Solusi Islam untuk OCD (was-was) – A Review

Posted by Muhammad Awais Tahir

Translation of the article Islamic Solution for OCD (Was-waas) into Malay/Indonesian Langauge by Gwan al’Aydrus. Her blog can be seen here : Gwan’s Blog

Apakah anda sering menghabiskan banyak waktu untuk berwudhu? atau anda sering lupa -sudah berapa rakaat- saat mengerjakan shalat? atau anda sering merasa berada dalam kondisi berhadas? nah, ini adalah solusi Islam untuk masalah anda, berupa pedoman komprehensif melalui beberapa langkah untuk mengatasi Gangguan Obsesif Kompulsif (was-was). Di kehidupan sehari-hari, kita mendapati bentuk-bentuk OCD sebagai berikut:

1. Obsesi: ketakutan akan terkontaminasi, selalu menginginkan ketelitian dan keteraturan , keraguan yang patologis, serta penghujatan
2. Kompulsi: mencuci/membersihkan, keteraturan/ketelitian, mengecek terus-menerus
Kurang lebih ada 1/2 – 3/4 orang dengan OCD memiliki obsesi ganda. sementara bentuk OCD yang paling sering dimiliki oleh ummat Muslim adalah:
• keraguan tentang jumlah rakaat
• ragu sudah melakukan shalat dengan benar
• ragu apakah buang angin dan telah batal wudhu
• ragu tentang wudhunya sudah benar/belum
• pikiran-pikiran yang menghina Tuhan
• perasaan menetap bahwa pakaiannya tidak bersih
• mengulang shalat
• melakukan sujud sahwi tiap kali shalat
• melakukan wudhu berkali-kali
• menghabiskan banyak waktu untuk berwudhu
• menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan/mencuci. misalnya mencuci tangan setelah makan
Karakteristik OCD:
1. Sifat yang menganggu: pikiran, gambar, atau impuls yang berulang-ulang masuk ke dalam kesadaran dengan cara yang tidak diinginkan. Makanya, hal tersebut terjadi bertentangan dengan kemauan seseorang. Selanjutnya perasaan kompulsi juga berhubungan dengan pikiran tersebut.
2. Tak dapat diterima: efek negatif berhubungan dengan gangguan mungkin bisa berubah dari kejengkelan, ke perasaan tidak senang, atau distres kepada ketakutan yang kuat atau kecemasan
3. Perlawanan yang subjektif. Ada dorongan yang kuat untuk melawan, melenyapkan, dan menghindari pikiran obsesif untuk masuk ke dalam kesadaran, apakah dengan menghindar, strategi kontrol kognitif, atau tindakan kompulsi yang terlihat.
4. Ketidakmampuan untuk mengontrol: ada perasaan kurang kontrol terhadap obsesi tersebut Bermacam cara baik yang nampak atau cara yg tidak tampak dilakukan oleh pasien OCD, seperti:
1. Ritual kompulsi: mencuci berulang-ulang
2. Dorongan kompulsi: mengecek pintu sudah terkunci atau belum
3. Netralisasi: merespon pikiran negatif dengan pengganti yang positif
4. Bertanya untuk meyakinkan diri: mengkonfirmasi lagi dan lagi.
5. Penghindaran: menghindari makanan, nomor, atau orang lain.

Psikologi modern belum mampu menemukan penyebab pasti mengenai masalah OCD ini. ada pendapat yang mengatakan bahwa seseorang dapat mengenali pikiran obsesi itu berasal dari dirinya atau luar dirinya, tapi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana seseorang bisa menciptakan pikiran-pikiran yang bahkan tidak pernah terlintas dalam bayangannya untuk memikirkan hal tersebut?
Dari perspektif Islam, pikiran-pikiran yang tidak diinginkan disebut was-was, yakni sesuatu yang dibisikkan syaitan ke dalam hati dan pikiran manusia. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “..dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga”. (QS. Al-Israa: 64-65)
Bisikan syaitan ini berperan penting dalam berkembangnya penyakit mental atau gangguan psikologis, dan kita sebagai manusia diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari musuh yang tidak terlihat ini: “Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. raja manusia. sembahan manusia. dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1-6)
Di sini nampak bahwa kita memang memiliki pikiran-pikiran tersebut, akan tetapi sebenarnya syaitan lah yang membisikkan pikiran itu kepada kita dan menipu kita seakan itu adalah pikiran yang muncul dalam diri kita sendiri.
Mengapa saya?
Ada beberapa alasan yang dapat mejelaskan OCD, baik dari perspektif, fisiologis, genetik, dan psikologis. Beberapa peneliti mengemukakan bahwa fisiologis dari otak dapat diubah oleh pikiran, dan itu adalah jalan di mana intervensi psikoterapi dapat menangani masalah tersebut. Dalam hal ini, terapi yang bekerja dengan baik pada OCD adalah cognitive-behavior therapy (CBT).
Menurut terapi kognitif-behavior, kebanyakan orang punya pikiran yang menganggu dan tak diinginkan, sama seperti yang dimiliki oleh orang dengan OCD. Tapi, mengapa sebagian orang mengembangkan OCD dan lainnya tidak? Jawabannya, kebanyakan orang tidak menghiraukan pikiran tersebut, sementara orang dengan OCD tidak mampu melakukannya.
Sebagian orang memang sangat sulit untuk menolak bisikan-bisikan syaitan itu, karena mereka sendiri bingung dari mana asalnya. Mereka jadi mencampuradukkan gangguan syaitan itu dari diri seseorang (pikirannya), dan dari bagian yang lebih dalam lagi yakni ruh. –
Yang lainnya malah sama sekali tidak mengindahkan kerasnya bisikan syaitan itu (was-was), dan setiap pikiran yang muncul dengan tingkat kekuatan tertentu, dianggapnya bersumber dari dirinya. Dan, ada yang benar-benar tidak percaya pada bisikan syaitan.
Jadi, karena satu dan lain hal, saat seseorang mulai mempercayai bisikan syaitan itu, ia akan mengembangkan gangguan dalam dirinya. Sebaliknya, siapa yang telah mengalahkan bisikan itu, tidak akan mengembangkan gangguan tersebut. Dan Karena musuh kita ini tak terlihat, maka ada cara yang spesifik untuk melawannya. Ini dia:
– Kita harus sadar akan taktik syaitan, termasuk kekurangan dan keterbatasan mereka
– Kita harus tahu karakteristik was-was yang ditimbulkan oleh syaitan.
– Kita harus mengetahui kekuatan diri kita sendiri serta keterbatasan kita.
Teori kognitif juga menyebutkan bahwa selama seseorang mengartikan pikiran yang menganggu sebagai suatu “bencana”, maka selama itu pula ia tetap mempercayai bahwa pikiran itu benar adanya. kemudian mereka akan menjadi stres dan melakukan tindakan menghindar atau ritual-ritual.

Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah swt memaafkan umatku terhadap pembicaraan didalam jiwanya selama mereka belum mengatakan atau mengamalkannya.”(HR. Bukhari)
Ini karena saat kita melawannya, jangan membicarakan hal tersebut atau melakukannya, sehingga, mereka tidak dapat membahayakan kita atas ijin Allah.
Di atas telah disebutkan cara yang harus kita ketahui untuk menghindari diri agar tidak menjadi korban dar was-was syaitan. Tapi, bagaimana jika seseorang telah memelihara pikiran yang berasal dari syaitan tersebut dan sudah terobsesi olehnya? Dan tindakan kompulsi telah menghabiskan waktunya dalam kehidupannya sehari-hari? Was-was, seperti yang disebutkan di atas, adalah suatu fenomena yang terjadi pada kita semua, tapi sebagian memeliharanya dengan frekuensi dan tindakan yang membuat seseorang menjadi budaknya.
Tapi, ada solusi pada setiap penyakit: Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, diketahui oleh yang mengetahui dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengerti. (HR. Bukhari dan Muslim)
Terapi Islam untuk OCD
Beberapa terapi perilaku ini memberikan kita teknik untuk mengatasi OCD:
– langkah pertama, pahami mekanisme was-was dan bagaimana syaitan bekerja
– kedua, memberikan kesadaran/pengetahuan kepada seseorang mengenai fiqh, terkait kenajisan, keraguan, dan lain-lain, sehingga ia tidak akan terlalu ekstrim dalam kebodohannya
Di bawah ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan dan jangan dilakukan yang dapat menolong seseorang agar terlindung dari gangguan syaitan:
1. cari tau siapa musuh kita (syaitan) dan bagaimana triknya untuk menyesatkan manusia.
2. cari tau kelemahan dari musuhmu
3. berhenti menyalahkan diri sendiri
4. re-attribute, meyakini bahwa pikiran-pikiran tersebut adalah bisikan syaitan dan jangan terjerumus ke dalamnya.
5. re-value, menilai kembali, bahwa itu bukanlah dirimu yang sebenarnya
6. re-focus, fokuskan pikiran kepada hal lain yang lebih positif atau lebih bermanfaat.
7. menolak was-was secara total dan jangan terpaku pada hal tersebut.
8. mempelajari agama, jika yang dihadapi adalah persoalan menyangkut agama, maka cari solusi yang bersumber dari ajaran agama
9. menyelami Al-Qur’an, luangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari beserta maknanya. hal tersebut dapat meningkatkan keimanan selain mampu menghilangkan keraguan dan menjawab setiap pertanyaan kita.
10. berkumpul dengan orang-orang yang dapat mengingatkan kita kepada Allah
11. memohon pertolongan kepada Allah
12. menolak gangguan syaitan dengan berzikir
13. menolak gangguan syaitan dengan berludah (anjuran berludah ke sebelah kiri saat mimpi buruk)
14. mengingat Allah sepanjang waktu.
15. menjaga wudhu (usahakan selalu dalam kondisi wudhu)
16. membaca QS. An-Nas dan QS.Al-Falaq setiap selesai shalat dan sebelum tidur
17. membaca ayat kursi setiap selesai shalat dan sebelum tidur (sambil memikirkan maknanya)
18. memohon perlindungan Allah sebelum masuk ke dalam WC/kamar mandi (dengan doa yang diajarkan Rasulullah)
19. jika sangat sulit menolak bisikan syaitan itu, maka tuliskan hal yang sebaliknya di sebuah kertas misalnya, bahwa anda adalah seorang yang positif, dan tidak memiliki keburukan seperti kata bisikan-bisikan itu.
20. lakukan hal-hal yang bertentangan dengan perbuatan syaitan (misalnya syaitan makan dengan tangan kiri, kita orang muslim makan dengan tangan kanan)
21. hindari hal-hal yang tidak bermanfaat, termasuk debat yang tidak berfaedah. agar kita juga terhindar dari pikiran yang tidak penting.
22. jangan meninggalkan hal-hal yang wajib karena itu akan melemahkan kita, misalnya shalat subuh.
23. minta pertolongan kepada orang lain (misalnya untuk mengamati wudhu anda)
24. jangan tergesa-gesa, anda setidaknya harus menjalankan langkah di atas selama 40 hari untuk hasil yang signifikan.
25. jika anda masih merasa tidak berdaya untuk melawan was-was, maka berdoalah sebagaimana doa Nabi Ayyub berikut:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang”. (QS. Al-Anbiya 21 : 83)
Pencegahan atau was-was?
Apa yang dianggap oleh orang dengan OCD sebagai pencegahan (Misalnya membersihkan anggota tubuh lebih dari tiga kali saat wudhu, atau menggunakan air yang berlebihan) sebenarnya adalah was-was. Hal ini sangat berbeda: pencegahan adalah untuk mengikuti sunnah dengan cara yang mungkin dilakukan dan untuk menghindari kesemberonoan dan berlebihan dalam mengikuti sunnah, sedangkan was-was adalah orang yang berlebihan melampaui apa yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya sementara ia menganggap itu adalah bagian dari agama atau pencegahan yang tepat baginya. Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: