MENGENAL DALIL-DALIL SYAR’IYYAH (Bagian 2)

Juni 25, 2007 oleh fillah

Sebelum Melangkah Lebih jauh yuk…. Belajar Hukum-Hukum Syar’iyyah bareng Akhi Nabiel Fuad Al-Musawa dikota santri daripada salah menghukumi, kan parah…..selamat menikmati tulisan ini…..
I. AL-QUR’AN :
1. IJMAL : Ahkam I’tiqadiyyah (akidah), ahkam amaliyyah & ahkam khuluqiyyah
2. TAFSHIL : Ahkam ‘amaliyyah (ahkamul ibadat & ahkamul mu’amalah).
Ahkamul mu’amalah :
a. AKHWALU-SYAKHSYIYYAH : Keluarga, suami-istri, kerabat (kurang lebih ada 70 ayat).
b. AHKAMUL-MADANIYYAH : Hukum perdata. Pergaulan antar individu & masyarakat, seperti jual-beli, sewa-menyewa, gadai, wakalah, utang-piutang (kurang lebih ada 70 ayat).
c. AHKAMUL-JINAYYAH : Hukum pidana. Berkaitan dengan kejahatan mukallaf &
sanksinya (kurang lebih ada 30 ayat).
d. AHKAMUL-MURAFA’AT : Hukum acara. Berhubungan dengan lembaga peradilan, saksi & sumpah, keadilan antar ummat manusia (kurang lebih ada 13 ayat).
e. AHKAMU-DUSTURIYYAH : Hukum perundang-undangan. Dasar UU, seperti hak-hak hakim & terdakwa, hak-hak pribadi & masyarakat (kurang lebih ada 10 ayat).
f. AHKAMUD-DAULIYYAH : Hukum ketatanegaraan. Hubungan antara negara Islam & non Islam, pergaulan non muslim di negara Islam, hukum peperangan, delegasi politik (kurang lebih ada 25 ayat).
g. AHKAMUL-IQTISHADIYYAH : Hukum ekonomi & perbankan. Seperti hak-hak fakir miskin, pendistribusian pendapatan, pencatatan jual-beli, hak orang lain dalam harta (kurang lebih ada 70 ayat).

DALIL-DALIL QATH’I DAN ZHANNI :
Dari sisi tsubut-nya maka semua dalil al-Qur’an adalah qath’i. Namun dari
sisi dilalah-nya maka ada yang qath’i & ada yang zhanni.
1. QATHIYYUD-DILALAH : Nash yang dapat difahami maknanya & tidak menerima adanya perbedaan penafsiran (tidak menerima ta’wil). Contoh :
1. QS 4/12, jumlah bagian bagi ahli-waris dalam ayat tersebut tidak bisa di-ta’wil.
2. QS 24/2, jumlah dera untuk pezina tidak boleh <100 x.
3. Dan semua nash yang menjelaskan jumlah bagian, batas nishab, batas waktu, dsb.
2. ZHANNIYYUD-DILALAH : Nash yang pemahamannya bisa memungkinkan perbedaan penafsiran (menurut syara’) & memungkinkan dita’wil. Contoh :
a. QS 2/228, ma’na quru’ dalam ayat tersebut tidak ada penjelasan, sehingga bisa berbeda.
b. QS 5/3, ma’na maytatu dalam ayat tersebu muthlaq, & ada hadits-hadist yang mengecualikan beberapa bangkai.
c. Semua nash yang bermakna ganda (‘aam) atau muthlaq maka dilalahnya zhanni.
II. AS-SUNNAH :
1. Para ulama menerima hadits ahad (gharib) sebagai dalil, walaupun zhanniyyuts-tsubut, karena ada riwayat-riwayat yang menunjukkan nabi SAW menerima kesaksian 1 orang dalam awal & akhir puasa
2.Walaupun sebagian ulama yang lain ada yang menolak karena dalam al-Qur’an disebutkan hendaknya ada 2 orang saksi.

Sunnah yang Bukan Syari’at
Sunnah yg bukan syariat ini ditentukan oleh para ulama berdasarkan ayat : “Katakanlah sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian (tetapi aku) diberikan wahyu..” (QS 18/110).
1. Apa-apa yang ada pada diri Rasulullah yang bersifat manusiawi, seperti berdiri, duduk, berjalan, tidur, makan, bersin, batuk, meludah, mandi, bukan merupakan syariat karena bukan bersumber dari misi kerasulan beliau, tapi dari kemanusiaannya, kecuali jika ada dalil yang mensyariatkannya.
2. Apa-apa yang merupakan pengetahuan beliau SAW, kepandaian, percobaan tentang masalah keduniaan. Seperti mengatur tentara, siasat perang, cara pengobatan beliau, berdiplomasi, surat-menyurat, & pendapat-pendapat beliau tentang pengetahuan (seperti hadits mengawinkan Kurma).3. Apa-apa yang bersumber dari beliau tentang hukum-hukum syariat tapi ada dalil yang mengkhususkan. Seperti menikah lebih dari 4 wanita, bahwa istri beliau Rasulullah tidak boleh dinikahi lagi setelahnya, bahwa beliau jika berpuasa boleh wishal, dll.
III. AL-IJMA’ :
KEBERADAAN IJMA’ :
1. Sebagian ulama menolak adanya ijma’ karena menurut mereka tidak mungkin semua ulama bersepakat atas 1 hal.
2. Namun jumhur ulama menerimanya, contohnya kekhalifahan Abubakar ra berdiri atas dasar ijma’, haramnya lemak babi merupakan ijma’, bagian warisan nenek adalah 1/6.
3. Ijma’ merupakan sunnah sahabat, Abubakar ra & Umar ra selalu memutuskan berdasarkan ijma’ ulama kaum muslimin.

JENIS-JENIS IJMA’ :
1. IJMA’ SHARIH : Kesepakatan para mujtahid dalam suatu waktu atas suatu hukum dengan menyampaikan pendapat masing-masing secara jelas. Maka hukumnya qath’i.
2. IJMA’ SUKUTY : Sebagian mujtahid dalam suatu waktu mengeluarkan pendapatnya secara jelas & mujtahid yang lain diam (tidak menanggapi pendapat tersebut baik karena tidak menanggapi, tidak tahu ataupun karena persetujuannya). Maka hukumnya ijma’ tersebut adalah zhanni.
IV. AL-QIYAS :
1. TA’RIF : Menyamakan suatu kondisi yang tidak ada nash dengan kondisi lain yang ada nash-nya, lantaran adanya kesamaan illat (sebab). Contohnya :
a. QS 5/90 (larangan minum khamr) & hadits-hadist tentang khamr ditemukan illat pengharamannya adalah karena MEMABUKKAN, maka setiap yang ada unsur memabukkannya sedikit atau banyak di-qiyas-kan dengan khamr.
b.. “Orang yang membunuh tidak mendapatkan waris.” (al-Hadits), ternyata illat membunuh tersebut adalah karena INGIN MENYEGERAKAN MENDAPAT HARTANYA, sehingga nabi Muhammad SAW selain menetapkan had/sanksi-pidana pada orang tersebut, beliau juga membatalkan hak waris orang tersebut, maka orang yang membunuh untuk mendapatkan wasiat juga di-qiyas-kan dengan ini (karena kesamaan illat-nya).
c. QS 62/9 (makruhnya berjual-beli saat azan shalat jum’at), illat-nya adalah KARENA MELALAIKAN DZIKRULLAH (shalat), maka semua perbuatan (pergadaian, sewa-menyewa, bekerja, belajar, rapat, ngobrol) pada saat azan tersebut juga jadi makruh-tahrim hukumnya, karena kesamaan illat.
d. Dari ‘urf (adat-istiadat) misalnya tanda-tangan dipercaya sebagai bukti personal, maka cap-jari juga di-qiyas-kan hukumnya kepadanya.
e. Perbuatan pencurian dari anggota keluarga tidak boleh dihukum kecuali ada pengaduan dari keluarga tersebut, maka menggunakan hak keluarga tanpa izin, melakukan kekerasan, menggunakan cek kosong antara anggota keluarga semuanya di-qiyas-kan hukumnya dengan hal tersebut.
2. HUJJIYYATUL-QIYAS :
a.MUTSBITUL-QIYAS : Yaitu jumhur ulama, yang berpendapat menerima kehujjahan qiyas berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut : Al-Qur’an :
1. Q.S: 4/59 (maknanya bahwa semua hal hendaklah dikembalikan/di-qiyas-kan pada Al-Qur’an dan as-Sunnah)
2. Q.S: 59/2 (ALLAH SWT memerintahkan mengambil i’tibar/peng-qiyas-an dari
kisah Yahudi tersebut bagi kaum muslimin); juga pada ayat-ayat yang menggunakan : Inna fi dzalika la’ibrah.. atau : laqad kana lakum fi qashashihim ‘ibratan…
3. Q.S: 36/79 (dalam ayat ini ALLAH SWT meng-qiyas-kan pengembalian mereka
dengan penciptaan yang pertama kali atau hukum asalnya)
4. Syarat-syarat lainnya seperti illat, mengapa tidak boleh menyetubuhi wanita haidh : qul huwa adza… (Q.S: 2/222), kenapa boleh tayammum : ma yuriduLLAHa liyaj’ala ‘alaykum fid dini min haraj.. (Q.S: 5/6). Artinya hukum syariah ditetapkn pastilah ada sebabnya.
As-Sunnah :
1. Hadits Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal RA bahwa Rasulullah SAW ketika mengutusnya ke Yaman, Rasulullah SAW bersabda,”Bagaimana kamu akan bertindak jika diajukan kepadamu suatu perkara?” Mu’adz menjawab,”Aku akan memutuskan dengan apa yang ada dalam Kitabullah.” Rasulullah SAW bertanya,”Lalu bagaimana jika tidak terdapat dalam Kitabullah?” Mu’adz menjawab,”Dengan Sunnah Rasulullah.” Rasulullah SAW bertanya lagi,” Lalu bagaimana jika tidak terdapat dalam Sunnah Rasulullah?” Mu’adz menjawab,”Aku akan berijtihad dan sungguh aku tidak akan lalai.” Mu’adz berkata,”Kemudian Rasulullah menepuk dadaku lalu berkata,’Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasulullah pada apa yang membuat ridha Rasulullah.” (HR. Ahmad, abu Dawud, dan At Tirmidzi).
2. Hadits Jariyyah Khasmiyyah yg ayahnya sudah tidak kuat haji & ia ingin menghajikan,: “Bagaimana pendapatmu jika ayahmu punya hutang lalu engkau tunaikan apakah itu berguna bagi ayahmu” Maka kata Rasulullah SAW: ”Hutang pada ALLAH lebih layak untuk dibayar.”
3. Hadits Umar ra yang bertanya tentang mencium istri saat puasa (tapi tidak sampai keluar mani), maka kata SAW : Bagaimana jika kamu berkumur dengan air sedang kamu berpuasa? Lalu nabi SAW menambahkan : Begitu pula dengan mencium. (lihat I’lamul Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim, juz-I)

Perbuatan Sahabat ra :
1. Mereka meng-qiyas-kan penunjukan Nabi Muhammad SAW atas Abubakar sebagai Imam shalat dengan pengangkatannya sebagai khalifah.
2. Mereka memerangi orang yang menolak membayar zakat & meng-qiyas-kannya sama dengan yang tidak melakukan shalat.
3. Umar ra berpesan pada Abu Musa ra : “Hal-hal yang tidak kau temui dalam al-Qur’an & as-Sunnah maka qiyas-kanlah pada yang ada nash-nya.”
4. Ali ra berkata : “Ketahuilah kebenaran itu dengan jalan melakukan qiyas bagi orang-orang yang mau berfikir.”
5. Ibnu Abbas ra mengatakan : “Aku tidak mengira setiap sesuatu itu melainkan sama saja.” (lih. I’lamul Muwaqqi’in, III/224)
b.NAFATIL-QIYAS :
1. Yaitu sebagian ulama yang menolak qiyas karena berpendapat bahwa qiyas itu didasarkan pada dugaan, misalnya penentuan ‘illat. Maka hasilnyapun akan dugaan pula, sementara hal tersebut dilarang dalam QS 17/36.
JAWABAN : Yang dilarang dalam ayat tersebut zhan dalam masalah aqidah bukan ‘amaliyyah & mu’amalah.
2. Hal yang lain bahwa dasar qiyas itu sendiri masih memungkinkan perbedaan pendapat yaitu illat, sementara penggunaan ra’yu adalah terlarang.
JAWABAN : Yang dilarang adalah menggunakan ra’yu tanpa dalil sama sekali atau didasarkan oleh hawa nafsu saja.
3. ARKANUL-QIYAS
(Rukun Sahnya Qiyas) : Ada 4 hal yang harus dipenuhi sehingga sahnya sebuah qiyas secara fiqh, yaitu ;
1. AL-ASHL : Sesuatu yang hukumnya ada dalam nash, biasa disebut maqis-‘alaih (yang dipakai sebagai ukuran), atau mahmul-‘alaih (yang menanggung), atau musyabbah-bih (yang diserupakan).
2. AL-FAR’U : Sesuatu yang hukumnya tidak ada dalam nash sehingga perlu diserupakan dengan al-‘ashl. Biasa disebut al-maqis (yang diukur), atau al-mahmul (yang ditanggung), atau musyabbah (yang diserupakan).
3. HUKMUL-‘ASHL : Hukum syara’ yang terdapat nash-nya menurut ashl, yg nanti akan dipakai sebagai hukum cabang (far’u).
4. AL-ILLAT : Sebab/keadaan tertentu yang digunakan sebagai dasar bagi adanya hukum asal, yang nanti hukum cabangnya akan dilihat persamaannya dengan hukum asal tersebut.
Contoh : Dalam masalah peng-qiyas-an narkoba dengan khamr, maka khamr adalah al-ashl, narkoba merupakan al-far’u, haram adalah hukmul-‘ashl (karena ada lafzh tahrim : fajtanibu) & memabukkan adalah al-illat.
Contoh lain adalah peng-qiyas-an jagung, padi, kacang-kacangan & kedelai (al-far’u) pada gandum, syi’ir & korma (al-‘ashl); juga bunga bank (al-far’u) kepada riba’ fadhl & nasi’ah (al-ashl), karena adanya kesamaan persis dalam illat-nya.

4. SYARAT SHAHNYA QIYAS :
1. MERUPAKAN HUKUM ‘AMALIYYAH : Bukan masalah i’tiqadiyyah (Aqidah) & ‘ubudiyyah (Ibadah), karena hukum masalah ‘aqidah & ‘ibadah harus berdasar ayat & hadits yang sharih (jelas) & tidak bisa menggunakan qiyas. Contoh : Jika hukum tersebut merupakan hukum ‘amaliyyah, lalu diketahui bentuknya selain pada hukum asal, seperti mengusap khuffain , maka illatnya memakai khuffain tersebut bisa ditemukan pada kondisi lainnya, seperti pada memakai sepatu.
2. ‘ILLATNYA HARUS DAPAT DIJANGKAU AKAL : Harus hal-hal yg dapat diteliti ma’nanya (ma’qulatil ma’na) oleh akal. Kalau tidak dapat diteliti sebabnya (ghairu ma’qulatil ma’na) maka tidak shah. Contoh : Jika hukum tsb tidak diketahui bentuknya selain pada hukum asal, seperti shalat qashar bagi musafir, hukumnya memang ma’qulun ma’na yaitu menolak masyaqqah (kesulitan), illatnya juga jelas yaitu safar (bepergian), namun illat seperti itu tidak terdapat pada hal yg lain, karena tidak ada pekerjaan lain yg dapat diserupakan dengan safar, maka kondisi itu tidak dapat di-qiyas-kan.
3. HUKUM ASAL TERSEBUT TIDAK DITAKHSHISH : Karena jika sudah di-takhshsish (dikhususkan) maka tidak bisa lagi disamakan atau di-qiyas-kan pada hal yang lain. Contoh : Jika hukum tersebut di-takhshish, maka tidak bisa di-qiyas-kan, seperti bahwa nabi Muhammad SAW beristri lebih dari 4, atau istri-istri beliau tidak boleh dinikahi sepeninggalnya, atau cukupnya persaksian 1 orang Huzaimah bin Tsabit ra. Maka semua itu tidak bisa di-qiyas-kan karena sudah di-takhshish.

V. SYURUTHUL-‘ILLAT Syarat-Syarat ‘Illat :
a. Bisa dijangkau oleh pancaindra secara zhahir. Contohnya : Memabukkan bisa dirasakan oleh indra (untk hukum khamr), ukuran jenis benda yang sama dapat diukur/dihitung oleh indra (untuk hukum riba). Contoh lain : Masuknya air mani tidak bisa jadi ‘illat hubungan nasab karena tidak bisa dilihat, maka diambil yang dapat diindrai yaitu terjadinya akad-nikah. Suka sama suka juga tidak bisa dijadikan ‘illat, untuk jual-beli karena tidak dapat diindrai, maka diambil ‘illat-nya yaitu shighat akad/ijab-kabul. Sempurna akalnya/dewasa juga tidak bisa jadi ‘illat. untuk pendelegasian wewenang/kekuasaan, maka diambil ‘illat yg nyata yaitu tanda-tanda baligh.
b. Bersifat pasti, tertentu, terbatas dan dapat dibuktikan wujudnya pada cabang dengan cara membatasinya. Contohnya : Pembunuhan, muwarits oleh ahli waris, bisa disamakan dengan pembunuhan pada pemberi wasiat. Atau paksaan yg dilakukan dalam jual-beli, bisa disamakan dengan paksaan dalam sewa-menyewa.
c. Harus ada sifat yang sama, sebagai dasar asumsi bagi mewujudkan hikmah hukum. Jika ada hukum yang hikmahnya nyata dan pasti maka hikmah hukum tersebut sekaligus juga merupakan ‘illat-nya. Contohnya : Memabukkan merupakan ‘illat, yang hikmahnya untuk memelihara akal. Membunuh dan menganiaya adalah ‘illat untuk melakukan qishash yang hikmahnya untuk memelihara hak kemanusiaan. Mencuri adalah ‘illat untuk melakukan had, yang hikmahnya untuk memelihara hak-milik manusia. Tidak sah jika mensenaraikan sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara nyata/pasti. Contohnya : Menentukan hukum khamr berdasar warnanya (karena sering melihat khamr berwarna merah). Atau menentukan hukum penjual narkoba berdasarkan warna kulitnya (karena sering melihat penjual narkoba berkulit hitam), atau menentukan hukum had pada orang Manado (karena melihat orang Manado sering berbuka di siang hari di bulan Ramadhan.
d. Harus tidak hanya terbatas pada sifat asal. Melainkan bisa dijumpai pada selain asal. Jika ia hanya ada pada asal saja, maka tidak dapat dijadikan sebagai dasar hukum. Contohnya : Hukum khushusiyyah yang berlaku hanya pada nabi SAW, maka ‘illat-nya adalah nabi Muhammad SAW, maka tidak bisa dikiaskan pada orang lain. Seperti menikah dengan 9 orang istri, atau bahwa istri beliau haram dinikahi sepeninggal beliau. Contoh lain (yang juga tidak sah) : Memberi ‘illat pada khamr karena ia adalah perasan anggur, membatasi harta ribawi hanya sejumlah 6 macam (yang ada dalam nash) saja, dll kesemuanya itu adalah tidak sah.

AQSAMUL-‘ILLAT (PEMBAGIAN ‘ILLAT) :
Ada 4 jenis ‘illat yaitu : Munasibul-mu’tsir, munasibul-mula’im, munasibul-mursal dan munasibul-mulgha.
a. MUNASIBUL-MU’TSIR (sesuai dan ada dalam nash) : Yaitu sifat yang sesuai yang syari’ telah menyusun persesuain tersebut dan nash atau ijma’ sudah menentukan persesuaian tersebut. Contohnya : QS 2/222 (‘illat-nya pelarangan jima’ dengan wanita haidh disebutkan langsung yaitu adanya ‘adza/kotoran); QS 4/6 (‘illat-nya penguasaan atas harta anak yatim adalah belum dewasa); hadits : LAA YARITSUL QAATIL (‘illat-nya pelarangan waris bagi pembunuh adalah karena ia telah membunuh).

b. MUNASIBUL-MULA’IM (sesuai & seimbang) : Yaitu sifat yang sesuai dan yang syari’ telah menyusun persesuaian tersebut, tapi nash atau ijma’ belum menentukan persesuaian tersebut. Contohnya : Nash (hadits) menyebutkan bahwa ayah berhak menikahkan putrinya yang masih kecil (bikr/perawan), tapi nash & ijma’ tidak menetapkannya (tidak mu’tsir) apakah ‘illat-nya itu karena kecilnya atau karena perawannya. Lalu ada ayat yang menyebutkan kekuasaan wali atas harta anak kecil, maka disimpulkan bahwa ‘illat-nya karena kecil (bukan karena perawan), maka janda kecil, wanita yang gila juga boleh dinikahkan oleh ayahnya (tanpa menunggu persetujuannya). Contoh lain : Nash menetapkan bolehnya menjama’ shalat karena hujan, ‘illat-nya tidak mu’tsir baik dalam nash maupun ijma’, maka dilihat (setelah digabungkan dengan bolehnya, jama’ karena safar) bahwa ‘illat-nya adalah karena hujan (yang menyulitkan sebagaimana dalam safar) maka dikiaskanlah kepadanya juga saat turun salju atau ketika di musim dingin yang sangat. Contoh lain : Nash menetapkan wanita haidh tidak meng-qadha’ shalat, tapi ‘illat-nya tidak mu’tsir, baik dalam nash dan ijma, maka digabungkan dengan nash-nash lain (bahwa boleh jama’ karena sakit dan safar, boleh tayammum karena sakit atau tidak ada air, dll) maka nampaknya ‘illat-nya adalah rukhshah. Maka dikiaskan juga ketika wanita yang nifas.
c. MUNASIBUL-MURSAL (sesuai & lepas) : Yaitu sifat yang nash atau ijma’ tidak memberikan petunjuk persesuaiannya & tidak ada pula dalil i’tibar dalam syara’, masalah ini biasanya disebut MASHALIHUL-MURSALAH. Tentang hal ini terjadi perbedaan pendapat ulama, sebagian menyatakan : Syari’ tidak meng-i’tibar-kan maka tidak bisa dipakai sebagai hukum. Sebagian lagi berkata : Syari’ tidak membatalkan/melarangnya sehingga bisa dipakai sebagai hukum. Contohnya : Pencetakan, penjualan & pendistribusian al-Qur’an; Pencetakan mata uang, giro, LC, dsb; pewajiban pajak atas tanah, pajak kekayaan, pajak pertanian, berdakwah dengan radio/TV, berpolitik lewat partai, parlemen, ikut PEMILU, dsb.

d. MUNASIBUL-MULGHA (sesuai tapi dihapus/dibatalkan) : Yaitu sifat yg mengandung kemaslahatan namun nash atau ijma’ tidak menyusun persesuaiannya dengan sifat tsb & bahkan dalil-dalil syar’i telah memberikan petunjuk batalnya i’tibar tersebut. Contohnya : Bersatunya anak laki-laki dan wanita dalam kekerabatan karena kebersamaannya dalam waris. Hukum ini sah dan bisa diterima, namun mendasarkan hukum kias pada hukum ini adalah batal, karena tidak ada i’tibar nash-nya, seperti menyamakan hak waris lelaki & wanita.
Alhamdulillah dapet ilmu baru, wah tampaknya kita harus banyak belajar ya , dan …Astaghfirullah….
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab
(Bersambung)….

Penulis Yuari Trantono
Mahasiswa Fakultas Peternakan UGM
Tulisan ini terinspirasi dari kitab Al-Fikr As-Siyasiy Al-Mu’ashir ’inda Al-Ikhwan Al-Muslimin, Karya Taufiq Yusuf Al-Wa’iy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: