URGENSI PSIKOLOGI ISLAM DALAM MEWUJUDKAN KELUARGA SAKINAH[*]

Oleh: Hayati Nizar
(Guru Besar Psikologi Islam IAIN IB Padang)

Pendahuluan
Psikologi adalah kajian tentang perilaku manusia, teori-teori psikologi yang dibangun direkonstruksi dari hasil-hasil penelitian yang dilakukan terhadap perilaku manusia. Perkembangan kajian psikologis berlangsung sangat cepat dan dalam waktu yang relatif singkat muncul berbagai cabang psikologi yang kajiannya bertumpu kepada perilaku manusia saja.
Berbeda dengan psikologi barat, umat Islam perlu mengembangkan kajian psikologis yang mendasarkan diri kepada isyarat Pencipta manusia yakni Allah, karena Dia sebagai Pencipta lebih mengetahui perilaku manusia, makhluk ciptaan-Nya. Isyarat yang dimaksudkan tercantum di dalam al-Quran dan dijelaskan pula oleh Rasul Muhammad melalui Hadis. Dengan demikian, psikologi Islam adalah kajian tentang perilaku manusia yang berdasarkan al-Quran dan Hadis.
Berkenaan dengan perilaku mewujudkan keluarga sakinah, maka kajian ini merujuk kepada al-Quran dan Hadis. Untuk mewujudkan keluarga sakinah, tulisan ini memuat tentang anjuran berkeluarga, memasuki dunia perkawinan dan memeliharanya, dan memperlakukan anak dalam keluarga.

B. Anjuran Berkeluarga dalam Islam
Ajaran Islam menganjurkan perkawinan dengan tujuan membentuk keluarga yang tenteram dan berkasih sayang serta melanjutkan keturunan dengan maksud lebih jauh memakmurkan bumi Allah. Di dalam surat Rūm, 30:21 Allah menginformasikan sebagai berikut:
ومن اياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن فى ذلك لأيات لقوم يتفكرون
ِArtinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa perkawinan atau berkeluarga dianjurkan oleh Allah dan ini ditegaskan dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Turmuzi dari Abi Ayyub sebagai berikut:
أربع من سنن المرسلين: الحناء والتعطر والسواك والنكاح
Artinya: Empat hal yang termasuk sunnah para Rasul yakni memiliki rasa malu, memakai harum-haruman, menyikat gigi, dan menikah.
Dalam Hadis lain yang diriwayatkan oleh Jama’ah dari Ibnu Mas’ud dikemukakan bahwa menikah itu wajib hukumnya bagi pemuda yang telah memiliki kemampuan untuk membelanjai isteri sebagaimana sabda Rasul:
يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بللصوم فإنه له وجاء
Artinya: Hai para pemuda: “barangsiapa yang telah memiliki kemampuan untuk membelanjai isteri, hendaklah menikah, sesungguhnya hal itu (menikah) dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan; barangsiapa yang belum sanggup (membelanjai isteri) hendaklah dia berpuasa, sesungguhnya (puasa) itu menjadi penyelamat.”
Anjuran berkeluarga dalam Islam bertujuan agar manusia dapat memelihara pandangan dan memelihara kehormatan. Berkeluarga atau menikah adalah menyatukan dua individu yang berbeda dalam satu atap atau satu rumah. Suatu rumah tangga diibaratkan sebagai laut atau bahtera yang tidak bertepi, gelombang dahsyat yang tidak disangka dan dinyana. Untuk itu diperlukan panduan dalam memasukinya dan mendidik anak yang lahir dari keluarga tersebut. Panduan ini dimaksudkan agar keluarga sakinah yang diidamkan terwujud dalam kehidupan nyata sehari-hari.
C.Memasuki Dunia Perkawinan dan Memeliharanya.
Membangun suatu keluarga bukanlah pekerjaan yang mudah, karena suami isteri adalah dua individu yang berbeda. Keduanya memiliki perbedaan dalam berbagai hal, lingkungan sosial yang membesarkan; pandangan hidup yang ditanamkan; perilaku yang dibiasakan; status sosial ekonomi; latar belakang pendidikan; dan lain-lain. Sekalipun dua individu tersebut sama atau hampir sama dalam status sosial ekonomi dan latar belakang pendidikan, namun tetap berbeda dalam tiga hal yang disebutkan pertama yakni lingkungan sosial, pandangan hidup, dan perilaku hidup yang yang melatarbelakanginya. Hal ini secara tidak disadari sudah merasuk ke dalam diri individu dan menjadi pakaian hidup bagi individu itu sendiri.
Suami isteri yang memasuki dunia perkawinan dengan didahului oleh proses pengenalan yang relatif panjang, tetap saja ada hal-hal atau perilaku yang tidak diduga muncul, karena biasanya dalam proses pengenalan tersebut diperlihatkan perilaku ideal yang pada hakikatnya berbeda dengan perilaku hidup keseharian yang nyata. Akhir-akhir ini kita menyaksikan dan mendapat informasi lewat media massa dan lainnya tentang konflik rumahtangga padahal usia perkawinannya relatif singkat. Di bawah ini dikemukakan teknik yang perlu ditempuh oleh orang yang akan menikah agar perkawinan langgeng dan bermakna:
1. Meluruskan niat : ketika memasuki dunia perkawinan, penganten baru perlu meniatkan di dalam hatinya bahwa mereka menikah untuk mengikuti perintah Allah dan sunnah RasulNya. Niat demikian berkonsekuensi terhadap kerelaan dan kemauan buat berpedoman kepada ajaran Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan berkeluarga. Dalam suatu Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Rasul mengingatkan kepada orang yang akan menikah sebagai berikut:
من تزوج امرأة لمالها لم يزدها الله إلا فقرا ومن تزوج امرأة لحسبها لم يزده الله إلا دناءة ومن تزوج ليغض بها بصره ويحصن فرجه أو يصل رحمه بارك الله له فيها وبارك لها فيه
Artinya: Barangsiapa mengawini perempuan karena hartanya tidak akan ditambahi oleh Allah kecuali kefakiran; barangsiapa mengawini perempuan karena martabatnya tidak akan ditambahi oleh Allah kecuali kehinaan; barangsiapa mengawini perempuan dengan niat untuk menutup pandangannya (kepada orang lain) dan menjaga kehormatannya atau menghubungkan tali kasih sayang, akan diberkati oleh Allah baik perempuan maupun laki-laki (HR Ibnu Hibban) .
Perkawinan yang diniatkan karena mengikut perintah Allah, akan menaklukkan hati agar bersedia menaati semua ajaran Allah dan Rasul, karena di sana ada keberkatan yang dijanjikan-Nya. Parameter yang dipakai dalam melihat dan menerima pasangan hidup adalah parameter yang digunakan oleh Allah dan Rasul, yakni untuk menundukkan pandangan, memelihara kehormatan, dan menghubungkan tali kasih sayang, bukan parameter dunia yang seringkali berisi tipuan dan godaan syetan.
Sebagai manusia, biasanya dua individu yang memasuki dunia perkawinan menaruh berbagai harapan yang ideal terhadap pasangannya, namun dalam kenyataan tidak selalu ditemukan hal tersebut. Apabila parameter yang digunakan dalam memandang pasangan adalah pedoman yang digariskan oleh Allah dan Rasul maka kehidupan rumahtangga akan tenteram, karena terdapat kesamaan persepsi dalam memandang sesuatu atau keadaan yang dihadapi dalam rumahtangga. Sebaliknya, seandainya parameter yang digunakan adalah parameter duniawi, akan selalu terdapat perbedaan antara suami dan isteri.
1. Menciptakan pengertian yang sungguh-sungguh antara suami dan isteri. Suami dan isteri memiliki latar belakang yang berbeda misalnya, cara dibesarkan dan dididik oleh orang tua/keluarga, lingkungan bermain sejak kecil, keberagamaan keluarga yang membesarkan, posisi dalam bersaudara, dan lain-lain. Semuanya itu membentuk kepribadian masing-masing individu. Untuk menjaga ketenteraman rumah tangga, suami isteri harus mengerti sungguh-sungguh terhadap pasangannya.
2. Saling menerima. Suami dan isteri sebagai manusia memiliki kelebihan dan kekurangan dan tidak ada manusia yang sempurna. Ketika suami dan isteri telah diikat oleh sebuah perkawinan, maka masing-masing perlu menerima pasangannya dengan berbagai kekuatan dan kelemahan itu secara menyeluruh. Penerimaan terhadap kelemahan maksudnya memaklumi bahwa pasangannya mempunyai kelemahan dan berupaya memperbaikinya. Misalnya, suami yang mudah emosi tidak ditentang oleh isteri dengan emosi yang sama, begitupun sebaliknya. Masing-masing individu dapat mencari waktu yang baik untuk menyampaikan dan mengomunikasikan dengan cara yang baik dan sama-sama berupaya memperbaiki diri.
3. Saling menghargai antara suami dan isteri. Sikap saling menghargai dapat diwujudkan dengan berbagai cara antara lain mendengarkan pasangan berbicara atau bercerita, memberikan tanggapan terhadap pembicaraannya dengan hati terbuka dan penuh perhatian, mengingatkan hari-hari bersejarah bagi pasangan, menyambut pasangan dengan wajah gembira ketika dia pulang, memperhatikan kondisi kesehatannya, menanyakan keadaan anak-anak, dan lain-lain.
4. Memelihara sikap saling mempercayai. Suami dan isteri perlu menanamkan sikap tersebut sejak awal perkawinannya dengan cara memupuk rasa baik sangka (husnu al-zhan) terhadap pasangan. Terimalah issu-issu negatif yang diinformasikan seseorang dengan lapang dada dan berbaik sangka. Selidikilah dulu dengan cara yang bijak (tabayyun) terhadap issu yang diterima. Untuk itu masing-masing pasangan harus menghadapi dengan kepala dingin dan menjaga hati yang bening serta pikiran jernih agar tidak mudah diperdayakan oleh syetan.
5. Saling menyayangi antara suami dan isteri. Rasa sayang adalah kurnia Allah yang perlu dipelihara dan kasih sayang tersebut dapat berubah menjadi benci disebabkan sesuatu dan lain hal. Berdasarkan hal tersebut, penyair Arab memberikan panduan dalam berkasih sayang:
احبب حبيبك هوناما عسى أن يكون بغيضك يوماما
وابغض بغيضك هوناما عسى أن يكون بغيضك يوماما
Artinya: Sayangilah kekasihmu sekedarnya, barangkali suatu ketika dia akan menjadi orang yang kamu benci; bencilah orang yang kamu benci sekedarnya, barangkali suatu ketika dia akan menjadi kekasihmu.
Suami-isteri perlu menjaga rasa sayang dengan objektif dan berkesinambungan, bukan secara subjektif dan pragmatis. Suami menyayangi isteri karena dia menjadi pendampingnya dan ibu bagi anak-anaknya. Begitupun sebaliknya isteri menyayangi suami karena dia menjadi pendampingnya dan bapak dari anak-anaknya. Rasa sayang itu bukan lantaran penampilan, kepopuleran, kekayaan, pangkat/martabat, dan lain-lain.
Di atas telah dkemukakan konsep ideal tentang cara menciptakan keluarga harmonis, namun dalam kenyataan ada-ada saja muncul masalah yang tidak terduga. Di bawah ini dikemukakan beberapa masalah yang mungkin timbul dalam rumah tangga dan kiat menghadapinya. Masalah-masalah tersebut diantaranya:
1. Kehadiran orang ketiga. Hal ini cukup menyakitkan, apalagi kalau dibarengi dengan perubahan sikap pasangan. Untuk itu suami/isteri perlu mempelajari faktor-faktor penyebab dari kehadiran tersebut yang biasanya meliputi:
a) Faktor yang bersumber dari kelemahan suami/isteri. Di sini suami/isteri harus mau melakukan introspeksi diri. Pada umumnya faktor-faktor tersebut meliputi:
• Kurang perhatian. Adakalanya dengan berlalunya waktu, suami/isteri kurang memberikan perhatian terhadap pasangan yang mungkin disebabkan oleh kesibukan. Isteri sudah merasa memberikan perhatian pada suami dengan menyediakan makan dan minum setiap hari, menyiapkan pakaian, dan kebutuhan seks suami di tempoat tidur. Suami juga sudah merasa memberikan perhatian dengan memyediakan nafkah yang cukup untuk keluarga dan mengabulkan keinginan-keinginan isteri. Pada hal pemberian perhatian juga mencakup pemuasan ego pasangan yang dilandasi kasih sayang. Perhatian juga mencakup usaha menjaga kesinambungan dan suasana relasi yang setara dalam mengkomunikasikan masalah-masalah rumah tangga dan pribadi secara terbuka. Apabila suami/isteri lupa memberi perhatian secara luas sampai kepada hal yang disebutkan terakhir ini, dikhawatirkan hubungan suami/isteri menjadi hambar dan muncul perasaan jenuh. Kejenuhan akan menjadi pemicu kehadiran orang ketiga.
• Egois dan suka melecehkan pasangan. Suami/isteri suka memaksakan kehendak, tanpa peduli dengan perasaan ataupun harga diri pasangan, kurang menghargai kemampuan pasangan, padahal setiap orang termasuk pasangan suami/isteri berkeinginan agar diakui eksistensi dirinya.
• Suka berlaku kasar. Mungkin disebabkan kesibukan, tekanan, atau tidak terpenuhinya harapan, suami/isteri mudah terpancing emosi dalam menyikapi masalah yang muncul. Sikap kasar, keras, dan melecehkan dapat menimbulkan rasa sakit hati dan membangkitkan gejolak untuk pertengkaran tanpa adanya penyelesaian yang menguntungkan kedua belah pihak.
• Bersikap menyebalkan. Tanpa disadari mungkin ada kebiasaan buruk suami/isteri yang menjengkelkan dan menyebalkan pasangan. Kebiasaan buruk tersebut misalnya, mencurigai dan membatasi gerak pasangan. Kebiasaan demikian seringkali membuahkan pertengkaran.
• Kurang komunikasi dan minimnya waktu bersama. Dengan sedikitnya waktu bersama dan kurang berkomunikasi, masing-masing pasangan akan merasa jenuh dan melemahkan ikatan perkawinan. Suami/isteri merasa kecewa terhadap pasangannya.
b) Faktor yang bersumber dari hubungan pasangan dapat dikelompokkan sebagai berikut:
• Masing-masing pasangan tidak menyukai sejak awal perkawinan. Biasanya ini terjadi pada pasangan yang dijodohkan atau perkawinan yang didasarkan dengan niat bukan karena Allah;
• Suami/isteri mudah tersinggung;
• Suami/isteri mempunya sifat iri hati. Orang yang iri hati merasa dirinya tidak mendapat perhatian, tidak dipedulikan, tersisih, dikalahkan, dan merasa diabaikan yang membuat perasaan pasangan yang iri hati itu tercabik-cabik. Iri hati juga disebabkan oleh perbedaan kesuksesan, perbedaan pendapatan, dan lebih memperhatikan orang tua daripada pasangan;
c) Faktor yang bersumber dari pengaruh luar. Yang dimaksudkan dengan pihak luar boleh jadi keluarga, teman sekantor atau sahabat.
d) Faktor yang bersumber dari kesulitan ekonomi. Seringkali tekanan ekonomi menjadi penyebab terjadinya ketegangan hubungan suami/isteri.
2. Sifat mudah cemburu dalam diri suami/isteri. Untuk mengatasi ini perlu diperhatikan hal-hal yang menyebabkan pasangan mudah cemburu yang biasanya meliputi:
• Kurang komunikasi antara suami dan isteri;
• Memiliki sikap tertutup;
• Tidak memahami watak, sifat, sikap, dan perilaku pasangan;
• Tidak percaya diri;
• Mudah terpengaruh;
Setelah mengetahui penyebab cemburu, maka cara yang perlu dilakukan untuk mengatasinya yaitu:
• Membangun komunikasi dengan baik. Untuk ini yang perlu dilakukan adalah:
• Peka terhadap kepentingan maupun perasaan pasangan;
• Membuat pasangan merasa senang berbicara;
• Melakukan pembicaraan tanpa menghakimi
o Mengembangkan sikap terbuka;
o Memahami watak, sifat, sikap, dan perilaku pasangan;
o Mengembangkan rasa percaya diri;
o Jangan mudah terpengaruh oleh bisikan atau suara miring. Untuk ini suami/isteri perlu melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum menerima issu yang dilontarkan orang.
1. Suami/isteri memiliki sifat pemarah. Untuk menghadapi hal tersebut perlu dilakukan hal berikut:
• Jangan terpengaruh oleh kata-kata dan perbuatan kasar pasangan;
• Intensifkan perhatian dan pengertian terhadap pasangan;
• Memanfaatkan titik lemah pasangan untuk mengendalikan sifat pemarahnya dengan cara menjadikan titik lemah itu sebagai objek pembicaraan.
• Menciptakan suasana gembira dalam berinteraksi dengan pasangan
4. Suami/isteri suka melecehkan sikap emosional pasangan. Untuk menghadapi ini perlu dilakukan hal-hal berikut:
• Hindari sikap emosional;
• Bijaksana dalam merespon perilaku negatif pasangan;
o Sediakan waktu khusus untuk mendiskusikan hal-hal yang menjadi ganjalan di hati masing-masing;
o Komunikasikan fakta-fakta yang telah dibuat dan cari cara mengkomunikasikannya dengan pasangan;
o Cobalah mempelajari keahlian tertentu;
 Berikan perhatian personal.
5. Besarnya pengaruh mertua dalam relasi suami-isteri. Kiat mengatasinya dapat dilakukan hal-hal berikut:
• Tidak tinggal serumah dengan mertua;
• Menaklukkan hati mertua dengan langkah-langkah berikut:;
ü Menjalin interaksi dan komunikasi dengan mertua sebanyak mungkin;
ü Bersedia beradaptasi dan menyesuaikan sikap dan perilaku dengan kebiasaan adat dan tata krama yang berlaku dalam keluarga pasangan;
ü Sentuh dan manfaatkan titik peka mertua atau beri perhatian khusus pada hal-hal yang menjadi minatnya;
ü Usahakan mertua merasa senang dan puas atas pelayanan yang diberikan sesuai dengan harapan mereka;
ü Jadilah pendengar yang baik di saat mertua bicara, simak apapun yang diucapkannya dan tanggapi dengan makna yang tersirat maupun tersurat;
ü Bersedia membantu mertua, baik diminta maupun tidak;
ü Jadilah orang pertama yang berada di sisi mertua jika mereka membutuhkan sesuatu pertolongan;
ü Hindari sikap suka membantah, mendebat, mencela, mengkritik, atau memotong pembicaraan mertua.
6. Masalah ekonomi dalam keluarga dapat diatasi dengan kiat berikut:
• Memberikan dukungan emosional dengan cara:
o Memberikan perhatian dan bersikap peduli terhadap penderitaan pasangan. Ajaklah pasangan untuk membicarakan masalahnya;
o Jadikan diri anda tempat pasangan memulihkan semangat hidup dan kepercayaan diri;
o Menjadi pendengar yang baik;
 Membantu pasangan untuk menerima kenyataan meskipun berat dan pahit.
 Suami/isteri tidak boleh goyah oleh suara-suara sumbang yang biasa datang dari berbagai pihak;
 Jangan putus asa, karena tidak ada pengusaha yang langsung sukses tanpa mengalami kesulitan. Tanamkan keyakinan bahwa hal ini adalah ujian dari Allah dan Dia akan memberikan jalan keluar selama usaha tetap dilakukan.
 Untuk menunjang kesuksesan, suami/isteri perlu memperluas wawasan dengan cara memperluas pergaulan baik perseorangan maupun organisasi.
C. Memperlakukan Anak dalam Keluarga
Salah satu konsekuensi dari perkawinan adalah lahirnya anak sebagai pelanjut keturunan. Dia suci dan memiliki potensi beragama sejak kecil sebagaimana dikemukakan dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه و يمجسانه
Artinya: Setiap bayi lahir dalam keadaan suci (fitrah), kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.
Yang dimaksudkan dengan fithrah adalah potensi beragama sebagaimana dimaksudkan oleh Allah dalam surat Rüm, 30:30 yang artinya:
”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Ayat dan Hadis di atas menunujukkan bahwa bayi lahir telah membawa potensi beragama dan hal itu akan berkembang secara baik dengan panduan dari orang tua. Orang tua/keluarga adalah ladang tempat tumbuh dan berkembangnya potensi beragama anak. Apabila orang tua melakukan perawatan dan bimbingan terhadap anak secara baik, maka si anak akan tumbuh dan kembang secara baik yang akan mengantarkannya memiliki kepribadian yang utuh dan kuat. Sebaliknya, apabila orang tua tidak merawat dan membimbing secara baik, maka berkemungkinan anak akan tumbuh dan kembang dengan caranya sendiri yang belum tentu baik. Di bawah ini dikemukakan panduan untuk suami isteri yang akan menjadi bapak dan ibu:
1. Berikan makanan yang baik dan halal. Baik yang dimaksudkan di sini adalah makanan yang bergizi. Halal dapat dilihat dari dua sisi yakni zat dan cara memperoleh. Halal zatnya adalah substansi makanan/minuman yang tidak diharamkan oleh Allah misalnya, tidak memabukkan, bukan daging babi, bukan bangkai atau hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Halal cara memperolehnya yaitu makanan/minuman yang didapat dengan cara yang jelas misalnya, upah/gaji/jasa yang jelas atau hasil perdagangan, dan sejenisnya, bukan hasil curian/rampokan/tipuan, korupsi, judi, dan sejenisnya.
2. Berikan nama yang baik, ketika anak baru lahir. Pemberian nama yang baik adalah sunnah.
3. Perlakukan anak sesuai dengan usianya. Perlakuan terhadap anak-anak berbeda dengan remaja. Adakalanya orang tua memperlakukan remaja sama dengan anak-anak dan hal ini sulit diterima oleh remaja.
4. Melatih anak sejak kecil agar hidup mandiri. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya melatih anak menjadi pribadi yang mandiri yaitu:
• Melatih kecakapan rumah tangga. Anak-anak dilatih melakukan pekerjaan rumah tangga sejak kecil misalnya, membersihkan tempat tidurnya sendiri, menyemir sepatu, ikut serta membantu ibu di dapur, dan lain-lain. Keikut sertaan mereka dalam aktivitas rumah tangga sehari-hari, membuat mereka merasakan kegiatan itu sebagai bagian tak terpisahkan dari hidupnya;
• Melatih kecakapan sosial. Kecakapan sosial yang dimaksudkan di sini berkaitan dengan hubungan sosial. Biasanya permainan tradisional di kalangan anak-anak bertujuan mempererat hubungan sosial di mana ada aturan-aturan tersendiri yang harus dipatuhi oleh para pemain. Dengan permainan tersebut anak-anak belajar mematuhi aturan-aturan yang ditetapkan bersama dan berupaya untuk tidak berlaku curang, karena kecurangan dapat menyebabkan pengucilan terhadap dirinya sendiri.
• Melatih kecakapan menggunakan alat-alat kehidupan yang sangat diperlukan sehari-hari misalnya, menggunakan telepon dan lain-lain;
• Melatih pengaturan barang dan ruangan. Anak perlu diberi pemahaman tentang kerapian. Setiap barang yang mereka miliki ada tempat untuk menyimpannya dan benda-benda itu perlu dijaga agar selalu dikembalikan ke tempat semula setelah digunakan.
• Melatih mengatur uang dengan cara memberi mereka uang bulanan dan membukukan setiap pengeluaran. Dengan cara demikian mereka belajar berhemat dan pada saat yang sama mereka belajar berinfak dari uang mereka sendiri;
• Melatih kreativitas dengan mengajak anak-anak ke tempat-tempat pertunjukan misalnya, seni, pameran, atau menyediakan bahan untuk membuat prakarya, dan sebagainya. Selain melatih kreativitas sebagaimana telah dikemukakan, orang tua juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk memilih apa yang akan mereka lakukan. Apabila anak terbiasa dihadapkan kepada berbagai pilihan, maka dia akan terlatih membuat keputusan sendiri.
5.Menghargai anak. Seringkali orang tua mengabaikan penghargaan terhadap anak, padahal anak juga manusia sebagaimana dirinya. Apabila orang tua menyuruh anak, sebaiknya digunakan ungkapan ”minta tolong” dan bila sudah selesai dikerjakannya sebaiknya diucapkan terima kasih;
6. Memberikan kesempatan kepada anak untuk kagum dan bertanya;
1. Membina hubungan dialog dengan penghayatan bersama dan rasa kepercayaan;
2. Memberikan keteladanan atau uswah hasanah dalam keluarga. Keteladanan yang baik dalam keluarga jauh lebih ampuh daripada nasehat.
Daftar Kepustakaan
Najati, Muhammad Usman, Al-Quran wa ‘Ilm al-Nafs, Kairo: Dar al-Syuruq, cet. VI, 1417 H/ 1997 M
———————————, Al-Hadits wa ‘Ulum an-Nafs, terj. Zainuddin Abu Bakar. Psikologi dalam Perspektif Hadis, Jakarta: Pustaka al Husna Baru, 2004
Nashori, Fuad, Potensi-potensi Manusia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. II, 2005
Purwakania Hasan, Aliah B, Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta: Rajawali Grafindo Persada, 2006
Sapuri, Rafi. Psikologi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2009
Sabiq, Sayyid Syekh, Fiqh al-Sunnah, jld II, Libanon: Dar al-Fikri, cet III, 1981 M/1401 H
Taufiq, Muhammad Izzudin. At-Ta’shil al-Islami li l-Dirasati al-Nafsiyyah, terj. Sari Narulita, Panduan Lengkap dan Praktis Psikologi Islam, Jakarta: Gema Insani, 1427 H/ 2006 M
[*] * Makalah, disajikan dalam diskusi panel dengan tema “Harapan dan Tantangan Perempuan” yang dilaksanakan pada hari Kamis, 19 April 2007.

* Makalah disajikan pada Seminar Antar Bangsa ”Agama dan Pemikiran Keagamaan” yang diselenggarakan oleh jabatan Ushuluddin, Universiti Kebangsaan Malaysia pada tanggal 4 – 8 Agustus 2007
[1] Pengertian tasawuf yang disepakati oleh semua pihak ada dua bentuk pertama, kesucian jiwa untuk menghadap Tuhan, Zat Yang Maha Suci, kedua, upaya pendekatan diri secara individual kepada Allah (Asep Usman Ismail, t.t:305).

http://islampsikologi.wordpress.com/artikel/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: