Wanted: A Psychology of the Powerless in Tarbiyyatul ‘Awlad (1) DAN (2)

Wanted: A Psychology of the Powerless in Tarbiyyatul ‘Awlad (1)

Selasa, 26 Februari 2013
oleh: Khadijah dan Muhammad

‘We know you better than you do… Kami tahu tentang Anda lebih banyak daripada yang Anda ketahui tentang diri Anda.” Kalimat jumawa ini keluar dari mulut seorang psikolog di Jakarta saat menceramahi mahasiswa baru tentang “keunggulan” disiplin ilmu yang diserap Indonesia dari para pemikir antituhan di Barat itu.

“Kita bisa memperbaiki atau merusak orang, dengan ilmu ini. Kita bisa kaya dengan ilmu ini. Kalian mau kaya? Gampang. Ambil saja salah satu anak tetangga, lalu ajari bahwa ini adalah ‘kipung’, terus menerus,” ujar si psikolog sambil memegang telinganya. “Sebentar lagi ibu bapaknya akan datang kepada kalian, minta terapi untuk anaknya!”

‘Psychology of the Powerful’
Omong-kosong di atas itu mungkin hanya sekedar gurauan, tetapi sentimen betapa digdayanya, betapa powerful-nya mereka yang ‘mengerti’ psikologi ini menyebar luas ke seantero masyarakat.

Para psikolog muda sekedar memberikan tes IQ – yang termasuk di dalamnya ada pula yang disebut ‘tes kepribadian’ – dalam beberapa jam saja untuk menetapkan si Fulan atau si Fulanah tidak layak diangkat sebagai pegawai, diterima berkuliah, dijadikan mitra dagang dan sebagainya. Berapa juta pemuda dan pemudi Indonesia yang terpukul jiwa raganya karena divonis “IQ jongkok” lewat berbagai pemeriksaan psikometri seperti ini?

Perasaan sangat tahu dan sangat berdaya ini menjadi akar menjamurnya berbagai pendekatan psikologi pop, psikologi instant dan behavioral quick fix yang dipakai berbagai pihak, mulai dari para guru sampai para ahli dan praktisi parenting.

Majalah dan buku yang menawarkan tips and tricks untuk berbagai keperluan – mulai dari melatih anak toilet training sampai menangani kenakalan remaja – tersebar di mana-mana. “101 Cara Mengenalkan Anak Disiplin Belajar.” “Pelaksanaan Reward and Punishment System untuk Peserta PAUD.” “Menghadapi Anak Membangkang.” “Teknik agar si Kecil Bicara di Usia Setahun.” “Tips Menangani Gangguan Belajar.”

Repotnya, pendekatan “aku tahu kamu” seperti ini juga diserap oleh para Muslim yang kemudian “mengIslamkan” psikologi dengan sekedar menempelkan beberapa ayat al-Quran atau hadits belaka. Contohnya, tentang pendidikan anak, para psikolog Barat bicara tentang teori tabula rasa John Locke di abad 17 (sebuah konsep yang sebenarnya berujung lebih jauh lagi ke Aristoteles, lalu diadaptasi St Thomas Aquinas di abad 13, sebelum kemudian ditekak-tekuk oleh Sigmund Freud di abad 20 menjadi teori psikoanalisis).

Eeeeh… para “ahli jiwa” dan pendidikan Muslim ini mengutip hadits Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam tentang fitrah sebagai “bukti” bahwa memang orangtualah yang dengan penuh kekuasan mengisi dan menulis di atas scrapped tablet atau tabula rasa bernama anak.

“Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ayah dan ibunya-lah yang akan menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nashrani ataupun Majusi.” (Al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan Malik)
Tidak banyak ahli pendidikan, ahli jiwa dan parenting Muslim ini yang lalu berbicara tentang mitsaqan ghaliza antara ruh dengan Allah Rabbul ‘alamin yang merupakan stempel Allah bahwa kita semua dilahirkan cenderung kepada tauhid, namun bisa dirusak oleh syaitan. Tidak banyak yang lalu berbicara tentang Allah yang membolak-balikkan hati (Al-muqallibal quluub) dan memegang prerogatif atas hidayah.

Tidak. Kata fitrah dan hadits di atas mereka maknai sebagai pembenaran untuk pendekatan dan pemikiran bahwa orangtua dan para pendidiklah yang memiliki kekuatan dan kemampuan membentuk anak.

Yang jauh lebih parah sebenarnya para instant fixers yang mencampurbaurkan segala macam pemikiran dan pendekatan untuk “menterapi” sesama manusia. Di Barat, banyak sekali orang – tidak harus pemegang ijazah dari fakultas pikologi – yang berprofesi sebagai life coaches. “Pelatih kehidupan.” Duileeeh… Tidak perduli bahwa mereka orang yang mengumbar syahwat dan berzina, minum khamr sampai muntah-muntah, atau kawin-cerai sampai cerai-berai, mereka bisa bekerja sebagai konselor dan “pelatih kehidupan.”

Di Indonesia pun ada yang mirip dengan life coaches seperti itu. Hanya berbekal bacaan psikologi pop, mereka lalu mengadakan berbagai spiritual trainings untuk para penganut ‘galauisme’ dan menyebut diri mereka sebagai – misalnya – the soul healer. Sang penyembuh jiwa.

Ketika ditanya apa yang mereka kerjakan sebenarnya dalam training itu, salah satu menjawab bahwa mereka menghadapi orang yang bermasalah dalam kehidupan karena berbagai ‘penyakit hati’ seperti galau, minder, pesimis, anak malas belajar, berkelahi terus, atau pemuda jauh jodoh dan susah mencari pekerjaan.

Gubrakk!!

Apakah para ‘penyembuh jiwa’ dan ‘ahli jiwa’ populer ini tahu betul apa yang disebut dengan jiwa? Apa bedanya jiwa dengan ruh? Apa bedanya dengan nafs? Apa hubungan antara jiwa dengan hati? Dengan qalb atau quluub? Dengan fu’aad? Bagaimana mereka menyembuhkan orang yang susah dapat jodoh atau pekerjaan?

Alangkah membingungkan, bukan? Tapi nyatanya banyak sekali orang di antara kita yang berprofesi sebagai vending machines nasihat, sebagai dispenser kebijaksanaan – meski di dalam Al-Quran Allah telah mengidentifikasi Diri-Nya saja Subhana wa Ta’ala sebagai pemilik hikmah.

* * *
“Dear Ibu Psikolog (Bapak Psikolog/Ustadz/Ustadzah)…

Saya punya masalah.

• Anak remaja saya sudah empat hari tidak pulang. Kata kawan-kawannya kemungkinan menginap di warnet karena dia sudah kecanduan games. Entah di warnet mana karena di kota kami ini ada ribuan warnet. Di sekolah prestasinya buruk karena kata gurunya memang IQ-nya “jongkok” dan malas pula belajar.
• Anak bungsu saya mogok sekolah, tidak mau shalat dan belajar. Kalau saya paksa, dia mengamuk membanting-banting barang.
• Suami saya tidak bisa dimintai bantuan untuk mendidik anak karena sibuk bekerja. Dia juga sangat gampang marah. Mungkin karena terlalu lelah menghadapi kompetisi di tempat kerjanya. Kalau saya mengeluhkan soal anak, maka kalau bukan saya yang dimarahi karena cerewet, maka anak kami yang remaja yang ditempeleng.
Mohon nasihat dari Ibu/Bapak Psikolog, Ustadz/Ustadzah..

Ummu Problema di Jakarta.”
* * *
Bagaimanakah memberi nasihat untuk masalah seperti ini? Teori siapa yang hendak dipakai? Teori behavioris, psikoanalisis atau kognitif? Orang ‘pintar’ mana yang hendak digugu dan ditiru? Apakah yang menganggap bahwa orang dari ras tertentu cenderung lebih “kurang cerdas” dibandingkan orang kulit putih? Atau teori anti-nature dan menganggap bahwa manusia sepenuhnya at the mercy of external forces alias bertekuk-lutut di bawah pengaruh luar?

Psikolog yang tidak terlalu berpikir mungkin akan memberikan quick fixes seperti “Ummu Problema, Anda harus memperbaiki cara komunikasi dengan anak-anak dan suami. Kunci masalah Anda adalah komunikasi. Cobalah melakukan active listening bla bla bla…” Mungkin sang Ummu akan menjawab, “Bagaimana mau berkomunikasi kalau anak tidak ada di rumah dan tidak bisa dikontak?”

Berapa banyak psikolog dan guru yang mengatakan bahwa kunci keluar dari masalah ini tidak lain dan tidak bukan adalah Allah dan pertolonganNya? Yang lebih penting lagi bagi para pendidik, psikolog, ahli parenting: Bagaimanakah memberi nasihat yang akan menyelamatkan diri si pemberi nasihat dan si penerima nasihat di akhirat nanti?

‘Psychology of the Powerless’
Mungkin sudah waktunya sekarang para orangtua, pendidik, psikolog dan para ahli parenting untuk sedikit menurunkan perasaan digdaya kita dan banting setir – dengan menyadari sesungguhnya tiada daya dan upaya kita membentuk dan mendidik anak-anak yang Allah Subhnahahu wa Ta’ala amanahkan kepada kita ini. Bukan kita, guru di sekolah, terapis di klinik dan ahli parenting di berbagai yayasan yang mendidik anak-anak kita.

Lalu siapa? Sang Murabi. Dialah, Subhana wa Ta’ala, yang menjadikan mereka ada, yang menyiapkan dan memberlakukan kurikulum pendidikan anak-anak kita. Kita semua dipersilakan mengambil posisi sebagai khadam pelaksana pendidikan itu.

Allah tidak butuh angka Intelligence Quotient alias IQ bikinan manusia untuk mendidik seseorang. Kalau tidak percaya, coba cek di YouTube dan saksikan beberapa video dari acara musabaqah tilawatil Quran di Dubai pada Juli 2012 untuk berkenalan dengan beberapa bintang tamu seperti Muhammad Hamdi al-Biblawi dan Ahmad Musallam al-Ubaid dari Mesir.

Kedua pria muda ini digolongkan mentally-challenged alias mengalami keterbelakangan mental. Al-Biblawi, misalnya, sudah berusia 33 tahun tapi disebut memiliki ‘kecerdasan’ setara anak usia 4 tahun. Dia tidak bisa menulis atau membaca. Tidak bisa memakai baju sendiri atau menolong dirinya di kamar mandi. Kalau keluar rumah sendiri, bisa dipastikan dia tidak bisa menemukan jalannya pulang. Tetapi al-Biblawi hafal seluruh al-Quran dengan berbagai qira’ah. Dia bisa menemukan gaya bacaan berbagai syeikh quraa’ terkenal di dunia.

Al-Ubaid demikian pula. Dari melihat caranya bicara atau dari air wajahnya, orang seperti kita akan dengan mudah mengatakan ‘idiot’. Tapi al-Ubaid hafal al-Quran dengan sempurna. Sebut saja salah satu ayat al-Quran, maka bukan saja dia hafal ayatnya tapi juga asal surah, nomor ayat dan di mana posisi ayat itu pada lembaran-lembaran mushaf – apakah di kanan, di kiri, tengah atau atas.

Berapa banyak orang ber-IQ tinggi di antara kita yang bisa menghafal Quran seperti ini? Kalau dipikir-pikir, sebenarnya, apa hubungannya daya ingat super duper hebat seperti ini dengan yang disebut IQ atau bahkan ‘kecerdasan’? Di posisi otak yang sebelah manakah Allah berkenan letakkan al-Quran? Belum lama ini, majalah Suara Hidayatullah menurunkan laporan perjalanan para relawan Sahabat al-Aqsha ke Suriah yang menggambarkan perjumpaan mereka dengan seorang pemuda korban keganasan perang yang dilancarkan rezim Bashar al-Assad. Karena cedera otak yang disebabkan peluru, pemuda itu amnesia total – dia tidak ingat siapa namanya, siapa ayah ibunya, dari mana asalnya, apa yang terjadi dengan dirinya sampai dia berada dalam perawatan. Tapi dia ingat Surah al-Fatihah! Subhanallah… Kita tidak tahu – di sebelah mana dari otaknya yang cedera itu Allah simpankan al-Quran… (bersambung)

Kedua penulis adalah bapak dan ibu rumahtangga

Wanted: A Psychology of the Powerless in Tarbiyyatul ‘Awlad (2)

Rabu, 27 Februari 2013

oleh: Khadijah dan Muhammad
Allah Mengajar Manusia Bicara

Al-Biblawi dan al-Ubaid susah bicara untuk percakapan biasa. Tapi sempurna melantunkan ayat-ayat al-Quran dengan nada indah. Karena Allah yang mengajari mereka bicara dengan al-Quran.

Kebanyakan kita khawatir kalau si Kecil belum bisa bicara dengan lancar di usia 2 tahun. Belakangan, saat anak harus bersekolah, kita repot memilihkan bagi si Kecil, Taman Kanak-kanak ‘Ini’ atau Kelompok Bermain ‘Itu’, karena kabarnya disediakan program belajar yang menjadikan si Kecil bilingual alias berkemampuan berbicara dwibahasa – yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kita berencana memasukkannya, nanti, ke Sekolah Dasar ‘XYZ’ dan Sekolah Menengah Pertama ‘ABC’ karena setiap siswa diharuskan hanya berkomunikasi dengan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Kita ingin si Kecil yang sekarang masih belum pandai mengelap ingusnya itu tumbuh menjadi remaja trilingual alias tribahasa.

Lalu kemana sesudahnya? Kita ingin memasukkannya ke Sekolah Menengah Atas ‘Super’ karena kabarnya di sana ada program Bahasa Prancis yang unggul, dan ada pula program pertukaran pelajar dengan sejumlah negara sehingga kita bisa berharap bahwa pada waktunya nanti anak akan terpapar dan dapat belajar bahkan lebih banyak lagi bahasa-bahasa di dunia.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang mengilhamkan kepada kita keinginan untuk mendidik dan memberi kesempatan terbaik bagi si Kecil untuk belajar, terutama belajar berbahasa. Mudah-mudahan, karena kita melakukannya karena Allah, kita tak akan kecewa atau menganggap si Kecil bodoh bila ternyata sesudah menghabiskan uang jutaan rupiah pun si Kecil tidak dengan sendirinya mampu menguasai tujuh bahasa.

Kenapa tak perlu kecewa? Karena si Kecil tidak jadi pintar bicara hanya semata-mata karena orangtua dan orang lain di sekitarnya, termasuk guru, rajin mengoceh dan mengajak serta melatihnya bicara.

Allah yang mengizinkan kita bicara, Allah yang mengajari kita bicara. Tanpa izin Allah, tidak ada manusia yang bisa membuat manusia lain pandai bicara meskipun sudah berkeringat menterapi atau menghabiskan jutaan rupiah untuk menyekolahkannya.

Bicara apa?
Semua jenis bicara.
Bahasa apa yang diajarkan Allah kepada manusia?
Semua bahasa. Termasuk Bahasa Al-Quran, yaitu Bahasa Arab.

“Ar-Rahman. (Tuhan) Yang Mahapenyayang.
‘Allamaal qur’an. Yang telah mengajarkan Al-Quran.
Khalaqal insaan. Dia menciptakan manusia.
‘Allamaahul bayaan. Mengajarnya al-Bayaan.
(dst.)”

Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, menjelaskan makna ayat-ayat awal surah Ar-Rahman ini sebagai berikut:
“Allah Ta’ala memberitahukan tentang karunia dan Rahmat-Nya bagi makhluk-Nya, dimana Dia telah menurunkan Al-Quran kepada hamba-hamba-Nya, memberikan kemudahan membaca dan memahaminya bagi siapa saya yang Dia beri rahmat. Dia berfirman : ‘(Rabb) yang Mahapemurah, Yang Telah Mengajarkan al-Quran. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.’ (ayat 1-4).

Al-Hasan berkata: “Kata al-Bayaan berarti berbicara. Siyaq (konteks)nya berada dalam pengajaran al-Quran oleh Allah Ta’ala yaitu cara membacanya. Dan hal itu berlangsung dengan cara memudahkan pengucapan artikulasi, serta memudahkan keluarnya huruf melalui jalannya masing-masing dari tenggorokan, lidah dan dua buah bibir sesuai dengan keragaman artikulasi dan jenis hurufnya.”

Seorang da’i Amerika keturunan Pakistan, Nouman Ali Khan, menjelaskan betapa dahsyatnya penjelasanAllah tentang sifat kemahapemurahannya, kemahapenyayangannya, lewat surah Ar-Rahman ini. Ketika Allah menyebut ‘Ar-Rahman’, maka Dia sedang menggambarkan diriNya, Sang Pencipta ‘Yang Luar Biasa Pemurah, yang Mahapemurah.”

“Dalam surah ini, Allah menyebutkan daftar prioritasNya. Dari semua hal yang menjadi bukti kemahapengasihannya Allah, hal pertama yang Dia sebutkan adalah bahwa Dia mengajarkan al-Quran,” tutur Ali Khan. “Allah tidak sekedar menghadiahi kita al-Quran, atau sekedar menurunkannya. Allahmengajari kita al-Quran. Allah menyebutkan fakta ini bahkan sebelum menyebutkan penciptaan manusia. Ini artinya Allah sedang mengajarkan kepada kita, fakta bahwa kita eksis adalah bentuk kemurahan Allah yang lebih rendah daripada fakta bahwa Allah mengajari kita al-Quran.”

“Kata Quran berarti ‘sesuatu yang dibaca berulang kali. Al-Quran diturunkan dalam Bahasa Arab yang indah dan jelas. Kita semua harus mempelajari bahasa dari sesuatu yang hendak kita pelajari. Karena itu, untuk memungkinkan manusia meraih manfaat dari Kitab ini, Allah berfirman bahwa Dia mengajari manusia Al-Bayaan.”

Al-Bayaan adalah kemampuan berbicara dengan jelas, kemampuan memahami suatu percakapan, kemampuan berkomunkasi.

Jadi, Allah bukan saja guru Al-Quran, Allah adalah juga guru bahasa. Bahasa apa? Semua bahasa. Namun dari semua bahasa yang Allah ajarkan, Allah memilih satu di antaranya, yakni Bahasa Arab, sebagai bahasa yang dimuliakan di atas semuanya.

Kemampuan kita berbicara adalah sebuah kemuliaan yang Allah berikan kepada kita, yang setara dengan kemuliaan mempelajari Al-Quran.

Dengan perspektif ini, maka siapa pun kita, baik ayah atau ibu atau guru atau terapis, akan memahami bahwa ketika si Kecil berbicara, kita tidak lalu menganggap kita hebat karena telah mengajarinya bicara. Kita sadar, “Alhamdulillah. Segala puji hanya bagi Allah yang telah mengajari anakku/muridku berbicara.”

Dan ketika si Kecil mengalami kesulitan berbicara, kita tidak akan berputus-asa dan kita akan menengadahkan tangan kita tinggi ke langit seraya berdoa, “Ya Allah, anakku belum bisa berbicara. Ya Allah, Engkaulah yang mengajari manusia berbicara. Kami bertaubat kepadaMu atas segala dosa kami sebagai orangtuanya, dan kami mohon kepadaMu yang Mahapemurah dan Mahapengasih, karuniakanlah al-Bayaan itu kepada anak kami. Kabulkanlah doa kami ya Allah, Penguasa seluruh alam semesta.”

Allah Sang Pendidik

Mungkin kita harus meminta para ahli tafsir dan ahli balaghah untuk lebih banyak berbicara kepada para orangtua seperti kita di saat kita kebingungan mencari nasihat tentang bagaimana mendidik anak, sehingga mereka bisa meyakinkan kita bahwa sesungguhnya Allah-lah yang mendidik manusia.

Bukan saja di Surah ar-Rahman Allah menggambarkan diriNya sebagai pendidik dan pemberi hikmah atau kebijaksanaan. Ternyata, penjelasan salah satu ayat dalam Surah an-Nas menggambarkan hal yang sama, dan kita butuh para ahli tafsir untuk menjelaskan ini kepada kita.

“Qul a’udzu birabbi annas, maliki annas… Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb-nya manusia’. Penguasa manusia’.”

Kata Rabb memiliki beberapa makna – demikian penjelasan para ahli Bahasa Arab. Pemilik Absolut. Penguasa. Kalau kita mengatakan Rabbu ‘abdin maka artinya adalah “Pemilik para hamba-Nya.” Rabb al-bayt – pemilik rumah.

Kata Maalik juga berarti pemilik. Tapi ‘pemilik’ adalah satu dari sekian makna kata Rabb sementara Maalik memang hanya berarti ‘pemilik.’ Kata Rabb memiliki berbagai makna lainnya seperti al-Mun’im (penganugerah segala nikmat), al-Qayyim (yang perkasa atau kuat), al-MuRabbi (yang menjaga pertumbuhan dan perkembangan), juga berarti al-Mu’ttii (yang banyak memberi), juga berarti al-Mursyid (yang menunjukkan jalan/arah).

Seseorang bisa menjadi maalik atas sesuatu, tetapi mungkin tidak memiliki kekuasaan penuh atas sesuatu itu. Tetapi Ar-Rabb menggambarkan otoritas dan kepemilikan sempurna atas segala sesuatu.

Khusus mengenai kata al-MuRabbi, Nouman Ali Khan menjelaskan bahwa kata ini tidak berasal dari kata Rabb رب (Ra, ba, dan ba/Mudda’af), tetapi dari huruf-huruf dasar ra, ba dan waw – ربو. Itulah kata Rabb yang kita baca saat melantunkan doa, “Allahummaghfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shagiiraa…”

Kata-kata yang berkenaan dengannya adalah rabba, yurabbii, tarbiyyah. Makna tarbiyyah adalah memastikan terjadinya perkembangan, pertumbuhan dan pematangan sesuatu sampai ke tahap yang diinginkan sang Murabbi. Tarbiyyatul ‘awlad berarti memastikan anak tumbuh dengan fisik dan akhlaq yang diinginkan sang Murabbi saat dia besar.
Di dalam nama ar-Rabb (ra, ba, ba) ada Rabb (ra, ba, waw) karena memang sesungguhnya Allah Rabbul ‘alamin adalah Sang Penguasa dan Pemilik yang Maha memberi dan Maha mendidik dan Maha menjaga yang memastikan kita tumbuh dan kembang sampai ke tahap yang Dia inginkan.

Allah adalah al-Murabbi kita dan anak-anak kita.

Kalau diingat-ingat bahwa al-Quran sudah menggambarkan kemutlakan penguasaan dan kepemilikan Allah atas manusia sehingga tawa dan tangis kita pun Dia tentukan – “Waannahu huwa adhaka waabka – Sesungguhnya Dialah yang telah membuat kamu tertawa dan menangis” (Surah an-Najm: 43) – mau tak mau terpikir: sebenarnya kita ini bisa apa siiiiy….?

Kita tidak berdaya apa-apa selain yang Allah berikan.
Laa hawlaa wa laa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘azhiim.

Bukan kita yang mendidik anak-anak kita dengan berbagai teori psikologi dan parenting – tetapi Allah-lah yang mendidik. Dengan kurikulumNya. Dengan materi dan ujianNya. Dengan punishment, reward dan ijazahNya. Para guru, orangtua, ahli parenting memang perlu merasa powerless seperti ini untuk memasuki sebuah state of mind terbaik demi melaksanakan program tarbiyyatul ‘awlad dari Allah: tawakkal ‘alAllah.

Bagaimana implementasi praktis psikologi ketidakberdayaan di hadapan Allah ini? Kita butuh belajar terus dan diskusi lagi di lain waktu, Insya’Allah.*

Kedua penulis adalah bapak dan ibu rumahtangga

http://hidayatullah.com/dev/read/27461/27/02/2013/wantedapsychologyofthepowerlessintarbiyyatulawlad2.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: