Ofensif Militer Israel Terhadap Iran

Kamis, 17 November 2011

Oleh Dr Ibnu Burdah MA
Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam
Dosen Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga

Opsi serangan militer terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran tampaknya telah menjadi keputusan Pemerintah Israel sejak beberapa tahun lalu. Para pemimpin Israel sejak Ariel Sharon, Ehud Olmert, Dzivi Livni, Dan Shalut, bahkan peraih nobel perdamaian Shimon Peres, beberapa kali menyatakan secara terbuka mengenai keharusan Israel untuk melakukan serangan pendahuluan terhadap nuklir Iran.

Retorika PM Israel saat ini, Benjamin Netanyahu, semakin keras dan secara nyata melakukan langkah-langkah persiapan, baik secara politik di dalam negeri, secara militer, maupun menggalang dukungan dari aktor-aktor kawasan dan internasional. Perdebatan di kalangan internal pengambil keputusan di Israel saat ini diperkirakan hanyalah mengenai persoalan waktu yang tepat bagi pelaksanaan operasi itu.

Mengapa Israel sedemikian bernafsu melakukan serangan yang dipastikan tidak mudah itu, bahkan mengandung risiko yang tidak kecil terhadap kepentingan dan eksistensinya di kawasan? Posisi Israel, sejarah hubungannya dengan Iran, agresivitas dan sikap Iran di kawasan, dan beberapa perkembangan terakhir di kawasan itu, dapat membantu menjelaskan mengenai masalah ini.

Pertama, Iran adalah aliansi paling strategis AS dan Israel di kawasan sebelum masa Revolusi 1979. Bagi kedua negara itu, Iran bukan hanya wilayah yang luas dengan akses lautan sangat panjang dan jumlah penduduk besar dengan pasar yang menjanjikan, namun juga penjamin keamanan Teluk Persia dan Selat Hormuz yang merupakan jalur kunci pengapalan minyak dari Timur Tengah. Ketergantungan Israel pada minyak Iran juga sangat tinggi. Iran juga merupakan negara kedua setelah AS yang mengakui berdirinya negara Israel. Karena itu, Iran waktu itu disebut sebagai sekutu terdekat AS dan Israel.

Rezim baru hasil Revolusi Islam 1979 mengubah 180 derajat kondisi itu. Iran bukan hanya memutus hubungan yang sangat menguntungkan AS dan Israel itu, namun juga mengambil sikap dan posisi politik yang menentang kepentingan strategis kedua negara itu di seluruh kawasan. Oleh karena itu, jika Iran berhasil direbut kembali atau dilemahkan, maka negara itu, setidaknya, tidak akan banyak menghambat kepentingan keduanya di kawasan terutama superioritas tunggal Israel dan proyek AS yang tengah menarik paksa kedua tetangga Iran, yaitu Afghanistan dan Irak ke dalam orbit pengaruh AS.

Kedua, AS, Israel, dan negara-negara Arab sekutu poros AS sudah sangat geram dengan sepak terjang Iran. Israel berpandangan bahwa dukungan Iran terhadap Hamas dan Jihad Islami di Gaza, Hizbullah di Lebanon Selatan, dan faksi-faksi kecil lain di Damaskus, harus diputus. Sejak 1978, Israel bisa dikatakan sangat tenang dan tidak menghadapi musuh negara di sekitarnya, namun mereka saat ini keteteran menghadapi gerakan-gerakan perlawanan itu. Dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok perlawanan di berbagai negara yang didukung AS juga menambah kuatnya opsi ofensif militer ini. Kepentingan AS jelas semakin terancam.

Negara-negara Arab pro-Barat sejak 1990-an telah berpandangan bahwa Teheran, bukan Tel Aviv, yang merupakan sumber ancaman terbesar terhadap kelangsungan kekuasaan mereka. Sejak kelahirannya, rezim baru hasil revolusi Iran memang bertekad untuk menebar semangat revolusinya kepada negara-negara yang disebutnya despotis di kawasan. Rezim-rezim Arab itu semakin geram saat revolusi rakyat melanda dunia Arab saat ini. Sebab, Iran secara terbuka mendukung gerakan rakyat untuk menjatuhkan rezim dan terus mengobarkan semangat perlawanan terhadap tirani. Hanya gerakan rakyat di Suriah dan Lebanon yang tidak memperoleh dukungan Iran.

Ketiga, Israel adalah negara yang sangat kecil dan tidak mungkin merencanakan perang di wilayahnya. Tipologi alamnya juga sangat rentan terhadap serangan musuh, sebab sebagian besar kotanya berada di dataran bawah dan pantai. Sementara, musuh-musuh di sekelilingnya berada di pegunungan dan dataran lebih tinggi. Karena itulah, Israel selalu mendorong pecahnya perang di luar wilayahnya atau setidaknya wilayah Palestina yang menjadi halaman depannya. Dari sinilah lahir doktrin pre-emptive dan first strike attack ketika muncul potensi ancaman.

Menurut doktrin itu, Israel harus menyerang terlebih dahulu sumber-sumber ancaman itu, di mana pun berada sebelum musuh melakukan serangan. Itulah yang terjadi di sebagian besar sejarah perang Israel mulai perang 1967, Perang Gaza, Perang Lebanon, dan seterusnya. Itu pula yang dilakukan Israel dalam menjaga monopoli senjata nuklirnya di kawasan dengan melakukan serangan cepat terhadap arsenal Nuklir Irak pada 1981 dan Suriah pada 2007. Kabar rencana serangan Israel terhadap Iran juga dengan mudah dibaca dengan logika ini.

Namun demikian, ongkos yang harus dibayar Israel sangat besar jika operasi itu benar-benar dilaksanakan. Apalagi, jika Iran melakukan pembalasan setimpal. Jika ini terjadi, maka kawasan Timur Tengah hampir bisa dipastikan akan terseret ke dalam kobaran perang yang besar. Beberapa kondisi seharusnya menjadi pertimbangan Israel untuk tidak mengambil dan melaksanakan opsi ofensif militer terhadap Iran saat ini.

Pertama, Iran diyakini telah belajar banyak dari kasus serangan udara cepat Israel terhadap Irak 1981 dan Suriah 2007. Negara itu dipastikan tidak akan mengulangi kesalahan Irak dan Suriah yang menempatkan arsenal nuklirnya secara terpusat. Program nuklir Iran saat ini diyakini disebar ke berbagai pelosok negeri dengan sistem pengamanan ekstra ketat dan modern. Badan atom internasional pun tidak mudah memperoleh aksesnya, kecuali arsenal yang didaftarkan secara resmi.

Iran jelas telah memikirkan kemungkinan serangan Israel terhadap fasilitas nuklirnya. Karena itu, setiap arsenal nuklir itu dilengkapi dengan rudal-rudal antipesawat. Posisi sebagian situs-situs nuklir itu diperkirakan juga tidak mudah dijangkau serangan udara Israel seperti di tanam di kedalaman tanah dengan bungker-bungker beton, di bawah gunung, bahkan di dalam kapal selam di lautan. Iran adalah negeri dengan akses laut yang paling luas di Timur Tengah. Karena itu, sangat sulit bagi Israel untuk menghentikan program nuklir Iran yang diperkirakan jauh lebih baik dibandingkan Suriah atau Irak.

Kedua, jika perang itu berlangsung dalam waktu yang panjang, bahkan hingga beberapa tahun, SDM Israel sangat terbatas. Jika seluruh penduduk negeri itu menjadi tentara, maka Israel rawan mengalami kehancuran ekonomi dan sektor-sektor kehidupan lainnya. Jarak Israel dengan Iran juga tidak dekat. Lebih rumit lagi, pasukan udara Israel harus melewati satu atau beberapa negara untuk mencapai sasaran-sasaran di Iran. Ini jelas menambah kompleksitas serangan ini.

Ketiga, Iran diyakini lebih kredibel untuk melaksanakan pembalasan yang mengancam kepentingan AS dan Israel di kawasan. Bukan hanya kesiapan mental dan militer negeri itu yang sepertinya sudah bersiap sejak lama terhadap kemungkinan tersebut, namun juga Iran memiliki tangan-tangan yang juga tidak bisa diremehkan. Sebagian tangan-tangan Iran berada di dekat Israel, seperti Hizbullah di Lebanon Selatan dan Hamas serta Jihad Islami di Palestina. Keterlibatan tiga kelompok perlawanan itu dipastikan membuat seluruh wilayah Israel terancam hujan roket dari segala penjuru.

Jika Israel mempertimbangkan hal ini, maka serangan terhadap Iran sesuangguhnya sesuatu yang tidak masuk akal. Apalagi, jika rezim Suriah yang saat ini sudah sangat terdesak oleh gerakan rakyat mengambil opsi melibatkan diri dalam perang itu setidaknya sebagai jalan keluar dari situasi sekarang, maka Israel benar-benar terkepung.

Keempat, gelombang revolusi Arab menguatkan sentimen anti-Israel di kawasan itu. Desakan rakyat Arab terhadap penguasanya tidak bisa diremehkan. Kasus gerakan rakyat di tiga negara yang berhasil menjatuhkan rezim berkuasa;Tunisia, Mesir, dan Suriah, menunjukkan penguatan luar biasa dalam sentimen anti-Israel pascagerakan. Perubahan itu tidak bisa diremehkan oleh Israel.

Jelas, opsi militer bukanlah sesuatu yang tepat bagi Israel dalam menghadapi Iran, apalagi jika hal itu dilaksanakan sekarang. Namun demikian, para pemimpin Israel, terutama militernya, sangat mencemaskan capaian-capaian Iran di bidang teknologi nuklir dan rudal yang menjadi pendukungnya, kendati Iran terus menegaskan teknologi nuklirnya untuk kepentingan damai. Pada tahap perkembangan tertentu, negara yang telah berkapasitas nuklir memang memiliki deterrence yang membuat negara mana pun akan berpikir beberapa kali untuk melakukan ofensif militer terhadapnya. Tahap itulah nampaknya yang ingin dicapai Iran dan sangat dikhawatirkan Israel. Wallahu a’lam.

http://koran.republika.co.id/koran/24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: