Memahami Sistem Pemilihan Dalam Islam dan Demokrasi (Bagian 5)

Juni 25, 2007 oleh fillah

Kita wajib mengambil pelajaran dari sirah Rasulullah SAW, bukan hanya apa yang tersurat saja melainkan harus mampu menganalisa yang tersirat. Maksudnya bukan sekedar menjiplak zhahirnya belaka, melainkan juga harus tafaqquh secara wa’yu dengan melakukan analisa ilmiyah tentang hal melatar-belakangi apa yang dilakukan oleh beliau. Kita tidak boleh menghilangkan siroh begitu saja, karena itu adalah sejarah yang banyak mengandung hikmah dan pelajaran dalam memahami realitas.Sehingga tidak semua yang kita dapat tentang Rasulullah SAW harus disikapi langsung dengan hitam putih sebelum dianalisa dengan baik dan cermat tentang istimbath hukumnya. Apakah hal itu menjadi wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram.
Hakikat Penolakan Tawaran

Di dar an-Nadwah, ketika ditawarkan oleh kafir Quraisy tentang harta atau kekuasaan, Rasulullah SAW memang menolaknya. Tetapi kita tahu bahwa harga atas harta dan kekuasaan itu sungguh naif, yaitu Rasulullah SAW harus berhenti dari dakwah. Sebodoh apapun seseorang pasti tahu bahwa tawaran itu sungguh tidak logis. Harta dan tahta itu tidak mungkin ditukar dengan menghentikan dakwah. Ini sama saja menolak kenabian, sebab tugas utama seorang nabi adalah dakwah. Maka sangat teramat wajar bila Rasulullah SAW menolaknya mentah-mentah. Itu tercermin dari ungkapan dan jawaban beliau yang disampaikan oleh Abu Thalib, Wahai paman, meski pun mereka meletakkan matahari di kananku dan bulan di kiriku agar aku berhenti dari dakwah ini, pastilah tidak akan kulakukan. Hinngga nanti Allah SWT menangkan dakwah ini atau aku mati bersamanya. Imbalan atas harta dan kekuasaan itu terlalu mahal, sebab yang mereka tuntut adalah berhenti dari dakwah. Jadi ini bukan tawaran yang adil dan siapapun pasti tidak akan menerimanya. Mereka yang mengharamkan masuk parlemen dengan dasar penolakan Rasulullah SAW atas kekuasan atau harta yang ditawarkan dalam peristiwa ini telah lupa dan kurang cermat, bahwa tawaran itu memang tidak adil sama sekali. Jadi argumen ini tidak terkait dengan keharaman masuk parlemen.
Sedangkan di masa kini, ketika partai Islam berupaya masuk parlemen, tidak ada konsekuensi untuk berhenti dari dakwah. Tidak ada yang menawarkan hal itu dan tidak ada yang mensyaratkan bahwa kalau partai Islam mau masuk parlemen harus dengan syarat berhenti dari berdakwah dan tidak boleh menegakkan Islam. Tidak ada bayaran untuk itu.
Dakwah Lewat Kekuasaan
Siapa bilang Rasulullah SAW menghindari dakwah lewat kekuasaan ? Surat-surat Rasulullah SAW yang dikirimkan kepada para raja itu adalah dakwah lewat jalur kekuasaan. Dan ternyata Rasulullah SAW tidak hanya sekali berkirim surat. Bahkan sampai hari ini kita masih bisa mendapatkan surat asli yang beliau kirim kepada para raja dunia yang intinya mengajak mereka masuk Islam. Mengapa raja yang diajak masuk Islam ? Mengapa bukan rakyatnya ? Mengapa beliau tidak memulai dakwah di negeri lain seperti di Mekkah dengan metode dakwah sirriyah (rahasia) selama 3 tahun lamanya ? Mengapa langsung mengajak raja masuk Islam ? Jawabnya karena raja punya kekuasaan sehingga dengan masuk islamnya sang raja, maka dengan mudah Islam bisa berkembang, minimal akan merasakan kemulusan jalan dakwah yang memang dibutuhkan. Bahwa ada raja yang menolak ajakan itu bahkan ada yang merobek-robek surat beliau, itu adalah resiko dari sebuah bentuk dakwah. Tetapi yang masuk Islam dan merubah negaranya menjadi Islam jelas ada dan itu menjadi titik keberhasilan dakwah lewat kekuasaan.
Benar bahwa dahulu Rasulullah SAW memulai dakwah tidak lewat jalur kekuasaan, bahkan cenderung merahasiakan dakwahnya, tetapi bukan berarti setiap dakwah itu harus dengan cara sembunyi. Sembunyi atau tidak merupakan hasil pertimbangan teknis yang dimasa itu memang dibimbing dengan wahyu. Tetapi analasia dan kajian tentang mengapa harus dakwah secara sembunyi pun tetap ada dan tidak diabaikan begitu saja. Buktinya, masa dakwah sirriyah 3 tahun itu hanya berlaku di Mekkah saja. Di luar Mekkah tidak dikenal dakwah seperti itu. Apalagi orang Madinah, mereka sama sekali tidak mengalami masa dakwah rahasia yang tiga tahun itu. Sebab alasan untuk merahasiakan dakwah memang tidak ada, tidak seperti di Mekkah.
Urgensi Mempelajari Fiqhus Sirah
Maka sebagai pemimpin umat, tiap orang dan jamaah harus cerdas dalam menganalisa sirah nabawiyah. Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, Dr. Muhammad Al-Ghazali Al-Jabili, Syeikh Muhammad Munir Ghadhban, Dr. Musthafa As-Sibai adalah orang yang banyak menulis tentang ilmu Fiqhus Sirah. Yaitu memahami sejarah Rasulullah SAW dan menganalisanya untuk diistimbat menjadi sebuah manhaj dakwah. Agar kita tidak salah paham atas sirah beliau SAW. Kita wajib menelaah dengan baik ilmu ini agar tidak terlalu mudah berpendapat sebelum memperluas dahulu wawasan.
Contoh-contoh Salah Kaprah Dalam Memahami Sirah Nabawi
Kami akan menyebutkan fenomena kesalah-pahaman yang sering terjadi pada diri umat ini atas asumsi subjektifnya pada sirah nabawiyah.
1. Masalah Model Pakaian
Sebagai contoh, sebagian riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengenakan jubah / gamis panjang dengan sorban melilit kepala. Sehingga ada orang yang berpendapat bahwa itulah pakaian yang Islami. Bahkan ada yang sampai kepada sikap untuk tidak berpakaian kecuali hanya dengan model pakaian yang seperti itu. Dan lebih ekstrem lagi, ada juga sebagian yang menyalahkan bila ada seorang muslim tidak berpakaian seperti itu.

Padahal riwayat itu tidak menyebutkan bahwa Rasulullah SAW setiap hari pasti berpakaian demikian. Selain itu juga Rasulullah SAW tidak menetapkan bahwa model pakaian muslimin haruslah seperti yang beliau kenakan. Para fuqaha pun tidak ada yang berkesimpulan demikian, sehingga bab-bab fiqih tidak pernah membahas tentang model pakaian dengan mewajibkan model tertentu, kecuali menyebutkan kriteria umumnya saja.

2. Masalah Mimbar Nabi Dan Penggunaan Pedang Saat Khutbah
Ada riwayat yang menyebutkan tentang bagaimana bentuk mimbar Rasulullah SAW. Juga tentang Rasulullah SAW yang berkhutbah dengan mengangkat pedang. Tetapi para ulama kemudian menganalisa bahwa kedua hal itu bukan merupakan rukun atau syarat syah dari sebuah khutbah jumat. Sehingga kalau ada yang mewajibkan khutbah pakai pedang, tentu sebuah kesalah-kaprahan dalam memahami sirah nabawiyah.

3. Masalah Penyerbukan Pohon Kurma
Ketika Rasulullah SAW orang-orang di Madinah melakukan penyerbukan (talkih) pohon kurma, bertanya tentang kenapa harus dilakukan penyerbukan itu. Sebab sebagai orang Mekkah yang tidak mengerti urusan pertanam kurma, hal itu mengherankan beliau. Namun para shahabat di Madinah ini menduga bahwa pertanyaan Rasulullah SAW dianggap sebagai larangan. Lalu mereka pun tidak melakukan penyerbukan lagi.

Ketika musim panen kurma datang, hasilnya kurang memuaskan. Lalu mereka mendatangi Rasulullah SAW dan menanyakannya. Saat itu beliau menjawab bahwa pertanyaan beliau itu bukan bermakna pelarangan, tapi semata-mata bertanya sebagai orang yang awam dalam segi bercocok tanam kurma. Dan kalimat beliau adalah `antum a`lamu bi umuri dunyakum` yang maknanya bahwa kamu lebih tahu dengan urusan dunia kalian.

Ini contoh kesalah-pahaman atas ucapan Rasulullah SAW yang dipahami berbeda oleh sebagian shahabat. Mereka menduga bahwa ucapan beliau sebagai bagian dari syariah, padahal semata-mata urusan dunia belaka.

4. Strategi Dalam Perang Badar
Ketika umat Islam menyongsong musuh dalam perang Badar, Rasulullah SAW meminta para shahabat untuk berhenti di suatu tempat dan menjadikannya basis pertahanan. Lalu salah seorang shahabat maju dan bertanya kepada Rasulullah SAW tentang latar belakang pemilihan tempat itu.

Apakah memang didasari wayhu ataukah semata-mata ijtidah beliau. Rasulullah SAW menegaskan bahwa semata-mata ijtihad, tidak ada kaitannya dengan wahyu. Maka shahabat tadi memberikan masukan bahwa pilihan tempat itu kurang menguntungkan, seballiknya ada tempat lain yang secara hitungan strategis lebih baik. Rasulullah SAW pun setuju dengan pendapat itu dan memindahkan tempat peperangan.

Kisah ini menunjukkan bahwa tidak semua tindakan Rasulullah SAW itu pasti harus dipahami sebagai doktrin dan wahyu dari Allah SWT . Benar bahwa beliau itu tidak mengucapkan kecuali apa yang diwahyukan sebagaimana dalam Al-Quran Al-Kariem ditegaskan, tetapi ada sisi-sisi manusiawi di mana wahyu saat itu tidak terlalu mengatur dan diserahkan kepada improvisasi beliau semata sebagai manusia biasa. Sehingga kita harus cerdas dalam memilah dan memilih manakah yang merupakan ketetapan wahyu dan manakah yang merupakan pilihan manusiawi.

Dalam masalah muswarah dan voting, kita bisa membaginya menjadi dua wilayah. Pertama, musyawarah yang bersifat internal dengan sesama muslim. Kedua, musyawarah ekternal antara umat Islam dengan non muslim, atau dengan sesama muslim tapi yang kurang mendukung penerapan syariah Islam. Kalau musyawarah dengan sesama muslim yang shalih, hal yang dibicarakan selalu berada di dalam koridor aqidah dan syariah Islam. Hasilnya tidak akan ke luar dari yang telah dihalalkan Allah SWT. Siapapun yang menang, insya Allah hasilnya tidak akan melanggar agama. Namun kalau musyawarah dengan non muslim, maka wilayahnya adalah untung rugi buat kaum muslimin. Sebenarnya tetap tidak akan ada yang berubah dari hukum Allah, sebab diterima atau tidak, hukum dan syariah Allah tetap ada dan abadi.
Yang jadi masalah tinggal negoisasi penerapannya dengan sesama penduduk yang non muslim. Misalnya, dalam kebolehan mengenakan pakaian yang menutup aurat. Di suatu negeri memang dilarang, karena yang berkuasakebetulan non muslim yang secara sengaja ingin menghalangi umat Islam menjalankan ibadahnya.Maka tugas umat Islam adalah bernegosiasi sedemikian rupa, agar hak-hak mereka sebagai muslim bisa didapatkan. Tentu saja berbagai bentuk nego itu perlu dilakukan, dengan mendahulukan prinsip perdamaian. Bukan langsung lewat pedang.Seandainya mekanisme pengambilan keputusan harus lewat voting, karena dianggap itulah jalan tengah dalam negosiasi, tentu saja perlu dijajaki dulu. Mungkin lewat voting bisa diupayakan. Maka para pemimpin muslim di negeri itu bertugas untuk melobi para wakil rakyat atau mereka yang ikut punya suara dalam voting. Targetnya sederhana saja, yaitu agar umat Islam boleh menjalankan agamanya dengan bebas.Nah, dalam kasus seperti ini, voting adalah bagian dari upaya menegakkan syariah. Walau pun bukan satu-satunya cara. Dan jangan dikatakan bahwa dengan cara ini, hukum Islam diserahkan kepada voting. Sekali-kali tidak! Sekali lagi itu hanyalah salah satu sarana.
Yang ingin diambil manfaat dari voting ini adalah negosiasi dengan pihak luar, agar bisa mendapatkan angin kebebasan. Bukan mau bernegosiasi dengan Allah dalam menjalankan agama dengan cara separuh-separuh. Soal wajibnya pakai jilbab, kita yakin 100% wajib. Adapun kita melakukan nego dengan cara voting adalah upaya memperjuangkannya agar bisa berjalan dengan lancar.

Perjanjian Hudaibiyah
Perjanjian Hudaibiyah merupakkan sejarah yang tidak dapat kita hilangkan begitu saja, kisah itu mengajarkan kepada kita tentang tehnik lobi dan negosiasi dengan kepentingan diluar islam baik secara sistem maupun individu. Selain itu kesabaran Muhammad terlihat pula ketika terjadi penulisan isi persetujuan itu, yang membuat beberapa orang kaum Muslimin jadi lebih kesal. Ia memanggil Ali b. Abi Talib dan katanya:
“Tulis: Bismillahir-Rahmanir-Rahim (Dengan nama Allah, Pengasih dan Penyayang).”
“Berhenti!” kata Suhail. “Nama Rahman dan Rahim ini tidak saya kenal. Tapi tulislah: Bismikallahuma (Atas namaMu ya Allah).”
Kata Rasulullah pula: “Tulislah: Atas namaMu ya Allah.”
Lalu sambungnya lagi: “Tulis: Inilah yang sudah disetujui oleh Muhammad Rasulullah dan Suhail b. ‘Amr.”
“Berhenti,” sela Suhail lagi. “Kalau saya sudah mengakui engkau Rasulullah, tentu saya tidak memerangimu. Tapi tulislah namamu dan nama bapamu.”
Lalu kata Rasulullah pula: “Tulis: Inilah yang sudah disetujui oleh Muhammad b. Abdillah.”
Dan selanjutnya perjanjian antara kedua belah pihak itu ditulis, bahwa kedua belah pihak mengadakan gencatan senjata selama sepuluh tahun – menurut pendapat sebagian besar penulis sejarah Nabi – atau dua tahun menurut al-Waqidi – bahwa barangsiapa dari golongan Quraisy menyeberang kepada Muhammad tanpa seijin walinya, harus dikembalikan kepada mereka, dan barangsiapa dari pengikut Muhammad menyeberang kepada Quraisy, tidak akan dikembalikan; bahwa barangsiapa dari masyarakat Arab yang senang mengadakan persekutuan dengan Muhammad diperbolehkan, dan barangsiapa yang senang mengadakan persekutuan dengan Quraisy juga diperbolehkan; bahwa untuk tahun ini Muhammad dan sahabat-sahabatnya harus kembali meninggalkan Mekah, dengan ketentuan akan kembali pada tahun berikutnya; mereka dapat memasuki kota dan tinggal selama tiga hari di Mekah dan senjata yang dapat mereka bawa hanya pedang tersarung dan tidak dibenarkan membawa senjata lain. Hasil perjanjian memang tampak tidak memberikan kebaikkan pada kaum muslimin, akan tetapi ini adalah hasil luar biasa terkait eksisitensi kaum muslimin dimasa yang akan datang.
Praktek Voting di Zaman Nabi
Selesai ikrar Aqobah kedua itu, Nabi berkata kepada mereka: “Pilihkan dua belas orang pemimpin dari kalangan tuan-tuan yang akan menjadi penanggung-jawab masyarakatnya.” Mereka lalu memilih sembilan orang dari Khazraj dan tiga orang dari Aus. Kemudian kepada pemimpin-pemimpin itu Nabi berkata: “Tuan-tuan adalah penanggung-jawab masyarakat tuan-tuan seperti pertanggung-jawaban pengikut-pengikut Isa bin Mariam. Terhadap masyarakat saya, sayalah yang bertanggungjawab.”
Selain Ikrar Aqobah II, banyak sekali bentuk praktek voting di zaman nabi SAW, yang intinya memang menggunakan jumlah suara sebagai penentu dalam pengambilan keputusan.Misalnya, ketika musyawarah menentukan sikap dalam menghadapi perang Uhud. Sebagian kecil shahabat punya pendapat sebaiknya bertahan di Madinah, namun kebanyakan shahabat, terutama yang muda-muda dan belum sempat ikut dalam perang Badar sebelumnya, cenderung ingin menyingsong lawan di medan terbuka.Maka Rasulullah SAW pun ikut pendapat mayoritas, meski beliau sendiri tidak termasuk yang mendukungnya.
Sebelumnya dalam perang Badar, juga Rasulullah SAW memutuskan untuk mengambil suara terbanyak, tentang masalah tawanan perang. Umumnya pendapat menginginkan tawanan perang, bukan membunuhnya. Hanya Umar bin Al-Khattab saja berpendapat bahwa tidak layak umat Islam minta tebusan tawanan, sementara perang masih berlangsung.Walaupun kemudian turun ayat yang mengoreksi ijtihad nabi SAW dan membenarkan pendapat Umar ra, namun peristiwa ini menggambarkan bahwa ada proses voting dalam pengambilan keputusan dalam sejarah nabi SAW.
Maka bukan pada tempatnya buat kita untuk menyatakan bahwa sistem voting itu bertentangan dengan ajaran Islam. Meski orang-orang kafir menggunakan sistem voting juga, namun tidak berarti kita meniru cara mereka. Buktinya, Rasulullah SAW sendiri pernah menjalakannya.
Kapan Voting Digunakan?
Voting memang bukan jalan satu-satunya dalam musyawarah. Boleh dibilang voting itu hanya jalan ke luar terakhir dari sebuah deadlock musyawarah.
Sebelum voting diambil, seharusnya ada brainstorming, atau bahasa kerennya ibda’ur-ra’yi. Dari sana akan dibahas dan diperhitungkan secara eksak faktor keuntungan dan kerugiannya. Tentu dengan mengaitkan dengan semua faktor yang ada.
Kalau voting itu bersifat internal umat Islam, maka haram hukumnya bila voting mengarah kepada sesuatu yang tidak dibenarkan Allah SWT. Sedangkan bila voting dengan melibatkan non muslim atau musuh Islam, maka yang terjadi bukan menjual ayat Allah, melainkan bagian dari memperjuangkan agama Allah SWT agar bisa ditegakkan. Bila belum bisa 100%, maka minimal 50%. Dan begitu seterusnya. Itu semua adalah usaha untuk menegakkan syari’at-Nya.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab (Bersambung…..)

Penulis Yuari Trantono
Mahasiswa Fakultas Peternakan UGM
Tulisan ini terinspirasi dari kitab Al-Fikr As-Siyasiy Al-Mu’ashir ’inda Al-Ikhwan Al-Muslimin, Karya Taufiq Yusuf Al-Wa’iy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: