Islamisasi (Ilmu) Psikologi, Revolusi Epistemologi: Mengapa?

By Pizaro on August 27, 2013

Oleh: Rizka Fitri Nugraheni
Penggiat Komunitas Penggenggam Hujan Universitas Indonesia, Mahasiswi Psikologi

Orang akan bertanya apa itu Islamisasi Psikologi, mungkin mulai khawatir, berpikir bahwa akan ada aliran dalam ilmu psikologi yang menentang aliran-aliran lain, atau sebagai lambang superioritas pihak tertentu. Jangan terburu-buru berpikir ke arah itu. Tentu saja ini bukan hal yang mengkhawatirkan. Islamisasi ilmu pada dasarnya tidak dimaksudkan untuk menjajah pemikiran semua orang atau memaksa semua orang untuk berpikiran dalam perspektif Islam. Islam sebagai ad-Diin memang rahmat bagi alam semesta (QS. Al-Anbiya (21): 107). Meskipun begitu, tidak ada paksaan untuk memasuki Islam, sebenarnya sudah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat (QS. Al-Baqarah (2): 256).

Tulisan ini dibuat dari perspektif saya sebagai seorang muslim, namun tetap memaparkan juga perspektif pemikiran lain. Tujuan dari tulisan ini bukanlah untuk mempengaruhi pembaca yang pemikirannya berbeda, sehingga berpindah pemikiran. Namun, dibuatnya tulisan ini adalah untuk memberi informasi agar pembaca mengetahui urgensi melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer supaya sesuai untuk muslim. Sebelum menjelaskan mengapa perlu dilakukan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, simak contoh kasus berikut agar lebih jelas.
1. Sebuah temuan baru! Ditemukan bahwa orang dengan gangguan identitas gender memiliki bentuk otak yang berbeda sejak lahir, ketika dibadingkan dengan orang tanpa gangguan tersebut. Temuan itu membuat orang menyimpulkan gangguan identitas gender seperti itu disebabkan oleh Tuhan.
2. Seorang ilmuwan mengatakan, “Demi menyelamatkan iman, jangan memasukkan unsur agama dalam penelitian. Tiap penelitian pasti ada eror. Kalau hasil penelitian mendukung Islam, aman-aman saja. Kalau sebaliknya, Islam bisa disalahkan. Ini bisa mengancam Islam!”
Bagaimana sikap seorang muslim ketika membaca itu ?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat realita sekarang.
Sadarkah kita bahwa selama ini pemikiran Barat mendominasi dunia? Kata “Barat” dalam tulisan ini adalah suatu pemikiran, bukan sebuah bangsa. Bisa saja orang Indonesia yang mengaku seorang muslim punya pemikiran Barat, sebaliknya ada orang Amerika justru berpikiran Islami (norma/etika). Pemikiran Barat sebagai produk peradaban Barat dulunya pernah mengalami zaman kegelapan. Setelah zaman itu berakhir, terjadi sekularisasi ilmu pengetahuan sejak Renaissance di Eropa. Pemikirannya yang sekular menyatakan bahwa kebenaran bersifat relatif, tidak ada yang absolut. Pemisahan antara hal fisik dan metafisik (di luar jangkauan manusia). Adapula penganut skeptisisme yang berpendapat bahwa semua hal harus diragukan. Katanya ingin bergerak maju, namun kemajuan itu sendiri tidak jelas ke arah mana. Itu baru beberapa kekurangan pemikiran Barat, hal itu terjadi karena tidak ada unsur wahyu dalam ilmu pengetahuan. Akibatnya adalah perubahan apapun, termasuk dalam hal agama, akhirnya akan menjadi suatu hal yang dianggap biasa saja. Itulah epistemologi[1] dalam pemikiran Barat.
Sekarang kita lihat pemikiran Islam yang sangat berbeda dengan pemikiran Barat, bahkan dalam aspek epistemologi sekalipun. Ilmu dalam Islam mencakupi fisik dan metafisik. Iman dan ilmu sangat berkaitan. Al-Qur’an jadi sumber ilmu tertinggi sekaligus patokan kemajuan, artinya ummat Islam dikatakan mundur ketika jauh atau menyimpang dari Al-Qur’an. Islam mengenal kebenaran absolut yang bersumber dari wahyu. Skeptisisme diperbolehkan, sekalipun pada pemikiran ilmuwan muslim, tapi tidak boleh meragukan wahyu yang berasal dari Allah Subhanahu wata’ala. Ketika ada suatu temuan baru, seorang ilmuwan muslim akan mengkritisinya dengan Al-Qur’an sebagai patokan. Suatu perubahan yang bersifat menyimpang dari ajaran Islam tetap dianggap menyimpang sampai kapanpun. Inilah sebagian kecil gambaran epistemologi Islami yang tentunya lebih baik.
Mengingat yang mendominasi sekarang adalah pemikiran Barat, bukan Islam, ilmu psikologi modern juga terkena getah sekularisme. Sama-sama mengabaikan unsur wahyu dalam aktivitas ilmiah, unsur metafisik dicabut dari dunia keilmuan psikologi. Akibatnya, wajar saja bila ada dosen yang melarang mahasiswanya memasukkan unsur agama atau Tuhan dalam penelitian ilmiah. Bahkan makna “psikologi” sendiri sudah tereduksi. Kata “psikologi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “psyche” yang artinya jiwa. Psikologi pada awalnya membahas tentang jiwa, sesuatu yang metafisik. Sekarang, cenderung hanya membahas tingkah laku dengan metode sains yang ketat. Makna psikologi menjadi semakin sempit. Tidak bermaksud mengabaikan pembahasan tentang tingkah laku, karena tingkah laku juga penting dalam kehidupan manusia (Amber Haque). Yang disayangkan adalah sebagian besar aliran psikologi tidak mempertimbangkan sisi spiritual yang mempengaruhi tingkah laku manusia. Seakan-akan tidak ada jiwa dalam pembahasan psikologi modern.
Akibat tidak adanya wahyu, perubahan nilai dianggap sebagai suatu yang wajar pada akhirnya. Contohnya adalah gejala homoseksual dulunya dianggap abnormal dan dimasukkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), buku yang berisi daftar nama dan gejala kelainan psikologis beserta penjelasannya. Sejak DSM III, homoseksual tidak dimasukkan di dalamnya (Nicolosi). Ini menunjukkan bahwa homoseksual semakin dianggap normal dalam pemikiran Barat. Dalam Islam, sampai kapanpun perilaku homoseksual (bukan orangnya) adalah hal yang menyimpang.
Perbedaan pemikiran Islam dan Barat sudah mulai diketahui. Perlu diketahui juga tidak semua ilmu-ilmu modern, termasuk produk Barat, bertentangan dengan Islam. Prof. Malik Badri (pelopor Islamisasi Psikologi modern) menggunakan terapi kognitif dan tingkah laku, tentunya juga Al-Qur’an dalam proses penyembuhan kliennya yang muslim. Tidak ada masalah ketika muslim menggunakan metode psikometri, penelitian eksperimental, tes inteligensi, metode wawancara dan observasi dalam menjalankan aktivitas keilmuan psikologi. Terjadi masalah ketika ilmuwan muslim tidak pandai memilih dan memilah mana saja yang berguna untuk muslim dan mana yang merugikan.
Akan sangat buruk jika banyak muslim, termasuk ilmuwan psikologi, yang pemikirannya selalu mengikuti Barat. Tidak banyak yang pandai memilih dan memilah, padahal ilmu dengan pemikiran Barat tidak selalu cocok untuk diterapkan muslim. Ketika ummat Islam menjadi pengikut setia Barat, mereka akan semakin jauh dari Al-Qur’an, hanya menerapkan Islam di saat-saat tertentu saja. Itu adalah fenomena dimana pemikiran muslim sudah tersekularisasi.
Untuk lebih jelasnya bagaimana gambaran pemikiran Barat yang sekular, coba lihat kembali contoh kasus nomor 1. Ketika mereka dihadapkan pada contoh itu, orang yang tidak berpegah teguh pada wahyu Allah akan mulai goyah dengan firman-firman-Nya. Dalam Al-Qur’an sudah jelas bahwa Allah menciptakan laki-laki atau perempuan (QS. Yasin (36):36; al-Najm (53):45-46) . Seorang muslim yang sudah memiliki pemikiran Islami akan berpegang teguh pada pemikiran bahwa seseorang dengan jenis kelamin laki-laki akan merasa dirinya seorang laki-laki, lingkungan hidup dapat membuat seseorang mengalami gangguan identitas gender. Tidak mungkin Allah menciptakan manusia dengan gangguan identitas gender. Temuan tersebut akan dikritisi. Pasti ada eror dalam proses atau pada penelitian itu sendiri, karena Al-Qur’an tidak pernah salah.
Tidak terbayang jika ummat Islam di dunia terus-menerus terjebak pada pemikiran yang tersekularisasi. Terus mengalami kemunduran karena jauh dari Islam sebagai ad-Diin. Ummat Islam akan terus terjajah dalam tataran pemikiran, yang bisa berimbas pada tingkah laku yang tidak Islami. Supaya hal-hal itu tidak terjadi, perlu ada Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, dengan revolusi epistemologi sebagai solusi yang paling mengakar. Ketika revolusi epistemologi (Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer) sudah berhasil, ilmuwan muslim akan meyakini Al-Qur’an sebagai sumber ilmu tertinggi, sehingga akan lebih pandai dalam memilah dan memilih. Ada pengakuan otoritas terhadap para ulama yang sesungguhnya, sebagai orang yang memahami Islam secara komprehensif. Dengan begitu, Islam dapat masuk dalam ranah ilmu pengetahuan modern dan secara perlahan memperbaiki pemikiran ummat Islam. Ilmu pengetahuan yang sudah terislamisasi akan membuat ummat muslim maju. Sebuah kemajuan yang tentu saja berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, seperti yang terjadi pada masa perkembangan ilmiah sejak abad pertama Islam.
Mungkin ada orang yang mengkhawatirkan posisi Islam ketika masuk dalam ilmu pengetahuan, seperti contoh kasus nomor 2. Justru langkah yang dikhawatirkan itu adalah salah satu cara revolusi epistemologi. Memang ada eror di tiap penelitian, namun peneliti muslim juga perlu memberi pengertian bahwa Al-Qur’an yang dijadikan sumber tidak akan salah. Kesalahan pasti terletak pada hal-hal selain wahyu dari Allah, seperti pada manusia, metodologi, atau variabel yang tidak terkontrol. Semakin banyak peneliti muslim yang melakukan hal seperti itu, otoritas Al-Qur’an sebagai sumber ilmu akan semakin diakui. Pada akhirnya, epistemologi akan berevolusi menjadi semakin Islami karena semakin dekat dengan Al-Qur’an.
Tentu butuh usaha keras dalam Islamisasi ilmu, namun perlu diingat bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk menghapus pemikiran apapun di dunia ini. Yang menjadi fokus adalah muslim sendiri. Ketika pemikiran ilmuwan muslim sudah terislamisasi kembali, akan semakin banyak muslim yang mengikuti. Orang-orang non-muslim akan melihat dan menilai muslim yang pemikirannya sudah Islami. Ketika mereka tertarik dengan pemikiran Islam dan ingin mengadopsinya, silakan. Jika menolak, itu hak mereka asal menolak dengan cara yang beradab. Jadi, muslim tidak perlu membenci pemikiran Barat dan berniat untuk menghancurkannya.
Contoh tindakan “fokus pada muslim” ditunjukkan oleh Prof. Malik Badri. Beliau berpendapat bahwa Islamisasi psikologi dilakukan dengan cara adaptasi. Jika tidak dilakukan adaptasi, psikologi modern dapat merugikan atau tidak berguna bagi muslim. Adaptasi yang dimaksud adalah pada hal-hal yang menyangkut moral, tidak sesuai dengan Islam. Yang dapat penulis simpulkan adalah menjadikan psikologi modern ini sebagai psikologi yang pantas untuk ummat Islam.
Begitulah Islamisasi ilmu psikologi, yang tidak menjajah namun tetap terbuka. Tidak menjajah orang dengan pemikiran lain, namun jika ada yang ingin menggunakannya tetap diperbolehkan. Sekali lagi tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mempengaruhi pembaca untuk mengubah paradigma menjadi yang Islami, namun sekedar untuk membuat pembaca mengerti. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat.

Inspirasi didapatkan dari:
Al-qur’an Al-karim
Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas (Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer), dalam buku Islam dan Sekulerisme.
Prof. Malik Badri (perintis Islamisasi Psikologi kontemporer) dalam buku Dilema Psikolog Muslim; artikel The Islamization of Psychology Its “why”, its “what”, its “how” and its “who”. Artikel dapat diunduh di http://i-epistemology.net/psychology/60-the-islamization-of-psychology-its-why-its-what-its-how-and-its-who.html.
Dr. Amber Haque (Asisten profesor), dalam esai Psychology and Religion: Their Relationship and Integration from an Islamic Perspective. Tulisan dapat diunduh di http://i-epistemology.net/attachments/630_V15N4%20Winter%2098%20-%20Haque%20-%20Psychology%20and%20Religion%20-%20Their%20Relationship%20and%20Integration.pdf.
Joseph Nicolosi, dalam The removal of homosexuality from the psychiatric manual. Tulisan dapat diunduh dari http://cssronline.org/CSSR/Archival/2001/Nicolosi_71-78.pdf

http://www.islampos.com/islamisasi-ilmu-psikologi-revolusi-epistemologi-mengapa-75673/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: