Menyikapi Syiah

Assalamualaikum wr wb
Entah bagaimana latar belakangnya, yang jelas saat ini kerukunan antara kita terkoyak dengan adanya kasus Sunni-Syiah di Sampang, Madura, sebagai seorang Sunni saya sangat awam dalam masalah ini. Pertanyaan saya, bagaimana seharusnya kita menyikapi kaum Syiah ini, Ustaz?

Partini – Sampang

Waalaikumussalam wr wb
Konflik internal umat antara Sunni dan Syiah ini adalah masalah klasik yang akan terus terjadi. Selama masing-masing kelompok tidak saling menghormati dan menahan diri dari perbedaan, tidak akan pernah dapat dipertemukan karena menyangkut masalah ushuluddin atau pokok-pokok agama dalam Islam. Inti perbedaan Sunni-Syiah yang paling ringan adalah soal kriteria ahlul bait (keluarga Rasulullah).

Selain itu, mengenai istri-istri Rasul dan para sahabat semisal Khalifah Abu Bakar, Umar, Usman, Muawiyah, Aisyah, dan lain-lain. Hal ini tentu berdampak pada masalah dasar-dasar keimanan karena sumber saluran informasi dan periwayatan dari Rasulullah melalui orang-orang terdekat dari kalangan sahabat dan istri-istri beliau.

Dari sini timbullah perbedaan penafsiran ayat-ayat tertentu dalam Alquran, seperti penafsiran Surah at-Taubah ayat 101. Menurut sebagian kaum Syiah, orang munafik di ayat itu adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan lain-lain. Di sisi lain, berbeda pula pengambilan sumber rujukan hadis-hadis, di mana kitab hadis Bukhari dan Muslim yang dianggap sahih dan menjadi rujukan Sunni tidak jadi rujukan Syiah.

Kecuali jika hadis itu berpihak pada kepentingan mereka. Dari sini, muncul lagi perbedaan-perbedaan mendasar yang semakin meruncing sampai masalah kepemimpinan (imamah) bagi umat Islam. Menyikapi masalah sensitif dan dapat mengakibatkan konflik horisontal ini, sejak ratusan tahun yang lalu para ulama dan pendahulu kita sudah melakukan banyak upaya positif dan objektif.

Langkah mereka melahirkan banyak kemajuan berarti. Untuk itu, ada beberapa hal penting yang harus dikerjakan. Pertama, tetaplah berpegang teguh pada nilai-nilai akidah ahlussunnah waljamaah yang kita yakini berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang bersumber dari Alquran dan sunah yang sahih, sambil menghormati adanya perbedaan di antara kita yang tidak pernah dapat dipertemukan itu.

Sebagaimana kita dapat berdampingan dengan ahlul kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani. Kedua, bekerja samalah pada hal-hal yang kita sepakati saja dalam hal keduniaan tanpa harus mencederai dasar-dasar akidah yang kita yakini. Juga menghormati wilayah dan etika sosial masing-masing, misalnya tidak saling berhadap-hadapan dalam memengaruhi keyakinan, mencela, dan menyesatkan.

Apalagi, melakukan tindak kekerasan fisik atau teror mental karena akan berujung pada perkelahian yang merugikan kedua belah pihak. Ketiga, ingatkan rekan dari Syiah bahwa Indonesia adalah penduduk Muslim yang mayoritas Sunni, jangan memengaruhi dan memaksakan keyakinannya ke wilayah Sunni karena akibatnya akan kembali ke mereka juga.

Keempat, sadarilah bahwa selalu ada pihak-pihak yang bermanuver dan relah menjadi perpanjangan tangan iblis yang tidak senang dengan bangunan sosial yang damai dan harmonis. Menyulut konflik Sunni-Syiah bagi musuh Islam hingga saat ini, masih menjadi amunisi paling ampuh dalam memorak-porandakan keharmonisan internal umat. Wallahu a’lam bish shawab.

http://koran.republika.co.id/koran/14/151444/Menyikapi_Syiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: