Psikologi, (ternyata) ajaran Illahi..

April 7, 2012

Kemarin pagi saya diajak Retnowk bertemu temannya. Seorang anak hukum yang ingin bertanya tentang teori Psikologi. Haha! Part ini bikin saya zonk! Ngerti teori apaa eke? Wkwk.o_O
Setelah kenalan, saya yang tanya duluan
“Gimana, mau tanya apa mas? Hehe”

“Gini, ada nggak teori Psikologi yang bisa diterapkan untuk mengubah masyarakat?”
“Mengubah masyarakat? Hmm.. Ya bikin peraturan aja. Atau bikin hukuman yang tetap sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dulu di kelas Psikologi Belajar, diajarin misalnya gini. Anak yang nggak ngerjain PR bukan dihukum nggosok WC. Tujuan dikasih PR apa? Biar anak ngerti bab itu kan? Hukumannya misal disuruh ngerjain PRnya itu pake bahasa Inggris, jadi walaupun bentuknya hukuman, tapi tujuan dikasih PR tetap tercapai. Eh, tapi maksudnya gimana sih? Hehehe..”
“Hmm.. Jadi gini. Kalau di Hukum, tujuan hukuman itu kan untuk menakut-nakuti, untuk menyengsarakan (what??! -__-” – red.) agar masyarakat tidak melakukan perbuatan yang dilarang. Misalnya penjara. Tapi sekarang orang udah nggak takut masuk penjara. Nah, trus gimana, Psikologi ada teori lain ga yang bisa bikin masyarakat takut?”
Temen saya si Retnowk pun nyamber,
“Waduh, sebenernya di Psikologi itu paling menghindari namanya nakut-nakutin atau apa itu tadi? Menyengsarakan? Nggak diajarin tuh kita. Emang psikologi ilmunya kan humanis, bikin positif,”
“Haha, tapi gimana dong kalau hukum? Kalau nggak ditakut-takutin gimana..? Tapi ya itu, kayaknya sekarang udah nggak ngaruh,”
Oke. Ini percakapan santai paling ilmiah yang pernah saya lakukan sepertinya. Dan saya merasa diuji sebelum pendadaran. Hahaha! Gile, menerapkan ilmu Psikologi dalam konteks real, di masyarakat bok!
“Ya kalau nggak teori Behavior gini, ya Kognisi aja mas,” akhirnya dpt wanginsight.
“Gimana tuh kognisi?”
“Edukasi. Ini sebenarnya cara paling efektif tapi butuh waktu yang luaaamaaa buangett. Ya masyarakat diajari moral, baik-buruk. Kalau itu sudah masuk kognisi mereka, terinternalisasi, ya itu akan menjadi nilai setiap orang. Pada akhirnya orang per orang akan menjadi masyarakat sehingga nantinya masyarakat punya nilai tersebut.”
“Oh ya. Saya pernah diskusi juga dengan dosen tentang ini. Memang waktunya sangat lama. Dan beliau menyalahkan jawaban ini. Haha..”
“Hehe.. Iya. Tapi akan jadi cepet kalau ada role model yang melakukan itu.
(Dan..jeng-jeng.. tiba-tiba saya ingat Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salam.. :’) )
Coba kita balik ke jaman Rasulullah ya. Beliau itu melakukan edukasi ke masyarakatnya. Ngajarin ini boleh itu nggak boleh. Tapi beliau konsekuen dengan perkataannya. Beliau melakukan apa yang dikatakan dan tidak melakukan yang dilarang. Sahabat-sahabat juga melakukan itu. Akhirnya masyarakat menerima nilai-nilai yang dipegang pemimpinnya sebagai nilai sosial. Mereka melihat contoh nyatanya. Mereka akhirnya juga punya nilai itu. Dalam waktu cuma 22 tahun lo, Rasulullah mengubah Madinah menjadi kota madani, membuat semua serba sesuai aturan.. Rasulullah juga mengajarkan hukuman yang sesuai tujuan. Misal mencuri. Hukumannya apa coba? Potong tangan kan? Itu mencapai tujuan, yaitu agar orang itu ga mencuri lagi. Hukuman, mau bentuknya “baik” atau “jahat” selama sesuai tujuan kayaknya nggak masalah..”

Ealah. Mbalik lagi ke ajaran Rasulullah pada akhirnya. Mengubah masyarakat.. Iya ya, saya ko malah baru ngeh fungsinya psikologi di sini.
Rasulullah ya Rasulullah.. Shalawat untukmu wahai manusia teragung. Wahai manusia yang membuktikan berbagai ilmu pengetahuan.
Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa ali sayyidina Muhammad :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: