Psikologi Islam(i) VS Psikologi Barat Kontemporer

Selasa, 26 Juni 2012

Kita mengenal 5 perspektif yang paling dominan membicarakan manusia dalam teori Psikologi. Ke-lima mazhab besar itu adalah Psikoanalisa, Behavioral, Humanistik, Kognitif, serta Biologis. Masing-masing mazhab memiliki pandangan tersendiri mengenai sifat manusia. Sebagai contoh, secara umum perspektif Biologis dan Psikodinamika meyakini bahwa perilaku manusia ditentukan oleh pembawaan dasarnya, seperti genetik, neural, hormonal, evolusi, dan faktor insting ketidaksadaran. Sementara perspektif Behavioris dan Humanistik mempercayai bahwa faktor lingkungan (environmental) dan internal diri (self) lebih memiliki pengaruh pada perilaku kita. Selanjutnya aliran Kognitif berpendapat bahwa baik faktor alamiah seperti potensi otak, serta faktor pengasuhan (nurture) seperti kognisi dan proses belajar berperan besar dalam membentuk perilaku kita.

Sejenak mungkin anda akan mengangguk-angguk setuju pada beberapa pandangan dominan di atas, karena memang ada benarnya. Tapi tunggu dulu, kami beri ilustrasi: jika kita ibaratkan pandangan-pandangan tersebut sebagai beberapa orang buta, maka ketika mereka meraba tubuh gajah, mereka akan mendeskripsikan tubuh gajah tersebut sebagaimana apa yang mereka sentuh. Jika yang satu memegang belalai, ia akan mengira gajah bertubuh panjang seperti ular. Ketika yang satunya meraba telinga gajah, ia akan berasumsi bahwa tubuh gajah lebar dan pipih. Dan seterusnya. Tidak ada dari ke-lima orang buta tersebut dapat mendeskripsikan tubuh gajah secara kesuluhan dengan benar. Karena pada dasarnya mereka menyentuh bagian-bagian yang berbeda satu sama lain. begitu juga lima mazhab di atas.
Mereka belum mampu menjelaskan manusia secara holistik dan hakiki, mereka bersepakat bahwa ada tiga aspek dalam diri manusia. Yaitu aspek biologis, psikologis, dan sosio-kultural. Akan tetapi mereka meninggalkan satu dimensi yang sangat penting dan besar peranannya dalam membentuk perilaku manusia : yakni dimensi Spiritual. Mereka akan mendeskripsikan kodrat manusia sebagaimana keinginan mereka. Tapi ini sangat tidak dibenarkan bagi seorang Muslim. Kita tidak boleh menggambarkan mengenai sifat manusia bertentangan dengan apa yang telah Allah swt jelaskan.

Sebagaimana yang telah Allah tuangkan dalam Al-Qur’an, bahwasanya tugas utama manusia di dunia ini, di samping sebagai abdullah (hamba Allah), adalah sebagai khalifah di muka bumi (Qs. 2:30). Agar manusia dapat menjalankan tugas kekhalifahannya dengan sebaik-sebaiknya, maka manusia dilengkapi dengan potensi-potensi (sejumlah ciri) yang memungkinkannya dapat memikul tugas tersebut. Menurut Djamaluddin Ancok (2004 : 157-160) Ciri-ciri tersebut meliputi : mempunyai raga yang sebagus-bagus bentuk, baik secara fitrah, mempunyai ruh, mempunyai kebebasan berkehendak, dan mempunyai akal.
Ciri-cirinya adalah : 1. Manusia mempunyai raga dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Dengan rupa dan bentuk yang sebaik-baiknya, manusia diharapkan menjadi bersyukur pada Allah. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”(QS. 95:4).
2. Manusia itu baik dari segi fitrah sejak semula. Dia tidak mewarisi dosa asal karena Adam (dan Hawa) keluar dari surga. Salah satu ciri utama fitrah adalah manusia menerima Allah sebagai Tuhan. Dari asalnya manusia itu memiliki kecenderungan beragama, sebab beragama itu sebagian dari fitrahnya. Sebab-sebab yang menjadikan seseorang tidak percaya terhadap Tuhan bukanlah sifat dari asalnya, tetapi ada kaitannya dengan alam sekitarnya.
3. Manusia mempunyai Ruh. Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa kehidupan manusia tergantung pada wujud ruh dalam bandannya. Tentang bagaimana wujudnya, bagaimana bentuknya, dilarang untuk mempermasalhaknnya (QS. 17:85).

4. Manusia memiliki kebebasan kemauan atau kebebasan berkehendak, yaitu kebebasan untuk memilih tingkah lakunya sendiri, baik atau buruk.
5. Manusia memiliki akal. Akal dalam pengertian Islam, bukan otak, melainkan daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Akal dalam islam merupakan ikatan dari tiga unsur, yaitu pikiran, perasaan dan kemauan. Akal adalah alat yang menjadikan manusia dapat melakukan pemillihan antara yang betul dan salah. Allah selalu memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya agar dapat memahami fenomena alam semesta ini.
6. Manusia memiliki nafsu. Nafsu sering kali dikaitakan dengan gejolak atau dorongan yang terdapat dalam diri manusia.

Setelah mengetahui konsep Islam mengenai manusia, mungkin timbul pertanyaan bagaimana jika konsep tersebut dipadukan dengan psikologi dan menjadi sebuah mazhab baru? pada kenyataannya, Integrasi Islam dan tidak semudah yang dibayangkan. Sebab, secara tidak disadari integrasi itu memadukan dua kewenangan bidang keilmuan. Kewenangan pertama pada label islam yang sarat akan ilmu-ilmu keislaman, sedang kewenangan kedua pada label psikologi yang sarat akan cabang-cabang psikologian

Perdebatan pun muncul, dimana ada pendapat yang mengatakan bahwa perilaku umat Islam tidak sepatutnya dinilai dengan kacamata teori psikologi barat yang sekuler karena keduanya memiliki frame yang berbeda dalam melihat realita. Fenomena perilaku yang menimpa umat islam akhir-akhir ini tidak mungkin dianalisis dengan teori-teori psikologi barat hal ini dapat dilihat dari kejadian senyumnya Amrozi saat divonis mati. Ini adalah sederetan perilaku yang unik dan membutuhkan analisis khusus dari teori psikologi islam, bila ditelaah dalam psikologi barat perilaku tersebut merupakan patologis sementara dalam psikologi islam diyakini sebagai perilaku yang mencerminkan aktualisasi diri.

Uichol Kim seorang psikolog asal Korea mengkritisi psikologi barat yang menyamaratakan pandangan psikologi sebagai human universal dengan menawarkan menempatkan wahyu diatas akal yang psikologi pribumi. Menurutnya manusia tidak cukup dipahami dengan teori psikologi barat karena psikologi barat hanya tepat untuk mengkaji manusia barat sesuai dengan kultur sekularnya yang melatarbelakangi lahirnya ilmu itu. Untuk memahami manusia di belahan bumi lain harus digunakan pula basis kultur dimana manusia itu hidup.

Sebagai penutup, sebuah pandangan dari Alizi Alias yang patut kita renungkan. Dalam artikelnya yang berjudul Teaching Human nature in psychology culture (2010) ia menulis, “para psikolog muslim seharusnya mengetahui berbagai macam perspektif dan teori utama dalam psikologi kontemporer, bagaimana teori-teori tersebut memandang perihal human sifat manusia, apakah sama dengan pandangan Islam? Saat kita mengetahui kajian psikologi Islam mengenai sifat manusia, maka setelah itu menjadi pilihan bagi kita, mau atau tidak berusaha menguji secara kritis pandangan Islam tersebut demi menguatkan kelayakan psikologi Islam sebagai salah satu sandaran dalam mempelajari manusia

source/reference:
http://hifnimubarok.blogspot.com/2012/05/psikologi-islam.html
Noraini, dkk. 2009. Psychology from an Islamic Perspective. Malaysia: IIUM Pres
http://gwan-aydrus.blogspot.com/2012/06/psikologi-islami-vs-psikologi-barat.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: