sabotase meliputi penyelundupan komponen rusak, seperti centrifuge components, ke pasar gelap untuk diseludupkan ke Iran. Agen-agen Barat mening kat kan upaya menginfiltrasi program nuklir Tehran dengan mencoba merekrut ilmu wan Iran yang sedang berada di luar negeri. Tindakan spionase ini relatif berhasil.

Pada 2009, intelejen Inggris dan Prancis mendapat informasi tepercaya akan adanya ekskavasi intensif di Fordow, markas Pengawal Revolusi Iran di dekat Qom, kota suci umat Syiah. Iran diduga sedang melakukan pembangunan rahasia reaktor pengayaan uranium di tempat itu. Penggalian terlihat jelas oleh satelit, tapi hanya manusia yang bisa mengidentifikasi niat Iran melakukan ekskavasi besar-besaran itu. Presiden AS Barrack Obama, PM Inggris Gordon Brown, dan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyampaikan temuannya tentang penggalian di Fordow ke Majelis Umum PBB pada September 2009.

Iran mungkin sulit mengelak dan lebih memilih diam. Rusia, pelindung Iran dari kecaman Barat, dikabarkan marah atas temuan mengejutkan ini. AS merasa sukses. Namun, bagaimana dengan aksi sabotase? Oli Heinonen, mantan kepala inspektur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), mengatakan, dia tidak melihat ada nya bukti langsung sabotase. Ia hanya melihat Iran relatif sedikit mengalami kesulitan, tapi sulit untuk mengatakan bahwa semua itu akibat masalah teknis atau sabotase.

Gholam Reza Aghazadeh, ketua Organisasi Energi Atom Iran, memang pernah mengeluh kepada wartawan di tahun 2006 mengenai adanya tindakan sabotase. Namun, menurut Aghazadeh, Iran yakin bisa mengatasinya dengan membuat sendiri beberapa komponen yang dibutuhkan.

Tidak ada yang percaya Iran bisa membuat sendiri centrifuge dan komponen lainnya di dalam negeri. Sistem kompter di Natanz, salah satu reaktor nuklir Iran, disuplai oleh Siemens—sebuah perusahaan Jerman.

Tahun lalu, sistem komputer Natanz menjadi target serangan Stuxnet, worm (virus) komputer buatan intelejen AS dan Israel yang sengaja dibuat untuk melumpuhkan komputer Iran. Presiden Ahmadinejad, November 2010, mengakui Stuxnet telah menyebab kerusakan serius yang memaksa ilmuwannya menghentikan program pengayaan uranium.

Iran bekerja keras mengatasi masalah ini. Beberapa hari kemudian centrifuge beroperasi lagi. Iran diduga berhasil meng atasi serangan Stuxnet, tapi banyak pakar komputer meragukannya.

Black Operation, demikian pers Barat menyebut perang rahasia yang dilancarkan AS terhadap Iran, tidak sekadar diarahkan ke perangkat keras dan sistem komputer. AS dan Israel sejak 2009 menjadikan ilmuwan Iran sebagai sasaran.

Shahram Amiri, pakar nuklir Iran, lenyap saat menunaikan ibadah haji. Setahun kemudian, Amiri muncul di AS. Dia mengaku telah diculik agen-agen AS. Juli 2010, Amiri kembali ke Tehran sebagai pahlawan.

Pejabat AS mengatakan, Amiri adalah defektor yang diinginkan. Amiri, menurut si pejabat, bersedia membantu AS dan Washington dengan membayarnya lima juta dolar AS.

AS boleh saja mengklaim seperti itu, tapi tidak ada bukti Amiri telah berubah pendirian. Juga tidak ada bukti Amiri telah menjadi agen ganda. Pemerintah Iran pasti tidak bodoh dengan membiarkan Amiri bekerja seperti biasanya tanpa pengawasan ketat.

Pembunuhan Ilmuwan
Amiri bisa saja tidak membuka rahasia program nuklir Iran, tapi sangat tidak mungkin jika dia tidak mengatakan apa pun kepada AS. Pers Barat menduga Iran membocorkan sejumlah nama ilmuwan yang terkait langsung dengan program nuklir Iran.

Awal Januari 2010, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan fisik terhadap ilmuwan nuklir Iran. Target pertamanya adalah Masoud Ali Mohammadi, fisikawan dan pengajar di Universits Imam Hussein. Mohammadi sedang da lam perjalanan ke tempat kerjanya ketika bom yang ditanam di sepeda motor mele dak di depan rumahnya. Ia tewas seketika.

November 2010, pembunuhan dengan menggunakan sepeda motor terjadi secara simultan terhadap dua ilmuwan Iran. Dalam dua kasus ini, pembunuh mengi kuti mobil buruannya dan menempelkan bom di pintu mobil.

Majid Shahriari, ilmuwan dari Organiasi Energi Atom Iran dan penulis paper difusi neutron di reaktor nuklir, terbunuh di tengah keramaian lalu lintas pagi hari. Lainnya, Fereidoun Abbasi-Davani, yang diidentifikasi AS dan Israel sebagai figur penting dalam eksperimen pembangunan hulu ledak nuklir, hanya terluka. Tiga bulan kemudian, Fereidoun Abbasi-Davani dipromosikan sebagai kepala program nuklir Iran.

Ilmuwan ketiga yang terbunuh adalah Darioush Rezaeinejad. Ia tewas dengan tubuh penuh lubang peluru setelah seorang pengendara sepeda motor memberon dongnya dari jarak dekat. Penembakan terjadi di timur Tehran, saat Rezaeinejad sedang berjalan kaki.

Media Iran mengidentifikasi Rezaeinejad sebagai ilmuwan nuklir. Pemerintah Iran mengatakan, Rezaeinejad tidak terlibat dalam program nuklir.

Iran menuduh Mossad, dinas rahasia Israel, berada di belakang semua aksi pembunuhan ini. Mossad merekrut sejumlah pembangkang Iran dan melatihnya di Israel. Informasi terungkap melalui pengakuan Majid Jamali-Fashi, salah satu pembunuh Ali Mohammadi yang tertangkap dan dihukum mati.

Pers Barat menulis pengakuan itu dibuat Majid Jamali-Fashi saat menjalani penyiksaan. Iran yakin pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir masih akan terus dilakukan sampai program nuklir Ahmadinejad gagal total.

Guardian menulis, Black Operation pembunuhan ilmuwan dan serangan terhadap komputer reaktor nuklir hanya bisa memperlambat Iran menghasilan hulu ledak nuklir, tidak menghentikannya. Iran diyakini telah menimbun 4,5 ton uranium yang diperkaya, yang cukup untuk membuat empat hulu ledak nuklir.

Stuxnet, Cacing Penghambat Langkah Iran

Pertengahan 2009, AS menyebarkan Stuxnet worm program virus komputer. Puluhan ribu komputer di 155 negara terinfeksi dan mengacaukan program komputer di seluruh dunia.

Kegaduhan terjadi, tapi paling menghebohkan adalah pengakuan sejumlah pakar bahwa Stuxnet dibuat untuk melumpuhkan sistem komputer Iran yang digunakan untuk pengayaan uranium. Stuxnet diyakini telah menyerang centrifuges nuklir kelima Iran.

Stuxnet mengakibatkan sistem komputer di Reakator Natanz tak terkontrol. Namun, pakar lainnya mengatakan, sasaran Stuxnet adalah Reaktor Bushehr. Virus kali pertama disebarkan ke India, Indonesia, dan Iran, tapi dengan sasaran satu negara, yaitu Iran.

Lebih satu satu tahun setelah virus menyebar, Menlu AS Hillary Rodham Clinton mengatakan, Saya yakin program nuklir Iran mengalami kemunduran sampai beberapa tahun ke belakang. Meir Dagan, orang nomor satu di Mossad, mengatakan kepada Knesset parlemen Israel bahwa Iran meng alami kesulitan teknologi dan baru bisa melakukan pengayaan nuklir pada 2015.

Stuxnet mungkin akan menjadi cyberweapon paling memuaskan. Setidaknya, butuh waktu satu tahun bagi para pakar komputer di seluruh dunia untuk mengidentifikasi dan menemukan virus yang menjangkiti komputer industri.

Guardian memberitakan, Stuxnet kali pertama ditemukan seorang pakar virus komputer perusahaan pertahanan di Belarusia, Juli 2010. Cacing itu diketahui berada di sejumlah komputer milik kliennya yang berasal dari Iran.

Sejak penemuan itu, Stuxnet menjadi objek studi pakar dan peneliti sistem pertahanan. Banyak pakar mengatakan tidak pernah melihat virus seperti itu sebelumnya. Mereka berspekulasi Stuxnet dibuat untuk tujuan tertentu dengan sasaran industri besar.

Salah satu spekulasi menyebutkan, Stuxnet dibuat untuk mencuri data rahasia industri. Namun, Ralph Langner, pakar sistem keamanan industri, menemukan virus itu dibuat dengan seting dasar sistem yang dikembangkan Siemens.

Langner sampai pada kesimpulan target serangan Stuxnet adalah program yang dibuat Siemens. Ia juga mengatakan jika melihat kompleksitas serangan Stuxnet, sasaran si pembuat virus adalah industri bernilai tinggi. Sistem komputer Reaktor Bushehr dibangun oleh Siemens.

Ia juga yakin penularan virus ke Reaktor Bushehr dilakukan melalui JSC AtomStroyExport, kontraktor Rusia yang sedang membantun fasilitas nuklir Iran. Sedangkan Eric Byres, pejabat Tofino Security Chief Technology, mengatakan, Stuxnet dibuat untuk kepentingan spionase.

Pakar lainnya mengatakan, Reaktor Bushehr bukan satu-satunya sasaran. Banyak industri Iran menggunakan sistem komputer yang dibangun Siemens, dan bukan tidak mungkin akan menjadi sasaran serangan. Jika itu terjadi, Iran akan lumpuh.

Siapa Pembuat Stuxnet?
Pers Barat berspekulasi Stuxnet adalah hasil kerja sama pakar komputer AS dan Israel. Si emens tanpa sengaja turut terlibat di dalamnya.

New York Times memberitakan, pada awal 2008, Siemens menjalin kerja sama dengan United State’s Premier Laboratories di Idaho untuk mengidentifikasi kelemahan computer controllers yang dijual untuk meng operasikan mesin-mesin industri di seluruh dunia. Intelejen AS mengidentifikasi sistem buatan Siemens sebagai key equipment fasilitas pengayaan uranium Iran.

Siemens mengatakan, program kerja sama dengan AS merupakan upaya rutin untuk menjamin produknya aman dari serangan cyber. Namun, kerja sama ini memberikan kesempatan bagi AS untuk mengidentifikasi lubang-lubang di dalam sistem Siemens yang bisa diserang.

Perlu beberapa bulan untuk membangun Stuxnet. Setelah itu, Israel dan AS mengujinya di Reaktor Dimona milik Israel, dan sukses.

Stuxnet terdiri atas dua komponen besar. Satu komponen didesain untuk membuat centrifuges nuklir Iran berputar tak terkontrol. Komponen lainnya didesain untuk memanipulasi operator reaktor.

Stuxnet masuk ke dalam komputer yang mengontrol seluruh reaktor. Tanpa diketahui para operator, komputer yang terjangkit virus akan merekam kerja normal reaktor. Hasil rekaman ditampilkan di layar komputer yang terdapat di depan operator.

Operator akan mengira reaktor beroperasi normal. Tanpa disadari, centrifuges akan menghancurkan dirinya.

Apakah serangan ini berhasil. Banyak pakar memperkirakan beberapa bagian operasional reaktor nuklir Iran mungkin terhenti akibat serangan Stuxnet, tapi beberapa lainnya tidak. Keyakinan ini dipertegas oleh laporan inspeksi sejumlah pakar nuklir internasional. Teguh Setiawan

http://koran.republika.co.id/koran/203/147180/PERANG_RAHASIA_AS_IRAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: