Syiah: Kafir atau Sesat?

Pada minggu kedua Nopember 2012, Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan mengadakan silaturrahmi dengan tema “Revitalisasi Ormas Islam dalam Mengukuhkan Ukhuwah”, acara tersebut dihadiri oleh segenap organisasi Islam lainnya, khususnya yang berdomisili di Makassar.
Ada yang menarik pada pertemuan yang diadakan di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Tingkat I Sulsel tersebut. Berawal dari paparan Ustad Said Abd. Shamad –Ketua LPPI Indonesia Timur—tentang fakta keberadaan aliran Syiah di Makassar yang sungguh meresahkan dan merisaukan umat. Paparan sang ustad ditanggapi beragam oleh segenap perwakilan ormas, termasuk ormas yang menjadi penganut dan penyebar aliran Syiah (IJABI). Di sinilah pentingnya sebuah silaturrahmi, kita bisa saja saling menyesatkan ajaran masing-masing, tapi tetap menjaga ukhuwah, perbedaan memang memerlukan kedewasaan.

Salah satu tanggapan keras kepada Ustad Said yang dianggap terlalu a priori terhadap aliran Syiah muncul dari Prof. Dr. Ahmad M. Sewang, sebagai narasumber yang mewakili pengurus FUI, beliau adalah guru besar dalam bidang sejarah di Universitas Islam Negeri Sultan Alauddin Makassar. Sang guru besar menyatakan, “Syiah dan Sunni adalah produk sejarah, tidak boleh asal menyesatkan antara satu aliran dengan aliran yang lain, sebagaimana klaim ustad tadi yang mengafirkan Syiah…” perkataan Prof. Sewang dipotong oleh Ustad Said, katanya, “Maaf, saya tidak pernah mengafirkan Syiah, hanya menyesatkan, sekali lagi hanya menyesatkan!”, “Iya, tapi Ustad menyesatkan, samalah itu!” Sahut sang guru besar dengan nada ditekan lebih tinggi. Peristiwa tersebut saya abadikan dengan sangat apik lewat tulisan dan kedipan kamera.
Sudah hampir setahun pristiwa itu telah terjadi, dan hingga saat ini tak ada peserta pertemuan yang terdiri dari alim-ulama, ustad, akademisi, cendekiawan, profesor, hingga mahasiswa keberatan apalagi protes terhadap pernyataan profesor di atas yang menyamakan makna ‘kafir’ dan ‘sesat’, ini sungguh aneh bin ajaib. Tulisan ini bermaksud menjernihkan kedua terminologi tersebut, yang ternyata akademisi sekaliber guru besar pun masih keliru memahami perbedaan makna kedua kata tersebut. Perlu kiranya menyegarkan kembali paham keagamaan kita.
Kafir dan sesat
Kata ‘kafir’ adalah kata yang memiliki lebih dari satu makna. Oleh karena itu, kata ‘kafir’ dan direvasinya disebut berkali-kali dalam Alquran dengan makna yang bermacam-macam pula. Kata ‘kafara’ disebut dalam Alquran sebanyk 310 kali, kata ‘kafirun’ sebanyak 132 kali, dan kata ‘kafur’ sebanyak 99 kali. Frekuensi penyebutan tidak hanya menunjukkan variasi makna tapi juga pentingnya sebuah stigma bernama ‘kafir’. Ini menandakan jika kata tersebut maha-penting dan tak boleh disepelekan dalam memahaminya, baik orang Islam maupun yang disebut kafir oleh Alquran sendiri.
Dari segi bahasa, kata ‘kafir’ ditujukan pada pelaku (subjek) dan ‘kufur’ ditujukan pada perbuatan yang keduanya berakar dari kata, kafara-yakfuru. Dr. Shalih bin fauzan dalam “ Kitab At-Tauhid III, 1420 H” mengurai definisi ‘kufur’ dari segi bahasa dengan arti ‘menutupi’, sedangkan menurut syara’, ‘kufur’ adalah tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya baik dengan mendustakannya atau pun tidak.

Ulama Ahlussunnnah wal Jamaah membagi makna ‘kafir’ ke dalam dua kategori: Kufur I’tiqdi dan Kufur Asghar. Kufur i’tiqadi adalah kekafiran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, yang terdiri dari lima kriteria: (1) kufur takzib, menuduh Rasulullah pembohong; (2) kufur istikbar, sombong dan menolak mengikuti ajaran Rasulullah; (3) kufur i’rad, tidak memusuhi namun tidak mau mengikuti ajaran Rasulullah; (4) kufur nifaq, yang berpura-pura ikut, namun pada hakikatnya menolak ajaran Rasulullah.
Adapun Kufur Asghar (kufur ringan) adalah kekafiran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam. Kafir jenis ini terjadi karena adanya halangan atau keterbatasan dalam melaksanakan perintah Allah. Contohnya adalah membunuh, bersumpah tidak dengan nama Allah, menghina sesama saudara muslim dengan sebutan ‘kafir’, tidak mampu melaksanakan hukum Allah, dsb. Kufur ringan atau kecil (asghar) termasuk di dalamnya, kufur nikmat dan ingkar kebaikan, sebagai lawan syukur (QS. An-Nahl, [16]:112); (QS. Ibrahim [14]:7. Jadi seorang muslim bisa saja disebut kafir karena menutupi serta mengingkari nikmat Allah SWT.
Kata ‘kafir’ akan lebih mudah dipahami jika disandingkan dengan lawan artinya yaitu ‘iman’, sebagaimana kata ‘jahil’ akan mudah dipahami jika dikaitkan dengan kata ‘alim’, atau sebutan api dan air, siang dan malam, surga dan neraka, dst. Peran iman dalam hidup dan kehidupan orang Islam adalah sangat penting, dan menjadi landasan utama keislaman seseorang. Imam Al-Gazali menggambarkan peran iman dalam diri seseorang sebagai pengendali hati, pembangkit nurani, dan teman bagi prilaku. Iman seseorang adalah asas segala perbuatannya dan sebaliknya perbuatannya didorong oleh keimanannya.
Orang-orang yang menolak Islam tentu tidak beriman dan pasti ‘kafir’. Maka kafir adalah identitas mereka yang tidak menerima Islam sebagai ajaran agama dan kehidupan, termasuk di dalamnya yang mengingkari rukun iman dan ajaran Islam. Mengimani rukun Islam dan Iman juga harus utuh dan tak boleh parsial, dengan artian tidak bisa hanya beriman kepada Allah lalu ingkar kepada Nabi-Nya, karena jika itu terjadi maka sudah masuk kategori kafir bagi Abu Hasan Al-Asy’ari. Mengaku beriman namun meyakini bahwa Allah itu terdiri dari tiga unsur juga adalah kafir, apalagi beriman kepada Tuhan yang tidak bernama Allah dijamin kafir seratus persen (kafir muthlaq). (ISLAMIA. VIII, No. 1, 2013). Salat misalnya, jika seorang muslim tidak salat karena faktor malas (idza qamu ila as-shalati qamu qusala), maka ia dicap sebagai munafiq dan tersesat dari kebenaran, namun jika ia tidak salat karena berpendapat bahwa salat tidak wajib maka sudah termasuk kufur, inilah yang dimaksud dengan hadis Nabi bahwa pembeda antara orang Islam dan kafir adalah meninggalkan salat, al-farq baynal mu’min wal kafir tarkus shalah.
Adapun ‘sesat’ dalam bahasa Arab disebut ‘dhalal’ yang bermakna orang yang keluar dari jalan dan petunjuk yang benar, shirath al-mustaqim. Setidaknya ada 50 ayat dengan ragam bentuk derivasinya yang bersal dari kata ‘dhalla-yudhillu-dhalal’. Sebuah kaidah sagat tepat, ‘setiap orang kafir pasti sesat, namun belum tentu orang sesat itu kafir’ karena orang yang sesat adalah tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam atau tidak menjadikan dirinya kafir selama meyakini rukun Islam dan Iman secara utuh. Kecuali Imam Al-Gazali yang bersikap lunak, menurutnya, selagi seseorang itu mengakui ketuhanan Allah dan meyakini kenabian Muhammad SAW, maka ia tidak boleh dianggap kafir. Demikian pendapat sang imam sebagaimana dikutif Syamsuddin Arif dalam “Orientalis dan Diabolisme Intelektual, 2008”.

Diskursus tentang sesat-menyesatkan telah ada sejak generasi awal kedatangan Islam, terutama muculnya firqah-firqah yang jelas-jelas menyimpang dari Islam yang telah dipraktikkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Tersebutlah aliran Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, Musyabbihah, Jahmiyah, Salimiayyah, baca misalnya karya “Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, ‘Buku Pintar Akidah Ahlussunnah wal Jamaah’ 2011[terj.]”.
Saling menyesatkan tidak hanya monopoli antara satu aliran ke aliran lainnya, melainkan kerap juga terjadi intra-aliran. Ahlussunnah yang memiliki banyak sel-sel kerap saling menyesatkan. Untuk kasus Indonesia misalnya, Nahdatul Ulama (NU) yang mengusung aliran ‘Aswaja’ singkatan dari Ahlussunnah wal Jamaah dengan tegas menyesatkan golongan ‘Salafi-Wahabi’ karena dianggap kaku dan tekstual dalam menafsirkan nas serta sangat puritan dalam mengamalkan ajaran Islam, (Muhammad Idrus Ramli, Bekal Pembela Ahlussunnah Wal-Jama’ah Menghadapi Radikalisme Salafi-Wahabi, 2013; Dr. KH. Mustamin Arsyad, Islam Moderat, Refleksi Pengamalan Ajaran Tasauf, 2012; Syaikh Idahram, Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, 2011).
Namun Salafi-Wahhabi –sebagaimana Muhammadiyah pada awalnya—lebih dulu menyerang dan menyesatkan para pelaku bid’ah, khurafat, dan tahyul (TBC) yang ternyata disinyalir banyak diamalkan oleh para pengikut yang mengklaim diri mereka sebagai ‘Aswaja’, (AM. Waskito, Bersikap Adil Kepada Wahabi, 2011). Padahal sejatinya kedua golongan di atas masih dalam koridor Ahlussunnah karena masih memiliki rukun Islam dan Iman yang satu. Berbalik seratus delapan puluh derajat dengan aliran Syiah yang memiliki rukun Islam dan Iman tersendiri, sebagaimana yang tertulis dalam “Emilis Renita, 40 Masalah Syiah, 2009”.
Ternyata Syiah juga demikian, tidak kalah seru pertentangan internal yang terjadi di antara mereka (ba’suhum baynahum syadid), Syiah Zaidiyah yang dianggap paling dekat dengan Sunni misalnya, dianggap sesat oleh Syiah Imam 12 (itsna ‘asyariyah) yang menjadi anutan resmi negara Iran. Belum lagi kelompok Syiah Syurai’iyah yang meyakini bahwa Allah SWT berhulu (manunggal) ke dalam diri lima orang, yaitu: Nabi Muhmmad dan keluarganya, Abbas, Ali, Ja’far, dan ‘Aqil. Sedang Syiah Ma’mariyah meninggalkan salat lima waktu, belum termasuk Syiah Ghuraibiyah (Kaum Gagak) yang berpendapat bahwa ‘Persamaan Imam Ali dan Rasulullah ibarat persamaan antara burung gagak yang satu dengan burung gagak lainnya’ (Ilham Kadir, Jejak Dakwah KH. Lanre Said, Ulama Pejuang dari DI/TII hingga Era Reformasi, 2010). Bahkan menurut Vali Nasr, dalam “The Shia Revival: How Conflicts within Islam Will Shape the Future, 2006” menyatakan dengan gamblang bahwa Syiah yang berkembang di Suriah saat ini yang ajaranya dipelopori oleh kaum Alawi –biasa disebut Syiah Alawiyah atau Nushairiyah—adalah sebuah pemahaman ajaran Syiah yang salah, dan menyimpang dalam ortodoksi Islam, termasuk di dalamnya unsur Kristen serta ajaran pra-Islam –Syiah Nushairiyah adalah anutan resmi pemerintah Suriah di bawah Bashar Assad. Namun aliran ini –lanjut putra Hosein Nasr —kaum Alawi selalu berusaha membujuk Syiah Lebanon dan Iran untuk memberikan pernyataan bahwa mereka adalah benar-benar Syiah.
Ibnu Taimiyah, seorang ulama dan pejuang, memiliki nalar yang tajam, berusaha mengidentifikasi penyebab kesesatan seorang muslim, menurutnya, sumber kesesatan berasal dari kejahilan yang hanya mengikuti nenek moyangnya atau orang-orang yang mereka kagumi yang sudah lebih dulu tersesat sehingga ia menyimpang dari jalan yang lurus karena kejahilannya terhadap perintah dan larangan Allah, atau bisa juga karena mengikuti hawa nafsunya sehingga ia beribadah tanpa dasar dan petunjuk dari Allah (Ummu Tamim Izzah binti Rasyad, Aqai’d al-Firaq adh-Dhalah wa Aqidah al-Firqah an-Najiyah, 2010).
Sebagaimana orang liberal yang hanya beribadah jika sesuai dengan logikanya (akal), atau aliran tasawuf yang meyimpang dan beribadah sesuai kehendaknya. Padahal dalam beragama sudah ada rumus baku, dalam ranah muamalat, kita dibolehkan melakukan segala bentuk aktifitas, termasuk makan dan minum hingga menemukan larangan (al-Ashlu fil muamalat halalun illa ma dalla ad-dalilu ‘ala tahrimihi), dalam beribadah, terbalik, kita dilarang untuk beribadah, sampai ada dalil yang memerintah atau menganjurkan (al-ashlu fil ‘ibadati haramun illa ma dalla ad-dalilu ‘ala wujudihi). Di sinilah kesesatan kerap bermula, bagi yang beribadah tidak sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunnah, serta contoh dari Rasulullah dan para salafus-shalih. Tidak hanya itu, terlalu banyak golongan yang kerap melakukan perkara-perkara baru dalam beribadah (bid’ah), lalu dinisbahkan pada Rasulullah. Bid’ah juga bertingkat-tingkat volume kesesatannya, yang terbesar adalah bid’ah akidah, termasuk aliran yang merombak lalu mengotak-atik (dekonstruksi) pondasi agama (rukun Islam dan Imam).
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah, mengatakan bahwa perbuatan bid’ah lebih disenangi iblis daripada kemaksiatan lainnya –seperti zina, korupsi, membunuh, dst.—karena palaku maksiat bisa diharapkan tobatnya, sedangkan pelaku bid’ah sulit diharapkan tobatnya. Allah menghalangi tobat atas setiap ahli bid’ah. Karena mereka menganggap kesesatannya itu sebagai sebuah kebenaran. Namun jika ia bertobat dengan sungguh-sungguh maka Allah akan menerima tobatnya, sebagaimana tobat orang kafir.
Perlu ditekankan bahwa golongan ‘sesat’ karena menyimpang dari Ahlussunnah wal Jamaah adalah masih bagian dari Islam dan bukan kafir. Dengan itu mereka yang divonis sesat kelak juga akan masuk surga setelah melalui pencucian di neraka, sebagaimana para penganut Ahlussunnah yang melakukan dosa besar (fasiq) lalu belum bertobat atau belum diterima tobatnya, juga akan dicuci di neraka yang durasi waktunya sesuai kadar volume dosa. Tentu saja dosa yang terbesar adalah penyimpangan akidah sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum Syiah.
Aliran Syiah yang masih memiliki Tuhan, Nabi, dan Alquran yang sama dengan golongan Ahlussunnah, serta percaya pada rukun Iman dan Islam a la Rasulullah tetap mendapat jaminan masuk surga selama akhir hayatnya mengucapkan ‘La ilaha illallah”, sebagaimana sabda Nabi, Man kana akhiru kalamihi la ilaha illallah dakhalal jannah, karena surga milik umat Islam dan tidak hanya dikapling oleh golongan tertentu. Last but not least, harus dipahami bahwa Sunni adalah produk sejarah berdasarkan wahyu sebagaimana Syiah yang diproduk oleh sejarah berasaskan kebencian dan hawa nafsu. Tindakan para ulama muktabar dari Ahlussunnah termasuk MUI dan Depag RI yang telah menyesatkan Syiah juga bagian dari produk sejarah yang harus diterima dan didukung. Wallahu a’lam!

Ilham Kadir, Anggota Majelis Intelektual, Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dan Peneliti LPPI Indonesia Timur.

http://www.ilhamkadir.lppimakassar.com/2013/06/syiah-kafir-atau-sesat.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: