Menelusuri Akar Ideologi Penistaan terhadap Islam

Sabtu, 22 September 2012

oleh: Ilham Jaya Abdurrauf

SETELAH sekian kalinya Barat melakukan penistaan terhadap Islam, dapatkah kaum Muslim berharap bahwa Barat akan mengadili secara adil pelaku penistaan agama? Atau setidaknya, mengakui kesalahannya?

Menelusuri akar dari alam pemikiran Barat modern, khususnya persepsi terhadap Islam dan Nabi Muhammad saw, tampaknya harapan atau tuntutan itu akan pupus. Pasalnya, dia berbenturan dengan fakta alam pemikiran Barat. Barat, sebagai sebuah peradaban, adalah kemanusiaan yang angkuh dan tidak mengenal moral. Meminjam bahasa pemikir Islam modern, Ja’far S. Idris, Barat adalah peradaban yang bercorak nilai-nilai “syirik, istikbar (arogansi), dan fuhsy (kerusakan moral)” (2012: 142).

Peradaban Barat modern adalah “anak ideologis” dari peradaban Yunani dan Romawi. Dua peradaban kuno yang menjadikan konflik dan kerusakan moral inheren dalam cara pandangnya terhadap dunia dan kehidupan.

Dalam peradaban Yunani kuno, misalnya, terdapat puisi epik Odyssey dan Iliad (11-8 SM). Mitologi dalam puisi yang kontroversi tersebut berkisah tentang perselingkuhan yang terjadi dalam istana dari dua negara yang berbeda. Kasus yang sebenarnya sangat elitis dan jauh dari hiruk-pikuk masyarakat umum. Namun ironi, keserakahan dan konflik dalam istana itu berujung pada perang besar dengan jumlah korban nyawa yang tak terbatas.

Peristiwa yang dinarasikan terjadi dalam beberapa dekade itu sendiri sarat dengan kisah intrik, affair, serta keserakahan hawa nafsu kebinatangan. Walaupun para aktornya adalah para manusia pahlawan yang setengah dewa, bahkan para dewa pun ikut terlibat. Friksi digambarkan terjadi dalam pemberian dukungan terhadap salah satu kubu yang berseteru. Mitologi ini kelak mengilhami hampir seluruh karya sastra Barat klasik selanjutnya.

Sebagai sebuah peradaban yang politeistik, bahkan dalam aspek tauhid Rububiyah, kebudayaan Yunani rabun dalam hal kesopanan berpakaian. Kenyataan tersebut dengan mudah dapat dibuktikan lewat situs-situs, baik berupa patung, ukiran atau atau lukisan yang menggambarkan dewa-dewa dan pahlawan serta wanita dalam tradisi peradaban Yunani. Penonjolan terhadap kulit dan bentuk tubuh serta nudity merupakan ciri yang sangat dominan melekat pada situs-situs tersebut.

Kajian sosiologi budaya menjelaskan korelasi yang kuat antara mitologi suatu masyarakat dengan pola pikir yang berkembang. Sebab, mitologi merupakan diskripsi abstrak tentang nilai-nilai budaya sebuah komunitas.

Akibatnya, dalam tradisi peradaban Yunani, penyimpangan seksual merupakan hal yang lazim. Penyakit kemanusiaan ini tidak hanya menular di kalangan elit istana yang memang hedonis dan permisif. Tapi juga di kalangan para pemikir dan filosof yang dianggap sebagai simbol-simbol kecemerlangan dan kebijaksanaan. K. J. Dover merupakan salah satu sejarawan Barat awal yang berhasil mengeksplorasi fenomena tersebut dalam bukunya: Greek Homosexuality (1978).

Peradaban Romawi dengan sejarah geografis imperiumnya yang luas merupakan referensi lainya dari peradaban Barat modern. Sejumlah bahasa Eropa, undang-undang, sistem politik, bahkan arsitektur Barat modern banyak mengambil inspirasi dari kejayaan Romawi kuno.

Kita sendiri lebih banyak mengenal kekaisaran Romawi dengan invasi besar-besarannya yang dimulai tahun 264 SM. Namun, puncak kebesaran Romawi yang juga menandakan keberhasilan perangnya terjadi di abad ke-2 M. Saat itu, garis kekuasaan Romawi membentang ke hampir setengah daratan Eropa, kemudian memanjang ke Timur Tengah dan utara Afrika.

Peradaban Romawi, lantaran itu, tidak lebih manusiawi daripada Yunani. Faktanya, kebesaran Romawi tumbuh subur di atas siraman darah jutaan manusia tak berdosa yang menjadi korban perangnya. Kurang lebih lima abad invasi Romawi untuk mencapai puncak kejayaannya.

Strategi “preemptive war” yang diterapkan AS dalam agenda perang globalnya melawan terorisme sejatinya merupakan strategi klasik kekaisaran Romawi. (Amir Abd Mun’im, 2007: 11)

Romawi telah lebih dulu mempraktekkan strategi tersebut terhadap negara-negara lain. Bahkan setelah imperium ini menyatakan diri sebagai imperium Nasrani, semangat invasinya tidak surut. Dengan dalih untuk menciptakan perdamaian, imperium ini selalu punya alasan untuk menganeksasi kedaulatan negara lainnya.

Dalam konteks sikap terhadap Islam dan simbol-simbol Islam, Barat menjadikannya sebagai objek dari spirit konflik dan sikap a moralnya. Fenomena penistaan terhadap Islam dan simbol-simbol Islam sesungguhnya bukan hal baru di Barat. Hanya saja, momentum pesatnya pertumbuhan Islam yang memicu tereksposnya kasus-kasus tersebut ke media publik.

Basim Khafaji, peneliti dari Markaz Arabi li Dirasat Insaniyah Kairo yang mengkaji akar permusuhan Barat terhadap Nabi Muhammad saw, menulis:

Stereotip tentang Nabi Muhammad saw dalam pemikiran Barat terbentuk lewat pengalaman sejarah Eropa terhadap Islam. Para pemikir Eropa, baik itu dari kalangan agamawan dan selainnya, punya saham dalam mendesain persepsi tentang Islam agar menjadi agama yang dibenci oleh publik. Itu semua demi mempertahankan status quo, agar Eropa tidak jatuh kepada kekuatan Islam, kepada pesona moralitas dan konsepnya yang memikat. (2006: 55)

Fenomena penistaan terhadap Islam yang belakangan banyak terkuak ke publik global hanya merupakan bukti bahwa Barat sudah kehilangan akal sehatnya. Gejala paranoia telah menimpa Barat, khususnya dalam menghadapi perkembangan Islam. Dan itu terjadi justru di saat peradaban Barat modern tampak lebih tua daripada usia yang sesungguhnya.

Kolumnis Vienna, Ivan Krastev pernah membuka awal tahun 2012 dengan menurunkan gambaran sedih tentang kondisi Barat:

Berpikir tentang masa depan, bagi kebanyakan orang Eropa, akan membawa kepada frustrasi berat. Amerika telah lelah secara militer, pecah secara politik, dan terjepit oleh beban utang yang berat. Di sisi lain, Uni Eropa sedang berada di tepi jurang kehancuran. Banyak manusia selain Eropa melihat ke benua tua itu sebagai kekuatan yang telah renta. Dia bisa jadi memesona dengan perilakunya yang baik, tapi tidak dengan keberanian dan ambisinya.

Fenomena ini semakin menambah keyakinan kita bahwa betapa Maha benar firman Allah:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS: al Isra [17]: 16)

Penulis adalah Direktur CODE-I (Center for Middle-East’s Issues)

http://hidayatullah.com/dev/read/24968/22/09/2012/menelusuriakarideologipenistaanterhadapislam.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: