Filsafat Ilmu : Islam vs Barat

Selasa, 20 Agustus 2013 – 09:52 WIB

Jika konsep dan definisi ilmu Jujun itu diterapkan untuk ilmu Ushuluddin, ilmu tafsir al Qur’an dan ilmu Ushul Fiqh maka akan menimbulkan kerancuan besar.

Oleh: Nuim Hidayat

PROF Dr Wan Mohd Noer Wan Daud dalam makalahnya berjudul Konsep Ilmu dalam Tinjauan Islam menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan itu diperoleh melalui beberapa saluran, yaitu pancaindera (al hawass al khamsah), akal fikiran sehat (al aql al salim), berita yang benar (al khabar al shadiq) dan intuisi (ilham).

Tentang akal fikiran sehat, Prof Wan menjelaskan bahwa aspek akal merupakan saluran penting yang dengannya diperoleh ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang jelas, , yaitu perkara yang dapat dipahami dan dikuasai oleh akal dan tenang sesuatu yang dapat dicerap oleh indera. Akal fikiran (al aql) bukan hanya rasio. Akal adalah “fakultas mental” yang mensistematisasikan dan menafsirkan fakta-fakta empiris menurut kerangka logika, yang memungkinkan pengalaman inderawi menjadikan sesuatu yang dapat dipahami. Akal adalah entitas spiritual yang rapat dengan hati (al qalb), yaitu menjadi tempat intuisi.
Berita yang benar (al khabar al shadiq) adalah sumber ilmu pengetahuan yang terdiri dari dua jenis. Pertama adalah berita yang terbukti secara terus menerus (bersambung) dan disampaikan oleh mereka yang kebaikan akhlaknya tidak mengizinkan akal pikiran kita untuk membayangkan bahwa mereka akan melakukan dan menyebarkan kesalahan. Hadits Mutawatir adalah contoh yang sangat tepat untuk jenis berita ini. Kesepakatan umum para ahli, ilmuwan dan sarjana juga dianggap sebagai bagian dari jenis ini. Meskipun memiliki otoritas, kesepakatan tersebut masih dapat dipersoalkan kaidah rasional dan empirical, sebagaimana yang terjadi dalam kasus laporan sejarah, geografi dan sains. Jenis yang kedua adalah berita mutlak (kebenarannya) yang dibawa oleh Nabi berdasarkan wahyu.
Buku Filsafat Ilmu karya Dr Adian Husaini dkk ini (tebal 310 halaman) mengritik buku popular Filsafat Ilmu karya Jujun S Suriasumantri. Misalnya pendapat Jujun tentang ilmu: “Dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah diuji secara empiris. Dalam hal ini harus disadari bahwa proses pembuktian dalam ilmu tidaklah bersifat absolute…Ilmu tidak bertujuan untuk mencari kebenaran absolute melainkan kebenaran yang bermanfaat bagi manusia dalam tahal perkembangan tertentu.” (hlm. 131-132).
Jika konsep dan definisi ilmu Jujun itu diterapkan untuk ilmu Ushuluddin, ilmu tafsir al Qur’an dan ilmu Ushul Fiqh maka akan menimbulkan kerancuan besar. Sebab pengetahuan bahwa Allah itu Satu adalah ilmu yang mutlak yang didasarkan pada sumber yang mutlak benar, yaitu Al Qur’an. Begitu juga ilmu tentang keharaman babi, zina dan khamr, adalah ilmu yang mutlak juga. Penafsiran bahwa Nabi Isa as tidak wafat di tiang salib, adalah ilmu yang mutlak benarnya, yang tidak berubah sampai akhir zaman.
Jika filsuf Yunani dan banyak filsuf lainnya masih berspekulasi tentang asal mula dan masa depan kehidupan, maka filsafat dalam Islam –yang berdasarkan wahyu- sudah memberikan ilmu yang jelas dan tidak spekulatif. Asal usul manusia sudha sangat jelas, yaitu beradal dari keturunan Adam as. Ketika manusia menolak informasi dari wahyu, maka secara otomatis, mereka akan berspekulasi. Malangnya berspekulasi kemudian diberi nilai yang sangat tinggi, yaitu sedang berfilsafat.
Masalah epistemologi ilmu -theory of knowledge—ini adalah masalah yang penting. Epistemologi berbicara tentang sumber-sumber ilmu dan bagaimana manusia bisa meraih ilmu. Sementara itu knowledge atau ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu. Al Quran adalah kitab yang begitu besar perhatiannya terhadap aktivitas pemikiran dan keilmuan. Ini misalnya tergambar dari penyebutan kata “al ilm” dan derivasinya, mencapai 823 kali.
Menurut Dr Adian, yang diajarkan pertama kali kepada Nabi Adam as adalah ilmu tentang nama-nama benda (al Baqarah 31). Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw berkaitan dengan perintah membaca (iqra’) dan menulis yang disimbolkan dengan pena (al qalam). Wahyu ini pun sudah berbicara tentang proses penciptaan manusia yang berasal dari ‘al alaq’ (sesuatu yang melekat). Jadi sejak awal Al Quran mengingatkan bahwa proses membaca dan belajar tidak boleh dipisahkan dengan keimanan.
Fakta sejarah membuktikan bagaimana ketinggian peradaban Islam yang dilandasi keilmuan. Seorang sejawaran Irlandia, Tim Wallace-Murphy, dalam bukunya, What Islam did for Us: Understanding Islam’a Contribution to Western Civilization (London: Watkins Publishing, 2006), menggambarkan kejayaan keilmuan Islam yang kemudian memberikan jasa besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern di Barat. Ia membuat perbandingan kehidupan peradaban Islam dan peradaban Barat di masa kejayaan Islam di Andalusia (Spanyol) : “Kehidupan bagi sebagian besar masyarakat Kristen Eropa adalah singkat, brutal dan biadab, dibandingkan dengan kehidupan yang canggh, terpelajar dan rezim yang toleran di wilayah Muslim Spanyol).”
Kaum Kristen di Eropa, menurut Tim Wallace-Murphy, mengenal ilmu pengetahuan bukanlah langsung dari warisan tradisi Yunani, tetapi melalui buku-buku berbahasa Arab yang ditulis oleh Ilmuwan-ilmuwan Muslim dan Yahudi. Mereka belajar dan menerjemahkan secara bebas pada pusat-pusat pembelajaran Islam di Spanyol, yang disebutnya sebagai “the gratest culture centre in Europe”. Ketika itu Barat menjadikan kampus-kampus di Spanyol sebagai model. Tahun 1263 berdirilah Oxford University, dan tak lama sesudah itu berdiri Cambridge University. “It was well known and respected colleges in al Andalus that became a models on which Oxford and Cambridge were based,”tulis Wallace-Murphy. Jadi kampus-kampus terkenal di Eropa seperti Oxford dan Cambridge didirikan dengan mengambil model kampus-kampus terkenal dan hebat yang ada di Andalusia.
Dr Salmah, Dosen di UPM Serawak Malaysia dalam bukunya Andalusia menyatakan: “Pada zamannya Universiti Cordova telah diperbesar dan dipertingkatkan peranannya sehingga muncul sebagai universiti yang terbaik dan terbesar di dunia. Universiti Cordova ini telah berupaya menandingi Universiti Al Azhar di Kaherah (Kairo) dan Nizamiyah di Baghdad. Ia telah berjaya menarik ramai pelajar sama ada Kristian, Yahudi dan Islam, bukan sahaja dari Andalus tetapi juga dari Negara-negara di Eropah, Afrika dan Asia.”
Universitas Cordova yang letaknya di Masjid Cordova adalah tempat yang paling baik untuk belajar pada saat itu. Saat itu telah ada jurusan astronomi, matematika, kedokteran, teologi dan undang-undang/hukum. Amir Hasan Siddiqi sebagaimana dikutip Salmah menyatakan: “Pada abad ke-10 M Apabila Cordova (ibu Negara kerajaan Umayah Spanyol) mula menyaingi Baghdad, pasang surut aliran budaya dan pembelajaran yang bertimbal balik. Semasa abad yang berikutnya, bertambah ramai lagi pelajar dari wilayah Islam Timur dan Kristian Eropah berduyun-duyun datang ke Universiti Cordova, Toledo, Granada dan Seville untuk menimba ilmu dari perigi ilmu pengetahuan yang mengalir ke sana dengan banyak sekali.” *
Penulis adalah Guru Pesantren at Taqwa, Depok

http://www.hidayatullah.com/read/2013/08/20/5942/filsafat-ilmu-islam-vs-barat.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: