Krisis Selat Hormuz

Oleh Ruslan Arief BM
Mahasiswa Program Studi Arab
Universitas Indonesia

Pada awal 2012, kekhawatiran besar akan terjadinya perang teluk III semakin mendekati kenyataan. Dengan dijatuhkannya sanksi ekonomi terhadap Iran karena bersikukuh melanjutkankan program nuklirnya oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat, maka respons yang diberikan oleh Iran berupa ancaman penutupan Selat Hormuz. Ancaman ini sontak menjadi pembicaraan serius bagi dunia internasional.

Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz merupakan sebuah mimpi buruk terhadap ketahanan energi global. Sekitar 90 persen dari seluruh minyak di seluruh kawasan Teluk Persia didistribusikan melalui kapal tanker yang mengharuskan melewati selat sempit pantai Iran. Sementara itu, jalur pipa darat tidak memberikan sebuah alternatif untuk ekspor minyak mentah. Jika penutupan selat ini terjadi, sekitar seperempat minyak dunia akan menghilang dari pasar dan mengakibatkan guncangan penawaran yang tidak diperkirakan sebelumnya.

Meski hingga saat ini Iran belum menutup total Selat Hormuz dan hanya menghadirkan parade militer di perairan tersebut. Hal ini cukup untuk membuat harga minyak meroket tajam sebagai sebuah antisipasi terganggunya pasokan minyak mentah. Jika kita berkaca pada apa yang terjadi saat Irak menginvasi Kuwait pada 1990, produksi minyak dari kedua negara merosot drastis dan mengakibatkan pelonjakan harga minyak hingga dua kali lipat dari harga normal. Meski Saudi dan dunia memompa pasokan berlebih sehingga berhasil menekan lonjakan harga, tetap saja tidak kembali seperti masa-masa sebelum invasi Irak terjadi. Penutupan selat ini akan berdampak lebih besar pada perekonomian global, di saat kelebihan kapasitas global lebih rendah dan harga yang jauh lebih tinggi dari masa invasi Irak.

Menutup selat
Banyak peristiwa yang mengancam Iran belakangan ini mendorong Iran untuk menutup Selat Hormuz. Amerika dan sekutu terdekatnya Israel percaya Iran menggunakan fasilitas nuklirnya untuk mengembangkan senjata pemusnah massal, tetapi Teheran tetap menegaskan program nuklir mereka untuk tujuan damai.

Ketakutan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran mendesak Amerika Serikat untuk melindungi kepentingan Israel di Timur Tengah. Kemungkinan besar serangan Amerika Serikat terhadap Iran akan mengahancurkan kemampuan militer Iran dan terutama fasilitas nuklirnya adalah jawaban yang diberikan oleh Amerika Serikat dalam mengamankan kepentingan anak emasnya di kawasan.

Selain itu, suara minoritas yang berkembang di Amerika Serikat tetap bersikeras dengan opsi operasi militer terhadap program nuklir Iran dan kemungkinan dukungan politik bagi serangan ini mendapatkan angin karena publik Amerika Serikat melihat realitas proliferasi nuklir Iran tetap berlanjut.

Iran sangat sadar bahwa moncong nuklir Israel sedang diarahkan ke tanah air negeri para mullah tersebut. Jika Amerika Serikat atau Israel menyerang Iran, sikap menahan diri Iran mungkin menguap. Pada 2006, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan bahwa meskipun Iran tidak akan menjadi “inisiator perang”, namun jika Amerika Serikat menjatuhkan sanksi atau menyerang Iran, maka pengiriman energi dari daerah ini secara serius terancam. Situasi yang berkembang akan memaksa Iran menunjukkan bahwa ancaman terhadap penutupan Selat Hormuz bisa menjadi realitas.

Probabilitas ke depan
Dalam kondisi seperti ini, jika terbukti penutupan Selat Hormuz menjadi realita, Iran akan menanggung biaya yang tidak sedikit dalam mewujudkan ancamannya tersebut. Kecuali, Iran mampu meyakinkan dunia Internasional bahwa tindakan mereka menutup Selat Hormuz adalah tindakan penting dalam pertahanan diri, dunia akan bereaksi dengan opini yang menentang tindakan tersebut. Penutupan selat akan dilihat tidak hanya sebagai pelanggaran serius norma internasional, tetapi lebih buruk lagi, menyentuh kepentingan banyak negara. Tindakan ini secara serius bisa dikatakan sebagai sebuah kampanye pembajakan. Katakanlah dunia menilai tindakan Iran sebagai upaya pertahanan diri, tetapi dampak yang ditimbulkan dari penutupan selat tidaklah ringan dan tentu akan sulit untuk bisa memaafkan hal tersebut.

Jika kondisi ini tetap berlanjut, Amerika Serikat bisa memiliki keleluasaan untuk melakukan tindakan. Pemimpin AS kemungkinan mengambil kesempatan ini menyerang Iran untuk membuat jalur distribusi minyak normal kembali. Dan, kemudian meninggalkan Iran yang tidak hanya sangat miskin karena hilangnya pendapatan minyak dan kerusakan infrastruktur pertahanan angkatan laut dan udara. Amerika serikat juga sekaligus menghilangkan ancaman adanya negara yang akan kembali menentang hegemoni AS.

Kemungkinan lainnya adalah dengan direbutnya pulau-pulau yang berada di dekat jalur pelayaran Selat Hormuz oleh pasukan Amerika Serikat. Kemudian menjadi basis Amerika untuk melancarkan isolasi geografis terhadap Iran. Dan, kemungkinan terburuk adalah negara ini akan bernasib sama dengan Irak, diselenggarakannya negara ini di bawah pendudukan dan menjadi “pompa bensin” bagi negara-negara Barat. Singkatnya, Iran akan menemukan posisi mereka sama dengan Irak pada perang teluk pada dekade 90-an dan mengalami kerugian yang sangat besar.

Peranan Indonesia
Dalam konteks permasalahan ini, Indonesia dengan politik bebas-aktifnya harus senantiasa mendukung upaya masyarakat internasional dalam upaya nonproliferasi dan perlucutan senjata nuklir, menegaskan bahwa pencapaian tujuan nonproliferasi dan perlucutan senjata perlu ditempuh melalui cara-cara yang legal berdasarkan hukum internasional yang berlaku dan di bawah kerangka PBB.

Terhadap krisis ini, sikap tegas harus ditempuh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagaimana menyelesaikan konflik Irael-Libanon pada 2006 silam. Presiden bisa meminta kepada sekjen PBB Ban Ki-moon melalui surat resmi agar Amerika Serikat mau menarik pasukannya dari kawasan tersebut. Dan, menerima kesediaan Iran untuk kembali berunding terkait program nuklirnya. Sikap lain yang bisa pemerintah lakukan adalah dengan menggagas sebuah forum internasional yang mampu membawa aspirasi keamanan dan perdamaian. Forum negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) bisa menjadi sebuah alternatif bagi pemerintah RI terhadap krisis ini.

Meski kebijakan tersebut belum tentu menjawab krisis, langkah tersebut jelas mengisyaratkan respons yang positif. Kita berharap, sikap moderat Muslim Indonesia dapat diterima oleh semua kekuatan negara-negara Islam, juga negara-negara Barat. Jangan sampai kembali terulang tragedi yang terjadi di Irak, Afganistan, dan Somalia karena intervensi militer semcam ini hanya akan mengubah kawasan itu menjadi bergejolak. Indonesia juga diharapkan lebih aktif lagi dalam kampanye pemanfaatan energi nuklir untuk maksud damai. Juga memperjuangkan agar hak setiap negara untuk memanfaatkan energi nuklir untuk maksud damai tetap dihormati dunia internasional.

http://koran.republika.co.id/koran/24/151911/Krisis_Selat_Hormuz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: