Menguak Persoalan Di Balik Kesatuan Transenden Agama-Agama

Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.

Ulil Abshar-Abdalla, “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”. Kompas, Senin, 18 November 2002

“Sebagai sebuah pandangan keagamaan, pada dasarnya Islam bersifat inklusif dan merentangkan tafsirannya ke arah yang semakin pluralis. Sebagai contoh, filsafat perenial yang belakangan banyak dibicarakan dalam dialog antar agama di Indonesia merentangkan pandangan pluralis dengan mengatakan bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama. Filsafat perenial juga membagi agama pada level esoterik (batin) dan eksoterik (lahir). Satu Agama berbeda dengan agama lain dalam level eksoterik, tetapi relatif sama dalam level esoteriknya. Oleh karena itu ada istilah “Satu Tuhan Banyak Jalan.”

Nurcholis Madjid, Satu Tuhan Banyak Jalan, penerbit Mizan, 1999

Hiruk pikuk kehidupan modern yang begitu gemar pada segala yang rasional dan selalu menuntut bukti empiris telah mengantarkan manusia pada titik nadir kegersangan spiritual yang dalam. Manusia-manusia di berbagai penjuru kota dunia telah terpojok pada rasa frustrasi yang sangat karena kegagalan mencapai kebahagian, ketenangan jiwa, dan keselarasan hidup. Jiwa manusia di musim globalisasi yang gersang semacam ini merindukan hal-hal spiritual, suatu pengalaman batin tentang yang ghaib.

Namun halnya demikian, mereka telah pula mengalami trauma terhadap agama yang dianggap kaku dan mengekang kebebasan. Agama terlalu banyak memuat aturan, perintah, dan larangan. Sementara manusia urban yang menggeliat di berbagai megapolitan justru menginginkan kebebasan. Yang diperlukan ialah spiritualitas, tanpa sekat-sekat agama yang padat. Toh agama, dalam anggapan kaum urban ini, telah lama bertikai dengan akal dan sains. Karenanya agama yang memusingkan macam itu tak perlu diungkit kembali. Cukup spiritualitasnya saja.

Di dunia yang semacam itu, lahir sebuah paham yang menenteramkan dan seolah memberi jalan keluar bagi manusia. Sebuah ajaran mengenai Kesatuan Transenden Agama-Agama. Paham ini mengangankan robohnya sekat-sekat antar agama, di mana semua agama dapat berdamai dan berjalan bersama menuju keselamatan dan kebenaran yang diinginkan semua manusia. Paham ini mewartakan pandangan baru tentang kebenaran, bahwa semua agama ialah jalan yang sama-sama sah dan sama pula benarnya menuju Tuhan yang sama. Maka kebenaran dan keselamatan menjadi begitu lumer. Setiap agama, apa pun nama dan bagaimana pun bentuk ritusnya, ialah sama-sama jalan yang sah menuju keselamatan dan kebenaran yang diangankan sebagai abadi.

Perbedaan pada praktik-praktik peribadatan dalam berbagai agama tak lagi dianggap sebagai hal yang mampu menyekat-nyekat kebenaran. Perbedaan semacam itu dianggap perbedaan di sisi luar agama atau mereka namakan sebagai wilayah eksoterik agama-agama. Sementara sisi batin, sisi yang hakikat dari semua agama, ialah sama dan mereka menyebutnya sebagai wilayah esoterik agama-agama. Pada wilayah eksoterik agama memang berbeda, namun di wilayah eksoterik semua agama menyatu menuju Tuhan yang Tunggal, begitu paham ini mengajarkan.

Dan Tuhan dalam ajaran ini tentu saja bukan Tuhan sebagaimana yang diajarkan Islam. Tuhan bagi mereka ialah Tuhan Universal Yang Esa (The One Universal God). Nama-nama Tuhan ini bisa berbeda. Setiap agama (dalam anggapan mereka) dapat melafalkannya dengan penyebutan yang tak sama. Jika lah lidah menyebut-Nya dengan cara yang berbeda, dengan bunyi yang tak sama, tetapi lah hakikat yang disebut ialah sama, kata para penganjur paham ini.

Dalam keseharian, Transendentalisme merayap begitu halus dalam kehidupan. Ia bisa menyusup dalam berbagai peristiwa. Toleransi ialah jalur yang cukup sering mereka lalui guna menyebarkan paham ini. Bahwa kita bersaudara dan perbedaan agama tak mesti membuat kita bertentangan, sebab meskipun agama kita berbeda kebaikan tetaplah abadi. Tuhan kita tetap satu. Suatu propaganda yang menarik dan kadang dikemas begitu menyentuh sisi kemanusiaan kita.

Transendentalisme pun menyentuh ilmu pengetahuan. Banyak ilmuan yang kemudian jengah dengan ilmunya sendiri. Bahwa ilmu tidak mengantar kepada kebahagiaan. Bahwa teknologi justru semakin menjauhkan manusia dari kemanusiaannya. Pada akhirnya mereka menginginkan sesuatu yang lebih menyentuh jiwa. Tak heran jika ada Profesor Botani bergelut dengan Samanisme atau ilmuan nuklir yang senang pada Spiritulitas Timur. Ilmu menjadi cair dan seolah tampil dalam wajah yang lebih ramah. Bahwa yang disebut kebenaran tak melulu ada di wilayah akademis dengan disiplin ketat. Di masa lalu pun banyak kebijaksanaan. Di alam perdukunan pun dapat ditemui kebenaran. Ide semacam ini nyaris mengantarkan ilmu pengetahuan pada sisi yang amat tradisional (untuk tak menyebutnya primitif). Tata pengetahuan modern yang kental dengan rasionalisme dan empirisme kemudian dihadapkan kenyataan-kenyataan di luar keduanya. Ufo, Crop-Circle, Samanisme, sampai ilmu ketabiban yang bercampur dengan mitos pun digali.

Lain lagi di arena politik. Tingkah para politikus yang sudah terlalu semrawut memang membuat frustrasi banyak kalangan. Korupsi dan ugal-ugalannya mereka berebut kekuasaan mengirimkan kejengahan tersendiri di tengah masyarakat. Maka ketika hadir seorang politikus berwajah polos, jujur, tidak (atau belum) korupsi, mengayomi, sederhana, dan dekat dengan rakyat, berbondong orang mengerubutinya. Kebaikan dan kepemimpinan tak lagi musti memperhitungkan agama seseorang, toh kebaikan ada di setiap agama. Maka sekat-sekat agama dalam politik diam-diam telah dilipat dan dimasukan ke dalam lemari. Sepotong ajaran Transendentalisme telah menyelinap dalam peristiwa politik kita: Bahwa kebaikan tak memerlukan latar belakang agama, sebab baik ada di setiap agama. Bukankah telah bergeser konsep kebaikan dalam politik itu?

Ada pula ajaran Transendentalisme yang hadir melalui pesan ramah lingkungan. Bahwa alam sesungguhnya memberikan kebaikan dan harus selaras dengan hidup manusia. Oleh karena itu, perlakuan manusia terhadap alam seharusnya sesuai dengan nilai universal: keselarasan hidup antara manusia dan alam. Bukan dengan nilai-nilai agama.

Paham ini pun telah melahirkan suatu tatanan etika dan moralitas baru. Apa yang disebut Islami, dianggap, tidak hanya terkandung dalam al-Qur’an atau pun hadith. Ia menyebar dalam ajaran-ajaran agama lain. Nilai kebaikan dan ajaran sebuah agama tak lagi dipandang sebagai memiliki hubungan yang ketat. Agama dan kebaikan justru makin meleleh. Kebaikan, kata mereka, tidak dapat dimonopoli oleh satu agama.

Kerancuan semakin menjadi tatkala kita mendengar celoteh kaum homoseksual tentang kebaikan. Orientasi seksual bukan ukuran baik buruk menurut mereka. Bahkan ada yang nekat merumuskan landasan keshalehan kaum gay. Katanya, Tuhan tidak melihat orientasi seksual seseorang, melainkan ketakwaannya.

Seruan-seruan kaum transendentalis seolah menawarkan ketenteraman jiwa, kedamaian, dan keabadian. Kengerian pada perang yang meniscayakan terkoyaknya tubuh manusia telah membuat paham ini menjadi tawaran menyejukan di panas jam 12 siang penuh debu serta kebisingan kota-kota megapolitan. Di tengah kecamuk pertentangan yang merajai hari-hari mereka mengulurkan persaudaran universal. Dalam kebingungan kita melalui hari-hari yang kering spiritualitas, mereka menawarkan keteduhan. Namun di dalamnya terdapat ajaran yang justru kabur mengenai kebenaran, keselamatan, dan yang terpenting ialah kerancuan mengenai konsep ketuhanan.

Seruan-seruan kaum transendentalis tak lagi menggunakan kata-kata semacam parennial atau pun Pluralisme. Kata-kata semacam ini memang mudah terbaca oleh kaum Muslim. Tak tanggung, MUI telah mengharamkannya beberapa tahun silam.

Kini seruan-seruan itu lebih halus disampaikan. Banyak orang yang tak terlalu mengerti bagaimana paham ini justru turut serta mengucapkannya. Niatnya mungkin mempromosikan perdamaian, mengajak pada pesaudaraan, atau menentang persengketaan. Sayangnya di sebalik kata-kata tersebut kadang menyelinap ide-ide dari Transendentalisme itu.

Apa yang disebut Transendentalisme kini telah merayap di keseharian kita. Paham itu berseliweran dalam berita televisi, bermacam laman internet, novel, lirik lagu, sampai promosi kebebasan beragama. Tentulah kewaspadaan dari kaum Muslimin sangat diperlukan, sebab paham ini mengalir seperti air sejuk menyentuh jiwa-jiwa yang gersang. Yang tak waspada, bisa jadi terikat olehnya.

Syed Muhammad Naquib al-Attas telah memperingatkan bahaya paham ini sejak puluh tahun lalu. Kemudian ia ejawantahkan kritiknya terhadap Transendentalisme ini dalam bukunya Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995).

Kritik al-Attas menjadi penting untuk ditelaah karena dua hal. Pertama beliau mengkritik dengan tajam inti ajaran ini, yaitu kesatuan transenden agama-agama dalam level esoterik serta problematika konsep Tuhan dalam teori transendentalis. Kedua, al-Attas bersentuhan langsung dengan tokoh-tokoh kelas dunia pengusung paham ini. Seyyed Hosn Nasr, Marthin Ling, dan lainnya. Oleh karena itu kritik al-Attas terhadap transendetalisme ialah kritik pakar pemikiran Islam tingkat dunia terhadap pemikiran para tokoh transendentalis kelas dunia pula. Menelaah pemikiran al-Attas tentang Transendentalisme diharapkan mampu memberikan bekal terhadap kaum muslimin untuk terus waspada terhadap perkembangannya.*

http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=388&Itemid=4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: