Quo Vadis Perjuangan Palestina?

Senin, 28 November 2011 pukul 10:22:00

Dr Ibnu Burdah MA
Pemerhati Timteng dan Dunia Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Perjuangan untuk mewujudkan Palestina merdeka menghadapi tiga pilihan jalan yang sama-sama sulit. Dua di antaranya adalah dengan cara damai dan yang ketiga adalah konflik atau perang.

Kabar tercapainya kesepakatan antara Khalid Meshal dan Mahmud Abbas, pemimpin dua faksi terbesar Palestina, baru-baru ini di Kairo sungguh memberikan harapan. Pertemuan itu dimaksudkan untuk menindaklanjuti pelaksanaan proses rekonsiliasi Palestina yang “macet” dalam beberapa bulan ini. Kendati rincian kesepakatan itu belum begitu jelas, rakyat Palestina melalui demonstrasi di beberapa kota di Palestina mendesak segera dilaksanakannya kesepakatan kedua pemimpin itu demi memantapkan perjuangan Palestina ke depan.

Sejauh ini, Palestina telah mengerahkan segenap upaya yang ada untuk mewujudkan cita-citanya dengan jalan berjuang di forum internasional untuk memperoleh keanggotaan penuh PBB. Di luar dugaan, Presiden Abbas sama sekali tak bergeming dengan berbagai tekanan AS, Eropa, dan Israel. Keberanian Abbas menghadapi tekanan Barat merupakan hal baru dan tidak bisa dilepaskan dari menguatnya dukungan dari rakyat Palestina, pemimpin dan rakyat negara-negara Arab, dan dunia Islam. Jika saja kesatuan dan dukungan seperti itu diberikan sejak masa-masa awal, keadaan Palestina sekarang tentu jauh lebih baik dan lebih siap menjalani perjuangan.

Namun demikian, di luar perkembangan positif itu, sebagian pemimpin Palestina, Abbas tampaknya mengalami perbedaan yang serius dan kegamangan mengenai jalur apa yang seharusnya digunakan sebagai strategi perjuangan untuk mewujudkan cita-cita menuju Palestina Merdeka.

Tiga opsi
Perjuangan untuk mewujudkan Palestina merdeka menghadapi tiga pilihan jalan yang sama-sama sulit. Dua di antaranya adalah dengan cara damai dan yang ketiga adalah konflik atau perang. Pilihan pertama adalah negosiasi dengan Israel, baik secara langsung maupun mediasi. Pengalaman menunjukkan, pilihan itu terbukti “gagal” mengantarkan rakyat Palestina memperoleh keadilan dan mewujudkan cita-citanya segera. Hingga 21 tahun upaya itu, tak satu pun isu penting menjadi agenda pokok negosiasi, baik persoalan pembongkaran pemukiman Yahudi, status kota Jerussalem, maupun persoalan kembalinya pengungsi Palestina. (Lih. Kompilasi Palestine Documents, tahun tidak disebut).

Pilihan kedua adalah memperoleh pengakuan internasional melalui keanggotaan penuh di PBB. Palestina diperkirakan akan sangat sulit memperoleh keanggotaan penuh itu lantaran tekanan luar biasa AS di DK PBB. Bahkan, negara itu sudah menyatakan secara terbuka akan memveto keputusan yang memberikan pengakuan kepada Palestina. Langkah Palestina di PBB dipandang AS sebagai unilateral dan merusak proses perundingan yang selama ini diupayakan. AS sejak beberapa bulan lalu menawarkan paket baru perundingan berdasarkan batas luar 1967.

Pilihan ketiga, dengan berperang. Ini jelas paling menyakitkan, apalagi sama sekali tidak ada paritas antara kekuatan bersenjata Palestina dan kekuatan militer Israel. Sejak 1980-an, Israel menjelma menjadi salah satu negara yang diperhitungkan dalam riset dan industri persenjataan canggih, serta pembangunan kekuatan militernya di dunia. (Amin Huwaidi, 1986, Shina’ah al-ashlihah fi Israil, Mesir).

Israel bahkan diyakini telah memiliki kapasitas deterrence nuklir kendati hingga kini negara itu belum mendeklarasikannya secara resmi. (Isham Fahim Amiry, 1999, Khashaish Tursunah Israel al-Nawawiyah wa Bina al-Syarqi al-awsat al-Jadid, Pusat Riset Strategis UEA).

Di samping itu, tragedi kemanusiaan akibat perang selalu sulit dihindarkan. Rakyat Palestina bahkan juga sebagian rakyat Israel sudah terlalu banyak tertimpa penderitaan akibat konflik dan perang. Jelas, perang merupakan pilihan yang sedapat mungkin harus dihindari. Namun demikian, perkembangan-perkembangan baru di kawasan cenderung menyediakan kondisi bagi Palestina untuk mempertimbangkan kembali opsi itu.

Perkembangan itu, antara lain, memburuknya hubungan Mesir dan Turki dengan Israel, ketegangan yang makin kuat antara Arab Saudi-GCC dan Iran, serta tercapainya rekonsiliasi Hamas-Fatah. Kemudian, kecenderungan baru sebagian petinggi Fatah yang ingin membuka kembali opsi perjuangan senjata dan tentunya pecahnya kekerasan timbal balik Israel dan pejuang Palestina di Gaza.

Kegamangan
Selama ini, strategi perjuangan yang dipilih Palestina tidak begitu jelas. Abbas menyatakan, kukuh untuk berjuang di PBB namun juga mengatakan siap berunding dengan formula 67 yang ditawarkan Obama. Bahkan, Kongres Fatah yang dipimpinnya beberapa waktu yang lalu juga memutuskan kemungkinan dibukanya kembali opsi perjuangan senjata. Sepertinya, Abbas menginginkan menggunakan semua jalan yang mungkin dilakukan sekalipun saling bertentangan.

Sikap itu sesungguhnya mencerminkan kebingungan Abbas dan sebagian pemimpin Palestina akibat letihnya perjuangan, kekecewaan mendalam atas berbagai kegagalan, keinginan kuat untuk segera memperoleh hasil kongkret dalam perjuangan, dan mulai ada keraguan apa yang dilakukan. Berbeda dengan perjuangan Mesir untuk menuntut kembalinya Sinai dari Israel, pengambilan strategi perjuangan Palestina selama ini tampak sekali diwarnai keraguan mendalam.

Kemajuan dalam proses rekonsiliasi Palestina, komitmen dan sikap baru Abbas, serta Faksi Fatah yang secara de facto berkuasa pada Otoritas Palestina, bagaimanapun cukup memberikan harapan baru. Jalan apa pun yang akan ditempuh Palestina jelas memerlukan komitmen dan kepemimpinan yang kuat, kemampuan menyatukan faksi-faksi Palestina, dan kemampuan diplomasi regional dan internasional. Persoalannya sekarang adalah seberapa solid dan istiqamah mereka ketika harus menghadapi berbagai tekanan termasuk penghentian bantuan keuangan yang mulai dilancarkan AS dan sekutu-sekutunya sejak beberapa bulan lalu. Wallahu a’lam.

http://koran.republika.co.id/koran/24/148717/Quo_Vadis_Perjuangan_Palestina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: