Hirarki Kebutuhan Nabi Ibrahim as

Selasa, 08 Januari 2013

Hirarki kebutuhan Abraham Maslow adalah sebuah teori dalam Psikologi yang diajarkan kepada mahasiswa yang mempelajari ilmu perilaku. teori ini juga diajarkan kepada mahasiswa pemasaran demi memahami kebutuhan dasar para konsumen. Dalam studinya mengenai teori ini, Maslow, mempelajari hidup dari (yang ia sebut sebagai) “teladan” seperti Albert Einsten yang ia anggap “penuh” dan berbeda dari orang lain yang memiliki penyakit mental atau psikologis. Abraham Maslow dianggap sebagai salah satu pendiri psikologi Humanistik, dan teorinya lebih merupakan “pendekatan humanis menuju aktualisasi diri”. teori ini sepenuhnya dijabarkan dalam bukunya Motivation and Personality.

Maslow menyatakan bahwa kebutuhan yang paling mendasar harus dipenuhi sebelum kebutuhan untuk beranjak pada level berikutnya sangat kuat terasa. Para kritikus berpendapat bahwa teori Maslow dipengaruhi oleh latar belakang etnisnya. Kritikus lain meyakini bahwa teorinya merupakan pendekatan individual yang kental terhadap kebutuhan. Pandangan humanistiknya tampak sangat mempengaruhi teori dan hal ini dibuktikan dalam penggunaan kata “harga diri” bukannya agama. Jadi, ada perbedaan pendapat mengenai hirarki kebutuhan yang benar atau apakah ada hirarki yang sifatnya umum.
Setiap studi pada hirarki kebutuhan manusia dengan doktrin agama sebagai prinsip dasarnya, akan sangat mengubah teori Maslow ini, dikarenakan:
1. self yang tidak terlihat (ruh) telah diabaikan oleh psikolog humanis. Sebuah pemahaman mengenai kebutuhan manusia melibatkan pemahaman akan kebutuhan self kebinatangan manusia, self meta-fisik, dan hasil dari perpaduan keduanya.
2. Keyakinan bahwa Allah sebagai pencipta, memahami manusia lebih dari mereka memahami dirinya sendiri. bimbingan manual telah Allah berikan untuk memberitahu kita dengan lebih akurat bagaimana mengklasifikasi dan mengatur kebutuhan manusia.
3. Keyakinan mengenai kehidupan sekarang dan hari akhir, mengubah garis tindakan dan gaya hidup serta membagi kebutuhan duniawi dan kebutuhan yang sifatnya abadi. Keyakinan tersebut di mana kehidupan dunia adalah seperti menghabiskan waktu sehari dalam sebuah hotel , sementara tujuan yang nyata belum tiba. Hal ini juga menimbulkan konsep “kebutuhan utama” atau “keberhasilan utama”
4. manusia dilahirkan dalam keadaan beriman, namun saat mereka tumbuh dewasa, pemahaman mereka tentang kebutuhan sangat dipengaruhi oleh apa yang diajarkan kepada mereka, dan gaya hidup mereka dibuat untuk mengidealkan (hal tersebut- penj).
5. Nabi adalah manusia sempurna yang diutus oleh Allah. Sehingga studi religius mengenai hirarki kebutuhan akan mempelajari kehidupan para Nabi bukan yang dianggap lengkap oleh manusia dewasa ini dengan menggunakan standar keunggulan materi atau normatif. Ibrahim (as) meninggalkan istrinya Hajar (as) dan anaknya Ismail (as) di Makkah yang ketika itu benar-benar tak berpenghuni. Di sekitarnya tidak ada sumber makanan maupun air. Sebagai seorang pria yang memahami realita dunia ini, dan hirarki kebutuhan yang tepat, inilah yang Ibrahim doakan untuk istri dan anaknya:
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ
الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)”

(1) banyak Nabi yang melalui masa penempaan dalam keterasingan jauh dari dunia. Musa (as) menghabiskan empat puluh hari di bukit Tur, dan Muhammad Saw menyepi di gua hira. Demikian pula, pengucilan di padang pasir memaksa Hajar untuk bertanya mengenai pertanyaan yang mendasar, dan meyakinkan dirinya pada realita yang tak terlihat. Keyakinan bahwa realita yang tak terlihat lebih nyata daripada realita yang terlihat adalah ‘aktualisasi diri’ dalam Islam. inilah awal di mana perjalanan dimulai. Jika anda belum memahami komposisi yang tepat, maka anda mungkin saja memenuhi kebutuhan diri yang tampak, namun benar-benar mengabaikan diri yang tak tampak.

(2) setelah memahami bahwa di dalam dirimu ada terdapat bagian yang tak nampak, dan yang terus berharap untuk terhubung ke Tuhannya (Allah), sekarang anda perlu mengetahui sarana dan cara agar terhubung kepada Tuhanmu. Inilah mengapa Ibrahim berdoa kepada Allah untuk membimbing mereka kepada Shalat.

(3) Selanjutnya, ia memohon kepada Allah untuk membelokkan hati orang-orang terhadap mereka, yang hampir mirip dengan kebutuhan untuk mencintai dalam hirarki Maslow.

(4) Pada akhirnya, dia berdoa untuk kebutuhan fisiologis mereka yang diwakili oleh makanan dalam doa di atas.

Mengenai keamanan, Ibrahim telah mengambil “resiko” untuk meninggalkan keluarganya di tengah padang pasir, karena ia meninggalkan mereka di bawah perlindungan Allah. Tidak ada “batasan” sejauh seseorang dapat pergi untuk melindungi sumberdaya, pekerjaan, kesehatannya, dan lain-lain. Dengan keyakinan kepada sang pelindung utama (Tuhan), anda tidak perlu khawatir, karena anda percaya pada pembagiannya, dan anda percaya bahwa hidup ini bukanlah tempat dimana anda dapat memperoleh apa saja.

Konsep syukr (mensyukuri nikmat) yang disebutkan pada akhir ayat di atas adalah inti pentingnya. Bersyukur kepada Allah, baik memiliki atau tidak berbagai jenis makanan di sekitar anda, atau baju yang beragam untuk dipilh adalah manifestasi dari syukur. Anda berterima kasih pada Allah atas kebutuhan yang paling penting dan mendasar, keimanan, yang pada dasarnya berhubungan langsung dengan aktualisasi diri.

Setiap orang di dunia ini baik sengaja maupun tidak mencari kepuasan batin. ada beragam jalan yang ditempuh untuk meraih kebahagiaan batin tersebut. Seseorang dapat terus mencoba untu memperoleh keinginan serta kebutuhan “dasar” tersebut, akan tetapi semua itu akan berakhir dengan kegagalan disebabkan adanya “kebutuhan dasar” yang terlupakan dari invisible self (baca: ruh -penj). Jadi, anda dapat merasakan perasaan terpenuhinya “semua kebutuhan” melalui kepuasan batin di mana anda berusaha untuk membuat kedua ujung bertemu, menurut Maslow (itu berarti) anda masih berada di bagian bawah piramida. sehingga, akar-kebutuhan adalah kepuasan diri sendiri, dan itu hanya mungkin diraih melalui jalur yang ditetapkan Allah. Setiap yang lahir (sejatinya) telah mencapai aktualisasi diri, yakni fitrah, dan asuhan yang ia terima dapat merusak cara ia melihat realita saat ia telah ‘matang’. Ia haruslah menemukan kembali atau me-refresh kenyataan. Dan ketika ia tahu bahwa kenyataannya adalah hal yang melampaui apa yang terlihat, ia akan mencari bimbingan ilahiah, serta langkah-langkah yang diturunkan untuk mencapai kepuasan diri. Ia lalu mengisi jiwanya melalui bimbingan tersebut dan merasakan hubungan yang kuat dengan Tuhannya, lalu suatu saat tiba di mana bahkan keinginannya sendiri sama dengan keinginan Allah. Maka menuju ke jalan yang benar meningkatkan kebahagiaan batinnya.

Kebutuhan fisiologis (physiological needs), keamanan (safety), dan cinta (love/belonging) dll hanyalah berarti sebagai bahan bakar untuk hidup. Itu semua bukan tujuan akhir ataupun kebutuhan primer manusia. Umumnya, kebutuhan-kebutuhan tersebut “diperlukan” dalam menempuh kepuasan diri, namun ada pengecualian untuk hal ini. sebuah contoh penting adalah problem fisiologis yang dihadapi oleh Nabi Ayyub (as) serta keterasingan sosial yang dialami oleh Nabi Nuh (as).

Setelah mendefinisikan kebutuhan utama (ultimate-need) sebagai kepuasan batin di dunia (ad-dunya) dan di surga (Jannah), selanjutnya kita melihat bahwa manusia mengambil jalan yang berbeda demi mencapai kebutuhan utama itu. sebagian orang terpaksa untuk berpikir ulang mengenai keyakinan mereka karena harta, ketenaran, serta kekuasaan yang mereka miliki tidak menjawab pertanyaan mereka akan sesuatu yang “hilang”. Sementara sebagian lain mengarahkan pencarian mereka kepada cara yang benar di saat penderitaan menghampiri mereka yakni kekurangan kebutuhan dasar.

Terdapat bias dan kecacatan pada Hirarki Kebutuhan Maslow, dan oleh karenanya hampir mustahil dapat membentuk sebuah hirarki yang bersifat umum. Teori ini memberi kesan bahwa pemenuhan kebutuhan batiniah berada pada tahapan yang paling akhir, di mana dalam kenyataannya haruslah menjadi akar kehidupan manusia, dan satu-satunya kebutuhan nyata dalam kehidupan duniawi. Hirarki Maslow memberi kesan palsu bahwa kebutuhan fisiologislah yang paling penting, hal itu disebabkan ia memilih sosok yang tidak tepat untuk mendasarkan penelitiannya. Pemahaman ideal atas kebutuhan akan dicapai dengan mengambil (teladan) dari kehidupan yang ideal pula (para nabi) sebagai studi kasus. Akhirnya, piramida terbalik dengan sedikit penyesuaian akan lebih akurat daripada piramida Maslow yang sebenarnya.

Penulis: Muhammad Awais Tahir
sumber : Islam and Psychology
penerjemah : Gwan
http://gwan-aydrus.blogspot.com/2013/01/hirarki-kebutuhan-nabi-ibrahim-as.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: