Pernikahan Aktivis Dakwah

Islamedia – “Seorang Ikhwan menarik nafas panjang setelah membaca SMS dari Murobbi nya bahwa proses Ta’arufnya tidak bisa dilanjutkan, alasanya kurang Sekufu”

Apa yang terjadi pada Ikhwan tersebut boleh jadi menimpa pada Ikhwan lainya yang sangat sulitnya mencari pasangan hidupnya dalam sebuah ikatan suci bernama pernikahan. Salah satu penyebab yang menjadi sebuah batu sandungan adalah masalah sekufu. Sekufu disini mempunyai makna sepadan dan menyerupai antara kedua calon mempelai, baik dari segi agama, keluarga (suku), profesi, pendidikan atau strata ekonomi dan aspek-aspek lainya yang terkadang tidak bisa di definisikan secara hitam putih formula.

Pada dasarnya dalam sebuah proses hubungan antara Ikhwan Akhwat mempunyai 3 tipe:
1. Ikhwan Akhwat cocok, namun tidak jodoh
2. Ikhwan Akhwat tidak cocok, namun jodoh
3. Ikhwan Akhwat cocok dan juga jodoh
Semua pihak pasti selalu berharap akan idealitas sebuah kehidupan dengan memilih kategori ketiga, namun Alloh mempunyai rahasia yang jauh lebih Mashlahat bila dibanding analisa berfikir makluknya yang terkadang hanya mengedepankan hawa keduniawian.

Hal yang menarik untuk dilakukan perenungan adalah bagaimana bila kita termasuk dalam kategori yang kedua, yakni sebenarnya tidak cocok, namun atas izin Alloh akhirnya bisa berlangsung sebuah perkawinan. Ketidak cocokan disini mencakup berbagai hal, mulai dari masalah gaya komunikasi yang bertolak belakang atau mungkin kebiasaan yang selalu bersebrangan. Berbagai masalah tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan sebuah bakhtera perkawinan bila tidak cepat disadari untuk sama-sama mencari solusi. Jangan sampai keluarga Ikhwan Akhwat yang berlabel aktivis dakwah menghiasi hidup pernikahanya dengan akhir yang sangat mempilukan dan dibenci Alloh, yakni perceraian, Na’udzu billah.

Sesuatua yang terkadang salah dalam benak berfikir keluarga Aktivis dakwah adalah menggunakan konsep : “Khusnudzon yang Salah”. Sehingga pada akhirnya, selalu berkhusnudzon bahwa pasangan kita pasti akan selalu mengerti apa kekurangan kita.
Padahal semestinya yang digunakan adalah istilah ” Saling Memberikan Pengorbanan”, meskipun terkesan berlebihan, atau istilah gaulnya LEBAY, namun hal inilah yang benar-benar harus di camkan oleh semua keluarga aktivis dakwah. Seorang suami harus mampu menutupi lobang-lobang kelemahan yang dimiliki istrinya, demikian pula seorang Istri harus siap menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi sang suami yang sebenarnya disebabkan oleh kelemahan diri suami itu sendiri.

Akhinya menjadi pertanyaan besar yang harus benar-benar mampu di jawab oleh pasanan para aktivis dakwah yang sudah berkeluarga,
• Sejauh manakah kita kenal dengan pasangan kita?
• Masih kah ada kesan JaIm(Jaga Image) yang berkepanjangan?
• Apakah sudah sesuai impian dan visi dimasa lalu dengan kekinian di keluarga?
• Bagaimanakah peranan masing-masing posisi, apakah masih ada kepincangan?
Dengan berbekal keempat pertanyaan tersebut dan sekaligus menjawab serta mencari solusin,maka dengan penuh optimistik kita sama-sama bermunajat kehadirat Alloh Semoga keluarga-keluarga para aktivis dakwah yang dibangun dengan semangat Illahiyah tetap terjaga Originalitasnya dalam satu rel dan selalu diberi kemampuan untuk mengikis habis potensi – potensi yang bisa meledak kapan saja yang disebabkan oleh egoisme pribadi sebagai manusia yang selalu ingin di mengerti, bukan ingin selalu berkorban bagi pasangan kita.
wallohu ‘alam.

http://www.islamedia.web.id/2013/08/pernikahan-aktivis-dakwah.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: