Jejak Sekularisme di Asia Selatan

Oleh Prima Resti

Pakistan mendeklarasikan sebagai Republik Islam, namun pernah diperintah selama bertahun-tahun sebagai negara sekuler.

Sekularisme di Asia Selatan dipengaruhi oleh kondisi geografis dan politik beragam serta adanya etnis lain yang diakomodasi oleh Islam. Pascakemerdekaannya tahun 1947, India memilih dan memproklamasikan negaranya sebagai negara demokratis sekuler, identitas keagamaannya tersembunyi dalam ikatan bersama bernama nasionalisme India.

Partai Kongres mengaku merangkul dan mengayomi seluruh etnis dengan menjadi negara sekuler. Namun, kata John L Esposito, India menjadi korban dari gerakan sektarian Sikh dan Hindu terus bergelora. Gerakan Hindu ini ingin menghapuskan masa lalu Islam di India.

Sektarian Hindu berangkat dari kemiskinan dan buta huruf yang muncul menjadi sebuah kekuatan politik yang mengancam dasar-dasar nasionalisme India. Jumlah pemeluk Islam di India mencapai 100 juta jiwa atau 12 persen dari populasi penduduk. Tak heran jika kerap muncul ketegangan-ketegangan di negara itu.

Bersamaan dengan kemerdekaan India terbentuklah Negara Muslim Pakistan, sebuah negara yang terbentuk karena ingin menjaga identitas Muslim secara terpisah. Meski begitu, bukan tidak ada pertarungan di Pakistan. Di negara ini, bukan antara Islam dan sekuler yang bertarung, melainkan antara Islam fundamentalis dan Islam modernis.

Kelompok Islam modernis mengampanyekan demokrasi, pluralisme, dan pelaksanaan prinsip-prinsip dasar sejalan dengan kebutuhan modern. Dengan ini, negara akan menjadi sekuler dan terbuka terhadap praktik-praktik Barat.

Sementara itu, Islam fundamentalis yang berpusat pada Maududi dan organisasi Jamaati Islami menyerukan Pakistan yang demokratis dan diperintah oleh syariat. Pakistan mendeklarasikan sebagai Republik Islam, namun pernah diperintah selama bertahun-tahun sebagai negara sekuler, meski dalam UU Resolusi Objektif 1949 diakui kedaulatan Tuhan yang berarti syariat harus diaplikasikan sebagai hukum negara.

Namun, kelompok Islam modernis tetap bisa mendominasi dengan pengakuan yang diberikan atas prinsip-prinsip demokrasi, kemerdekaan, persamaan, toleransi, dan keadilan sosial sesuai dengan yang digariskan Islam. Meski pemikiran Islam sebagai tuntunannya, Konstitusi Pakistan 1956 tidak terikat pada statuta Islam.

Konstitusi itu berisi hukum-hukum sekuler yang menciptakan demokrasi parlementer untuk mengawasi agar tak ada hukum yang melecehkan prinsip hukum Islam. Dan, dalam konstitusi itu tidak ada pernyataan bahwa Islam adalah agama negara. Esensinya memperbolehkan eksistensi negara sekuler dan toleransi budaya sekuler kota, tapi kerangka konstitusional dan budaya populernya tetap Islami.

Di tengah pertentangan antara Jamaati Islami yang cenderung politis dan buah pemikiran Maududi timbul gerakan reformasi Muslim individual, yang menjauh dari aktivitas politik. Gerakan ini adalah Jamaah Tabligh yang berdiri pada 1926, sebuah gerakan yang mengajak kembali pada Alquran dan Sunah Nabi Muhammad dalam balutan dakwah personal.

Gerakan ini lalu menyebar ke penjuru dunia, termasuk Arab, Asia, dan Afrika. Gerakan revivalis Islam yang mencoba membangkitkan moral individu untuk kembali ke nilai-nilai dasar Islam dalam menjaga masyarakat Islam di antara anggota masyarakat lainnya. Toleransi pada pemerintahan sekuler untuk mewujudkan tatanan sosial Islam dan memusatkan diri pada keselamatan personal.

Jamaati Islami dan Jamaah Tabligh memberi gambaran dua kutub dakwah Islam. Jamaati Islami menyerukan persatuan agama dan negara menciptakan sistem Islam dalam bentuk modern seperti pada permulaan Islam. Jamaah Tabligh menolak politik dengan alasan nilai-nilai dan prinsip moral, yang mana esensi Islam terdapat pada masa Rasulullah yang menolak sekularisme secara total.

Ambruknya Sekularisme di Negeri Para Mullah

Oleh Prima Resti

Iran yang dikenal sebagai negeri Para Mullah sempat menjadi negara sekuler di era Dinasti Pahlavi (1925-1979). Pada masa itu, Kolonel Reza Pahlavi mencoba meniru Mustafa Kemal Ataturk dengan menciptakan negara sekuler.

Menurut John L Esposito, pemerintahan Pahlavi memaksakan tatanan modernisasi negara. Sekularisasi yang dilakukan Pahlavi mendapat penolakan dari tokoh-tokoh Syiah, yang otoritasnya belum pernah ditumpas secara penuh.

Masyarakat Iran memandang sekularisme sebagai ideologi yang diimpor dari asing yang dihubungkan dengan pengaruh Amerika, yang berlangsung secara gradual terhadap Iran dan penguasa kedua Pahlavi, Reza Syah.

Dalam revolusi kedua ini, para mullah, pedagang, dan nasionalis Iran, termasuk para wanita terdidik bersatu padu menggulingkan Syah, tetapi tak berharap pemerintahan dipimpin mullah. Pada era itu, prinsip-prinsip sekuler, seperti yang dikembangkan Ataturk dikecam dan dicela oleh Iran.
Perdebatan masalah ideologis hanya dibatasi pada pemikiran Islam. Meski begitu, perbedaan-perbedaan mendasar yang terpendam tetap ada hingga kini. Khususnya, terkait dengan ide Ali Syariati yang menghidupkan sebuah pendekatan baru Islam.

Ali Syariati menentang negara sekuler otoriter yang pernah dijalankan oleh pemerintahan Syah. Meski begitu, ia juga menolak otoritas para mullah. Dia menganjurkan pendekatan baru terhadap Islam, yaitu memperbolehkan penerapan prinsip-prinsip ijtihad yang dapat mempersatukan masyarakat Iran dengan bimbingan para intelektual yang terinspirasi dari ide modern, tapi agamis.

Sebenarnya, pemikiran dan gagasan Syariati menarik perhatian dari generasi muda di Iran. Namun, kata Esposito, para pengikut ulama masyhur itu tidak terorganisasi dengan baik sehingga pergerakannya bisa dihadang para mullah. Kini, Iran menjadi satu-satunya masyarakat Muslim yang kini diperintah oleh petugas-petugas agama dan hukum Islam.

Sekularisme dalam Pandangan Ulama

Sayid Qutub
Ulama dan Filsuf Mesir
Sekularisme merupakan pembangunan struktur kehidupan tanpa dasar agama. Karena itu, sekularisme bertentangan dengan Islam, bahkan merupakan musuh Islam yang paling berbahaya.

Altaf Gauhar
Filsuf Muslim Kontemporer dari Mesir
Sekularisme dan Islam tak memiliki tempat berpijak yang sama. Esensi Islam berantitesis terhadap sekularisme.

Syed Muhammad Naquib Al-Attas
Sekularisme menunjuk pada ideologi yang mendesakralisasi alam dan politik. Islam tidaklah sama dengan Kristen. Karena itu, sekularisasi yang terjadi pada masyarakat Kristen Barat tidaklah sama dengan apa yang terjadi pada masyarakat Muslim. Islam pada dasarnya menolak segala bentuk sekularisme.

Bahkan, Islam menolak penerapan apa pun mengenai konsep-konsep sekuler, sekularisasi, serta sekularisme, karena semuanya bukanlah milik Islam dan berlawanan dengannya dalam segala hal. Islam adalah agama yanag sempurna dan lengkap. Karena itu, tak membutuhkan sekularisme.

Prof Dr H Mohammad Rasjidi
Belum ada dalam sejarah bahwa istilah sekularisme dan sekularisasi tak mengandung prinsip pemisahan antara persoalan agama dan dunia. Sekularisme dan sekularisasi membawa pengaruh merugikan bagi Islam dan umatnya. Karena itu, keduanya harus dihilangkan. Istilah sekularisme tak memiliki akar dalam Islam dan hanya tumbuh dan berlaku di Barat.

Yusuf Al-Qaradhawi
Sekularisme tidak pernah bisa diterima secara umum dalam sebuah masyarakat Islam. Islam adalah sebuah sistem ibadah komprehensif dan legislasi (syariah). Menerima sekularisme berarti meninggalkan syariah. Ini berarti menampik aturan Ilahi dan penolakan terhadap perintah-perintah Allah. Sekularisme hanya cocok dengan konsep Tuhan ala Barat yang berpendapat bahwa Tuhan menciptakan dunia dan membiarkan manusia mengaturnya sendiri.

http://koran.republika.co.id/koran/153/151707/Jejak_Sekularisme_di_Asia_Selatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: