Bolehkah Seorang Muslim Mengikuti Pemilu Di Negara Sekuler? (Bagian I)

By Pizaro on December 8, 2012

Oleh, Syekh Imron Hossein

Bagaimanakah hukumnya dalam pandangan Islam bagi seorang Muslim yang hidup di negeri sekuler (Modern Secular State), apakah boleh memberikan hak suara dalam Pemilu yang diselenggarakan pemerintah Sekuler? Tulisan ini adalah salah satu usaha dalam mengupas tuntas beberapa pendapat dan menjawab pertanyaan tersebut.
Seorang ulama berkebangsaan Mesir yang tinggal di Amerika Serikat pernah membuat fatwa terkait masalah ini dan menyebarluaskan fatwanya yang menyebutkan bahwasanya WAJIB bagi umat Islam untuk mengikuti dan memberikan hak suaranya pada pemilu di Negara Sekuler seperti Amerika! Implikasi dari Fatwa ‘gila’ ini adalah; maka bagi Muslim yang tidak memberikan hak suaranya dalam Pemilu akan berdosa, karena sebuah kewajiban jika tidak dilaksanakan tentunya akan menjadi dosa!
Di tempat lain, seorang ulama terkemuka dari Pakistan, Dr. Israr Ahmad, menyatakan dengan tegas bahwasanya Haram bagi seorang muslim memberikan suaranya, atau berpartisipasi dalam pesta politik pemilu di Negara Sekuler (yakni Negara yang dibentuk berdasarkan Konstitusi Sekuler). Ulama ini melarang seluruh anggota jamaah Tanzim al Islami, organisasi yang ia pimpin, untuk memberikan suara pada pemilu yang diselenggarakan oleh pemerintah (sekuler). Ia juga mengungkapkan bahwa ulama besar Pakistan, Maulana Maududi (rahimahullah) memang dahulunya mendukung dan berpartisipasi dalam pemilu politik, tapi kemudian beliau merubah pandangannya dan berbalik menentang, sebelum beliau wafat.

Pandangan kami adalah, pendapat ulama Mesir yang tinggal di Amerika tadi adalah keliru dan ia sungguh berada dalam kesesatan yang serius. Kami berdoa kepada Allah, Yang Maha Bijaksana, semoga memberikan petunjuk-Nya kepada saudara kita ini agar kembali ke jalan yang benar. Aamiin! Jutaan umat Islam di Amerika menelan mentah-mentah fatwa tersebut dan kemudian berpartisipasi dalam pemilu presiden, dengan keyakinan bahwa partisipasi tersebut adalah bagian dari ibadah, merekapun memilih George Bush. Namun, pada tanggal 11 September (2001), umat Islam yang menjadi konstituen George Bush harus menelan pil pahit dan menerima kenyataan bahwa pemerintah mereka sendiri (Bush dan pemerintahannya) menyatakan perang terhadap Islam! (Baca analisa saya dalam ‘A muslim response to the Attack on America di website kami:www.imranhosein.org).
Di negri saya berasal, Trinidad Tobago, pemilu politik telah lama menjadi ajang perpecahan dan persaingan ras. Pada tahun 1956, partai politik Sekuler, Partai Kebangkitan Nasional Rakyat (PKNR) berdiri, partai ini tak lebih dari sekumpulan orang yang membawa semangat nasionalisme ‘kulit hitam’. Sepak terjang partai ini banyak menimpakan bencana di Trinidad Tobago, bahkan efeknya jauh lebih buruk ketimbang korupsi yang selalu muncul pada proses politik sekuler. Lebih jauh lagi, partai tersebut telah menyebabkan tragedy pada tahun 1986 yang menelan banyak korban. Saya sendiri mengalami banyak tekanan akibat rasisme yg dilancarkan oleh PKNR, demikian juga ayah saya. Bahkan, ayah saya tewas akibat konflik politik tersebut.
Secara otomatis, ketika PKNR mengusung nasionalisme kulit hitam, maka orang-orang India menjawab dengan nasionalisme India. Ketika pada akhirnya orang-orang India menguasai politik melalui Partai Konggres Nasional Bersatu (PKNB), maka kondisinya tidak jauh berbeda dengan ketika PKNR berkuasa. Tapi satu hal yang secara konsisten selalu ada sepanjang masa-masa kelam proses politik jahiliyyah ini adalah bahwa umat Islam berpartisipasi dalam pemilu, yang sejatinya adalah pemilihan rasis, tanpa kesadaran sedikitpun bahwa Islam membawa sesuatu yg sangat berbeda untuk umat manusia. Sungguh aneh, bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena umat Islam ras Afrika (kulit hitam) mendukung PKNR sementara umat Islam ras India mendukung PKNB dalam pemilu politik?
Kebanyakan umat Islam di Trinidad Tobagao mungkin akan terkejut membaca tulisan ini, karena sejak awal pemilu diselenggarakan yaitu sejak 1956, beberapa cendekiawan muslim pernah secara serius mempertanyakan hukum (apakah halal atau haram) dari pemilu. Pada saat bersamaan, sedang hangat dibicarakan hukumnya “memiliki dollar”, “memiliki SIM”, “memiliki mobil dan rumah Pribadi, dlsb. Ketika seorang ulama ternama dengan sembrono memfatwakan bahwa “memiliki SIM” adalah syirik, kami yakin bahwa umat Islam dalam bahaya kesesatan akibat fatwa-fatwa nyelenehnya. Benar saja, ulama keturunan India yang tinggal di Amerika tersebut kemudian bertanggung jawab dengan fatwa kacaunya yang mengatakan hukumnya Fardu (wajib) bagi umat Islam di Trinidad Tobago untuk mengikuti pemilu.
Tapi umat Islam Trinidad harus berhenti sejenak, karena banyak hal lain yang juga perlu mendapat perhatian. Contohnya, lagu nasional Trinidad, yang selalu kita nyanyikan, berulang-ulang, sadar atau tidak, dengan syair “Tanah air kami, hidup kami untukmu, “ (yakni untuk Republik Trinidad Tobago), padahal alQuran secara jelas menyatakan bahwa hidup kita adalah secara total untuk Allah Yang Maha Tinggi:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ [٦:١٦٢]
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al-An’am, 6:162)
Tentunya, dengan mengatakan hidupnya lebih untuk negri, atau tanah air, ataupun pohon mangga, ketimbang untuk Allah, s.w.t., seorang muslim telah melakukan perbuatan Syirik. Umat Islam juga telah menafikan kewajiban hijrah seperti hijrah Nabi Ibrahim a.s. yang meninggalkan tanah airnya karena Islam, dan juga hijrah Nabi Muhammad SAW.
Contoh yang lain, organisasi Antar Agama Trinidad Tobago, yang di dalamnya banyak terhimpun umat Islam, memiliki slogan “fatherhood of God” dan persaudaraan manusia. Padahal alQuran telah jelas menyatakan bahwa Allah bukanlah seorang bapak (father). Siapapun yg menjadi anggota organisasi ini, secara tidak langsung mengakui status Allah sebagai bapak (father) sehingga ia telah jatuh dalam kemusyrikan.
Tulisan ini diawali dengan gambaran tatanan dunia saat ini, termasuk sedikit pengenalan tentang Negara Sekuler Modern dan darimana asal muasalnya. Kami menemukan fakta bahwa pondasi Negara sekuler Modern, tidak diragukan lagi, memiliki akar dari kekufuran dan syirik. Fenomena syirik adalah salah satu dari sekian tanda-tanda Hari Kiamat, dan tentu berhubungan langsung dengan Dajjal sang alMasih gadungan, atau dikenal juga dengan sebutan Dajjal Anti-Christ.
Umat Islam perlu diingatkan bahwa Islam telah membawa konsep politik dan Negara yang tidak mengandung sedikitpun unsur kufur dan syirik. Konsep tersebut adalah Kekhalifahan Islam. Konsep ini telah dihancurkan oleh Eropa karena menjadi sandungan bagi Eropa dalam menyebarkan kekafiran dan kesyirikan kepada seluruh umat manusia.
Pandangan positif tentang Negara sekuler ini juga akan kita kritisi, bagaimana posisinya dalam sudut pandang Islam. Termasuk penjelasan alQuran tentang kesyirikan dari Negara sekuler modern ini. Kami menutup dengan menawarkan alternative kepada umat Islam. Alternatif yang kami tawarkan, tentunya merujuk kepada politik yang dilakukan Rasulullah SAW dalam sunnahnya.
Tatanan Dunia Saat Ini
Adalah Eropa abad pertengahan yang pada esensinya tak bertuhan, namun demikian mereka mengaku dirinya sebagai penganut Kristen, yang kemudian secara misterius mencampakkan Kristen itu dan menggantinya dengan paham materialisme pada era modern, secara aneh masyarakat ini memiliki kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadikannya terlihat sulit ditandingi apalagi dihancurkan. Eropa memanfaatkan kekuatan militer yg didukung ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut untuk menguasai dunia Islam dan menghancurkan kekhalifahan Islam. Eropa kemudian melanjutkan penaklukannya sehingga menjadi semakin sulit bagi umat Islam untuk membebaskan wilayah-wilayah mereka dari pendudukan, apalagi untuk menegakkah Islam (yang sejati) dimanapun di muka bumi. Eropa yang bengis terus menyerang tanpa henti, menghancurkan peradaban Islam, berlangsung lebih dari seribu tahun, mereka pada akhirnya berhasil menghancurkan Kekhalifahan pada tahun 1924, akibatnya umat Islam tunduk dalam kendali politik Eropa. Pengendalian politik yg pada awalnya dilakukan oleh Eropa, kemudian dilanjutkan oleh ‘Eropa baru’ di Amerika. Bukan hanya peradaban Islam yang dibuat kacau secara politik dan kulturnya, tapi mereka juga memperkenalkan peradaban baru yang ditunjang oleh perbudakan ekonomi secara total menggunakan riba yang dikenal dengan Kapitalisme.
Sebagai konsekuensi, banyak umat Islam – sadar atau tidak – telah , secara esensi, meninggalkan Islam dan menjadi bagian dari peradaban sekuler baru yang diciptakan oleh Eropa. Ini jelas sekali, bahkan pemerintah di Negara-negara baru Islam dan mereka yang mendukungnya, mereka sibuk membuat Islam baru (yakni Islam Modernis) yang bisa mengakomodir tuntutan dunia baru yg tak bertuhan ini. Seorang ulama kontemporer terkemuka, Maulana Dr. Muhammad Fadlur Rahman Anshari, memperingatkan bahaya Islam Modernist, dan memperingatkan umat Islam untuk memegang erat pandangan Islam yg asli (klasik), dimana mereka bisa dapatkan dalam sumber-sumber hukum pokok Islam kedua hal tadi, yakni penjelasan tentang dunia modern dan juga cara menghadapi tantangan beratnya.
Pada saat yang bersamaan, Eropa berhasil merebut Tanah Suci milik umat Islam dari daulah Islam, dan kemudian menjadikannya sebagai Negara Israel. Setelah itu, orang-orang Yahudi Israel (yang waktu itu masih menyebar di seluruh dunia) dibawa pulang oleh Yahudi Eropa dengan cara yang paling misterius sepanjang sejarah manusia. Menjadi jelaslah, bahwa kendali Eropa terhadap dunia bertujuan untuk membuka jalan kembalinya Yahudi Israel ke Tanah Suci. Fakta bahwa Yahudi Israel bersedia kembali ke Jerusalem, dan menganggap kembalinya ini sebagai jawaban atas janji Allah, yaitu janji di kembalikannya masa keemasan Israel dengan munculnya al-Masih, adalah bukti bahwa mereka, Yahudi Israel, buta secara spiritual. Mereka tidak tahu kalau mereka sedang diperdayai oleh Dajjal, sang al Masih gadungan.
Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi drama yang masih berlangsung dan akan terus terungkap ini? Apa yang harus dilakukan agar mereka bisa melepaskan diri dari keadaan sulit ini? Jawabannya, tidak ada yang mungkin bisa menjelaskan keanehan dunia seperti ini, dan tidak ada yang dapat menyelamatkan umat Islam dari marabahaya, kecuali alQuran dan sunnah Nabi Muhammad s.a.w. Kesalamatan umat tergantung pada pembangunan kembali masyarakat Islam se-otentik mungkin. Dan keotentikan tergantung pada tingkat ketaatan kepada alQuran, dan kepada yang telah diutus untuk mengajarkan alQuran dan telah mencontohkannya dalam perihidup yang kongkrit, Nabi Muhammad s.a.w.
Hampir tidak mungkin saat ini umat Islam bisa mengendalikan sebuah wilayah, dimanapun di muka bumi, untuk menegakkan Islam sebagai tatanan masyarakat atau pemerintahan Islam (yakni Darul Islam). Setiap usaha yang benar-benar dilakukan untuk tujuan itu akan menarik perhatian dari para sekularis atheist yg saat ini mengendalikan dunia, segala cara akan mereka lakukan untuk menghentikan laju kebangkitan Islam dalam mengendalikan sebuah masyarakat. Umat Islam yang tidak menyadari hal ini adalah mereka yg tidak memahami Tatanan Dunia Ya’juj dan Ma’juj yang tengah mengendalikan dunia. Pengecualian untuk wilayah Khurasan (wilayah Khurasan versi zaman Rasulullah) yaitu wilayah yang terletak sebelah timur sungai Eufrat. Sejauh ini, Eropa belum pernah berhasil menaklukan pusat wilayah Khurasan ini. Inggris pernah mencoba menaklukan Afghanistan, tapi gagal. Kemudian Rusia juga mencoba dan bernasib sama. Saat ini, usaha-usaha yang dilancarkan oleh Amerika Serikat, adalah usaha yang paling gencar yang pernah dilakukan oleh peradaban sekuler barat modern untuk menaklukan dan mengendalikan wilayah itu. Tapi usaha-usaha mereka juga tidak menghasilkan sesuatu yang berarti, bahkan perlahan tapi pasti umat Islam di sana berhasil mengukuhkan kekuatan mereka. Nabi Muhammad s.a.w. pernah meramalkan bahwa Islam akan muncul kembali tepatnya dari wilayah ini, ketika sekelompok pasukan Islam merangsek untuk membebaskan tiap wilayah yang dikuasai musuh dari Khurasan seluruhnya hingga ke Jerusalem:
“Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata: Bendera hitam akan muncul dari Khurasan, dan tidak ada kekuatan yang sanggup menghentikan mereka hingga mereka memasuki Aelia (Jerusalem).” (Sunan, Tirmidhi).
Dunia tidak perlu menunggu waktu lama dan akan segera menyaksikan hal ini.
Bagaimana sebaiknya yang dilakukan oleh umat Islam menghadapi tekanan yang akan terus dilancarkan oleh musuh saat ini hingga beberapa saat mendatang? Bagaimana kita bisa bertahan dalam masa-masa sulit ini (sebelum datang pembebasan dan kemenangan Islam), jika kita tidak dapat membangun institusi Islam (khilafah) karena saat ini tidak ada wilayah yang bisa benar-benar menegakkannya? Kami akan coba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sekaligus memberikan alternative kepada umat Islam, pilihan lain dalam menghadapi tawaran pemilu politik Negara Sekuler.
Cukup aneh bagi kita, di saat dunia masih memiliki peradaban-peradaban besar selain peradaban Eropa, bahkan beberapa ada yang telah berusia ribuan tahun, namun tidak ada satupun peradaban itu yang saat ini dapat mengendalikan satu teritori atau wilayah. Dimanapun saat ini, seluruh umat manusia diperlakukan dengan aturan tatanan peradaban Eropa. Dimanapun umat manusia berada, mereka terpenjarakan oleh model Negara Sekuler yang mengikuti peradaban Eropa. Proses globalisasi peradaban hingga menjamurnya Negara-Negara Sekuler yang dilakukan oleh Eropa adalah sesuatu yang unik sepanjang sejarah kemanusiaan. Ini adalah hal yang misterius sekaligus berbahaya bagi seluruh umat manusia. Sistem sekuler Eropa tersebut kemudian akhirnya menghasilkan ide pembentukan institusi politik internasional yang disebut (awalnya) “Liga Bangsa Bangsa” dan kemudian dibentuk ulang menjadi “Perserikatan Bangsa-Bangsa” (PBB). Dari namanya saja cukup menjelaskan bahwa institusi ini mengabadikan tujuan dari Tatanan Dunia Baru atau “New World Order” yang diciptakan Eropa. Tujuannya cukup jelas yaitu menyatukan dunia dibawah kekuasaan politik dan pengaruh Eropa agar Eropa bisa menguasai dan mengatur umat manusia sebagai satu pemerintahan dunia. Pada saat artikel ini ditulis, Eropa (yakni tatanan dunia kulit putih) sudah di ambang kesuksesan dalam menciptakan tujuan politik tersebut. Semua peradaban dunia selain peradaban Eropa telah menyerah, tidak berkutik, dan tidak mampu membebaskan mereka dari pengaruh sekularisasi Eropa.
Arnold Toynbee, seorang sejarawan Inggris ternama, mengungkapkan fenomena unik ini dengan pandangan bahwa peradaban-peradaban sebelum peradaban modern barat (Eropa Sekuler) telah mati atau sekarat, ia juga mengatakan, “tidak akan terelakan bahwa peradaban modern barat akan menggantikan peradaban-peradaban sebelumnya.” (Toynbee: Civilization on Trial, Ox. Univ. Press, London, 1957: p.38). Tujuan utama Eropa sangatlah jelas, penuh dengan misteri lagi berbahaya (terutama untuk umat Islam). Yaitu menegaskan kekuasaan mereka di muka bumi. Tapi ini ternyata belum cukup. Kekuasaan Eropa ternyata dimaksudkan untuk menandai “Akhir Sejarah” karena tidak boleh ada lagi yang menggantikan Eropa dalam menguasai dunia! Toynbee secara menakjubkan menyatakan pernyataan yg jujur ini dalam bukunya “Civilization on Trial”: “Peradaban barat bertujuan tidak lain adalah penyatuan seluruh umat manusia dalam satu kumpulan masyarakat besar dan mengendalikan semua yang ada di darat, laut dan udara….” (ibid. p.166).
Di atas semua itu, tujuan Eropa yang paling utama adalah, menciptakan jalan untuk kembalinya Yahudi ke Tanah Suci Jerusalem, kemudian memberikan kekuasaan dunia kepada para Yahudi sehingga mereka bisa mengendalikan dunia dari Jerusalem. Buku saya, “Jerusalem di dalam alQuran” menjelaskan fakta yang sulit dimengerti, bahkan Toynbee sendiripun tidak mengerti. Kembalinya Yahudi ke Tanah Suci dan pembentukan Negara Yahudi Israel 2000 tahun setelah Allah, s.w.t., menghancurkannya dan mengusir mereka, adalah peristiwa yang paling aneh yang pernah terjadi sepanjang sejarah. Hanya alQuran yang bisa menjelaskan hal ini, dan hanya alQuran yang bisa memberikan gambaran arah dari semua peristiwa yg terjadi dan akan terjadi di Jerusalem.
AlQuran (Al-Anbiya, 21:96) secara gamblang mengatakan bahwa ketika Ya’juj dan Ma’juj dibebaskan oleh Allah ke dunia, mereka akan “……dan mereka turun dengan cepat dari tempat yang tinggi”. AlQuran menyatakan bahwa konsekuensi dari hal ini, sebuah bangsa yang telah terusir dari sebuah kota yang telah dihancurkan oleh Allah SWT, dan yang sebenarnya terlarang untuk kembali ke kota tersebut, akan kembali ke kota tersebut dan mengakui kota itu sebagai kota miliknya. Buku saya telah memberikan argumentasi, bahwa kota yang dimaksud adalah Jerusalem. Tapi ketika Ya’juj dan Ma’juj turun dengan cepat dari tempat yang tinggi, atau menyebar ke seluruh penjuru, maka mustahil bagi seluruh umat manusia untuk sanggup menghadapinya, ini juga sesuai dengan firman Allah dalam sebuah hadits:
“Aku telah menciptakan dari sebagian hamba-hambaku bangsa ini (yakni Ya’juj dan Ma’juj), yang tidak akan ada seorangpun yang sanggup menghadapinya…” (Sahih, Muslim)
Cukup jelas berdasarkan dari pernyataan dan dalil di atas, bahwa peradaban modern Eropa adalah peradaban Ya’juj dan Ma’juj. Sehingga, Tatanan Dunia Baru yang sekarang mengendalikan dunia dan telah bersiap dan akan terus melancarkan peperangan dengan Islam, adalah Tatanan Ya’juj dan Ma’juj. Adalah Ya’juj dan Ma’juj yang menjelaskan mengapa ada kekuatan tak tertandingi, kejam, opresif, korup, tak bermoral yang esensinya tidak bertuhan, dari penguasa dunia saat ini. Ya’juj dan Ma’juj juga menjelaskan fenomena aneh dari proses globalisasi di dunia modern sekarang.
Buku saya, ‘Jerusalem dalam alQuran’, juga menjelaskan fenomena Dajjal, sang alMasih gadungan. Dajjal, dan juga Ya’juj dan Ma’juj, adalah salah satu tanda besar Akhir Zaman. Tujuan Dajjal adalah menyamar menjadi al-Masih yang harus memerintah dunia dari Jerusalem, maka ia pun akan menjalankan tugas ini, ia akan memerintah dunia dari Jerusalem. Buku tersebut juga menjelaskan sebuah hadits yang cukup terkenal dari Tamim ad-Dari dalam Sahih Muslim. Hadits inilah yang telah memungkinkan kami mengidentifikasi lokasi kemunculan Dajjal, dari mana dia akan mulai melancarkan misinya, yakni Britania Raya, atau Inggris. Dari Inggris, Negara super power, kemudian Dajjal berpindah ke Amerika Serikat, Negara super power berikutnya, dan dia akan segera beralih ke Israel. Negara Yahudi itu akan segera menggantikan Amerika Serikat sebagai Negara super power di dunia. Kami merasakan bahwa moment tersebut akan segera terjadi. Maka dari itu, menurut hemat kami, tujuan dari Eropa bukan hanya sekedar menyediakan jalan bagi Yahudi untuk kembali ke Tanah Suci, tapi juga mengantarkan kekuasaan yang telah mereka raih dalam menguasai dunia kepada Yahudi sehingga sang Al-Masih gadungan bisa memerintah dunia dari Jerusalem!
Para pembaca tentunya bisa menyimpulkan bahwa sekumpulan Negara sekuler modern, secara bersama membentuk strategi politik global yang diinginkan Eropa untuk mengendalikan dan menguasai dunia. Dengan kata lain, Negara Sekuler, memang sengaja didesign sebagai alat untuk membantu Tatanan Dunia kulit putih dalam melancarkan misinya menguasai dunia. Proses politik global ini, tidak bisa dilepaskan dari proses peralihan Israel menjadi super power dunia.
Misteri Negara Sekuler Moderen
Negara Sekuler modern muncul akibat penerapan sekulerisme dalam filosofi dan teori politik. Negara sekuler kemudian mengembangkan diri di era modern dalam tatanan dunia baru. Ini tidak terjadi begitu saja. Sekularisme muncul di Eropa setelah peradaban Eropa secara misterius didahului oleh gerakan revolusi yang menuntut perubahan. Revolusi tersebut menyebabkan peradaban yang ‘pura-pura’ menganut kepercayaan Kristen dan Yahudi (teokrasi), secara aneh berubah menjadi peradaban dengan kombinasi karakteristik yang dahsyat. Berikut adalah beberapa karakteristik tersebut (hanya sebagian karakteristik yang bisa kami tampilkan dalam tulisan ini):
• Revolusi yang di dukung kemajuan ilmu dan teknologi mengantarkan kekuasaan dunia ke eropa. Kekuasaan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menguasai dunia. Dalam sejarah manusia, belum ada kesuksesan menguasai dunia sebagaimana yang eropa lakukan.
• Kekuasaan digunakan untuk menekan dan mengancam siapa saja yang melawan penguasa dunia
• Agama kehilangan substansi spiritual, dan terus mengalami penurunan spiritual hingga masyarakat benar-benar seperti tidak beragama. Bentuk luar dari agama memang terlihat dalam masyarakat atau Negara tersebut tapi dalam bentuk yang menyedihkan sampai-sampai lelaki diperbolehkan menikah dengan lelaki.
• Kehidupan yang tidak berlandaskan nilai-nilai spiritual ini menyebakan terjadinya ambruknya moral sehingga masyarakat mengalami dekadensi moral
• Ketamakan dan nafsu menghancurkan sendi-sendi kehidupan dalam masyarakat
• Penipuan dilakukan untuk mengambil hak orang lain, eksploitasi dan pemiskinan masyarakat
• Globalisasi membawa seluruh dunia dalam genggaman dan kekuasaan Israel. Ini adalah peristiwa yang paling unik dan penting baik dalam sejarah Eropa maupun dunia. Tapi masih saja, banyak orang yang katanya terdidik, mereka tidak pernah tergerak untuk memahami bagaimana dan mengapa peristiwa-peristiwa ini terjadi. Mereka benar-benar tidak menaruh curiga, dan tidak melihat sesuatu yg misterius.
Peradaban modern Eropa yang tidak bertuhan nyata sekali menjadikan materialisme sebagai pengganti nilai-nilai spiritual keagamaan dalam menyikapi sebuah kenyataan. Maksudnya adalah bahwa mereka tidak lagi melihat sesuatu melebihi dari realitas materialnya. Pilihan ke materialisme adalah puncak logis dari adopsi epistemology baru ‘mata satu’ (Dajjal melihat dengan satu mata) yang konsisten beranggapan bahwa pengetahuan hanya diperoleh hanya dari satu sisi saja, yakni dari penglihatan luar dan eksperimen (maksudnya sesuatu yg terlihat dan bisa dirasakan, rasional –pent). Penglihatan yang lain, yakni pandangan spiritual intuitif internal yang berasal dari hati ditolak oleh pandangan ini.
Revolusi Eropa adalah peristiwa yang penuh dengan misteri, revolusi ini didukung oleh kemajuan ilmu dan teknologi yang membuat peradaban ini seolah tidak bisa dikalahkan, dan juga membuatnya tidak bisa disaingi oleh peradaban lainnya. Mesin uap, kereta api, kendaraan bermotor, truk, tank tempur mekanik, kapal yang digerakkan oleh mesin uap dan minyak, pesawat udara, dlsb., semua itu merubah dunia terutama dalam segi transportasi dan cara berperang, dan secara langsung hal ini juga mengubah cara hidup manusia. Listrik menghasilkan kekuatan/tenaga, ini mengubah cara manusia hidup secara dramatis. Pesawat telepon dan telegraf memungkinkan komunikasi antar manusia yang saling berjauhan bisa dilakukan secara instant, ini tentunya juga mengubah cara hidup manusia, yang pada akhirnya juga membentuk kultur baru.
Setelah kemajuan-kemajuan tercapai, mulailah pejuang-pejuang feminist untuk mencoba mengubah ‘malam’ menjadi ‘siang’, mereka menuntut kebebasan wanita, agar mereka dibolehkan untuk menjalani peran-peran yang biasa dilakukan oleh lelaki dalam masyarakat. Padahal ini bertentangan dengan perbedaan fungsional yang telah ditentukan oleh sang Pencipta, Allah SWT. (Lihat alQuran, al-Lail, 92:4, dimana Allah menganalogikan perbedaan fungsi antara malam dengan siang di satu sisi, dan dengan penciptaan lelaki dan wanita pada sisi yang lain). Dan ini digembar-gemborkan sebagai pembebasan kaum wanita! Inilah proses-proses yang terjadi dalam perubahan cara hidup manusia pasca revolusi kemajuan ilmu dan teknologi.
Eropa baru terus melakukan pengaruh kepada umat manusia dengan eksploitasi insting dasar manusia, berupa kerakusan akan dunia dan hawa nafsu. Revolusi seksual menjanjikan sexualitas – natural ataupun tidak – yang disediakan secara bebas, sebebas sinar matahari. Pornografi, homoseks, lesbian, dan kebobrokan lainnya dari barat saat ini membanjiri seluruh dunia. Pernikahan saat ini dilihat sebagai alternatif saja, karena orang-orang bisa hidup bersama tanpa perlu ada ikatan pernikahan, dan ini sudah dianggap umum. Jacqueline Kennedy, istri mantan Presiden Amerika John F. Kennedy yang merupakan seorang icon/selebriti Amerika, dalam tahun-tahun akhir hidupnya menghabiskannya dengan hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Ketika ia meninggal, pasangannya yang seorang Yahudi dikenalkan oleh media kepada dunia sebagai – hanya- sahabat Jacqueline.
Homoseks dan Lesbian dibela sebagai bentuk seks yang normal untuk kalangan tertentu dan semakin diterima oleh publik, bahkan seorang Rabi atau Pendeta bisa tetap menjalankan profesinya meski masyarakat luas telah mengetahui orientasi seks mereka yang menyimpang. Untuk menghilangkan kejijikan masyarakat umum terhadap penyimpangan seks ini, dibuatlah penyamaran kata dari “homoseks” menjadi “gay”. Masyarakat yg cuek menerima saja perubahan yg seolah tak bersalah ini. Mereka yang anti terhadap orang-orang homo atau gay dituduh sebagai ‘homophobia’ (baru-baru ini di Prancis seorang homo ‘Muslim’ yang telah menikah dengan homo pasangannya yang juga ‘Muslim’, dinikahkan oleh seorang ‘imam’ – yang kemungkinan besar homo juga – menyatakan ingin membangun sebuah mesjid khusus kaum gay. Laa hawla wa laa quwwata illa billaah…! –pent)
Revolusi konsumerisme, umat manusia disuguhi segala jenis barang atau produk, nafsu manusia yang tidak pernah kenyang dan tidak pernah puas dimanjakan oleh berbagai jenis iklan yang menyilaukan mata. Revolusi ini telah menjangkau segala lapisan manusia, dari mulai dapur, kamar mandi dan toilet, dlsb, tingkat jangkauannya hingga rumah-rumah yang paling primitive sekalipun terpengaruh olehnya.
Masyarakat Eropa baru yang tak bertuhan terus menggunakan ‘kekuatan’ mereka untuk menaklukan seluruh dunia dan menjadikannya koloni, kemudian mereka menggoda umat manusia agar mau meniru cara hidup mereka dan kultur baru mereka yang sangat konsumtif. Revolusi Eropa sekuler ini mulai dirasakan di Amerika, Prancis dan revolusi Bolshevik pada tahun 1776, 1787 – 1800, dan 1917. Titik balik revolusi ekonomi terjadi ditandai munculnya system ekonomi ribawi (meminjamkan uang dengan bunga, dan juga mengganti uang real – yang memiliki nilai intrinsik – dengan uang kertas yang nilainya bisa dimanipulasi dan berubah-ubah sehingga secara konstan akan terus menyusut), dan ini secara penuh tercapai melalui Revolusi Protestan (baca R. W. Tawney’s classic work: “Religion and the Rise of Capitalism”). Titik balik revolusi budaya ditandai dengan munculnya revolusi feminisme dengan perjuangan pembebasan wanitanya. Revolusi-revolusi yang baru disebutkan di atas tidak akan tercapai tanpa ada dukungan dari revolusi ilmu dan teknologi.
Pandangan Positif terhadap Negara Sekuler Modern
Bentuk pemerintahan sekuler tidak akan mungkin diterima oleh masyarakat Eropa baik yang Kristen maupun Yahudi – atau Muslim sekalipun – seandainya karakter aslinya yang Kufur dan Syirik tidak tertutupi oleh pandangan positif tentangnya. Apa saja pandangan positif itu? Negara sekuler modern muncul sebagai jawaban atas dominasi teokrasi Kristen Eropa yang opresif dan dalam rangka menandingi kekuasaan temporer gereja Kristen Eropa. System ini menantang Gereja dengan semua bentuk kebebasan baik intelektual maupun agama, hak asasi manusia dan toleransi beragama untuk semua pemeluk agama. Sistem ini juga membangun kondisi politik yang memungkinkan terciptanya kedamaian antar pemeluk agama dalam satu wilayah, sehingga diyakini bisa mengakhiri konflik agama yang telah menumpahkan darah manusia dan menodai Eropa selama ratusan tahun.
Sistem Negara sekuler juga cukup lihai dalam menyuap umat manusia sehingga ia bisa masuk dalam hati dan keyakinan mereka melalui temuan-temuan kreatifnya. Ia menghasilkan sesuatu yang sangat bisa diterima oleh umat manusia tanpa peduli apa agamanya, sesuatu yang sangat diperlukan oleh kehidupan modern seperti listrik, radio, telepon, handphone, TV, computer, pesawat terbang, mobil, mesin fax, teknologi fotokopi, dlsb. Kapanpun seseorang menerima kehidupan modern dengan semua temuan yg menakjubkan itu, ia juga akan menerima Negara sekuler dan gaya hidup sekuler.
Tapi pandangan positif tentang Negara Sekuler ini, meski sebagian juga terjadi di kota Nabi, Madinah al Munawaroh, tidak mengubah pondasi dasarnya yang kufur dan syirik. Kenyataannya, Negara sekuler modern pelan tapi pasti mulai menampilkan agenda tersembunyi yang merupakan agenda aslinya, yakni untuk menandingi semua agama ketika ia mulai melancarkan perang keji terhadap penegakkan kehidupan dengan basis agama. Semakin sekuler sebuah masyarakat, semakin sedikit orang pergi ke tempat ibadah, baik gereja, ataupun sinagog. Gereja yang sepi pengunjung pada akhirnya dijual bahkan dijadikan tempat judi. Pelan tapi pasti, agama akan mengalami kemunduran di system sekuler tak bertuhan ini.
Demokrasi pada Negara Sekuler tak lebih dari sekedar racun yang dibungkus permen. Politik demokrasi berjalan sedemikian rupa hanya untuk melanggengkan kapitalisme, ekonomi ribawi dan eksploitasi kebodohan manusia. Tekanan ekonomi seringkali dibarengi dengan tekanan-tekanan rasial dan kesukuan. Kalangan rakyat miskin yang terus dimiskinkan tidak memiliki kekuatan politik apapun dalam menghadapi elit-elit kaya yang tamak, sehingga tidak memiliki kemampuan untuk menghentikan himpitan ekonomi yang mendera kehidupan mereka. Kekayaan menjadi ukuran gagal atau suksesnya seorang elit dalam system kampanye yang mahal. Ajaran baru dari system Negara sekuler adalah bahwa si kaya lah pewaris bumi, inilah yang benar-benar terjadi.
Tatanan dunia baru menggunakan kekuatan militer yang tak terkalahkan, dan juga kekuatan desepsi (penipuan) untuk mendominasi dan mencuci otak bangsa-bangsa dunia. Filosofi politik tak bertuhan dengan konsep kedaulatan Negara, system ekonomi yang mengeksploitasi rakyat miskin, kultur yang korup, pada akhirnya mengglobal dengan sendirinya.
Kolonialisme barat kemudian menguasai seluruh umat manusia, termasuk umat Islam, melaui proses ini lah system politik sekuler dikenalkan, system yang berlandaskan kekufuran dan kemusyrikan, melalui tipu daya dan rekayasa. Kekhalifahan Utsmani dihancurkan. Dari reruntuhannya muncul Negara Sekuler Modern tak bertuhan Turki. Darul Islam yang telah dibangun oleh baginda Rasulullah s.a.w. sendiri di jazirah arab juga dihancurkan, dari reruntuhannya muncul Negara Sekuler Modern Saudi Arabia (lengkap dengan jebakan-jebakan berupa kedaulatan wilayah, kewarganegaraan, dlsb) yang merupakan Negara boneka dari Barat yang tak bertuhan. Sehingga, terpenuhilah ramalan Rasulullah s.a.w. Beliau meramalkan bahwa umat ini akan menyerupai dan mengikuti Yahudi dan Kristen sedemikian rupa, hingga ke lubang biawakpun akan terus diikuti. Hasilnya adalah bangsa Yahudi, Kristen dan Muslim mengalami fitnah kolektif dari segala fitnah, dan mereka gagal secara menyedihkan dalam mematuhi perintah Allah dalam alQuran:
اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ[٧:٣]
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).
Tatanan sekuler ini merancang sebuah system pemilihan politik untuk mengangkat Parlemen (Legislatif), Pemerintah (Eksekutif) dan (terkadang) memilih hakim-hakim (Yudikatif). Warga negara, tidak peduli apapun agamanya, memberikan hak suaranya dalam pemilihan demokratis. Meskipun jika pemimpin yang terpilih dari pemilu tersebut adalah seorang penyembah setan, tapi prinsip-prinsip demokrasi menuntut mereka, entah Muslim, Kristen, Yahudi, etc., yang telah memberikan hak suaranya, untuk menerimanya sebagai pemimpin yang legitmate, sah, dan berkuasa untuk memerintah mereka. Mereka juga harus tunduk dan mentaati pemimpin tersebut. Jadi jika hasil pemilu menghasilkan pemerintahan yang didominasi oleh penyembah berhala seperti umat Hindu, yang secara terbuka menyatakan permusuhannya kepada penyembah Tuhannya Ibrahim (‘alaihi salam), atau pemerintah yang mengatakan halal apa-apa yang diharamkan oleh Allah s.w.t, maka sesuai prinsip-prinsip demokrasi, ia menuntut para pemilih dari kalangan manapun, Kristen, Yahudi, Muslim, dlsb, yang menjadi warga negara Sekuler ini harus mengakui pemimpin tersebut sebagai pemerintah yang sah, tunduk kepada kekuasaanya, dan taat kepadanya.
Tidak ada satupun petunjuk dari kitab-kitab suci (Taurat, Injil, AlQuran) ataupun sunnah Nabi, yang bisa dijadikan dalil bagi kaum Yahudi, Kristen dan Muslim, untuk berpartisipasi dalam pemilihan yang membuat mereka bebas memilih pemimpin yang akan menguasai mereka. Bahkan sebaliknya, yang ada hanyalah larangan bagi mereka untuk melakukan hal tersebut!
قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا ۖ لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ ۚ مَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا [١٨:٢٦]
Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”.
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا [١٧:١١١]
Dan katakanlah: ”Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا [٢٥:٢]
yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dantidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.
AlQuran juga memperingatkan mereka yang membantu perbuatan-perbuatan sesat ini akan ikut mendapatkan bagiannya:
مَّن يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُن لَّهُ نَصِيبٌ مِّنْهَا ۖ وَمَن يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُن لَّهُ كِفْلٌ مِّنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقِيتًا [٤:٨٥]
Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(Bersambung)
Diterjemahkan oleh Teguh Hidayat dari artikel Sheikh Imran Husein dengan judul “Can Muslims vote in elections of the modern secular state?”

islampos.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: