Inikah Gerangan Cinta

10/09/2013 03:00:00 PM | Posted by islamedia

Islamedia – Kali ini saya ingin menulis tentang hal yang banyak sekali orang yang sudah membahasnya, dalam tulisan, dalam lagu, atau pun puisi. Itulah C.I.N.T.A. Setiap orang pasti pernah merasakan hal itu. Ada tangis dan tawa di dalamnya, ada duka dan gembira, ada pula pahit dan manis yang dirasakannya. Rasa yang mampu menharu biru setiap insan yang dihinggapinya, hingga terkadang mampu melakukan hal di luar biasanya, terkadang mampu membuat seseorang bak menjadi pahlawan nan perkasa, terkadang juga mampu membuat seseorang menjadi melankolis akut. Yang pasti, rasa ini adalah salah satu anugrah-Nya yang tidak dimiliki mahluk lain selain kita, manusia.

Kisah cinta pun banyak bermunculan sejak pertama kali manusia diciptakan, mulai dari kisah cinta Adam dan Hawa, ada pula yang berakhir tragis seperti kisah Qabil dan Habil, menunjukkan manusia generasi pertama pun sudah memiliki rasa itu. Kebanyakan seniman mengekspresikan rasa cinta ini dalam tulisan maupun lukisan, bahkan juga dalam film. Hampir semuanya menggambarkan indahnya kisah cinta yang mampu menyedot emosi dan menghanyutkan perasaan siapapun yang melihatnya. Namun, ada pula yang berakhir tragis dalam kasih tak sampai seperti kisah “Siti Nurbaya” maupun roman “Romeo and Juliet” karya William Shakespeare.

Tidak terkecuali saya, semua manusia pasti pernah merasakannya, baik berakhir suka maupun duka. Namun, dalam tulisan ini, ingin saya menuangkan arti cinta dalam pandangan dan hamparan perjalanan hidup saya untuk memahami apa arti cinta itu sebenarnya. Bukan berarti apa yang saya pahami adalah yang paling benar diantara pendapat lainnya, setidaknya sedikit memberikan arti dan masukan bagi siapapun yang membacanya.

Berawal dari sebuah buku yang saya temukan di pasar buku Palasari Bandung. Ada sub judul yang paling menarik bagi saya, tertulis dalam buku tersebut “Ketika sebagian laki-laki berharap dapat menikahi wanita yang dicintainya, Aku memohon dengan segala kerendahan hati untuk dapat mencintai wanita yang saya nikahi”. Tidak mudah memahami kalimat itu, butuh waktu yang panjang untuk dapat benar-benar memahaminya. Memang, kebanyakan orang, baik laki-laki maupun perempuan, ingin menikah dengan seseorang yang dicintai, baik karena orientasi fisik maupun kedekatan emosional. Sangat wajar ketika saya pernah menanyakan hal tersebut pada seorang teman, seperti apa wanita idaman yang ingin engkau nikahi? Jawabnya, “tinggi, putih, langsing dan setia”. Mhhh kalau gitu ada, tuh nikahi aja tiang listrik, tinggi menjulang, putih, langsing dan setia gak kemana-mana dari dulu di situ terus. Ada juga yang menjawab, “shalihah, pinter, cantik, anak orang kaya, anak tunggal, calon dokter, baik hati, juga tidak sombong”. Mhhh mungkin kalau ada yang seperti itu, mending untuk saya dulu dari pada untuk ente.

Semua parameter ideal calon pasangan diungkapkan dengan tujuan mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahan. Cukup manusiawi dan wajar ketika parameter itu banyak mengarah ke masalah fisik. Tapi, apakah itu cukup? Jika kita lihat dalam berita sehari-hari yang kita baca, banyak pesohor negeri ini yang memiliki pasangan cantik atau tampan, sedihnya sebanyak itu pula kita mendengar berita perpisahan mereka. Kurang cantik gimana lagi si anu? Kurang sexy seperti apalagi si itu? Kurang kaya apalagi si dia? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sangat mungkin akan muncul jika kita melihat suatu ikatan cinta karena parameter fisik atau materi saja. Dalam pelaksanaannya, kehidupan yang kemudian dijalani sehari-hari dengannya, kita mulai tahu seperti apa kebiasannya, seperti apa karakternya, seperti apa sifatnya, kemudian kita dapat menilai. Fisik pun semakin hari semakin menua, walau ditemukan obat anti aging pun tetap tidak akan mampu menghentikan gerogotan penyakit tua ini. Lalu, apa yang membuat seseorang mampu bertahan dan mempertahankan cintanya? Seseorang akan mampu mempertahankan cintanya, akan mampu hidup dengannya, ketika dia merasa NYAMAN dengan pasangannya. Ketika pasangan kita mampu kita ajak komunikasi, mampu memahami apa yang kita inginkan, memiliki sesamaan visi, dan juga mampu saling menguatkan.

Kemudian, pertanyaan lainnya adalah apakah kenyamanan saat bersama pasangan kita adalah sebuah tanda cinta? Bagaimana jika kita tidak merasa nyaman lagi? Lalu apa yang harus dilakukan? Sebelum kita jawab pertanyaan di atas, saya ingin mengulas cinta dari berbagai perspektif. Dalam kehidupan, sebenarnya sudah banyak yang mengajarkan kita mengenai arti cinta itu sendiri. Namun terkadang karena tidak sesuai dengan orientasi kita, lalu sinyal pembelajaran itu tidak mampu kita tangkap. Cinta menjadi terlalu sempit jika diartikan hanya sebatas keinginan biologis maupun rasa nyaman saat bersamanya, karena cinta memiliki arti yang jauh lebih besar dari itu semua.

Jika kita mengartikan cinta adalah ketulusan, maka kita dapat belajar dari cinta Allah pada hamba-Nya. Dia akan senantiasa menanti cinta kita, senantiasa memberi apa yang kita minta, melindungi kita dari mara bahaya, walupun kita mengingkarinya, walaupun kita mendustakannya, walaupun kita tidak mentaatinya. Ahh terlalu jauh jika dibandingkan dengan Tuhan. Ok, kita belajar pada matahari, setiap hari setia menerangi kita, menumbuhkan tanaman untuk kita, memberi vitamin untuk kita, menghangatkan tubuh kita jika kedinginan, atau sekedar memberikan sedikit ronanya agar kita mampu menikmati keindahannya. Pernah kah sekali saja kita memberi pada matahari? Atau bulan yang setia menemani malam kita, memberikan cahayanya agar malam kita tidaklah menjadi kelam, pernah kah kita barang sebentar membersihkannya agar cahayanya tidak memudar? Ahh mereka kan bukan mahluk hidup. Baiklah, kalau begitu kita belajar cinta pada orang tua kita, yang mencintai kita tanpa ada pilih kasih dengan saudara kita, tanpa meminta apapun dari kita. Mereka hanya ingin melihat kita bahagia, di dunia dan akhirat.

Jika kita mengartikan cinta adalah kesetiaan, kita dapat belajar pada Siti Hajar. Ketika Allah memerintahkan suaminya Ibrahim as. untuk pergi ke Palestina, Ibrahim meninggalkan istrinya beserta anaknya yang masih bayi di padang gersang, sendiri dan tidak ada orang lain di sekitarnya. Apakah kemudian Hajar mutung dan meninggalkan Ibrahim? Tidak, dia menantinya seperti apa yang diamanahkan padanya.

Jika kita mengartikan cinta adalah sebuah komitmen, kita dapat belajar pada sosok Yusuf as. Ketika dia digoda oleh Zulaikha, bukan berarti Yusuf tidak tergoda saat itu, sisi manusiawinya menunjukkan ketertarikan pada Zulaikha yang rupawan. Namun komitmennya pada Tuhannya yang mampu membuatnya menahan diri hingga saat yang tepat telah tiba.

Jika kita mengartikan cinta adalah kesabaran, kita dapat belajar pada Asyiah, istri Fir’aun. Betapa ia sabar dalam keta’atan pada Tuhannya, tapi juga ia sangat sabar dalam melayani suaminya yang kufur. Tiada keluhan atau keputusasaan, yang dilakukannya adalah berusaha untuk senantiasa sabar menjalani peran hidupnya tersebut.

Jika kita mengartikan cinta adalah pengorbanan, maka kita dapat belajar pada Bunda Khadijah yang mulia, yang senantiasa berada di depan suaminya ketika masalah menghadangnya. Bukan hanya jiwa dan raga yang ia berikan, bahkan seluruh hartanya pun direlakan untuk perjuangan suaminya. Kita juga dapat belajar pada para pencinta di negeri ambiya Palestina, mereka mengorbankan seluruhnya, nyawanya, keluarganya, hartanya, bahkan waktunya untuk negeri yang dicintainya. Dan ingat, mereka semua tidak pernah meminta balasan apapun.

Jika kita mengartikan cinta adalah keteguhan, kita bisa belajar pada kisah cinta Yasir dan Sumayyah, yang teguh dalam pendiriannya untuk mempertahankan keimanannya, walaupun siksaan tak henti-hentinya hingga akhirnya mereka harus terpisahkan “di dunia” dan meregang nyawa.

Jika kita mengartikan cinta adalah kasih sayang, kita bia belajar pada Rasulullah saw. yang begitu sangat mengasihi kita, menyayangi kita, mengajarkan kita tentang kebenaran, dan mensyafa’ati kita di yaumul hisab kelak. Apakah kita telah membalas semua jasanya? Banyak diantara kita yang malah menghinanya, menghujatnya, tidak mengindahkan sunnahnya, bahkan mendustakannya. Lalu apakah kemudia ia membenci kita? Tidak, ia selalu mengkhawatirkan kita hingga akhir hayatnya.

Dari beberapa contoh kisah cinta yang saya tulis di atas, bisa kita lihat bahwa cinta tidak mesti mendapat jawaban atau dijalani dengan kondisi yang nyaman. Cinta adalah sebuah ekspresi dan konsekuensi dari apa yang kita cintai itu sendiri. Kadang penuh air mata, tidak sedikit yang harus berdarah-darah. Apakah kemudian kita harus meninggalkannya? Tidak salah jika sebuah buku tercipta dengan judul “Ketika Cinta Harus Diupayakan”. Cinta tidak tumbuh dengan sendirinya, cinta juga tidak bisa kita bunuh sekehendak kita. Kita akan merugi jika rasa cinta itu tercabut dari diri kita. Cinta membutuhkan pengorbanan, ketulusan, kesabaran, keteguhan, komitmen, dan kasih sayang. Baik terbalaskan atau tidak, atau membuat kita nyaman atau tidak, bukan di situ letak orientasinya.

Dalam berumah tangga, tentu kita menginginkan kita berada di taman bunga yang indah. Melihat bunga bermekaran dengan Indah, harum semerbak, bahkan mungkin ingin menghisap madunya. Tapi, bukan tidak mungkin kita bahkan menemukan bunga yang masih kuncup di hadapan kita. Tugas kita lah untuk membuka kelopak keimanannya, membuka kelopak cintanya, membuka kelopak kesabarannya, membuka kelopak kesetiaanya, dan membuka kelopak kasih sayangnya agar kuncupnya mekar jadi bunga. Allah tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan.

M. Bayu D. Rusamsi

http://www.islamedia.web.id/2013/10/inikah-gerangan-cinta.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: